Bila Tak Ada

Bila Tak Ada

Bila rasa lapar menimbulkan angkara

Bila menahan birahi menggebukan asmara

Bila kesunyian memenuhi kepala, dengan dengung doa dan ratapan kutuk selera

Maka tak seharusnya hidup dipastikan dari seberapa banyak luka bertapa


Angkara menyelimuti seribu warna

Tak bisakah mata membedakan mana kelabu dan abu-abu?

Kalau pun warna bisa dipilah, permohonan dan perintah perlu dipilih

Di hadapan sang kuasa yang tak pantas disebut kekasih


Sebab kita tak lebih leluasa dari budak

Sebab kita ...

Sesekali watak katak menggorok memberontak

Sesekali ...


Kemudian, apa yang hendak kita sampaikan pada masa lalu?

Apakah nama yang lebih buruk dari benalu?

Atau tutur yang memperpanjang khidmat rasa malu?

Tak bisakah kita menjadi korporat yang mencicipi masakan tanpa ragu?


Ketakutan, sering sejalan dengan rasa bimbang

Saat itu, meski ekor sendiri yang terinjak, mata mengancam

Sungguh tak layak musuh dianggap saingan dan

Begitulah kira-kira kita menjadi congkak di muka yang berhadapan

Muka kita sendiri


Jakarta, 16 April 2022

Upacara Kerohanian

Upacara Kerohanian

Membabtis diri sendiri kala merasa banyak dosa adalah hal yang baik. Bersahadat setiap waktu untuk menghapus dosa-dosa kecil di waktu berkala juga baik--itulah sebab selalu ada dua sahadat di saat salat. Memahami kerohanian hanya bisa dirasa oleh diri orang yang menjalankannya. Nah, kali ini saya merasa sedang berceramah, padahal intinya saya hanya ingin melatih diri agar konsisten dalam beriman.

Konsisten dalam beriman yang saya maksud adalah, tak tergoyahkan oleh pemahaman baru tentang suatu pandangan yang jelas-jelas dijalankan kiai-kiai kampung, pondok pesantren dan penceramah yang disegani pengikutnya. Selebihnya, soal tafsir, saya sering berubah-ubah pandangan sesuai hasil pengamatan. Masalahnya sekarang, saya kembali bimbang dengan persoalan agama yang mana pembahasannya selalu hal sepele dan dangkal, yang semisal itu dilakukan pun tak akan berakibat apa-apa pada keimanan. Sebaliknya, hal-hal yang aneh dan seolah benar dalam pembahasan agama hanya dilewati begitu saja, tidak dibahas. Tahu sendirilah, orang-orang yang tidak paham agama manggut-manggut bila mendapati persoalan pelik, sedang yang paham agama jarang membuka media sosial, TV dan hal yang berbau digital lainnya, hingga mereka tak sempat memberi penjelasan pada publik--bisa dikata ada yang tidak pernah membuka sama sekali.

Saya seringkali melewati begitu saja ceramah-ceramah yang ada di media sosial, "bukan berarti saya tidak suka mendengar soal keagamaan". Kata-kata bijak yang bertebaran atas nama kiai tertentu pun, selalu saya lewati, mungkin maksud diri adalah meminimalisir mengutip kalimat orang suci yang belum tentu itu diucapkan langsung, siapa tahu hanya tafsir dari si tukang desain kata-kata bijak.

Selebihnya, soal datang langsung ke rumah kiai-kiai untuk mendapat pencerahan, saya selalu tak sanggup menahan malu. Kalau dipikir-pikir, malu dalam hal kebaikan itu hal yang bid'ah. Baik dalam hal mendekati anak orang, misal, asal dengan tujuan baik--tapi yang namanya malu, meski tidak punya rupa, dia mengakar seperti membentuk sektenya sendiri dalam kepala.

Lalu soal bacaan, entah kenapa saya lebih suka membaca hal yang jelas-jelas karangan dibanding fakta yang sedang ada di dunia. Mungkin, karena fakta sudah terlalu manipulatif dan media penyiaran hanya menjadi ajang pengepul tungku dapur. Kebenaran bersembunyi di hati orang-orang baik dan hal salah begitu gagah berkeliaran di hati orang-orang buruk.[]

Waktunya Melihat Diri Sendiri

Waktunya Melihat Diri Sendiri

Waktunya melihat diri sendiri. Menata kembali rambut yang digantungi kesombongan. Memangkas jenggot yang dipertahankan sebagai cerminan. Jati diri kadang berjatuhan seperti musim. Taman yang lama tertutup perlu dibuka kembali. Kesuraman kala sore hingga pagi biarkan, tapi mari beri lampu yang lebih terang.

Kau barangkali hanya seutas ingatan dari masa lalu untuk menggapai si pengingat di masa depan, tapi kau adalah batu loncatan bagi kau sendiri yang tentu lebih penting dari ingatan. Bila setiap hal bisa sampai ke masa depan berkat tulisan, cukuplah yang dirasa sekarang ini menjadi landasan bagi dirimu sendiri untuk beberapa waktu yang akan datang. Kau tak bisa melekat dalam sejarah seperti orang-orang suci dan orang-orang kejam terdahulu dikisahkan hidupnya. Kau juga tak bisa mati-matian melakukan sesuatu karena hidup yang kau jalani bukan untuk diperjuangkan, tapi untuk dijalankan.

Perintah, dia adalah sebuah jalan. Larangan, dia adalah jurang. Sunah, dia adalah instruksi agar kau bisa melompat kala ada batu, duri, dan jurang di tengah jalan. Kau adalah kumpulan dari ketiga hal tersebut.

Kau dan sekutumu yang sesama manusia seringkali menyalahkan Tuhan atas sesuatu yang tidak kau setujui. Kau seringkali pula meletakkan keyakinan dan harapan pada sesuatu yang bukan Tuhan. Lalu suatu ketika kau datang, menangis, menyesal, dan menyatakan Tuhan salah atas tindakanmu memercayai selain dirinya. Kau bukan hanya bodoh dalam berpikir, tapi juga bodoh dalam bertindak.

Suatu ketika kau akan mendapi diri terperosok di antara jalan pintas. Kau tidak bisa melompat sebab tidak ada pijakan lain. Saat itu kau menangis pada diri sendiri dan itu akan sering kau dapati bila kesadaran hanya dibuat hiasan.

Kembalilah pada jalan yang telah ditetapkan. Ikuti aliran kehidupan. Ikuti benang yang membentang pada titik akhir itu. Jangan sekali-kali coba memotong benang atau aliran tersebut, sebab sekali terpotong, kau akan memasuki jalur lain yang tentu membuatmu menjadi orang lain sebab itu bukan jalanmu.

Hari ini, hati tetap menangis, seperti kau tak memiliki mangkuk untuk membendungnya.[]

Kepada Siapa

Panah Basah yang Menancapi Dada

Orang yang jarang atau bahkan tidak pernah beribadah, mungkin karena hidupnya dipenuhi pahala dan sedikit sekali dosa. Sebab, saya sendiri tidak sanggup meninggalkan ibadah sebab dosa terlalu banyak. Tentu, beribadah bukan untuk mendapatkan pahala, melainkan agar bisa menyeimbangi dosa-dosa tersebut. Saya tahu, barangkali susah untuk menyeimbangi antara dosa dan pahala, sebab bagaimana pun ibadah berlangsung, dosa tetap menyertai seperti tinta yang dituangkan di udara. Yang dihirup, dipikirkan, dan dirasa, adalah dosa. Padahal, manusia hidup hanya untuk beribadah dan melangsungkan hidup. Meski kadang terbersit tanya, "Sebetulnya untuk apa mempertahankan hidup, toh akhirnya mati?"

Bisa jadi saya adalah jenis orang yang ibadah jalan, dosa juga jalan. Bukan tidak tahu jenis dosa dan diri luput hingga melakukannya. Semua dikerjakan secara sadar. Tahu bahwa itu dosa, tapi tetap saja kesadaran untuk menahan selalu gagal. Kegagalan tersebut sering terulang. Penyesalan, tentu ada penyesalan setelah melakukan dosa tersebut.[]


Soal Nasi Saja Saya Suka Membahasnya

Saya tahu, setiap orang memiliki kriteria makanannya masing-masing. Tapi ketika ada orang yang mengatakan dirinya telah menanak nasi, sedang di dalam panci berisi beras matang yang lembek, saya menjadi tertekun. Nasi lembek, memang apa bedanya dengan bubur? Kalau memang bubur, mungkin saya bisa menghabiskannya satu piring, tapi nasi yang jadi-jadian itu tidak pernah sanggup saya habiskan. Sebab bagaimanapun, seharusnya ada ukuran nasi yang benar-benar nasi. Beras yang tidak terlalu banyak air atau kekurangan air saat memasaknya. Ukuran air yang pas, itulah nasi. Ukuran air berlebihan, itulah bubur. Ukuran air kurang, itulah rengginang.

Jelas saya tidak bisa memasak untuk orang yang suka memakan nasi lembek. Sebab itu tidak jelas nasi atau bubur. Tapi setidaknya, ada kriteria umum yang membuat semua orang sepakat soal rasa nasi, yaitu tidak jauh beda dari bentuk asal dari beras. Saya akan sangat enggan memakan nasi yang beraroma melati, pandan, atau jenis pengharum lainnya. Saya lebih suka bau alami dari beras, meski beras tersebut apek, sebab apek adalah bagian dari kriteria beras yang tidak terawat.

Begitupun soal menulis cerpen, tidak jauh beda dengan pandangan saya soal beras yang menjadi nasi tersebut. Saya tidak suka cerita yang terlanjur lembek, penuh air, atau gersang sama sekali. Sebab ada ukuran tersendiri untuk cerita, yaitu membuat pembaca penasaran dan selesai membacanya. Ukuran saya menulis cerita mirip dengan ukuran saya memasak, sebab itulah gaya yang saya suka, dan saya bisa menghabiskannya dalam satu porsi tanpa sebutir pun tersisa.

Entah sekarang ini banyak orang yang suka makan nasi yang menyerupai bubur, atau nasi yang seharusnya adalah nasi. Meski seharusnya, orang-orang menentukan pilihan mereka, mau memakan bubur atau nasi? Iya, jelas bahan dasarnya sama, beras. Tapi ukuran air yang dituangkan seharusnya bisa dipilih juga.[]


Saya Menggunakan Kata Aku 

Sesuatu yang aku miliki setelah ketidakpunyaan, itulah milikku. Sesuatu yang aku miliki setelah kepunyaan, itu milik orang lain. Hak dan yang berhak bisa kusingkirkan bila tak berguna lagi hakikat keberadaan. Kesemuan, kesementaraan yang seringkali disadari, seringkali pula terlewati oleh pikiran singkat yang diperkuat syahwat.

Orang lain boleh berkata mudah melakukan ketiadaan menjadi ada daripada memaparkan yang sudah ada biar lebih jelas eksistensi adanya. Orang lain juga boleh menyingkirkan yang kotor dan mengambil yang bersih, karena seperti itulah watak dasar manusia. Bila ada yang ingin mengambil kotoran dan membuang yang bersih untuk orang lain--bila pula ada yang melakukan ketiadaan meski sulit lalu memaparkannya seakan ada di benak orang lain, maka orang tersebut telah melewati batas tertentu dan boleh hidup di batas tertentu itu.[]



Perantau Tak Lebih dari Penjajah

"Merantaulah, Nak Caraka. Pendahulu dan nabi yang ayahmu kagumi adalah perantau."

"Apa ibu membesarkanku hanya untuk disuruh pergi?"

Pertanyaan tersebut tidak dijawab oleh Tanima, dia memalingkan pandang dari putranya. Dia tidak mau putranya melihat mata yang perlahan sembab.

Satu minggu dari percakapan tersebut, Caraka berangkat merantau. Caraka tidak tahu apa yang harus dia lakukan di tempat rantau. Ibunya hanya berkata, "Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan, Nak."

Walau Caraka tidak tahu apa saja yang ingin dilakukannya, dia berangkat setelah merangkak tiga kali berulang di bawah selangkangan ibunya yang berdiri di mulut pintu.

Tentu selalu ada tangis di pertama kali kepergian, tapi Caraka tidak mau menangis, dia seperti dendam pada ibu yang telah menyuruhnya pergi.

"Kepergian selalu singkat, tapi menyisakan kesedihan yang lama. Anehnya kau tidak sedih sama sekali. Merasa senang bisa pergi dari keributan keluarga?"

Caraka tidak peduli dengan lelaki tua di sebelahnya. Perjalanan panjang ke Jogja, membuat lelaki yang duduk di sebelahnya itu gatal menahan percakapan. Sebelumnya, Caraka hanya menjawab singkat, dan berkata bahwa dirinya baru pertama kali pergi ke Jogja.

Tinggal di kota yang penuh keilmuan, Caraka merasa dirinya amat bodoh. Dia mengikuti seminar-seminar kecil yang berharga murah. Setiap selesai mengikuti seminar, dia merasa lebih pintar.

Beberapa bulan tinggal di Jogja, Caraka mulai sadar, pintar saja tidak cukup tanpa uang. Demi bertahan hidup, dia melakukan hal apa saja yang bisa menghasilkan uang. Kalimat ibunya tentang dia boleh melakukan apa saja seperti doa yang terkabul begitu saja.

Satu tahun berlalu, Caraka pergi ke Jakarta. Kembali ingin melakukan apa saja. Melakukan apa saja di Jakarta termasuk bagian yang susah baginya. Lalu dia melakukan kudeta di suatu instansi negara, dan dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa sebab Caraka sebetulnya tidak masuk ke jajaran pekerja atau pengemban jabatan. Dia hanya orang lewat yang bertindak seperti preman mengusir pedagang. Miris.




Uji Coba

Saya mamandang curiga pada kata "ujian" dan "cobaan". Seringkali dua kata itu menjadi serangkai untuk menggambarkan situasi. Kadang, itu terkesan pemborosan kata apabila  uji dan coba menjadi berdempetan, seperti kalimat, "kita perlu melakukan uji coba itu terlebih dahulu". Sudah, akan panjang bila membahas hal tersebut, karena kadang itu sering digunakan oleh orang yang berada di laboratorium untuk menyelesaikan sesuatu yang dipelajari tapi belum mendapat kepastian.

Ujian yang berasal dari kata uji, tidak patut bila diletakkan pada situasi yang belum pernah dialami. Misal, kau mau ujian kematian, sedangkan kau belum pernah mati. Sedangkan cobaan, lebih pas bila kau gunakan pada sesuatu yang belum pernah kau alami, seperti mencoba siksa kubur.

Pada akhirnya, kata ujian menjadi pantas digunakan oleh lembaga penyelenggara pendidikan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didiknya. Karena ujian yang diberikan tentu adalah hal yang pernah dipelajari. Dan peserta didik yang mendapatkan persoalan dari sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh lembaga pendidikan, itu bukan ujian, melainkan cobaan.

Begitulah kira-kira agar kau, tentu saya juga, tidak sesekali menganggap persoalan hidup adalah ujian, sebab hidup baru dijalani. Begitupula suatu hal yang jelas-jelas sering dilewati lalu kau sebut itu cobaan, sungguh tak tahu dirilah orang seperti itu.




Cara Pikirmu, Senjata

Manusia berpikir sesuai ajaran yang pernah dilaluinya. Masa yang pernah dilalui tersebut selalu ada ikut andil guru yang memberi pemahaman baru. Bila pemahaman tersebut kamu anggap benar, kamu akan meyakini dan menanamnya dalam ingatan, hingga bertahun-tahun, tak teruntuhkan. Begitulah sistem pemahaman terus bertambah, berkurang, dan kadang mengalami revisian sendiri karena bacaan dan perenungan.

Tidak aneh bila ada seseorang yang tak menerima golongan lain karena tidak sepemahaman, semanhaj, sekufu, dan semazhab. Dan akan sangat aneh bila ada orang yang bisa menerima pemikiran lain, atau aliran lain begitu saja tanpa coba memahaminya. Tapi, setiap hal yang coba dipahami, pasti akan bisa dipahami dan terikut arus di dalamnya. Sejauh ini, kamu barangkali mencoba untuk tidak ikut arus, menerima pemahaman yang datang dengan mengolahnya terlebih dahulu, dan bila masuk ke logika setelah kamu merenung, kamu akan mengambilnya. Sayangnya, kamu akan dianggap orang yang salah dan sesat atas pemahaman tersebut. Padahal, bila ditanya, apakah ada pemahaman yang betul-betul benar, dan ajaran yang betul-betul tinggi melebihi ajaran lainnya, orang yang menganggap kamu salah tersebut, akan menjawab dengan dalil kuno dan kalimat sejenis yang berbunyi, "sudah dari sananya." Padahal, manusia modern butuh sebab akibat, kelogisan dan kesesuaian dengan hidup. Semistis apa pun, bila kamu bisa melogiskannya, tidak ada yang aneh. Meski barangkali akan ada orang yang menganggapmu salah karena merasionalkan sesuatu yang mistis (karena sudah tertanam dalam kepala, hal mistis tidak bisa dirasionalkan).

Bila datang kepadamu orang yang mengambil ajaran apa adanya, plek sama persis seperti guru, buku atau kitab aslinya tanpa menyaringnya terlebih dahulu, maka orang tersebut perlu kamu beri jarak. Jangan langsung berikan penjelasan soal apa yang kamu pahami, baiknya kamu tanyakan apa yang orang tersebut pahami. Dari situ, kamu akan mendapatkan pelajaran.

Ajaran bisa datang dari mana saja, dari perbuatan setan pun, bisa dijadikan ajaran. Namun, pada siapa hal tersebut akan disalurkan, itulah yang perlu disaring. Bila kau memahami sesuatu yang menjadi pertanyaan panjang, tak perlu mengumbar jawaban dari hasil pertanyaan tersebut ke orang yang tak pernah sebersit pun di kepalanya menanyakan hal yang sama. Karena hal yang seperti itu akan keras seperti membentur batu.

Kamu bisa hidup sesuai yang kamu inginkan, tapi belum tentu orang lain akan mau hidup denganmu. Kadang, kamu harus hidup sesuai dengan keinginan orang agar kamu bisa hidup. Memang, cara hidup seperti ini akan membuatmu bertanya, "Seberharga apakah hidup? Bila untuk bisa bernafas saja harus disenadakan dengan nafas orang lain?"

Percakapan panjang antar manusia sungguh akan sangat sia-sia bila di antaranya tidak ada yang mau saling memahami tentang apa yang mereka percakapkan.

Bila kamu pernah merasa kafir, bila kamu pernah merasa ateis, bila kamu pernah merasa di neraka, bila pula kamu pernah merasa takut untuk menyebutkan nama Tuhan, itulah kamu. Kekafiran adalah tertutupnya fikiranmu atas kebenaran, keateisan adalah tindakanmu yang seakan membelakangi Tuhan, nerakamu adalah keburukan yang kamu sesali tapi diulang kembali, dan ketakutanmu menyebut nama Tuhan baik dalam tulisan atau dalam percakapan dengan orang adalah bentuk ketidakberanianmu menghadap Tuhan, disertai banyak dosa, disertai keangkuhan diri, disertai kesombongan, dan disertai ketidakberdayaan untuk melihat keindahan Tuhan.


Back To Top