Uji Coba

Uji Coba

Saya mamandang curiga pada kata "ujian" dan "cobaan". Seringkali dua kata itu menjadi serangkai untuk menggambarkan situasi. Kadang, itu terkesan pemborosan kata apabila  uji dan coba menjadi berdempetan, seperti kalimat, "kita perlu melakukan uji coba itu terlebih dahulu". Sudah, akan panjang bila membahas hal tersebut, karena kadang itu sering digunakan oleh orang yang berada di laboratorium untuk menyelesaikan sesuatu yang dipelajari tapi belum mendapat kepastian.

Ujian yang berasal dari kata uji, tidak patut bila diletakkan pada situasi yang belum pernah dialami. Misal, kau mau ujian kematian, sedangkan kau belum pernah mati. Sedangkan cobaan, lebih pas bila kau gunakan pada sesuatu yang belum pernah kau alami, seperti mencoba siksa kubur.

Pada akhirnya, kata ujian menjadi pantas digunakan oleh lembaga penyelenggara pendidikan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didiknya. Karena ujian yang diberikan tentu adalah hal yang pernah dipelajari. Dan peserta didik yang mendapatkan persoalan dari sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh lembaga pendidikan, itu bukan ujian, melainkan cobaan.

Begitulah kira-kira agar kau, tentu saya juga, tidak sesekali menganggap persoalan hidup adalah ujian, sebab hidup baru dijalani. Begitupula suatu hal yang jelas-jelas sering dilewati lalu kau sebut itu cobaan, sungguh tak tahu dirilah orang seperti itu.

Cara Pikirmu, Senjata

Manusia berpikir sesuai ajaran yang pernah dilaluinya. Masa yang pernah dilalui tersebut selalu ada ikut andil guru yang memberi pemahaman baru. Bila pemahaman tersebut kamu anggap benar, kamu akan meyakini dan menanamnya dalam ingatan, hingga bertahun-tahun, tak teruntuhkan. Begitulah sistem pemahaman terus bertambah, berkurang, dan kadang mengalami revisian sendiri karena bacaan dan perenungan.

Tidak aneh bila ada seseorang yang tak menerima golongan lain karena tidak sepemahaman, semanhaj, sekufu, dan semazhab. Dan akan sangat aneh bila ada orang yang bisa menerima pemikiran lain, atau aliran lain begitu saja tanpa coba memahaminya. Tapi, setiap hal yang coba dipahami, pasti akan bisa dipahami dan terikut arus di dalamnya. Sejauh ini, kamu barangkali mencoba untuk tidak ikut arus, menerima pemahaman yang datang dengan mengolahnya terlebih dahulu, dan bila masuk ke logika setelah kamu merenung, kamu akan mengambilnya. Sayangnya, kamu akan dianggap orang yang salah dan sesat atas pemahaman tersebut. Padahal, bila ditanya, apakah ada pemahaman yang betul-betul benar, dan ajaran yang betul-betul tinggi melebihi ajaran lainnya, orang yang menganggap kamu salah tersebut, akan menjawab dengan dalil kuno dan kalimat sejenis yang berbunyi, "sudah dari sananya." Padahal, manusia modern butuh sebab akibat, kelogisan dan kesesuaian dengan hidup. Semistis apa pun, bila kamu bisa melogiskannya, tidak ada yang aneh. Meski barangkali akan ada orang yang menganggapmu salah karena merasionalkan sesuatu yang mistis (karena sudah tertanam dalam kepala, hal mistis tidak bisa dirasionalkan).

Bila datang kepadamu orang yang mengambil ajaran apa adanya, plek sama persis seperti guru, buku atau kitab aslinya tanpa menyaringnya terlebih dahulu, maka orang tersebut perlu kamu beri jarak. Jangan langsung berikan penjelasan soal apa yang kamu pahami, baiknya kamu tanyakan apa yang orang tersebut pahami. Dari situ, kamu akan mendapatkan pelajaran.

Ajaran bisa datang dari mana saja, dari perbuatan setan pun, bisa dijadikan ajaran. Namun, pada siapa hal tersebut akan disalurkan, itulah yang perlu disaring. Bila kau memahami sesuatu yang menjadi pertanyaan panjang, tak perlu mengumbar jawaban dari hasil pertanyaan tersebut ke orang yang tak pernah sebersit pun di kepalanya menanyakan hal yang sama. Karena hal yang seperti itu akan keras seperti membentur batu.

Kamu bisa hidup sesuai yang kamu inginkan, tapi belum tentu orang lain akan mau hidup denganmu. Kadang, kamu harus hidup sesuai dengan keinginan orang agar kamu bisa hidup. Memang, cara hidup seperti ini akan membuatmu bertanya, "Seberharga apakah hidup? Bila untuk bisa bernafas saja harus disenadakan dengan nafas orang lain?"

Percakapan panjang antar manusia sungguh akan sangat sia-sia bila di antaranya tidak ada yang mau saling memahami tentang apa yang mereka percakapkan.

Bila kamu pernah merasa kafir, bila kamu pernah merasa ateis, bila kamu pernah merasa di neraka, bila pula kamu pernah merasa takut untuk menyebutkan nama Tuhan, itulah kamu. Kekafiran adalah tertutupnya fikiranmu atas kebenaran, keateisan adalah tindakanmu yang seakan membelakangi Tuhan, nerakamu adalah keburukan yang kamu sesali tapi diulang kembali, dan ketakutanmu menyebut nama Tuhan baik dalam tulisan atau dalam percakapan dengan orang adalah bentuk ketidakberanianmu menghadap Tuhan, disertai banyak dosa, disertai keangkuhan diri, disertai kesombongan, dan disertai ketidakberdayaan untuk melihat keindahan Tuhan.


Jiwa yang Teguh

Jiwa yang Teguh

 Jiwa yang lebih besar, lebih tinggi, dan lebih angkuh dari tubuh jasmani, adalah jiwa yang selalu saya dambakan. Saya berusaha membesarkan jiwa meski selalu gagal, lupa, tergores oleh besitan sekilas dan digilas kemalasan. Memulai pembesaran jiwa selalu asyik dari hal yang kecil-kecil. Bersabar, seringkali coba saya pertahankan, meski di benak dan dada terasa sesak dan ingin menggerutu panjanh, tapi itulah usaha saya membesarkan jiwa.

Lah, orang kurus kecil seperti saya, bila tak ada usaha membesarkan jiwa, mau membesarkan apa? Toh, gebetan tak punya, istri apa lagi, tanggungan rumah juga tidak.

Di hadapan orang lain, saya seringkali mendapatkan kalimat, "Ali Mukoddas itu baik." Mendengar kalimat tersebut, saya seperti ditampar di depan calon mertua. Sebab, setiap kali mengoreksi diri, tak ada kebaikan yang saya lakukan. Bahkan, menulis dengan baik pun, masih jauh dan dekat bila disebut sebagai orang jahat.

Iya, tampak luarnya saja yang pendiam dan seperti orang pada umumnya. Mau bagaimana lagi, masa harus bersikap aneh? Saya tak suka menjadi pusat perhatian (saat menulis ini, saya merasa kurang pas, atau jangan-jangan saya sudah menjadi pusat perhatian?😱)

Umumnya, manusia berbuat jahat dilakulan secara diam-diam, biasanya.

Saat ini, jiwa saya masih kecil. Buktinya, datang ke rumah orang saja serasa seperti maling yang ketahuan.


Psikopat dalam Agama

Bila banyak orang sering memikirkan kalimat baik dalam benaknya untuk mendekatkan diri pada Tuhan, saya lebih cenderung memikirkan banyak kalimat buruk untuk sedikit saja sadar akan Tuhan. Sebab, mendekatkan diri pada Tuhan hampir mirip dengan mendekatkan diri pada kematian. Meski barangkali, tidak semua orang yang mati bisa bertemu dengan Tuhan, tapi kedekatannya tentu lebih jelas dibanding orang yang masih hidup. Dan tahulah kalimat buruk yang seringkali saya pikirkan adalah soal kematian tersbut. "Aku akan mati, aku akan mati," begitu terus, kalimat tersebut menggema di kepala, seakan menjadi kalimat zikir untuk membuat diri tidak berbuat yang bukan-bukan. Normalnya, kebanyakan orang akan memikirkan kalimat istighfar untuk menyekat dirinya dari perbuatan buruk. Sayangnya, kalimat istighfar tidak mempan pada diri yang imannya tergolong sangat dangkal ini.

Kadang, saya menulis catatan tentang kematian. Tulisan yang lebih menyerupai skenario apa yang akan dialami bila mati. Kadang pula seperti orang yang sakit keras dan mendekati alam ketidaksadaran. Berikut saya kutip catatan tersebut:
"Aku sakit, dan merasa akan segera mati. Wajah malaikat maut seringkali berkelebat, seakan telah lama mengenal diri yang tak kunjung bertobat.

Ho, penjemput jiwa manusia. Bila jiwaku tak suci, tolonglah pelan jangan berlari. Sebab diri telah mengalami keringkihan, kerusakan, dan kerasukan hal-hal gaib dari hati yang terbolak-balik. Mohon sampaikan ampun diri ini pada Tuhan yang mengutusmu untuk menjemput.

Aku takut, namun keteledoran sering menang di atas ring pertarungan jiwa yang gila. Ampuni, sampaikan ampun pada Tuhan pencipta diri ini.

Barangkali kata ampunku tak sampai sebab dosa begitu tebal menggumpal.

Bila nadiku tak lagi terasa, biarkan dosa melupakan kebaikannya."

 

Kadang pula, seperti seorang yang siap dengan wasiat untuk kerabat, teman atau orang yang menyukai saya diam-diam (siapa pula yang suka pada orang seperti saya), saya menuliskan kalimat yang menyayat diri sendiri.
"Aku mulai lelah menatap keberadaan dunia. Memikirkan luasnya semesta. Atau merenungi keberadaan diri yang sering berlaku sia-sia.

Kelelahan tersebut seperti tak akan memiliki ujung. Memberatkan pundak, menyerikan punggung, dan kadang memekakkan kepala.

Di suatu hari, aku tak berani memikirkan hidup lebih lama lagi. Aku berpikir, kepergian lebih cepat akan sangat memperingan langkah daripada menunda-nunda yang berujung pada kemalasan. Kalau kelak juga akan pergi, kenapa tidak dipercrpat saja langkahnya?

Aku ingin pergi. Tanpa perlu diantar. Karena itu hanya akan membuatku sedih.

Aku juga tak ingin memiliki foto diri, sebab itu akan menyakitkan bagi mereka yang mencoba mengenang.

Cukup saat kedatangan di dunia yang asing yang membuatku menangis. Kepergian kelak, di tempat yang asing, aku tidak ingin menangis lagi.

Sejujurnya aku tak pernah siap. Meski dihitung satu sampai seratus, aku tak pernah siap untuk pergi. Tapi, aku harus pergi sebagaimana orang lain pergi. Cepat atau lambat. Siap atau tidak."

Seraya membaca tulisan tersebut, ada baiknya diiringi latar musik perjalanan Kera Sakti ke barat. 

Pada akhirnya, meski seringkali berusaha berbuat baik, saya tidak tahu apakah perbuatan tersebut baik atau tidak, dan seringkali saya gagal meninggalkan keburukan meski taubat sering terucap di setiap waktu.

Oh, betapa malangnya.

Namanya Juga Hidup

Bertindak seperti pahlawan itu cukup melelahkan. Lelahnya seperti sesuatu yang dihasilkan oleh pekerjaan. Beda dari keduanya, lelah dari bertindak seperti pahlawan didasarkan pada kesadaran, sedang lelah dari suatu pekerjaan didasarkan pada tuntutan. Sebagaimana tuntutan, sadar tidak sadar perlu dikerjakan.

Pembeda yang lain mungkin adalah tentang bertuannya tindakan tersebut. Menjadi pahlawan bertuankan diri sendiri, sedangkan bekerja bertuankan orang lain. Itulah kenapa seringkali saya sebut orang tua yang petani adalah pahlawan, sebab mereka bertuankan diri sendiri dalam mengelola penghasilannya dari tanah. Kadang saya ingin seperti mereka, bertani, hidup dengan kerja keras yang tidak melibatkan orang lain dalam kekerasan, intimidasi dan memperebutkan hasil yang seharusnya tidak untuk didapat. Maksud saya, merebutkan hasil yang tidak sesuai dengan hasil sesungguhnya dari pekerjaan. Menjelaskan soal hasil dari perebutan ini saya cukup kerepotan, beberapa definisi dalam kalimat serasa kurang pas meski ditulis dengan redaksi yang berbeda. Dari saking tidak patutnya dilakukan.

Soal menjadi petani, saya beberapa kali pernah membicarakannya dengan orang tua bahwa anaknya ini ingin menjadi petani saja. Pembicaraan itu selalu berakhir dengan nada tak rela. Meski isinya hanya sekitar keluhan, "Duh, kuat, ya, nak? Panas tak menemukan tempat berteduh, hujan kedinginan, dan kulitmu yang hitam akan menyerupai arang. Lagi pula, apa gunanya kamu sekolah sampai sarjana?"

Pembicaraan yang dimenangkan secara telak oleh orang tua.

Saya tidak bisa mengatakan "tidak" dengan menjelaskan bahwa, sekolah itu untuk menambah pengetahuan, soal pekerjaan urusan lain. Mereka, si orang tua, kadang perlu diingatkan kembali, bahwa anaknya sudah dari kecil mengenal pekerjaan; mengangkut air setiap sore dan pagi dari sumur, baik sebelum berangkat atau sepulang sekolah agar cukup untuk minum dan memasak; mencari pakan sapi; memanen hasil kebun dan kadang ikut membajak sawah. Itu semua pekerjaan, dan sudah didapat meski sambil sekolah. Lalu untuk apa sekolah agar mendapatkan pekerjaan? Sayangnya, orang tua saya tidak pernah secara terang mengatakan, "sekolah lah agar mendapat pekerjaan." Kalimat mereka hanya sedikit mirip saja, "Sekolah, nak, yang rajin, agar tidak seperti kami." Agar tidak seperti mereka? Yang benar saja, saya lahir dari jerih payah mereka. Lalu akan sangat durhaka bila saya tidak tahu rasanya mereka memperjuangkan hidup. Akan tambah durhaka bila menjadi penganut materialisme, sedang orang tua saya tidak pernah mengenal nama makhluk pemalak tersebut. Sungguh, bagi saya materialisme adalah pemalak sejati, sebab kebanyakan yang didapat tidak sesuai dengan yang dikerjakan.

Berusaha menjadi tidak materialisme. Ini usaha yang sulit. Sulit sebab kadang pekerjaan menuntut hal tersebut. Tentu, kau menolak, siap-siap didepak. Tidak mau mengikuti sistem, digeser secara perlahan dari tempat duduk yang dikira sudah nyaman. Ya, meski tidak ada istilah nyaman sejati dalam sebuah pekerjaan. Tapi setidaknyaman apa pun pekerjaan, karena saya hidup di negara yang tidak kenal rugi, pekerjaan syusah bin syulit tetap sebagai suatu keberuntungan karena tidak seperti mereka yang mengantri berjam-jam melamar pekerjaan. Di negara ini, orang celaka hilang salah satu anggota badannya pun, masih suatu keuntungan karena dia tidak mati. Seumpama mati pun, itu suatu keuntungan agar dia tidak hidup cacat. Sungguh prinsip tak kenal rugi.

Semakin tua, yang saya lihat dari harta adalah mimpi yang melebihi imajinasi. Sebab ada orang yang kekayaannya setara pulau, tapi tidak pernah memegang pulau tersebut. Memiliki angka 100.000.000 di buku akun bank, dianggap harta oleh kebanyakan orang. Padahal definisi harta adalah sesuatu yang dimiliki, sesuatu yang dimiliki itu hak, dan suatu hak harus berada dalam jangkauan genggaman, kelihatan oleh mata, bentuk serta bisa dirasakan sifatnya. Selama ini, saya belum pernah mendengar ada orang yang mengaku memiliki angin. 

Pernah saya mendengar kalimat, "untuk membersihkan uang kotor, tinggal masukkan ke bank. Semua uang yang keluar dari bank adalah bersih." Mungkin hal itulah yang membuat definisi tentang harta dan pemahaman saya soal harta menjadi kabur. Ada orang memiliki mobil, tapi dia meminjam uang yang melebihi harga si mobil ke bank dengan memberi jaminan atas mobil. Dan orang tersebut merasa berharta.

Tapi bila saya hidup di desa dan berbaur dengan petani, pemahaman saya soal harta cukup jelas. Tak tergoyahkan. Tentu pemahaman tersebut hanya bertahan di desa, ketika di kota, kembali kabur.[]



Ada yang Mengganggu

Soal keselamatan. Hampir seluruh makhluk hidup memiliki insting untuk menyelamatkan diri dari bahaya. Selamat tidak hanya berlaku bagi hal yang baik-baik, hal yang buruk pun kadang perlu selamat. Itulah kenapa seorang maling, dia berdoa agar selamat selama bermaling. Hampir mirip dengan seorang kiai yang berdoa semoga selamat dalam perjalanan menuju pengajian.

Apakah keselamatan hanya berpihak pada hal baik saja? Seharusnya, hanya hal baik saja yang mendapatkan keselamatan. Kalau maling kemudian baik-baik saja setelah selesai bermaling, pasti cara bermalingnya memang baik, sehingga keselamatan berani memihaknya. Sebab, mau bagaimana pun doa disematkan, ketika hal buruk mengharap keselamatan, keselamatan susah untuk melirik. Kadang tidak terjadi apa-apa setelah selesai melakukan keburukan, paling hanya memiliki rasa bersalah, rasa berdosa, atau paling mengerikannya mengalami mimpi buruk selama hidup, seperti yang sering dialami seorang veteran perang.

Tapi, oh, tapi, tapi... selamat memiliki konsepnya sendiri. Pengertian dan penerapannya berbeda-beda. Seperti orang yang tidak meninggal dari kecelakaan parah yang menghancurkan mobil dan merusak aspal. Bagi orang lain itu adalah keselamatan karena si korban tidak meninggal. Rumah terbakar, kena longsor, banjir, atau dibegal, atau pula anggota badannya hilang, merupakan suatu keselamatan bagi orang lain sebab si korban selamat jiwanya. Bisa dikata, kadang ukuran selamat seseorang adalah karena orang tersebut tidak mati. Meski bisa jadi, kematian adalah bentuk dari keselamatan.

Pada akhirnya, konsep selamat yang dipatokkan Tuhan dengan konsep selamat yang disematkan manusia, memiliki sisi lain yang sama sekali berbeda. Bagaimana bila kematian adalah keselamatan paling tinggi yang Tuhan sediakan? Hingga, saat ada yang bermaling berdoa mohon selamat, mati saat dirinya bermaling, sebab dia sedang diselamatkan.[]



Back To Top