Laut Pengetahuan dan Kiamat

Laut Pengetahuan dan Kiamat

Kau seringkali terbolak-balik dalam laut pengetahuanmu sendiri. Kebrutalan dan kelemahan silih berganti main gelut di sana. Teruslah menjadi lemah tanpa ada kekuatan untuk bertahan, menahan, hingga tak tahan. Sehari, kepribadian bisa seperti malaikat, seharusnya bagus, bisa juga menyerupai setan panas. Tapi, siapa tahu soal dosa? Bukankah saat berjalan kadang membunuh hewan-hewan kecil? Bukankah mata seringkali melihat yang dilarang dari layar yang discroll karena keadaan santai? Bukankah, lagi-lagi kau merasa perlu mendekati seseorang meski kau sendiri terlalu takut untuk bermusuhan?

Hanya manusia-manusia kuat yang bisa menjadi pahlawan, yang lemah tak lebih dari orang yang butuh diselamatkan. Ho, Tuhan, betapa keseharian bagaikan tikus yang menjelajah di ruang kosong. Tidakkah ada kebaikan dan kesejahteraan di ruang itu, agar penjelajahan menemukan titik pemberhentian, untuk sekadar diam, menetap, atau menjadikannya kenangan.

Menulis seringkali ngelantur ke mana-mana, tapi tak apa, namanya juga menulis. Menulis itu dengan pikiran. Pikiran itu, kadang ada di sini, selang beberapa detik sudah berada di wilayah entah-berantah. Bila orang yang sering menggunakan pikirannya tanpak tak memiliki kepribadian, maka itu hal biasa, sebab kepribadiannya dari pikiran, pikiran sering berubah-ubah sesuai pengetahuan yang didapat.

Soal kiamat, kadang kau perlu merasa masa bodoh sama si kiamat itu. Dia akan datang cepat atau lambat, akan terjadi meski kau bahas atau tidak. Kau akan dipenuhi ketakutan dan tidak melakukan apa pun bila pikiranmu sampai pada hari kiamat. Dan juga, kau akan terkurung bila pikiranmu berjalan ke masa lalu. Kau ada saat ini, harus beserta pikiran yang saat ini pula. Barangkali itu yang dinamakan agar badan utuh beserta isinya di waktu yang sama.

Konten mengenai akhirat cukup manarik bagi sebagian orang, dan cukup membosankan bagi sebagian yang lain. Kenapa? Sebab pandangan dan keteguhan orang berbeda-beda. Yang teguh pikiran dan pendiriannya, tidak mau tahu soal masa lalu atau masa depan, dia hanya mau tahu soal masa kini yang sedang dijalaninya. Beda halnya dengan orang yang lemah--dalam artian tidak sebenarnya--dia akan sering melihat masa lalu dan mengidambakan masa depan, hingga lupa terhadap apa yang dijalaninya saat ini.[]

Jalan Hidup

Jalan Hidup

Menapaki dunia persilatan, baik silat lidah atau silat tingkah.

Hingga saat ini, saya tidak memiliki tujuan pasti dalam hidup. Bagi seorang motivator, hidup seperti ini keliru, sebab di usia yang lebih dari dua puluh sudah seharusnya mencetak gol tertentu. Sayangnya, saya tak paham soal urusan hidup. Saya hanya paham menjalaninya, langkah demi langkah, yang bisa dilewati saya lewati, yang tidak bisa saya tinggalkan. Kadang saya enggan memilih jalan pintas, enggan pula melalui jalan yang sudah terang kesulitannya.
Setiap orang memiliki keyakinannya masing-masing, seperti saya dan anda meyakini arah mata angin. Peta di otak saya soal arah mata angin sudah ditanamkan dari tanah kelahiran, dari rumah. Bila matahari terbit dari sebelah kanan rumah, berarti timur, bila matahari terbenam di samping kiri, berarti barat, depan rumah adalah utara dan belakang rumah adalah selatan. Rumah tempat saya lahir otomatis menjadi kiblat, titik tumpu saya menentukan arah hingga saat ini. Lalu, bila pergi ke suatu tempat kemudian matahari terbit dari belakang tempat yang saya tinggali, peta dalam otak saya menjadi ambigu, arah barat menjadi urata, timur menjadi selatan, lalu selatan dan utara ditukar letaknya. Hal itu sering saya alami bila dihadapkan dengan tempat baru, arah mata angin perlu ditata dan dipetakan ulang. Bisa dikata, hingga saat ini saya merasa salat menghadap utara, tapi kiblat ada di arah itu menurut kompas. Setiap orang bisa memikirkan bentuk lokasi di kepalanya, namun tidak satupun dari setiap orang sama soal konsep arah yang tertanam di kepalanya. Soal arah barat dan seterusnya bisa disepakati, sebab masih ada pemandu dan titik tumpu matahari sebagai opsional, atau bintang penunjuk arah, atau pula kompas. Tapi bila sudah berada di suatu tempat yang tanpa petunjuk titik tumpu, semua orang hanya bisa mengira-ngira dirinya sedang menuju ke arah mana.
Begitulah kira-kira gol atau tujuan hidup, sama halnya dengan peta soal arah yang sudah tertanam sejak kecil di kepala setiap orang. Bila arah tujuan hidup kita tidak sama, maka itu terjadi karena memang konsep dasar soal arah yang kita pahami sudah jauh berbeda.
Ya, pastinya, kita menuju kematian, ketidakabadian. Jelas itu, tak usah dipersoalkan.
Dulu saya merawat pikiran, hingga lupa bahkan tak sempat merawat penampilan. Beberapa waktu ini coba merawat penampilan, tapi pikiran yang malah berdebu. Merawat keduanya adalah sesuatu yang cukup merepotkan. Andai penampilan bagus dan pikiran sama bagusnya, teranglah jalan hidup, entah jalan yang dimaksud di sini jalan setapak atau jalan raya. Sayangnya, banyak pikiran yang tidak sebagus penampilannya. Tapi bukankah di zaman ini, bungkus adalah nomor satu? Nomor dua ya kamu, iya, kamu.[]
Bila Tak Ada [Bait yang Dihuni Setan-setan]

Bila Tak Ada [Bait yang Dihuni Setan-setan]

Bila rasa lapar menimbulkan angkara

Bila menahan birahi menggebukan asmara

Bila kesunyian memenuhi kepala, dengan dengung doa dan ratapan kutuk selera

Maka tak seharusnya hidup dipastikan dari seberapa banyak luka bertapa


Angkara menyelimuti seribu warna

Tak bisakah mata membedakan mana kelabu dan abu-abu?

Kalau pun warna bisa dipilah, permohonan dan perintah perlu dipilih

Di hadapan sang kuasa yang tak pantas disebut kekasih


Sebab kita tak lebih leluasa dari budak

Sebab kita ...

Sesekali watak katak menggorok memberontak

Sesekali ...


Kemudian, apa yang hendak kita sampaikan pada masa lalu?

Apakah nama yang lebih buruk dari benalu?

Atau tutur yang memperpanjang khidmat rasa malu?

Tak bisakah kita menjadi korporat yang mencicipi masakan tanpa ragu?


Ketakutan, sering sejalan dengan rasa bimbang

Saat itu, meski ekor sendiri yang terinjak, mata mengancam

Sungguh tak layak musuh dianggap saingan dan

Begitulah kira-kira kita menjadi congkak di muka yang berhadapan

Muka kita sendiri


Jakarta, 16 April 2022

Upacara Kerohanian

Upacara Kerohanian

Membabtis diri sendiri kala merasa banyak dosa adalah hal yang baik. Bersahadat setiap waktu untuk menghapus dosa-dosa kecil di waktu berkala juga baik--itulah sebab selalu ada dua sahadat di saat salat. Memahami kerohanian hanya bisa dirasa oleh diri orang yang menjalankannya. Nah, kali ini saya merasa sedang berceramah, padahal intinya saya hanya ingin melatih diri agar konsisten dalam beriman.

Konsisten dalam beriman yang saya maksud adalah, tak tergoyahkan oleh pemahaman baru tentang suatu pandangan yang jelas-jelas dijalankan kiai-kiai kampung, pondok pesantren dan penceramah yang disegani pengikutnya. Selebihnya, soal tafsir, saya sering berubah-ubah pandangan sesuai hasil pengamatan. Masalahnya sekarang, saya kembali bimbang dengan persoalan agama, yang mana pembahasannya selalu hal sepele dan dangkal, yang semisal itu dilakukan pun tak akan berakibat apa-apa pada keimanan. Sebaliknya, hal-hal yang aneh dan seolah benar dalam pembahasan agama hanya dilewati begitu saja, tidak dibahas. Tahu sendirilah, orang-orang yang tidak paham agama manggut-manggut bila mendapati persoalan pelik, sedang yang paham agama jarang membuka media sosial, TV dan hal yang berbau digital lainnya, hingga mereka tak sempat memberi penjelasan pada publik--bisa dikata ada yang tidak pernah membuka sama sekali.

Saya seringkali melewati begitu saja ceramah-ceramah yang ada di media sosial, "bukan berarti saya tidak suka mendengar soal keagamaan". Kata-kata bijak yang bertebaran atas nama kiai tertentu pun, selalu saya lewati, mungkin maksud diri adalah meminimalisir mengutip kalimat orang suci yang belum tentu itu diucapkan langsung, siapa tahu hanya tafsir dari si tukang desain kata-kata bijak.

Selebihnya, soal datang langsung ke rumah kiai-kiai untuk mendapat pencerahan, saya selalu tak sanggup menahan malu. Kalau dipikir-pikir, malu dalam hal kebaikan itu hal yang bid'ah, baik dalam hal mendekati anak orang, misal, asal dengan tujuan baik--tapi yang namanya malu, meski tidak punya rupa, dia mengakar seperti membentuk sektenya sendiri dalam kepala.

Lalu soal bacaan, entah kenapa saya lebih suka membaca hal yang jelas-jelas karangan dibanding fakta yang sedang ada di dunia. Mungkin, karena fakta sudah terlalu manipulatif dan media penyiaran hanya menjadi ajang pengepul tungku dapur. Kebenaran bersembunyi di hati orang-orang baik dan hal salah begitu gagah berkeliaran di hati orang-orang buruk.[]

Waktunya Melihat Diri Sendiri

Waktunya Melihat Diri Sendiri

Waktunya melihat diri sendiri. Menata kembali rambut yang digantungi kesombongan. Memangkas jenggot yang dipertahankan sebagai cerminan. Jati diri kadang berjatuhan seperti musim. Taman yang lama tertutup perlu dibuka kembali. Kesuraman kala sore hingga pagi biarkan, tapi mari beri lampu yang lebih terang.

Kau barangkali hanya seutas ingatan dari masa lalu untuk menggapai si pengingat di masa depan, tapi kau adalah batu loncatan bagi kau sendiri yang tentu lebih penting dari ingatan. Bila setiap hal bisa sampai ke masa depan berkat tulisan, cukuplah yang dirasa sekarang ini menjadi landasan bagi dirimu sendiri untuk beberapa waktu yang akan datang. Kau tak bisa melekat dalam sejarah seperti orang-orang suci dan orang-orang kejam terdahulu dikisahkan hidupnya. Kau juga tak bisa mati-matian melakukan sesuatu karena hidup yang kau jalani bukan untuk diperjuangkan, tapi untuk dijalankan.

Perintah, dia adalah sebuah jalan. Larangan, dia adalah jurang. Sunah, dia adalah instruksi agar kau bisa melompat kala ada batu, duri, dan jurang di tengah jalan. Kau adalah kumpulan dari ketiga hal tersebut.

Kau dan sekutumu yang sesama manusia seringkali menyalahkan Tuhan atas sesuatu yang tidak kau setujui. Kau seringkali pula meletakkan keyakinan dan harapan pada sesuatu yang bukan Tuhan. Lalu suatu ketika kau datang, menangis, menyesal, dan menyatakan Tuhan salah atas tindakanmu memercayai selain dirinya. Kau bukan hanya bodoh dalam berpikir, tapi juga bodoh dalam bertindak.

Suatu ketika kau akan mendapi diri terperosok di antara jalan pintas. Kau tidak bisa melompat sebab tidak ada pijakan lain. Saat itu kau menangis pada diri sendiri dan itu akan sering kau dapati bila kesadaran hanya dibuat hiasan.

Kembalilah pada jalan yang telah ditetapkan. Ikuti aliran kehidupan. Ikuti benang yang membentang pada titik akhir itu. Jangan sekali-kali coba memotong benang atau aliran tersebut, sebab sekali terpotong, kau akan memasuki jalur lain yang tentu membuatmu menjadi orang lain sebab itu bukan jalanmu.

Hari ini, hati tetap menangis, seperti kau tak memiliki mangkuk untuk membendungnya.[]

Kepada Siapa

Panah Basah yang Menancapi Dada

Orang yang jarang atau bahkan tidak pernah beribadah, mungkin karena hidupnya dipenuhi pahala dan sedikit sekali dosa. Sebab, saya sendiri tidak sanggup meninggalkan ibadah sebab dosa terlalu banyak. Tentu, beribadah bukan untuk mendapatkan pahala, melainkan agar bisa menyeimbangi dosa-dosa tersebut. Saya tahu, barangkali susah untuk menyeimbangi antara dosa dan pahala, sebab bagaimana pun ibadah berlangsung, dosa tetap menyertai seperti tinta yang dituangkan di udara. Yang dihirup, dipikirkan, dan dirasa, adalah dosa. Padahal, manusia hidup hanya untuk beribadah dan melangsungkan hidup. Meski kadang terbersit tanya, "Sebetulnya untuk apa mempertahankan hidup, toh akhirnya mati?"

Bisa jadi saya adalah jenis orang yang ibadah jalan, dosa juga jalan. Bukan tidak tahu jenis dosa dan diri luput hingga melakukannya. Semua dikerjakan secara sadar. Tahu bahwa itu dosa, tapi tetap saja kesadaran untuk menahan selalu gagal. Kegagalan tersebut sering terulang. Penyesalan, tentu ada penyesalan setelah melakukan dosa tersebut.[]


Soal Nasi Saja Saya Suka Membahasnya

Saya tahu, setiap orang memiliki kriteria makanannya masing-masing. Tapi ketika ada orang yang mengatakan dirinya telah menanak nasi, sedang di dalam panci berisi beras matang yang lembek, saya menjadi tertekun. Nasi lembek, memang apa bedanya dengan bubur? Kalau memang bubur, mungkin saya bisa menghabiskannya satu piring, tapi nasi yang jadi-jadian itu tidak pernah sanggup saya habiskan. Sebab bagaimanapun, seharusnya ada ukuran nasi yang benar-benar nasi. Beras yang tidak terlalu banyak air atau kekurangan air saat memasaknya. Ukuran air yang pas, itulah nasi. Ukuran air berlebihan, itulah bubur. Ukuran air kurang, itulah rengginang.

Jelas saya tidak bisa memasak untuk orang yang suka memakan nasi lembek. Sebab itu tidak jelas nasi atau bubur. Tapi setidaknya, ada kriteria umum yang membuat semua orang sepakat soal rasa nasi, yaitu tidak jauh beda dari bentuk asal dari beras. Saya akan sangat enggan memakan nasi yang beraroma melati, pandan, atau jenis pengharum lainnya. Saya lebih suka bau alami dari beras, meski beras tersebut apek, sebab apek adalah bagian dari kriteria beras yang tidak terawat.

Begitupun soal menulis cerpen, tidak jauh beda dengan pandangan saya soal beras yang menjadi nasi tersebut. Saya tidak suka cerita yang terlanjur lembek, penuh air, atau gersang sama sekali. Sebab ada ukuran tersendiri untuk cerita, yaitu membuat pembaca penasaran dan selesai membacanya. Ukuran saya menulis cerita mirip dengan ukuran saya memasak, sebab itulah gaya yang saya suka, dan saya bisa menghabiskannya dalam satu porsi tanpa sebutir pun tersisa.

Entah sekarang ini banyak orang yang suka makan nasi yang menyerupai bubur, atau nasi yang seharusnya adalah nasi. Meski seharusnya, orang-orang menentukan pilihan mereka, mau memakan bubur atau nasi? Iya, jelas bahan dasarnya sama, beras. Tapi ukuran air yang dituangkan seharusnya bisa dipilih juga.[]


Saya Menggunakan Kata Aku 

Sesuatu yang aku miliki setelah ketidakpunyaan, itulah milikku. Sesuatu yang aku miliki setelah kepunyaan, itu milik orang lain. Hak dan yang berhak bisa kusingkirkan bila tak berguna lagi hakikat keberadaan. Kesemuan, kesementaraan yang seringkali disadari, seringkali pula terlewati oleh pikiran singkat yang diperkuat syahwat.

Orang lain boleh berkata mudah melakukan ketiadaan menjadi ada daripada memaparkan yang sudah ada biar lebih jelas eksistensi adanya. Orang lain juga boleh menyingkirkan yang kotor dan mengambil yang bersih, karena seperti itulah watak dasar manusia. Bila ada yang ingin mengambil kotoran dan membuang yang bersih untuk orang lain--bila pula ada yang melakukan ketiadaan meski sulit lalu memaparkannya seakan ada di benak orang lain, maka orang tersebut telah melewati batas tertentu dan boleh hidup di batas tertentu itu.[]



Perantau Tak Lebih dari Penjajah

"Merantaulah, Nak Caraka. Pendahulu dan nabi yang ayahmu kagumi adalah perantau."

"Apa ibu membesarkanku hanya untuk disuruh pergi?"

Pertanyaan tersebut tidak dijawab oleh Tanima, dia memalingkan pandang dari putranya. Dia tidak mau putranya melihat mata yang perlahan sembab.

Satu minggu dari percakapan tersebut, Caraka berangkat merantau. Caraka tidak tahu apa yang harus dia lakukan di tempat rantau. Ibunya hanya berkata, "Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan, Nak."

Walau Caraka tidak tahu apa saja yang ingin dilakukannya, dia berangkat setelah merangkak tiga kali berulang di bawah selangkangan ibunya yang berdiri di mulut pintu.

Tentu selalu ada tangis di pertama kali kepergian, tapi Caraka tidak mau menangis, dia seperti dendam pada ibu yang telah menyuruhnya pergi.

"Kepergian selalu singkat, tapi menyisakan kesedihan yang lama. Anehnya kau tidak sedih sama sekali. Merasa senang bisa pergi dari keributan keluarga?"

Caraka tidak peduli dengan lelaki tua di sebelahnya. Perjalanan panjang ke Jogja, membuat lelaki yang duduk di sebelahnya itu gatal menahan percakapan. Sebelumnya, Caraka hanya menjawab singkat, dan berkata bahwa dirinya baru pertama kali pergi ke Jogja.

Tinggal di kota yang penuh keilmuan, Caraka merasa dirinya amat bodoh. Dia mengikuti seminar-seminar kecil yang berharga murah. Setiap selesai mengikuti seminar, dia merasa lebih pintar.

Beberapa bulan tinggal di Jogja, Caraka mulai sadar, pintar saja tidak cukup tanpa uang. Demi bertahan hidup, dia melakukan hal apa saja yang bisa menghasilkan uang. Kalimat ibunya tentang dia boleh melakukan apa saja seperti doa yang terkabul begitu saja.

Satu tahun berlalu, Caraka pergi ke Jakarta. Kembali ingin melakukan apa saja. Melakukan apa saja di Jakarta termasuk bagian yang susah baginya. Lalu dia melakukan kudeta di suatu instansi negara, dan dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa sebab Caraka sebetulnya tidak masuk ke jajaran pekerja atau pengemban jabatan. Dia hanya orang lewat yang bertindak seperti preman mengusir pedagang. Miris.




Back To Top