Pecundang Beda Tipis dengan Pengalah

Pecundang Beda Tipis dengan Pengalah

Satu hal yang tidak dipahami orang tua, dia suka memarahi anaknya sedang si anak tak pernah mau orang tuanya marah. Anak pergi meninggalkan orang tua, sudah menjadi kasus umum. Ketika ditanya, kenapa memilih pergi? Mereka hampir memiliki alasan yang sama, "Orang tua saya sering marah."

Seorang anak, kadang memilih dimarahi orang lain daripada dimarahi ibu atau ayahnya. Mereka tidak ingin dimarahi oleh orang yang seharusnya menyayangi, bukan memarahi. Walau, jenis sayang orang tua kadang berbeda-beda, dan anak terlanjur mengartikan kemarahan sebagai bentuk dari kebencian. Ini bisa diatasi, andai orang tua tahu ketakutan dari seorang anak, andai pula orang tua tahu bahwa anak menganggap mereka sebagai pelindung, bukan ancaman.

Jujur saja, kalau saya sendiri, bodo amat mau orang tua marah atau tidak. Tak ada pengaruhnya,. Dimarahi, dibenci, dipuji atau sejenisnya, tak peduli. Yang jelas, aku tetap menganggap mereka sebagai orang tua sebagaimana kodrat orang tua berada. Orang tua kodratnya mendidik, menyukai anak, membesarkan dan melindungi. Semisal ada orang tua yang garangnya melebihi ular kobra, itu bentuk perlindungan lain yang patut dimonumenkan.

Kelak, saat seorang anak paham tentang kemarahan orang tua, tentang mengapa orang tua memukul, meninggalkan atau bahkan kadang mendiamkan, anak tersebut pasti akan senyum-senyum sendiri menyadari kebodohannya. Tapi, ya... orang tua itu kadang merasa sudah berbuat adil pada anaknya, sedang anak tidak mau paham situasi orang tua. "Anak meninggalkan orang tua sedang orang tua sudah memasuki usia yang perlu perawatan khusus, bukan kesalahan anak, sungguh karena keegoisan keduanya yang tidak mau saling mengerti." Lah, bagaimana bisa mengerti, sedang orang tua mengharap anaknya paham, dan si anak mengharap orang tua memahami dirinya.

Andai didramatisasi, mungkin bunyinya seperti ini:
"Saya ini anakmu, seharusnya orang tua memahami anak yang dilahirkannya."
"Lah, kamu itu anakku, yang sudah aku rawat sejak merah, seharusnya paham kasih sayang orang tua."

Sebelum saling berharap pada sesuatu selain tuhan itu berlangsung hingga kematian bertamu, sebaiknya berunding tentang keinginan masing-masing. Kesalahpahaman sering terjadi saat seseorang memilih diam sedang dia ingin bicara.

Akhirnya, saya berceramah tentang orang tua. Ceramah ini dikhususkan kepada anak yang meninggalkan orang tua, dan orang tua yang meninggalkan anak, dan kepada kamu yang merasa akan hidup sampai usia tak menentukan batas limitnya.[]
Siapa yang Melempar Dadu?

Siapa yang Melempar Dadu?

Barangkali kau yakin bahwa nasib baik dan buruk seseorang sudah diundi dengan dadu, tapi Tuhan tidak bermain dadu. Berhentilah menyalahkan Tuhan atas kekalahanmu mengundi dadu. Info tambahan, Iblis dan gerombolannya tidak senang bermain-main, mereka serius menjalankan misi perekrutan teman baru yang bisa diajak minum bersama di meja api, berhenti pulalah menyalahkan mereka. Yang senang bermain-main itu adalah kau, suka memainkan perasaan, keyakinan, bahkan dalam penghambaan pun kadang kau main-main. Manusia memang tidak pernah serius, jadi, barangkali, keyakinan bahwa "Tuhan melempar dadu atas nasib manusia" merupakan sikap main-main yang tak mau kau akui.

"Tuhan maha asyik," tapi jangan kau ajak bercanda. Itu ngelunjak namanya.

Kau tahu mengapa ada orang gila di dunia ini? Mereka dianggap gila karena bermain dengan dirinya sendiri, tidak dengan orang lain, apalagi dengan Tuhan. Kau tidak pernah bermain dengan dirimu sendiri, karena kau tidak ingin dianggap gila. Akui sajalah. Akui, bukan diumumkan, ya. Jangan seperti orang-orang yang berusaha gila dengan mengajak orang lain jengkel. (Sini aku bisikin..) Orang gila tidak pernah membuat orang lain jengkel.

"Tapi banyak, kok, orang gila yang membuat jengkel, terutama yang sering mengganggu kehidupan orang lain, banyak sekali jumlahnya."

Beda lagi urusannya, mah. Silakan definisikan sendiri tentang Orang Gila dan Orang Pengganggu.

Walau kadang, satu orang waras yang dikerumuni orang-orang gila menjadi gila dan yang gila menjadi waras. Dan itu sedang terjadi saat ini. Saat semua orang memakai masker dan kau tidak memakai hal yang sama, malah kau yang akan dianggap sakit sedang yang lain baik-baik saja. Eh, kok malah sampai ke pembahasan orang sakit?

Sepertinya pembahasan ini harus diakhiri.[]

Pertengkaran Masehi dan Hijriah

Tradisi kadang simpang siur dengan agama, walau agama itu sendiri sebetulnya ada karena tradisi. Karena memiliki satu kesatuan yang akrab itulah, mungkin, membuat sebagian besar orang menjalani kehidupannya menurut agama dan mengira dia telah lepas dari tradisi. Salah satu hal yang membuktikan kemungkinan tersebut adalah bingungnya orang saat menentukan malam. Seperti bingungnya orang saat ingin menjawab pertanyaan, "Malam selasa itu ada di hari senin atau hari selasa?"

Kita sepakat bahwa agama terbesar saat ini adalah Kristen dan Islam. Dan kalender yang familiar adalah Masehi bukan Hijriah. Kefamiliaran ini terjadi karena koran, media informasi dan benda elektronik menggunakan kalender Masehi untuk menunjukkan waktu (secara tidak langsung, tradisi orang islam ditindih oleh tradisi agama lain). Tidak ada kriteria khusus yang menunjukkan bahwa, orang islam akan menerima koran atau memiliki perangkat elektronik yang berkalenderkan Hijriah. Hal ini membuat kehidupan kadang lucu dan menjengkelkan kalau ditautkan dengan waktu.

Pernah saya undang teman untuk datang ke acara pada kamis sehabis isyak. Di undangan cukup jelas tertulis, "Kamis 04 Juni 2020, Jam 19.00 WIB." Mungkin dia membaca sekilas dan menyimpulkan, "Ah, ada undangan malam kamis habis Isyak." Tapi dia datang pada hari Rabu setelah Isyak, dan marah-marah karena acara belum dimulai.

Saya bilang, "Kan malam kamis, bukan sekarang."

Dia ngotot, "Sekarang, kan sudah malam kamis."

Saya tunjukkan undangan, barulah dia berhenti ngoceh. Kemudian dia bilang, "Lain kali perjelas saja, 'malam jumat habis isyak', biar tidak salah paham orang yang menerima undangan."

Mendapati pernyataannya yang begitu, saya menjadi bingung sendiri. "Jumat habis isyak, kan bukan tanggal 04 Juni? Ini saya yang salah, apa dia yang eror?"

Setelah saya amati ulang, rupanya ada jenis manusia yang menggunakan kalender Masehi tapi fanatik pada hari Hijriah. Tepatnya, ada jenis orang yang tidak bisa membedakan, kapan pergantian hari dari masing-masing Penanggalan.

Kemudian penting saya perjelas bahwa, "Pergantian hari dari tahun Masehi itu dihitung setelah jam 12 Malam, sedangkan Pergantian hari pada tahun Hijriah dihitung setelah jam 12 Siang." Dan mohon jangan dibolak-balik (ini pelajaran anak SD), agar tidak telat atau terlalu awal dalam menghadiri suatu jadwal pertemuan.

Tahulah, bahwa tradisi menyebut nama untuk malam di negara kita ini sering salah dan dianggap benar, dan orang yang benar merasa malu oleh kebenarannya sendiri.[]





Perspektif Ledakan Besar di Beirut Lebanon

Tepat pada sore hari di tanggal 4 Agustus 2020, ledakan besar terjadi di Beirut, ibukota Lebanon yang terletak di pesisir pantai. Media menyatakan, ratusan orang yang meninggal karena ledakan, padahal, bisa saja ribuan orang tanpa sadar telah berpindah alam di kota Beirut tersebut. Ledakan yang terjadi di Beirut, adalah sebagian kecil dari hal-hal yang akan terjadi di waktu mendatang.

Banyak sekali perspektif yang bisa diambil sebagai tinjauan, apakah benar ledakan tersebut disebabkan oleh bahan-bahan yang mengandung sodium netrat yang terbakar, atau akan ada penjelasan lain yang serupa tentang sesuatu yang membuat ledakan tersebut terjadi?

Ada sudut pandang yang perlu ditawarkan pada semua orang. Bagaimana kalau di Beirut terutama di tempat yang meledak, adalah sarang dari para penjahat dunia? Para penjahat tersebut tidak sadar bahwa ada yang menyusup dan meledakkan tempat persenjataan yang penuh peledak tersebut? Sebab, mau dijelaskan secara ilmiah apa pun, ledakan sebesar itu tidak mungkin meledak karena sekarung atau lima ratus karung bubuk yang mudah meledak. Tempat itu terbakar dan meledak karena memang ada bahan yang diolah untuk meledak, dan pasti ada dalang yang sengaja meledakkan. Siapa yang meledakkan? Ada dua sudut pandang, bisa saja orang baik, atau pula orang jahat. Kalau benar Beirut sarang penjahat, berarti yang meledakkan adalah orang baik. Begitupun sebaliknya.

Apakah perlu berduka cita atas meninggalnya para korban? Ini kembali pada urusan masing-masing yang merasa perlu prihatin. Namun, prihatin pada sesuatu yang belum jelas duduk perkaranya hanya akan membuat si tukang prihatin berada di sisi yang bimbang, antara dia bagian dari penjahatnya atau orang baiknya.

Masalah seperti ledakan di Beirut ini tidak perlu dipertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab atau repot-repot mencari dalangnya. Sebab, jika ditemukan atau pertanyaan siapa penyebabnya terjawab, manusia tak bisa melakukan apa-apa, mengadilinya pun tak guna.

Terakhir, jangan hanya karena merasa hidup aman dan normal, lalu tidak waspada pada keadaan damai. Kedamaian seringkali membawa petaka, bisa saja menjadi kebenaran.[]



Tujuan tak Guna

Hal final dari sesuatu yang hidup adalah kematian. Setelah sampai final, apa yang akan dilakukan oleh sesuatu yang pernah hidup tersebut?

Di sini perlu diperjelas bahwa, lawan kata kematian adalah kelahiran, bukan kehidupan. Kehidupan hanyalah jalan, yang rentang jarak dan waktunya beragam. Itulah sebab, kadang ada bimbang yang terselip di antara semangat menjalani hidup.

Bimbang kadang datang saat semangat menulis dan semangat belajar sedang sadis-sadisnya. Saat itu pulalah pertanyaan tentang apa tujuan sebenarnya dari hidup, seringkali membuat semangat tersebut lenyap seperti tak pernah terpikirkan.

Bukankah, sebanyak apa pun manusia berbuat, muaranya adalah kematian? Seperti halnya orang tua merawat anaknya, bertahun-tahun dibesarkan serta menghabiskan banyak biaya dan tenaga, tapi pada akhirnya anak yang dibesarkan mati. Sia-sia.

Baik, tidak ada yang sia-sia di dunia ini, semua memiliki arti dan pengertiannya masing-masing, tapi untuk urusan yang kasat mata jelas-jelas banyak ruginya, susah untuk mengatakan bahwa hal tesebut tidak sia-sia.

Bukankah percuma melakukan ini itu, hidup berkecukupan dan segala kebutuhan terhidangkan dengan mudah, kalau pada akhirnya berakhir pada ketiadaan? Sepanjang-panjangnya usia, ketahanan tubuh setiap manusia memiliki limitnya tersendiri. Umur 200 tahun, tapi tak bisa berdiri, kulit keriput, pucat dan tak bisa melakukan apa-apa, apanya yang berarti?

Barangkali ada yang pernah mendapati drama kehidupan konyol seperti ini; "Ada presiden, disandera oleh teroris. Presiden bisa lepas asal ditebus dengan uang 100 triliun. Kalau tidak ditebus, presiden akan mati." Bagi manusia yang memiliki satu sudut pandang, pasti memilih menebus presiden meski harus kehilangan uang 100 triliun. Karena presiden dianggap lambang negara, kalau presidennya mati sama saja dengan membuat negara mati. Tapi untuk orang yang memiliki banyak sudut pandang, tentu tak akan semudah itu menebus presiden dengan uang 100 triliun. Uang sebanyak itu, bisa menghidupi banyak orang dalam waktu yang cukup lama. Daripada untuk kehidupan satu orang, mending uang 100 triliun tersebut untuk banyak orang. Toh, ditebus atau tidak ditebus, suatu saat si presiden akan mati juga.

Penjelasan yang menggunakan perbandingan seperti di atas, kadang terasa seperti ceramah atau petuah yang tak penting untuk diperhatikan. Itulah sebab, sepertinya orang dewasa perlu dinasihati anak kecil. Anak kecil dengan pikiran polosnya akan membuat orang dewasa sadar, bahwa dirinya perlu perbaikan. Sama halnya dengan pengertian tentang tujuan hidup manusia yang sebenarnya, perlu diperbaiki oleh anak kecil. Setiap dari orang harus kembali menggunakan akal polosnya untuk memahami. Bahwa, jadi apa pun, sebesar apa pun pencapaian, tetap berujung pada kematian.

Apa perlu kecewa setelah menyadari diri akan mati? Seharusnya tak perlu, kalau, menjalani kehidupan dengan pilihan hati. Memang, setiap hal yang dilakukan pasti berujung pada kekecewaan dan ketidakpuasan atau pula penyesalan. Tapi kalau menjalaninya dengan hati, barangkali kecewa dan penyesalannya tidak terlalu menyakitkan.[]



Upaya Memusnahkan Kesengsaraan = Upaya Memusnahkan Manusia


Terlalu banyak kesengsaraan di dunia ini. Dari manusia yang tersiksa menahan lapar, mencari tempat tinggal, terusir, terperas, terperdaya, terpenjara, tersingkirkan, terasingkan, dibubuh, terhina, luput perbuatan, sakit berkepanjangan, dan akan panjang sekali kalau disebutkan si kesengsaraan itu. Cara terbaik untuk menyelesaikan itu semua kadang hanya kematian. Makanya tidak aneh semisal ada cerita suatu kelompok ingin memusnahkan sebagian kehidupan manusia untuk mengurangi kesengsaraan. Walau, tentu dengan resiko, orang yang berbahagia pun juga ikut mati demi menyelesaikan kesengsaraan orang lain.

Semisal saya dijadikan tuhan untuk mengurus satu jenis makhluk yang keberadaannya seperti manusia, jelas saya akan frustasi, dan bisa jadi hanya ada neraka atau hanya akan ada surga yang saya siapkan. Kenapa saya hanya memilih satu saja untuk tempat akhir, bukan keduanya? Karena jelas saya kebingungan mau menentukan manusia yang ini akan di surga atau di neraka? Sifat manusia itu berubah-ubah, ada baik ada jahatnya. Daripada bingung memilah mana yang harus ke surga dan mana yang harus ke neraka, mending pilih satu agar kelar urusan.

Jumlah manusia yang menderita dengan manusia yang bahagia, berapa perbandingannya? Paling, lebih banyak jumlah menderitanya, sebab manusia lebih sering merasa kurang daripada merasa lebih. Jelas, merasa kurang itu bukan membuat manusia senang, itu akan membuat manusia cemberut dan terpuruk berkepanjangan. Ini tidak mayoritas, tapi hampir sebagian besar.

Jumlah orang sabar di dunia ini bisa dibilang sedikit, karena ini sifat yang unik. Kalau banyak orang sabar, tentu kebencian, tindak kekerasan, dan sejenis yang sesaudara dengan kedua hal itu, tidak akan membuat orang di sekitarnya merasakan hal yang sama.

Memikirkan kesengsaraan orang lain, saya malah ikut sengsara. Tidak bisa mengatan baik-baik saja ketika melihat seorang lelaki tidur di pinggir jalan sedang angin malam berhembus kencang. Tidak akan merasa baik-baik saja saat mata ini melihat seseorang dieksekusi, dipenjara, dipukuli dan sejenisnya. Bayangkan, kalau saya berada di posisi yang menyedihkan itu, tentu saya mengharap pengampunan. Orang lain bisa saja bilang, "bunuh dia, hakimi dia, pukuli, penjara, jangan kasih makan, dan sebagainya". Tapi apakah masih bisa bilang begitu semisal dirinya berada di posisi tersebut?

Saya tak mau mengatakan sedih mendapati begitu banyak kesengsaraan di dunia ini, di sekitar saya, atau di negeri ini. Karena bagaimana pun sedihnya saya, saya malah ingin memusnahkan sebagian manusia dan menanggung dosanya seorang diri, daripada saya melihat kesengsaraan-kesengsaraan manusia lain. Cukup kejam sebetulnya, tapi cara lain apa lagi yang bisa diperbuat, selain itu? Membuat semua orang bahagia? Itu amat mustahil dilakukan, karena sebanyak apa pun seseorang dibuat bahagia, orang tersebut masih merasa kurang.[]



Raja Jahad - Cerpen Ali Mukoddas



Namaku Jahad. Aku tidak mengutuk rakyatku meski mereka memanggilku Raja Jahat, tapi mereka menjadi batu. Kau harus percaya itu.

Aku diangkat sebagai raja karena ayahku seorang raja. Rakyat dari ayahku yang memaksa, kemudian mereka meminta dirinya sendiri menjadi rakyatku. Seharusnya aku yang mengangkat mereka sebagaimana mereka mengangkatku.

Rakyatku bahagia saat ayah membiarkan aku sebagai penerusnya. Mereka mengadakan pesta untuk dirinya sendiri. Sebagai raja, aku dipaksa ikut bahagia. Aku tersenyum agar terlihat bijaksana seperti raja sebelumnya. Apa menjadi raja tak boleh terlihat bodoh? Sayangnya, ayah hanya mewarisi wajah dan kedudukan, dia tak mewarisi kebijaksanaan dan senyuman yang akan membuatku terlihat pintar.

Mau seperti apa pun aku tersenyum, rakyatku ikut tersenyum. Itu membuatku merasa berada di depan cermin. Aku tahu mereka tersenyum bodoh.

“Raja kita amat bodoh. Dia tidak bisa menyulut peperangan dengan raja lain.” Kalimat itu pernah kudengar dari salah seorang tamu yang diundang ayah untuk merayakan tahun panen.

Selain kalimat yang pernah kudengar sendiri, barangkali tak terhitung berapa orang yang mengataiku bodoh hanya karena aku lebih memilih kedamaian daripada wilayah kekuasaan.

Pernah kuadakan pertemuan besar, menyampaikan bahwa selama rakyat bisa makan tanpa kekurangan, bisa bertani, berternak dan berburu dengan aman, itu sudah lebih cukup daripada peluasan wilayah yang akan membutuhkan banyak darah. Bagaimana pun aku menjelaskan, selalu ada orang yang tidak mengerti.

“Iya orang-orang kerajaan bisa aman dan tidak merasa terancam akan kelaparan. Kami juga ingin hidup tenang dengan memiliki stok makanan yang cukup untuk beberapa tahun ke depan. Bagaimana kalau ada suatu wabah yang akan membuat kita tak bisa berbuat lebih? Wilayah yang itu-itu saja, ternak dan tani yang luasnya tidak bertambah, apa itu masih bisa dikatakan aman untuk kami?”

Aku membantah kekhawatiran itu. Menjelaskan dengan tegas bahwa kelaparan tak akan pernah terjadi, semisal terjadi pun akan ditanggung oleh pihak kerajaan. Namun setelah menjelaskan dengan sikap yang sok tegas itu, aku menyesal. Mereka tetap memandangku sebagai raja bodoh.

Andai bisa menuntut, aku ingin menuntut rakyatku. Tak banyak yang akan kutuntut, paling hanya senyum kebahagiaan. Akan kutanyakan pada mereka, “Ke mana kebahagiaan yang kalian tampakkan saat aku pertama kali diangkat sebagai raja? Apa kebahagiaan itu terlalu kalian hambur-hamburkan hingga tak tersisa untuk saat ini?”

Hilangnya kebahagiaan itu semakin tampak saat ada beberapa orang yang berpakaian serba hitam datang mengeluhkan, wabah telah datang dari Negeri Dingin. Beberapa warga yang berburu dan bertani di wilayah luar kerajaan telah meninggal karena wabah itu. Beberapa orang yang berpakaian serba hitam itu memintaku untuk menjamin keselamatan mereka. Demi menyetujui penjaminan, kuperintahkan mereka untuk tetap berada di wilayah kerajaan.

Kurasa beberapa orang yang datang meminta penjaminan tersebut mematuhi apa yang kukatakan. Namun mereka menganggap dirinya lebih pintar, kemudian menyebarkan sesuatu yang kukatakan kepada orang yang mereka temui, orang yang mereka temui mengatakan pada keluarga dan seterusnya. Dan mereka ketakutan.

“Hanya raja Jahat yang membiarkan rakyatnya ketakutan.”

Seorang yang dikenal bijaksana mengatakan kalimat tersebut di sela-sela ketakutan. Aku tahu, orang tersebut seringkali datang menemui ayah, mereka berbicara di ruang penjamuan hingga salah satunya merasa ngantuk. Setiap akan pulang, orang bijaksana itu mengatakan, “Hanya raja Jahat yang membiarkan rakyatnya ketakutan.” Kalimat itu diucapkan pada ayah agar dia selalu memberi rasa aman pada rakyatnya. Tidak mungkin orang sebaik itu berkata, “Raja Jahad membiarkan rakyatnya ketakutan”.

Apa aku terlalu bodoh memilih kalimat, hingga membuat mereka ketakutan hanya karena kukatakan, tetap berada di wilayah kerajaan?

Karena takut, mereka menuruti perkataan, yang padahal hanya kusampaikan pada beberapa orang. Rakyatku memilih tinggal di wilayah kerajaan. Yang jauh mendekat, yang dekat semakin mendekat, seperti ada hantu masa lalu yang menghalau mereka. Tempat yang seharusnya lengang menjadi padat, seramai saat mereka sepakat mengangkatku menjadi raja. Namun, baru kali itu kulihat mereka berada di wilayah kerajaan dengan wajah murung. Saat kusapa mereka dengan senyum, mereka seakan berkata, “Raja Jahat, tega sekali membiarkan rakyatnya ketakutan tanpa memberi mimpi pembebasan.”

Setelah mereka memilih berkumpul di wilayah kerajaan, beberapa orang meninggal, dan mereka menuntutku untuk bertanggungjawab. Sebagian orang menyampaikan padaku bahwa wabah telah masuk ke wilayah kerajaan, namun rakyatku lebih percaya bahwa, mereka meninggal karena tidak mendapatkan jatah makanan. Aku semakin dikenal sebagai raja jahat yang membiarkan rakyatnya mati kelaparan, yang membiarkan rakyatnya ketakutan.

Aku tak mau menghukum mereka yang mengatakan bukan-bukan tentangku. Pembagian makanan dan kebutuhan sehari-hari tetap rata kubagi. Kalau rakyatku tidak serakah, pembagian seperti itu bisa dilakukan sampai tiga bulan lamanya. Namun, sebelum tiga bulan terlewati, persediaan habis. Orang-orang yang tidak memiliki kesabaran, kembali ke rumahnya masing-masing, kembali bertani dan berburu untuk menghilangkan kebosanan.

Wilayah kerajaan kembali lengang.

Wabah yang membuat orang-orang meninggal sudah tak terdengar lagi kabarnya. Beberapa orang yang sebelumnya meminta jaminan aman, kembali datang padaku. Mereka datang bukan untuk berterima kasih. Mereka datang dengan membawa batu berbentuk manusia. Kukira mereka berusaha menghiburku dengan membawakan patung raja berbelas kasih yang telah mengamankan rakyatnya dari wabah.

“Beberapa orang yang meninggalkan wilayah kerajaan menjadi batu. Kami membawa orang bijaksana yang menjadi batu ini untuk diperlihatkan ke raja sebelumnya.”

Kalimat itu susah kucerna, aku malah beranggapan mereka membuatkan patung orang bijaksana untuk ditawarkan pada ayah. Mereka akan mendapatkan banyak hadiah karena ayah begitu mengagumi orang bijaksana tersebut.

Beberapa orang yang berpakaian serba hitam itu pergi, lalu datang segerombolan pemuda, mengangkat bendera hitam seraya berteriak, “Lepaskan kutukan raja pada rakyat. Kami bukan batu. Kami juga ingin makan sebagaimana raja makan.”

Teriakan mereka segera bungkam saat penjaga wilayah kerajaan berbaris dan meminta izin padaku untuk menghabisi para pengkudeta. Aku tersenyum bodoh. Pengkudeta? Jelas mereka sedang menuntut kesejahteraan padaku, bukan kudeta. Sayangnya, senyumanku disangka kata “iya”, dan penjaga wilayah menangkap pemuda-pemuda tersebut.

Penangkapan tersebut disaksikan beberapa orang yang sebelumnya pergi, sepertinya mereka membalik arah setelah mendengar kerusuhan para pemuda. Sebagai saksi, mereka menyampaikan pada orang yang mereka temui, orang yang mereka temui menyampaikan pada keluarga dan tetangga. Jadilah, “Raja Jahad akan mengeksekusi pemuda-pemuda yang memiliki niat bertamu.”

Aku tahu skenario akhirnya pasti penggulingan Raja. Daripada memikirkan penggulingan, aku hanya tak mengerti, bagaimana rakyatku sangat amat tak punya pekerjaan. Mereka repot-repot menjadikan aku raja, tapi aku musuh bagi mereka.

Aku pergi melihat orang-orang yang menjadi batu. Beberapa orang yang sebelumnya datang membawa batu mirip orang bijaksana, menawarkan diri untuk menjadi penunjuk arah. Aku tidak mau tahu nama-nama mereka, karena sebagaimana raja, nama semua orang selain warga kerajaan adalah Rakyat.

Di sepanjang jalan, rakyatku menyebut-nyebut Raja Jahat. Sepertinya mereka memanggil namaku. Aku berusaha menyalahkan telinga yang kurang tajam menangkap bunyi akhir dari namaku. Raja Jahat, Raja Jahad. “Raja Jahat akan mengunjungi orang yang dikutuknya menjadi batu.”

Aku melihat sendiri rakyatku yang menjadi batu. Singkat kuminta keterangan, mereka mengaku sosok yang membatu itu sebagai orang yang pernah mereka kenal. Beberapa orang yang menjadi penunjuk arah mengangguk, lalu mereka menawarkan diri untuk menunjukkan pembatuan yang lain. Aku melambaikan tangan. Setelah itu aku memilih kembali ke wilayah kerajaan.

Rupanya, selama aku pergi, rakyat berdusun-dusun mendatangi wilayah kerajaan, dan mereka semua menjadi batu.

Beberapa orang yang sebelumnya menawarkan diri sebagai penunjuk arah datang membawa pedang dan busur. Mereka tetap mengenakan pakaian serba hitam, seperti saat pertama melaporkan tentang wabah yang membuat beberapa orang meninggal. Bodohnya, aku baru menyadari keanehan orang-orang itu.

Mereka mengancam. Mengatakan akulah Raja Jahat yang menyebabkan keganjilan. Mereka mengaku sebagai utusan dari Negeri Dingin yang akan mengakhiri hidupku. Siapa pun tentu takut mati. Aku melarikan diri. Tak ada yang mengejar. Kulihat mereka juga menjadi batu.

Kuceritakan ini padamu, karena suatu saat aku tidak ingin dikenal sebagai Raja Jahat. Mereka menjadi batu karena keinginan mereka sendiri. Kau tahu, bukan? Segala hal tidak bisa menghindar dari kekuasaan waktu. Namun, ada satu hal yang barangkali bebal terhadap waktu. Adalah batu. Dia akan tetap batu mau sepuluh tahun atau ratusan tahun mendatang. Mereka bisa merenungkan kesalahan mereka selama membatu. Barangkali, mereka akan hidup kembali saat menyadari kesalahannya. Tapi sungguh, aku tidak mengutuk mereka agar menjadi batu.[]

Sampang, 24 April 2020.



Back To Top