Jiwa yang Teguh

Jiwa yang Teguh

 Jiwa yang lebih besar, lebih tinggi, dan lebih angkuh dari tubuh jasmani, adalah jiwa yang selalu saya dambakan. Saya berusaha membesarkan jiwa meski selalu gagal, lupa, tergores oleh besitan sekilas dan digilas kemalasan. Memulai pembesaran jiwa selalu asyik dari hal yang kecil-kecil. Bersabar, seringkali coba saya pertahankan, meski di benak dan dada terasa sesak dan ingin menggerutu panjanh, tapi itulah usaha saya membesarkan jiwa.

Lah, orang kurus kecil seperti saya, bila tak ada usaha membesarkan jiwa, mau membesarkan apa? Toh, gebetan tak punya, istri apa lagi, tanggungan rumah juga tidak.

Di hadapan orang lain, saya seringkali mendapatkan kalimat, "Ali Mukoddas itu baik." Mendengar kalimat tersebut, saya seperti ditampar di depan calon mertua. Sebab, setiap kali mengoreksi diri, tak ada kebaikan yang saya lakukan. Bahkan, menulis dengan baik pun, masih jauh dan dekat bila disebut sebagai orang jahat.

Iya, tampak luarnya saja yang pendiam dan seperti orang pada umumnya. Mau bagaimana lagi, masa harus bersikap aneh? Saya tak suka menjadi pusat perhatian (saat menulis ini, saya merasa kurang pas, atau jangan-jangan saya sudah menjadi pusat perhatian?😱)

Umumnya, manusia berbuat jahat dilakulan secara diam-diam, biasanya.

Saat ini, jiwa saya masih kecil. Buktinya, datang ke rumah orang saja serasa seperti maling yang ketahuan.


Psikopat dalam Agama

Bila banyak orang sering memikirkan kalimat baik dalam benaknya untuk mendekatkan diri pada Tuhan, saya lebih cenderung memikirkan banyak kalimat buruk untuk sedikit saja sadar akan Tuhan. Sebab, mendekatkan diri pada Tuhan hampir mirip dengan mendekatkan diri pada kematian. Meski barangkali, tidak semua orang yang mati bisa bertemu dengan Tuhan, tapi kedekatannya tentu lebih jelas dibanding orang yang masih hidup. Dan tahulah kalimat buruk yang seringkali saya pikirkan adalah soal kematian tersbut. "Aku akan mati, aku akan mati," begitu terus, kalimat tersebut menggema di kepala, seakan menjadi kalimat zikir untuk membuat diri tidak berbuat yang bukan-bukan. Normalnya, kebanyakan orang akan memikirkan kalimat istighfar untuk menyekat dirinya dari perbuatan buruk. Sayangnya, kalimat istighfar tidak mempan pada diri yang imannya tergolong sangat dangkal ini.

Kadang, saya menulis catatan tentang kematian. Tulisan yang lebih menyerupai skenario apa yang akan dialami bila mati. Kadang pula seperti orang yang sakit keras dan mendekati alam ketidaksadaran. Berikut saya kutip catatan tersebut:
"Aku sakit, dan merasa akan segera mati. Wajah malaikat maut seringkali berkelebat, seakan telah lama mengenal diri yang tak kunjung bertobat.

Ho, penjemput jiwa manusia. Bila jiwaku tak suci, tolonglah pelan jangan berlari. Sebab diri telah mengalami keringkihan, kerusakan, dan kerasukan hal-hal gaib dari hati yang terbolak-balik. Mohon sampaikan ampun diri ini pada Tuhan yang mengutusmu untuk menjemput.

Aku takut, namun keteledoran sering menang di atas ring pertarungan jiwa yang gila. Ampuni, sampaikan ampun pada Tuhan pencipta diri ini.

Barangkali kata ampunku tak sampai sebab dosa begitu tebal menggumpal.

Bila nadiku tak lagi terasa, biarkan dosa melupakan kebaikannya."

 

Kadang pula, seperti seorang yang siap dengan wasiat untuk kerabat, teman atau orang yang menyukai saya diam-diam (siapa pula yang suka pada orang seperti saya), saya menuliskan kalimat yang menyayat diri sendiri.
"Aku mulai lelah menatap keberadaan dunia. Memikirkan luasnya semesta. Atau merenungi keberadaan diri yang sering berlaku sia-sia.

Kelelahan tersebut seperti tak akan memiliki ujung. Memberatkan pundak, menyerikan punggung, dan kadang memekakkan kepala.

Di suatu hari, aku tak berani memikirkan hidup lebih lama lagi. Aku berpikir, kepergian lebih cepat akan sangat memperingan langkah daripada menunda-nunda yang berujung pada kemalasan. Kalau kelak juga akan pergi, kenapa tidak dipercrpat saja langkahnya?

Aku ingin pergi. Tanpa perlu diantar. Karena itu hanya akan membuatku sedih.

Aku juga tak ingin memiliki foto diri, sebab itu akan menyakitkan bagi mereka yang mencoba mengenang.

Cukup saat kedatangan di dunia yang asing yang membuatku menangis. Kepergian kelak, di tempat yang asing, aku tidak ingin menangis lagi.

Sejujurnya aku tak pernah siap. Meski dihitung satu sampai seratus, aku tak pernah siap untuk pergi. Tapi, aku harus pergi sebagaimana orang lain pergi. Cepat atau lambat. Siap atau tidak."

Seraya membaca tulisan tersebut, ada baiknya diiringi latar musik perjalanan Kera Sakti ke barat. 

Pada akhirnya, meski seringkali berusaha berbuat baik, saya tidak tahu apakah perbuatan tersebut baik atau tidak, dan seringkali saya gagal meninggalkan keburukan meski taubat sering terucap di setiap waktu.

Oh, betapa malangnya.

Namanya Juga Hidup

Bertindak seperti pahlawan itu cukup melelahkan. Lelahnya seperti sesuatu yang dihasilkan oleh pekerjaan. Beda dari keduanya, lelah dari bertindak seperti pahlawan didasarkan pada kesadaran, sedang lelah dari suatu pekerjaan didasarkan pada tuntutan. Sebagaimana tuntutan, sadar tidak sadar perlu dikerjakan.

Pembeda yang lain mungkin adalah tentang bertuannya tindakan tersebut. Menjadi pahlawan bertuankan diri sendiri, sedangkan bekerja bertuankan orang lain. Itulah kenapa seringkali saya sebut orang tua yang petani adalah pahlawan, sebab mereka bertuankan diri sendiri dalam mengelola penghasilannya dari tanah. Kadang saya ingin seperti mereka, bertani, hidup dengan kerja keras yang tidak melibatkan orang lain dalam kekerasan, intimidasi dan memperebutkan hasil yang seharusnya tidak untuk didapat. Maksud saya, merebutkan hasil yang tidak sesuai dengan hasil sesungguhnya dari pekerjaan. Menjelaskan soal hasil dari perebutan ini saya cukup kerepotan, beberapa definisi dalam kalimat serasa kurang pas meski ditulis dengan redaksi yang berbeda. Dari saking tidak patutnya dilakukan.

Soal menjadi petani, saya beberapa kali pernah membicarakannya dengan orang tua bahwa anaknya ini ingin menjadi petani saja. Pembicaraan itu selalu berakhir dengan nada tak rela. Meski isinya hanya sekitar keluhan, "Duh, kuat, ya, nak? Panas tak menemukan tempat berteduh, hujan kedinginan, dan kulitmu yang hitam akan menyerupai arang. Lagi pula, apa gunanya kamu sekolah sampai sarjana?"

Pembicaraan yang dimenangkan secara telak oleh orang tua.

Saya tidak bisa mengatakan "tidak" dengan menjelaskan bahwa, sekolah itu untuk menambah pengetahuan, soal pekerjaan urusan lain. Mereka, si orang tua, kadang perlu diingatkan kembali, bahwa anaknya sudah dari kecil mengenal pekerjaan; mengangkut air setiap sore dan pagi dari sumur, baik sebelum berangkat atau sepulang sekolah agar cukup untuk minum dan memasak; mencari pakan sapi; memanen hasil kebun dan kadang ikut membajak sawah. Itu semua pekerjaan, dan sudah didapat meski sambil sekolah. Lalu untuk apa sekolah agar mendapatkan pekerjaan? Sayangnya, orang tua saya tidak pernah secara terang mengatakan, "sekolah lah agar mendapat pekerjaan." Kalimat mereka hanya sedikit mirip saja, "Sekolah, nak, yang rajin, agar tidak seperti kami." Agar tidak seperti mereka? Yang benar saja, saya lahir dari jerih payah mereka. Lalu akan sangat durhaka bila saya tidak tahu rasanya mereka memperjuangkan hidup. Akan tambah durhaka bila menjadi penganut materialisme, sedang orang tua saya tidak pernah mengenal nama makhluk pemalak tersebut. Sungguh, bagi saya materialisme adalah pemalak sejati, sebab kebanyakan yang didapat tidak sesuai dengan yang dikerjakan.

Berusaha menjadi tidak materialisme. Ini usaha yang sulit. Sulit sebab kadang pekerjaan menuntut hal tersebut. Tentu, kau menolak, siap-siap didepak. Tidak mau mengikuti sistem, digeser secara perlahan dari tempat duduk yang dikira sudah nyaman. Ya, meski tidak ada istilah nyaman sejati dalam sebuah pekerjaan. Tapi setidaknyaman apa pun pekerjaan, karena saya hidup di negara yang tidak kenal rugi, pekerjaan syusah bin syulit tetap sebagai suatu keberuntungan karena tidak seperti mereka yang mengantri berjam-jam melamar pekerjaan. Di negara ini, orang celaka hilang salah satu anggota badannya pun, masih suatu keuntungan karena dia tidak mati. Seumpama mati pun, itu suatu keuntungan agar dia tidak hidup cacat. Sungguh prinsip tak kenal rugi.

Semakin tua, yang saya lihat dari harta adalah mimpi yang melebihi imajinasi. Sebab ada orang yang kekayaannya setara pulau, tapi tidak pernah memegang pulau tersebut. Memiliki angka 100.000.000 di buku akun bank, dianggap harta oleh kebanyakan orang. Padahal definisi harta adalah sesuatu yang dimiliki, sesuatu yang dimiliki itu hak, dan suatu hak harus berada dalam jangkauan genggaman, kelihatan oleh mata, bentuk serta bisa dirasakan sifatnya. Selama ini, saya belum pernah mendengar ada orang yang mengaku memiliki angin. 

Pernah saya mendengar kalimat, "untuk membersihkan uang kotor, tinggal masukkan ke bank. Semua uang yang keluar dari bank adalah bersih." Mungkin hal itulah yang membuat definisi tentang harta dan pemahaman saya soal harta menjadi kabur. Ada orang memiliki mobil, tapi dia meminjam uang yang melebihi harga si mobil ke bank dengan memberi jaminan atas mobil. Dan orang tersebut merasa berharta.

Tapi bila saya hidup di desa dan berbaur dengan petani, pemahaman saya soal harta cukup jelas. Tak tergoyahkan. Tentu pemahaman tersebut hanya bertahan di desa, ketika di kota, kembali kabur.[]



Ada yang Mengganggu

Soal keselamatan. Hampir seluruh makhluk hidup memiliki insting untuk menyelamatkan diri dari bahaya. Selamat tidak hanya berlaku bagi hal yang baik-baik, hal yang buruk pun kadang perlu selamat. Itulah kenapa seorang maling, dia berdoa agar selamat selama bermaling. Hampir mirip dengan seorang kiai yang berdoa semoga selamat dalam perjalanan menuju pengajian.

Apakah keselamatan hanya berpihak pada hal baik saja? Seharusnya, hanya hal baik saja yang mendapatkan keselamatan. Kalau maling kemudian baik-baik saja setelah selesai bermaling, pasti cara bermalingnya memang baik, sehingga keselamatan berani memihaknya. Sebab, mau bagaimana pun doa disematkan, ketika hal buruk mengharap keselamatan, keselamatan susah untuk melirik. Kadang tidak terjadi apa-apa setelah selesai melakukan keburukan, paling hanya memiliki rasa bersalah, rasa berdosa, atau paling mengerikannya mengalami mimpi buruk selama hidup, seperti yang sering dialami seorang veteran perang.

Tapi, oh, tapi, tapi... selamat memiliki konsepnya sendiri. Pengertian dan penerapannya berbeda-beda. Seperti orang yang tidak meninggal dari kecelakaan parah yang menghancurkan mobil dan merusak aspal. Bagi orang lain itu adalah keselamatan karena si korban tidak meninggal. Rumah terbakar, kena longsor, banjir, atau dibegal, atau pula anggota badannya hilang, merupakan suatu keselamatan bagi orang lain sebab si korban selamat jiwanya. Bisa dikata, kadang ukuran selamat seseorang adalah karena orang tersebut tidak mati. Meski bisa jadi, kematian adalah bentuk dari keselamatan.

Pada akhirnya, konsep selamat yang dipatokkan Tuhan dengan konsep selamat yang disematkan manusia, memiliki sisi lain yang sama sekali berbeda. Bagaimana bila kematian adalah keselamatan paling tinggi yang Tuhan sediakan? Hingga, saat ada yang bermaling berdoa mohon selamat, mati saat dirinya bermaling, sebab dia sedang diselamatkan.[]



Akal dan Nafsu



Akal berfungsi untuk menahan, mencekal dan membatasi. Sedang nafsu adalah sesuatu yang tidak ada batasnya. Semisal ada orang yang ingin hidupnya bebas tanpa kekangan, sudah jelas bahwa orang tersebut menghamba pada nafsu. Akal sebagai pelengkap agar nafsu tidak melewati batas-batas tertentu, baik batas etika, akhlak, etiket, dan norma sosial serta hukum-hukum yang berlaku.

Kenapa akal disebut sebagai suatu hal untuk menahan? Bukankah akal itu untuk berpikir?

Pertanyaan tersebut bisa ditanyakan balik. Memang nafsu memiliki batasan? Nafsu bisa berpikir? Berapa banyak orang yang menyimpan makanan melebihi kapasitas isi perutnya?

Akal cenderung bertindak untuk masa depan. Nafsu cenderung melihat masa lalu. Karena nafsu kaitannya erat dengan rasa, sedang akal tak memiliki rasa untuk dicicipi. Orang yang tidak peka, dia adalah orang yang menggunakan seluruh akalnya hingga tidak memberi kesempatan perasaan menguasai sedikit saja peran di dalam diri. Sebaliknya, orang yang amat peka, mudah baper, dia seringkali meninggalkan akal di dalam dirinya.

Saat ini, kalau dikatakan banyak orang mudah baper, mudah peka, berarti sedikit sekali tempat akal di dalam dirinya. Ini tidak masalah sebetulnya, biasa-biasa saja. Dan akan lebih elegant kalau bisa mengombinasikan keduanya. Walau ketika hal tersebut dilakukan, orang lain akan melihat diri sebagai sesuatu yang plinpan, tidak berpendirian. "Kau mau menjadi perasa atau pengakal?"

Jadi maklum saja bila ada orang yang sifatnya dingin, dia barangkali tak punya nafsu, rasa. Ada juga orang yang mudah menangis, ambisius pada tujuannya, barangkali tidak ada akal di kepalanya. Iya tidak punya akal, sebab seambisius apa pun diri, ujungnya adalah kematian.[]

Soal Untung dalam Menulis

Memang apa untungnya menulis? Kau menghabiskan waktu untuknya, dan kau tidak bisa makan dari itu.

Aku kadang berpikir, seandainya ada orang yang menjamin harga untuk setiap tulisan, pasti akan kujadikan menulis sebagai kerjaan utama. Sayangnya, bekerja untuk tulis-menulis adalah suatu hal yang tidak pasti. Kau bisa menuliskan ratusan karya, tapi kadang menghabiskan uang untuk itu.

Menghabiskan uang untuk kesenangan adalah suatu hal yang wajar, karena tak jarang orang berani membayar mahal hanya untuk kesenangan. Tapi, ketika kau menulis dan kau tidak merasakan kesenangan, bukankah akan sangat merugikan ketika  menghabiskan banyak uang hanya untuk menulis?

Menulis bukanlah hal yang bisa dipelajari satu kali. Menulis butuh pelajaran yang berulang-ulang, lagi dan lagi. Itu kata siapa? Pokoknya begitu yang aku rasakan. Sebab saat aku berhenti dari kegiatan menulis, merasa sudah paham, tak perlu dipelajari lagi, saat itulah ada hal pekat yang membuntui pikiran.

Sampai saat ini, karena kurangnya belajar dalam hal tulis-menulis, hal yang kutulis hanya itu-itu saja. Barangkali selama ini ada yang mengikuti tulisanku dan mengatakan tulisanku memiliki ciri khas, itu sindiran yang halus. Jujur, karena pemahamanku dalam tulis-menulis hanya itu-itu saja, jadi yang kutulis ya itu-itu saja juga.

Kadang aku harus sedikit tersenyum saat ada yang mengatakan tulisanku memiliki karakternya sendiri. Padahal memang begitulah tingkatannya. Tingkatan yang disebabkan karena tidak begitu paham dalam mengidentifikasi karya bagus. Memang, karya bagus itu seperti apa?

Tulisan yang itu-itu saja bukan cerminan dari berusaha mencari aman, kan?

Selama ini aku belum terlalu berusaha untuk memperbaiki tulisan, sebab aku menulis kala meluangkan waktu saja. Menulis harus meluangkan waktu? Seperti orang sibuk saja. Tidak, tidak sibuk. Meluangkan waktu dari kemalasan, itu maksudnya. Kau tahu, bukan? Menulis itu butuh kefokusan, dan sayangnya aku malas untuk fokus.[]



Back To Top