Sepintar Apa Kau Itu?

Sepintar Apa Kau Itu?

Kau mau mencari masalah dengan sesuatu yang tidak kau ketahui? Sungguh cari mati saja. Ibarat kau tidak tahu tentang hantu, tapi kau cari masalah dengannya, kamu bisa hidup mengerikan. Mencari masalah dengan sesuatu yang memang menakutkan merupakan perbuatan konyol, tapi mencari masalah dengan hal yang tidak diketahui meski itu tidak mengerikan, tetap saja akan berakhir pada marabahaya. Mau mencari masalah dengan malaikat? Seberapa besar pengetahuanmu dengan malaikat? Pernah bertemu? Kau akan diratakan dengan tanah kalau berani mencoba. Itu baru pada makhluk yang bisa bergerak, bagaimana kalau cari masalahnya pada suatu benda yang memang tak memiliki keinginan untuk hidup? Coba saja cari masalah dengan bom yang sama sekali tidak kau ketahui, pasti selesai hidup kau. Oh, menjadikan bom sebagai acuan mencari masalah pada benda mati kurang pas? Bagaimana kalau cari masalahnya sama batu saja, apa berani macam-macam? Batu kau telan, begitu?

Halah, manusia itu terlalu lemah, meski kadang lebih kuat malunya daripada tubuhnya. Atau kadang lebih kuat egonya daripada jiwa dan tubuhnya. Tapi apa yang bisa dilakukan manusia selama sejarah peradaban dunia ini berlangsung? Sejarahnya selalu kelam. Meski lemah, manusia selalu mencari masalah. Barangkali manusia menganggap dirinya tidak apa-apa mencari masalah dengan sesuatu yang telah diketahuinya, tapi apalah daya seluas-luasnya pengetahuan manusia, selalu dimanipulasi oleh pikiran manusia itu sendiri. Manusia adalah pencipta ilusi terkuat bagi dirinya sendiri. Fatamorgana gurun? Tak sebanding dengan fatamorgana yang manusia ciptakan di dalam pikirannya.

Menyedihkan memang, kalau kau tidak mau sadar dengan posisimu sebagai manusia lemah. Cari masalah dengan sesama manusia yang lemah pun, kau tetap akan berakhir kacau. Karena pada dasarnya, manusia tidak tahu apa-apa tentang sesuatu. Kalau memang manusia pahan tentang sesuatu, tentu akan membuat sesuatu tersebut dari hal yang memang dirinya pahami. Seperti membuat meja, dia harus paham cara membuat bibit pohon, tahu cara menanam dan merawat hingga membelah-belahnya. Tapi, apakah manusia tahu cara membuat bibit pohon? Jawabannya, pada akhirnya, seluruh yang ada di dunia ini tidak manusia ketahui, yang manusia ketahui hanya bentuk jadinya saja. Miris.[]


Alasan Saya Ingin Tetap Mengarang meski Lama Tidak Mengarang


Entah pada kali ke berapa, saya malu untuk mengungkapkan sesuatu yang saya pikirkan. Bukan karena susah untuk menuliskannya, bukan pula terlalu penting untuk dituliskan. Sesuatu yang akan saya sampaikan cenderung naif, tak sesuai dengan tingkah yang sering saya lakukan, dan barangkali akan membuat sesal setelah menuliskannya. 

Barangkali, beberapa ketakutan untuk menuliskannya karena sadar, diri bukanlah pemikir. Yang diri pahami barangkali sudah lebih dulu dipahami orang lain, jadi tak penting untuk dituliskan lagi. Karena prinsip pengarang adalah jangan menganggap pembaca sebagai seorang yang bodoh. Dan berbicara soal pengarang, sebetulnya saya amat malu ketika menyebut diri sebagai pengarang, sebab diri tak ada pantasnya menunjuk sebagai apa dan bagaimana di hadapan orang lain. Orang lainlah yang sepatutnya menyebut saya ini sesuatu yang apa dan bagaimana. Ketika saya menyebut diri sebagai pengarang, seharusnya sebagian besar waktu yang saya habiskan adalah untuk mengarang, sayangnya tidak demikian. Sebagian besar waktu saya gunakan untuk bermalas-malasan. Andai orang lain tahu, mungkin saya akan disebut sebagai pemalas. 

Cacat pikir, aku takut membuat orang lain juga memiliki kecacatan berpikir seperti yang saya alami. Ketika saya mengungkapkan sesuatu yang saya rasa lebih tepat, meskit tidak lebih benar, lalu membeberkan secara terbuka pada banyak orang, entah berapa banyak orang yang telah saya sesatkan. Iya kalau sebagian besar manusia adalah pengguna otak yang mumpuni, sayangnya hanya sedikit manusia unik yang mau menggunakan pikirannya, termasuk saya. 

Soal mengarang, saya selalu terbelakang. Keinginan untuk tetap menjadi pengarang cerita pendek seperti iman yang kadang naik kadang turun. Saat iman tersebut turun, saya beralasan, “Toh, selama saya hidup, penghidupan saya tidak dari mengarang, dan kenyataannya mengarang hanya membuat saya kehabisan banyak daya untuk hidup.” Pernyata tersebut terkesan tidak ikhlas sebetulnya. Tapi entah bagaimana menjadi sangat rasional di keadaan diri yang sangat amat merasa tidak penting untuk tetap mengarang. Di lain sisi, saat iman untuk mengarang cerita pendek naik, kalimat penggugah muncul dengan sendirinya, “Saya ini menulis untuk kesenangan, syukur-syukur bisa membagi kesenangan pada orang lain. Sebagaimana kesenangan, untuk didapat kadang memerlukan banyak daya, jadi tak masalah semisal hidup berakhir demi kesenangan.” Kalimat penggugah itu kadang menjadi amat sangat naif saat disanggah oleh setan alas dengan nyinyiran, “Kalau mengarang ternyata adalah perbuatan dosa, sudah berapa banyak dosa yang kamu buat dan mengalir di pikiran orang lain?” Kemudian saya harus frustasi karena hal tersebut. 

Barangkali, saya akan terus menulis dan beberapa kali akan mengarang ketika iman untuk mengarang naik. Bersetan dengan bisikan bahwa mengarang hanya akan membuat saya kehabisan banyak waktu yang disia-siakan atau membuat sumber daya untuk hidup berkurang, saya akan melakukannya selama saya mau. 

Kenapa saya tetap ngotot untuk mengarang meski tak ada manfaatnya sama sekali? Entah, mungkin ini yang dinamakan cinta yang perlu dipertahankan.[]



11 Desember

Bulan merangkak malas untuk mengakhiri tahun, dan hari merebahkan diri di setiap jam menuju pergantian siang.
Kemalasan tidak membuat manusia berhenti berpikir tentang, kenapa dirinya malas? Kemalasan juga bukan kemunduran manusia sebagai makhluk pengubah permukaan dunia. Pikiran lain dari seorang pengamat perilaku sosial berkata, "Puncak tertinggi dari tidak menginginkan apa-apa dalam hidup adalah kemalasan."

Malas bukanlah perkara salah atau dosa, melainkan penyakit yang perlu disembuhkan dengan kekonsistenan dan perlu dilawan secara mati-matian. Sebagaimana penyakit, orang sakit tidak bersalah atas sakitnya, kan?

Barangkali banyak orang malas tapi dirinya merasa baik-baik saja, padahal dia sedang sakit dan perlu diobati. Dan sepertinya, menulis dengan diksi mirip penceramah bagian dari penyakit yang dialami penulis fiksi. Untuk itu, penulis perlu berobat, dan obat terbaik hanya dapat dibuat oleh penulis itu sendiri. Memang, tidak ada ceritanya tukang pijat mengalami nyeri dan memijat dirinya sendiri, atau tukang suntik mengalami sakit lalu menyuntik dirinya sendiri, atau pula Ibu Bidan yang akan melahirkan tapi dibidani sendiri, bukan seperti itu, penulis tak butuh itu. Penulis bisa bangkit sesuai usahanya sendiri.

Apakah tak ada waktu untuk melakukan suatu hal hingga si malas yang dijadikan tersangka?

Entah, ini nulis apaan, coba? Apakah seperti ini jenis malas yang susah diobati?[]



Belajar Ikhlas

Ini pelajaran yang lumayan susah. Tidak semudah yang dikatakan Sujiwo Tejo, "saat kau lupa, di sanalah kau ikhlas." Tidak semudah yang dikatakan Imam Al-Ghazali, "menjadikan segala macam amalan hanya untuk Allah," atau seperti yang dikatakan orang tua pada anaknya, "mengerjakan apa pun jangan tanya kau akan dapat apa, lakukan saja." Ikhlas semudah itu? Berapa banyak orang yang bisa?

Ikhlas seharusnya seperti Naruto, yang menjalani hidupnya sesuai dengan cita-cita, baru dia ikhlas. Atau, ikhlas seharusnya seperti yang kru bajak laut Topi Jerami lakukan, rela mengorbankan nyawanya demi sang kapten. Tapi, apa bisa manusia lemah meniru karakter dalam tokoh komik itu?

Pilihan terakhir, bagi saya sendiri, ikhlas bukanlah itu semua. Saya tidak begitu islami, jadi akan susah untuk bilang ikhlas karena Tuhan. Saya tidak begitu baik, jadi tidak bisa mengerjakan sesuatu tanpa kejelasan. Saya juga bukan manusia yang mudah lupa pada sesuatu yang lumayan susah dikerjakan, kalau hal-hal remeh, barangkali mudah sekali untuk lupa, ya, bisa dikata saat itu saya ikhlas.

Penerimaan, bukan hanya susah dilakukan, tapi susah juga untuk dihindari. Cara terakhir, barangkali harus digabungkan seluruh pemahaman tentang ikhlas yang dipahami banyak orang. Kemudian saya temukan keikhlasan yang membuat diri lebih bebas dan tak peduli pada apa pun.

"Lakukan sesuatu yang kau bisa, tak peduli kau lebih banyak melakukan sesuatu daripada orang lain (meski imbalannya sama dengan orang lain yang bekerja lebih sedikit). Lakukan sepenuh hati, hingga kau tak memedulikan hasil, kau hanya peduli pada sesuatu yang kau bisa."

Itu kalimat yang sering saya gunakan untuk menyemangati diri sendiri. Kalimat itu cukup ampuh, sebanting-tulang apa pun, selama sanggup melakukannya, tak ada kata menyesal, apalagi menuntut hasil dari hal yang dikerjakan. Tapi kekurangan dari kalimat itu adalah, saya mulai tak ikhlas ketika "saya telah melakukan sesuatu yang tidak saya bisa, dan saya dipaksa melakukannya padalah mereka tahu saya telah berkata tidak bisa."

Contoh sederhananya, saya disuruh bunuh diri, sedang saya tak bisa melakukan itu, toh kalau saya betulan bunuh diri, tentu saya tak ikhlas. Ah, itu contoh yang sedikit sadis dan semua orang tentu tak menginginkannya. Baik, coba contoh yang lebih dekat dengan keseharian, seperti kau dipaksa membaca lima buku dalam waktu sehari, harus paham keseluruhannya, kalau tidak kau harus mengulang mata kuliah di semester enam. Oh, itu contoh yang jarang ada, coba contoh lain. Baik, contoh yang lebih menyakitkan; kau dipaksa meninggalkan orang yang tidak bisa kau tinggalkan.

"Bukankah semua contoh itu bisa kau lakukan meski terpaksa?"

Kalau begitu, saya masih bisa ikhlas melakukan hal yang dipaksa, asal saya bisa melakukannya. Itu saja, bukankah sudah jelas?

Jangan tanyakan bentuk ikhlas seperti apa. Dia tidak cantik, tidak juga tampan.[]



Persepsi Usaha Keras

Usaha keras, dua kata ini seperti pentungan yang menjengkelkan. Karena setiap kali berbuat malas, lemah, dan terpuruk dalam suatu keadaan, kalimat sok bijak dari usaha keras itu seperti malaikat pembunuh angin.

"Kau bukan manusia berbakat yang bisa jaya dengan bakatnya, kau harus berusaha keras untuk mencapai persepsi kejayaanmu sendiri."

Kalimat itu, tak jarang membuat sebagian orang bunuh diri dengan alasan, "aku sudah berusaha keras, tapi hasilnya tetap tak ada beda dengan mereka yang malas-malasan". Memang, iya juga, hanya orang yang memiliki hati dan kepala sekeras batu yang tak mempedulikan kegagalan dari usaha keras. Lagipula, kalau bisa usaha lembek, kenapa harus usaha keras?

Hampir semua orang khawatir tentang hidupnya. Kekhawatiran itu kadang lebih panjang usianya dibanding usia orang yang merasa khawatir. Ini ibarat kucing jantan takut hamil, atau mirip angin takut ruang.

Persepsi dari usaha keras terlalu sederhana kalau disandingkan dengan hasil. Atau, sebut saja, terlalu tak setara kalau disandingkan dengan hasil yang berupa barang. Sebab, saat kau tak berusaha keras, hasil yang kau dapat akan cepat menguap, seberapa besar pun hasil yang kau dapat. Tidak memuaskan memang, tapi itulah bukti bahwa usaha keras tak pantas disandingkan dengan hasil.

Ini mirip, atau nyaris sama saat kau berusaha keras mendapatkan pasangan. Bandingkan dengan situasi saat kau dengan mudahnya mendapatkan pasangan. Lihat, seberapa erat kau dapat menggenggam hasilnya.[]


Keunikan Manusia

Semua orang boleh marah, boleh sedih, tak peduli bahkan mengaku sebagai utusan tuhan atau mengaku tuhan itu sendiri. Walau tentu ada orang lain yang berkomentar dan tak senang. Tetapi, bukankah tak senang, berkomentar dan segala hal itu boleh-boleh saja? Setiap manusia terserah mau jadi apa pun. Jadi setan? Bahkan jadi Iblisnya Iblis tak masalah. Hanya, hanya saja, merasa enak diri atau tidak? Merasa tertekan, atau merasa bebas?

Itulah sebab, ada orang yang menjadi pengkhianat, yang kemudian berdiri di atas kecemasan, ada pula yang memilih setia dan kemudian berdiri di atas kedamaian. Lalu hidup ini, sepatutnya setia pada apa? Setia pada hakikat, kebenaran atau menjadi jenis setia itu sendiri?

Manusia terlalu sering membahas kemanusiaan, meneriakkan kemanusiaan, tapi lupa menjadi manusia. Memang kenapa kalau lupa menjadi manusia? Tak apa, karena semua orang bisa menjadi apa pun, terserah maunya sendiri. Tapi, ya, masa mau menjadi diri sendiri, sedang saat ditanya dirinya siapa, tak bisa menjawab.

Manusia itu memang kodratnya memiliki seribu lebih wajah, seribu lebih sifat, bahkan seribu lebih bentuk. Tidak seperti malaikat, yang mau apa pun tetaplah malaikat. Tidak seperti setan dan iblis, yang dalam kegiatan apa pun, tetaplah setan dan iblis.

Ah, ini kenapa merasa tak jelas sendiri? Baik, waktunya menjadi kelelawar.[]


Pecundang Beda Tipis dengan Pengalah

Satu hal yang tidak dipahami orang tua, dia suka memarahi anaknya sedang si anak tak pernah mau orang tuanya marah. Anak pergi meninggalkan orang tua, sudah menjadi kasus umum. Ketika ditanya, kenapa memilih pergi? Mereka hampir memiliki alasan yang sama, "Orang tua saya sering marah."

Seorang anak, kadang memilih dimarahi orang lain daripada dimarahi ibu atau ayahnya. Mereka tidak ingin dimarahi oleh orang yang seharusnya menyayangi, bukan memarahi. Walau, jenis sayang orang tua kadang berbeda-beda, dan anak terlanjur mengartikan kemarahan sebagai bentuk dari kebencian. Ini bisa diatasi, andai orang tua tahu ketakutan dari seorang anak, andai pula orang tua tahu bahwa anak menganggap mereka sebagai pelindung, bukan ancaman.

Jujur saja, kalau saya sendiri, bodo amat mau orang tua marah atau tidak. Tak ada pengaruhnya,. Dimarahi, dibenci, dipuji atau sejenisnya, tak peduli. Yang jelas, aku tetap menganggap mereka sebagai orang tua sebagaimana kodrat orang tua berada. Orang tua kodratnya mendidik, menyukai anak, membesarkan dan melindungi. Semisal ada orang tua yang garangnya melebihi ular kobra, itu bentuk perlindungan lain yang patut dimonumenkan.

Kelak, saat seorang anak paham tentang kemarahan orang tua, tentang mengapa orang tua memukul, meninggalkan atau bahkan kadang mendiamkan, anak tersebut pasti akan senyum-senyum sendiri menyadari kebodohannya. Tapi, ya... orang tua itu kadang merasa sudah berbuat adil pada anaknya, sedang anak tidak mau paham situasi orang tua. "Anak meninggalkan orang tua sedang orang tua sudah memasuki usia yang perlu perawatan khusus, bukan kesalahan anak, sungguh karena keegoisan keduanya yang tidak mau saling mengerti." Lah, bagaimana bisa mengerti, sedang orang tua mengharap anaknya paham, dan si anak mengharap orang tua memahami dirinya.

Andai didramatisasi, mungkin bunyinya seperti ini:
"Saya ini anakmu, seharusnya orang tua memahami anak yang dilahirkannya."
"Lah, kamu itu anakku, yang sudah aku rawat sejak merah, seharusnya paham kasih sayang orang tua."

Sebelum saling berharap pada sesuatu selain tuhan itu berlangsung hingga kematian bertamu, sebaiknya berunding tentang keinginan masing-masing. Kesalahpahaman sering terjadi saat seseorang memilih diam sedang dia ingin bicara.

Akhirnya, saya berceramah tentang orang tua. Ceramah ini dikhususkan kepada anak yang meninggalkan orang tua, dan orang tua yang meninggalkan anak, dan kepada kamu yang merasa akan hidup sampai usia tak menentukan batas limitnya.[]

Back To Top