Pesan Moral



Semua hal bisa dilakukan, tapi jangan dilakukan semuanya, karena kau bukan tuhan. Segala hal bisa dirasa, tapi jangan dirasakan semuanya, tak akan sanggup jiwa yang serupa api kecil itu menanggung bebannya. Perasaan, bebannya seperti gunung di setiap satuannya. Kalau ribuan perasaan diambil, bayangkan berapa gunung yang bertengger di dirimu?

Konteks yang seperti itu seharusnya bisa diterapkan dalam kehidupanmu yang kosong, yang tak mau melakukan satu hal secara berulang. Kau memilih melakukan banyak hal tanpa pernah mengulanginya seumur hidupmu. Paling yang kau ulang hanya makan, tidur dan sejenisnya.

Namun, sebagai pengarang, tentu telah kau lakukan beberapa hal yang sama berulang tanpa bosan, yaitu kemalasan dan kegagalan menuliskan cerita. Ah, cukup memuakkan menjadi manusia yang lemah dan sering kalah pada sesuatu yang bahkan, tak memiliki tangan atau senjata pemukul. Iya, bayangkan, bagaimana kemalasan mengalahkan banyak orang sedang dia hanya diam, tanpa baku hantam?

Siapa pun yang malas, sepatutnya bertobat dari kemalasan itu. Malas berpikir, malas merasa, atau bahkan malas menahan diri dari tidak berkomentar. Sekarang ini, barangkali kau sedang malas menyadari kecemasan? Cemas saat tak ada yang bisa ditulis secara riil tanpa melibatkan imajinasi.

Setiap kalimat, bahkan setiap yang tersusun dan memberi makna, tak selamanya bisa dimengerti oleh orang lain sekuat apa pun kau memberi makna. Jelas, kebanyakan orang saat ini malas memahami makna. Dari saking malasnya, sampai ada spekulasi pemaknaan pada sesuatu yang sudah lama maknanya terpendam. Oh, ya, tak ada yang menyinggung RUU HIP lo, ya. Jangan sambungkan kemalasan memberi makna pada pembahasan tersebut.

Tentang sesuatu yang dianggap tak memiliki makna. Barangkali kau pernah mendengar bahwa, setiap karya harus memiliki pesan moral. Walau sebagian menyatakan, tak memiliki pesan moral tak apa, tapi akibatnya tak akan ada yang melirik. Sesuatu tanpa makna, buat apa?

Konteks semacam ini semisal disambungkan pada hasil karangan, baik film, cerpen, puisi dan novel, sepertinya tak ada guna. Bayangkan, kau menuntut pesan moral pada sesuatu yang tak memiliki nyawa? Semisal ada seseorang membaca cerpen, lalu menyatakan cerpen tersebut tak memiliki pesan moral, sudah jelas bukan cerpennya yang tak memiliki moral, tapi pembacanya. Mudahnya, hanya orang tak bermorallah yang bisa mengindentifikasi sesuatu itu tidak bermoral. Semisal yang membaca orang yang bermoral, cerita jelek macam apa pun, tetap akan dianggap bermoral, karena memang pembacanya bermoral.

Jadi, lupakan komentar orang yang tidak bermoral. Lupakan komentar orang yang tak mengerti, karena memang tentu tak pernah ada kata mengerti dalam hidupnya. Kau hanya perlu melakukan sesuatu berulang yang kamu bisa.[]

Kepergian


Len bertanya-tanya apakah dirinya masih pantas disebut sebagai pengarang. Len tahu mengarang itu mudah, tinggal karang saja, selesai. Tapi perkara itu tidak semudah ucapan. Len mati-matian mempertahankan dirinya sebagai pengarang. Pengarang harus selalu mengarang dalam hidupnya. Len rasa, hidupnya pun perlu dikarang pula. 

Umur Len belum genap 24 tahun, tapi dia ingin menikah secepat mungkin. Masalahnya, dia tidak tahu harus menikahi siapa. Mencari pasangan hidup lebih susah dari sekadar mencari pekerjaan, Len sadar itu. Berusaha tampil semenarik mungkin, tapi siapa yang akan melirik? Len pikir dirinya akan menikahi siapa pun yang bersedia datang untuk mencintainya. 

Mencari pasangan hidup, Len lakukan itu demi mengisi kekosongan hidupnya. Dia rasa hidupnya penuh lubang, lubang yang sering menganga kala malam dan kesedihan datang. 

Len duduk di depan cermin, memandangi wajahnya sendiri. Dahi yang mulai berbintik, mata yang dilingkari warna hitam, hidung yang dirasa sedikit mancung, seharusnya ada yang tertarik pada dirinya melalui hidung. 

Tampang yang dirasanya biasa-biasa saja itu membuatnya malu menatap cermin. Len tersenyum, gigi jarang-jarangnya membuat senyumnya berhenti, lantas lompat ke tempat tidur, memeluk guling. Begitukah manusia hidup? 

Guling Len peluk erat, dia berdoa dengan memejamkan mata, “Kalau memang jodoh itu ada, segerakanlah dia menikahiku.” Usai doa itu tergumam, Len pikir, barangkali kematian lebih dulu datang mendahului si jodoh. Len berteriak seraya membungkam mulutnya dengan ujung guling. 

Segera Len duduk bersandar pada dinding. Dilihatnya langit-langit kamar. “Apa gunanya lampu, kalau jendela sudah cukup menerangi seisi kamar?” Kalimat tersebut Len lanjutkan dengan gumaman, “Apa gunanya hidup dengan pasangan, kalau tanpa pasangan saja sudah bahagia? Sayangnya aku tak ingat kapan terakhir kali bahagia.” Sandaran Len semakin rendah. Wajahnya tertutup rambut bagian depan, dan dia merasa seperti kuntilanak yang tak bisa menembus dinding. 

Lampu jalanan cukup terang melewati jendela kamar Len yang terbuka. Len tak perlu menyalakan lampu, dia tak suka terang. Dia lebih senang berdiam di tempat gelap. Gelap beberapa kali membuat dia tenang, beberapa kali pula membuatnya senang menangis berlama-lama. Len sadari dirinya sering menangis tanpa sebab. 

Kehidupan berkeluarga, seharusnya sudah Len rasakan. Adik, kakak, dan kedua orangtuanya masih ada. Tapi tak mungkin dia memeluk keluarganya terus-menerus, atau tidur bersama, atau mandi bersama. Dia sudah dewasa, kemudian memilih hidup sendiri dengan menutupi banyak hal. Seperti menutupi hasrat atas menikah, misal. 

Len berdiri, membuka lemari baju, mengeluarkan semua isinya, kemudian merapikannya kembali. Dia rasa dirinya tak memiliki sesuatu yang berarti. Sebutan sebagai pengarang? Itu hanya hiburan baginya. 

Setelah bosan melakukan hal yang entah-entah itu, Len duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada tempat tidur. Dia ingin mengarang, mengarang sesuatu yang tak pernah orang karang. Mengarang ulang hidupnya. 

Mengarang hidupnya sendiri, Len rasa belum pernah ada penulis yang melakukannya. Singkat Len berdiri, dan berdiam di depan cermin. 

Rupa, postur tubuh, dan umur kehidupan, Len karang ulang. Sekarang dia adalah Len berparas cantik, bertubuh ideal dan berumur 25 tahun, lebih tua dari umur yang sebelumnya, dia rasa akan membuat keinginan menikahnya tampak normal. Menikah di usia 25 tahun dengan paras yang sempurna. 

Tempat tidur, lampu, langit-langit kamar, dinding dan lemari menjadi taman, lengkap dengan kolam ikan, bunga, tempat duduk dan pohon rindang yang membuat teduh hamparan rumput. 

Sekarang dirinya adalah orang yang duduk di depan bunga. Dia harap akan ada orang yang menghampiri dan mengajaknya menikah. Namun, sampai satu jam berlalu, tak ada siapa-siapa. 

Len melompat ke dalam kolam ikan. Dia ingin tidur, merendam rasa kesal. “Bahkan dalam dunia karangan pun susah mendapatkan seseorang yang mau mengajak menikah.” 

Pilihan terakhir, Len ingin mengarang mimpinya. Tidur dengan memimpikan ada seseorang yang mendekati dan mengajaknya menikah. Seumur hidup, Len tak pernah bermimpi yang demikian, tapi mengarang mimpi seharusnya hal yang tidak begitu sulit dia lakukan. Pikirnya begitu. Sampai dirinya terlelap, dia hanya menemukan lubang gelap, lebih gelap dari kamar mandinya yang tanpa lampu. Len ingin bangun dan berhenti sebagai pengarang, tapi lubang gelap itu terus memanggilnya. 

Dalam mimpi yang tak bisa dikarang, Len pasrah. Dia pergi ke mulut lubang yang terus memanggil namanya. Dia tak pernah kembali dari lubang itu. 

*** 

Aku tahu Len sering murung, walau itu tidak sesuai dengan nama yang ayah berikan. Len, seharusnya berarti ceria menyinari, setidaknya itu yang ayah jelaskan padaku. 

Sebagai adik, ingin sekali kupeluk dia. Berharap bisa menghiburnya. Tapi tahulah, kakakku itu sudah dewasa, dadanya sudah berisi. Berani memeluk, bisa ditendang. 

Aku tidak tahu pasti perihal murungnya Len. Barangkali karena dia tak pernah percaya akan kecantikannya. Contohnya saja, semua akun media sosialnya seperti akun teroris, tanpa foto, kalaupun ada paling foto hewan atau apalah itu. Andai dia bukan kakakku, mungkin sudah kujadikan pacar. 

Namun Len, kakakku yang malang. Kecantikannya tak tersentuh. Dia ditemukan meninggal dalam keadaan tersenyum memeluk guling. Ayah dan ibu menangis histeris. Dan aku, entah kenapa tak bisa menangis. Sekadar pura-pura menangis pun tak bisa. 

Aku menyaksikan tubuh Len dikubur. Pada persaksian itu, aku hanya mengingat kebebalanku, tantang banyak lelaki yang mendekatiku demi tahu keadaan Len. Aku selalu berbohong agar tak ada lelaki yang datang ke rumah lantas meminta Len untuk dijadikannya istri. Sebagai saudara, aku akan sangat merasa kehilangan, dan sangat tak terima kecantikan itu dimiliki orang lain. 

Berapa lelaki yang kutipu agar Kak Len tidak dibawa pergi? Entah. Barangkali sebanyak pemuda yang datang ke kuburannya.[]

Sampang, 04 Mei 2020

Pengalaman Mondok


Contoh terbaik dari hidup adalah pengalaman. Pencerita terbaik dari hidup adalah kenangan. Penegur terbaik dari hidup adalah penyesalan. Itu semua bisa didapatkan dengan mudah. Tak perlu sungkan untuk mengakuinya. Untuk itu saya akui, walau tidak begitu taat dalam beragama, saya pernah mondok. Ini bisa disebut pengalaman, kenangan dan penyesalan. Ketiga hal ini, barangkali akan saya tulis. Kalian merasa alergi dengan ketiga hal tersebut? Atau trauma dan bermusuhan dengan suatu hal yang berkaitan dengan pondok? Saya sarankan lewati saja tulisan ini. 

Hanya tiga tahun saya mondok. Betah? Iya. Tertekan? Tidak. Bebas? Iya. Apa yang didapat selama tiga tahun? Entah. Hanya saja, kenangan begitu manis membuat diri tersenyum cukup lama. Bisa dibayangkan, mondok tiga tahun, menghabiskan waktu di lingkungan yang itu-itu saja, belum seberapa dibanding mereka yang mondok belasan tahun. 

Pengalaman apa yang didapat dari pondok? Tidur. Pengalaman itu amat sangat mengubah jalan pikir. Dimulai saat pagi. Dari salat berjamaah subuh yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian hingga matahari terbit, berebutan mengantri kamar mandi hingga bersiap berangkat sekolah, hal yang paling penting adalah tidur. 

Sebetulnya, kesempatan tidur ini bisa didapat dengan mudah. Saat itu saya berpikir, kalau ingin tentram tidur, bersegeralah bangun subuh, ambil barisan salat paling strategis, lalu tidur sambil duduk. Situasi ini sangat menguntungkan sekali, dibanding mereka yang saat panggilan salat dikumandangkan tapi masih mendengkur. Tidur mereka tak akan pulas, sebab pengurus yang bertugas membangunkan akan sangat bawel mengganggu, ditambah akan padat saat mengantri tempat bersuci. Bangun lebih awal untuk kesempatan tidur lebih tentram, bisa meringkas semuanya. Begitupun saat pengajian subuh, bersegera mengambil kitab untuk mencari tempat teraman untuk tidur. Pengajian kitab selesai, tanpa ada acara mengantri untuk mandi, karena itu akan menyita waktu tidur, langsung berangkat sekolah, duduk di kursi, kemudian tidur. Di saat yang lain sibuk mengantri untuk melakukan ini itu, ada kesempatan saya untuk tidur tenang dengan datang ke sekolah lebih awal. Urusan tidur mana lagi yang amat menguntungkan selain melakukan semuanya lebih awal? 

Tanpa sadar, urusan tidur ini menggugah minat teman sekelas. Teman yang biasanya telat karena ketiduran, datang lebih awal untuk tidur. Bahkan ada yang membawa bantal kecil di dalam tasnya, untuk tidur lebih pulas di bangku belakang. Tanpa ada acara kesepakatan, saat jam istirahat, teman sekelas memilih tidur di bangkunya masing-masing dibanding keluar kelas untuk main. Tak jarang, guru pengajar masuk kelas sering dalam keadaan terabaikan. Walau hal ini cukup menguntungkan, mereka yang masih pulas tidur, kadang dibiarkan hingga pelajaran selesai. 

“Siapa tahu mereka tidur dalam keadaan memimpikan nabi. Lagipula tidur itu ibadah.” Begitulah penjelasan guru pengajar saat ada satu teman yang hendak membangunkan teman yang lain. 

Entah, saya selalu senang saat melihat teman sekelas tidur seperti kapal pecah. Karena merasa paling bertanggungjawab dalam urusan tidur massal ini, saya selalu membangunkan teman yang lain saat pelajaran akan dimulai. Kesepakatan macam apa itu? 

Dari tidur itu pulalah, saat susah untuk menutup mata, saat teman sekelas tidur dengan pulasnya, saya memilih keluar diam-diam untuk duduk di rental komputer, mengetik cerita pendek yang sebelumnya tak selesai. Pengalaman mengarang, dimulai dari tidur yang susah lelap. Kegiatan itu berulang-ulang. Saya harap, tidur ini tidak menyesatkan. 

Puncak dari keberuntungan tidur adalah, saya menjadi siswa terajin di kelas. Kepala sekolah memberikan piagam penghargaan. Waktu itu, ada tiga siswa terajin, Noval, Khairur Rofiqi dan tentu saja saya. Ketiga siswa terajin yang tak memiliki catatan alfa, izin, dan sebagainya tersebut adalah teman sekelas saya. Padahal waktu itu, ada berbagai kelas jurusan. Barangkali, kelas lain tidak ada siswa terajinnya karena jarang tidur. 

Ada yang berbisik, “Mustahil ada orang yang selalu masuk sekolah tanpa ada izin atau alfanya. Apalagi izin sakit, apa mereka tak pernah sakit?” 

Di belakang pula saya berbisik pada diri sendiri, “Memang sakit bisa membuat orang tak masuk sekolah? Kan sekolah hanya duduk, apa susahnya sakit sambil duduk? Tidak disuruh lompat-lompat atau perang sarung, juga. Dan lagi, saya ini walau mata terasa berat, kaki terasa susah melangkah, kepala seperti berteriak minta diistirahatkan, tetap masuk kelas demi tidur yang pulas.” Maksud saya, demi tidak tertinggal pelajaran. 

Karena dalam keadaan kurang enak badan tapi tetap masuk kelas, guru yang mengajar menyangka saya sering tidur saat pelajaran. Padahal menyimak, biar meresap itu ya dengan memejamkan mata. Apalagi saat sakit, memejamkan mata itu bisa sedikit mengurangi nyerinya. 

Andaikan ada yang bertanya, “Apa pengalamanmu di pondok?” atau pertanyaan, “Apa kenanganmu di pondok?” Saya hanya bisa menjawab, “Tidur.” Bukankah tidur itu kerjaan para pemalas? Entah. 

Tentang penyesalan, apa saya tak memiliki penyesalan selama mondok? Tentu ada. Saya menyesal karena tidak bisa tidur lebih lama.[]

Terlalu Pedas untuk Menyukaimu




Mereload kembali ingatan yang sudah memudar.  Tentang cara menulis yang baik, menjadi manusia yang berpengertian, dan kembali bersetan dengan segala hal. Seprti orang yang kerasukan setan? Mungkin. Lagipula, kadang kerasukan setan itu lebih menyenangkan daripada menjadi rumput liar. Dan lagi, rupanya saya mulai malu untuk menulis. Ya, ampun. Orang muda memang begitu. Banyak plinpannya.

Mari pindah plot. Tentang cabai, jenis racun yang dikonsumsi secara massal.

"Memang berapa porsi cabai yang bisa membuat orang sakit perut?"

"Tak usah menghitung porsi cabai untuk membuat seseorang sakit perut. Cukup beri beban pikiran, tekanan dan kekecewaan, itu sudah lebih pedas dari sekilo cabai yang diperas airnya dalam satu gelas."

Merasakan pedas merupakan salah satu cara bodoh tapi tidak tolol.

Lagipula, kenapa tidak tertawa saja daripada membahas pedasnya perasaan? Eh, dari tadi kan membahas pedasnya cabai, bukan pedasnya perasaan. Dasar tukang nganggur. Ngaur kerjaannya.

Ya sudah, kembali tentang tawa. Tawa, bukankah tertawa adalah salah satu hal yang membedakan manusia dengan binatang?

 Tertawa saja sana. Walau, jarang sekali saya ini melihat orang tertawa secara riil, banyaknya tawa fiksi. Eh, maksud saya, banyak orang yang tertawa online, tawa secara langsung terkesan sungkan. Sudah, ah. Malas sekali untuk menulis. Entah, ini nulis apaan. Niat menulis cerita malah ngalor ngidul seperti pengangguran.[]


Tipuan, Masa Depan Hanya Tipuan Belaka

Seperti mengelus dengan lembut kepala angan-angan, berharap bisa jinak, menurut, dan patuh tanpa komplen. Nyatanya, yang dielus adalah api biru. Terlalu panas untuk merasakan sakitnya. Kiranya masuk akal, bahwa angan-angan mirip sekali dengan kemalasan. Dosa pemalas, konsekuensi pemalas, dan hidup pemalas, berkakikan angan untuk melewati hari ke hari.

Angan tanpa kenyataan sepertinya cukup sulit untuk dijalani. Begitupun kenyataan tanpa angan, seperti tatapan kosong seorang yang bingung memikirkan pekerjaan. Tanpa keduanya pun, sepertinya lebih masuk akal untuk memahami alasan mengapa bayi mengepal kedua tangannya. Bayi tidak punya angan atau menyadari kenyataan, dia hanya ingin memegang erat tempat tinggalnya, tidak ingin lepas, tidak ingin pindah tempat.

Kenyamanan, seharusnya manusia mencari kenyamanan. Bulshit sekali kalau ada orang yang berselogan, "mari keluar dari zona nyaman". Itu sama halnya dengan orang yang mengampanyekan, "berperang demi kedamaian", tapi nyatanya memerangi kedamaian. Apa kebutuhan manusia? Bukankah hanya urusan nafsu? Emosi? Kalaupun ada yang butuh pengetahuan, sedikit sekali yang menggunakannya untuk bersetubuh dengan pengetahuan itu sendiri. Atau, sebetulnya ada jenis orang yang mengejar pengetahuan, dengan berpesan begini pada orang tuanya, "Pak, Buk, aku tak meminta warisan harta. Aku hanya meminta warisan ilmu pengetahuan."

Jujur, manusia hanya makhluk yang bodoh. Terlalu gegabah. Tergiur dengan tawaran untuk berjudi dengan pilihan, "Kalau kau berbuat baik, akan lebih tinggi dari Malaikat, sedang kalau berbuat buruk, akan lebih rendah dari Iblis. Hiduplah di dunia untuk menjalani ujian, kalau mau." Manusia memilih hidup di dunia untuk menjalani ujian. Walau sudah diberi pedoman, sudah diajari masa lalu, tetap saja, lupa menjadi bahan tonjokan untuk tutup muka.

Sebetulnya saya malu menjadi manusia. Sudah terlanjur sok kuat untuk memilih kehidupan. Sok sadar bahwa diri bisa menyelesaikan ujian tanpa masalah. Sehari bisa berpuasa dari kebiasaan buruk, dua hari berbuka. Diri sadar salahnya di bagian mana, tapi tetap saja ada tawaran menggiurkan yang serupa ganja. Eh, memang pernah merasakan ganja? Tidak, hanya saja, kesenangan seringkali saya artikan sebagai ganja. Walau kadang, kesenangan itu sendiri seperti neraka. Saya seperti punya rumah dengan halaman rawa yang dihuni buaya.[]

Sejenak Melihat Sekitar



Memaknai Perayaan

Jika perlu diingat sesuatu yang pernah terjadi di dunia ini, maka ingatlah. Walau, dalam keseharian orang menggunakan pengingat tersebut seperti gula, yang kadang digunakan bukan untuk meredam rasa pahit, melainkan hanya pemanis dari sesuatu yang sudah manis. Ada pula yang membiarkan tergeletak begitu saja, karena memang tidak butuh untuk digunakan.

Mengingat itu kata kerja, tapi tipis sekali pada kata sifat. Sepatutnya kata kerja dari mengingat seperti apa? Perayaan, itu pantas sekali untuk mewakili kata kerja dari mengingat. Mengingat tanpa dirayakan, seperti gula yang dibiarkan begitu saja. Jadi, mari kita ulas perayaan.

Di dunia ini, ada orang yang merayakan kebahagiaan dan kesedihan. Barangkali akan ada yang menyipitkan mata dengan bergumam, “memang ada kesedihan yang dirayakan?” Woih, banyak sekali, tapi jarang disadari.

Ada seseorang yang dirayakan kelahirannya, dirayakan terus menerus walau orangnya sudah meninggal. Ada pula orang yang dirayakan kepergiannya, dirayakan terus menerus walau kelahirannya tidak begitu dirayakan seperti halnya saat meninggal.

Perayaan ini identik dengan kebahagiaan. Semisal ada orang mati lalu dirayakan kematiannya, berarti ada... (isi sendiri). Di dunia ini, barangkali ada orang yang bangga merayakan kepergian seseorang, namun berkeyakinan bahwa dia tidak sedang melecehkan orang yang pergi tersebut.

Kalau pengarang sendiri, dia memilih merayakan kelahiran seseorang daripada merayakan kepergian seseorang. Dia memilih mengenang kelahiran seseorang, daripada kematian seseorang. Karena bagi pengarang, mengenang kepergian itu serupa bahagia setelah bencana berlalu. Tentu pengarang tidak pernah tega menyatakan manusia sebagai bencana.

Pada akhirnya tinggal dipilih, merayakan kebahagiaan atau kesedihan.

Rumus:
Merayakan = Mengingat X Kebahagiaan. Bagus.
Merayakan = Mengingat X Kesedihan. Sakit jiwa.


Memaknai Kesetaraan

Ada yang berpikir setiap manusia setara. Dari sudut pandang mana, kurang tahu. Yang kontra dengan pemikiran ini sedikit sekali. Itulah sebabnya, gaungan tentang kesetaraan dan kemanusiaan sering terdengar, baik diperfilm atau di kerumunan pendemo yang tak selesai tuntutannya. Barangkali orang sejenis ini beranggapan bahwa keadilan itu harus setara bin sama. Padahal perlu diperjelas arti sama dan setara. Kalau sama dianggap suatu kedudukan, nilai, tingkatan dan sesuatu yang sebanding, jelas tidak patut digaungkan sebagai kesetaraan.Seperti saat ada lima tukang cangkul, satu dari lima orang tersebut berleha-leha, sering berhenti minum dan pamit kencing, tapi si punya tanah membayar sama kelima orang tersebut. Karena memiliki dalih bayaran sama adalah bentuk keadilan, keempat orang tersebut tidak menggerutu.

Rakyat di negeri ini, sejauh yang penulis amati, tak jauh beda dengan kelima tukang cangkul tersebut. Negara menyebutkan setiap orang (antara yang kaya dan yang miskin) berkedudukan sama di mata hukum, setara dalam mendapatkan pelayanan. Rakyat berpikir itu bermakna setara. Karena tak paham perbedaan tersebut, para pejabat dan yang paham makna dasar dari suatu kata, mengangap pendemo hanyalah gen yang berisik.

Sama=Setara?

Sebagian besar sepakat, hanya saja masih ada yang belum sadar bahwa mereka hanya setara saat memberi suara di pemilu saja. Selebihnya, berjuang sendiri, menonjolkan perbedaan yang kemudian dipermasalahkan dengan dalih, "Itu, lo, Mas. Tetangga kita sudah punya mobil, kita kapan? Itu, lo, Mas. Rumah tetangga kita tidak terkena genangan air saat hujan, kenapa rumah kita tergenang air?"
Selalu ada orang yang ingin setara dalam kehidupan sosial dan seterusnya.

Baik, yang ilmu tasawufnya kuat bin mendalam, mungkin menganggap setiap manusia setara, yang membedakan hanyalah amal perbuatan dan seterusnya. Yang padahal, itu sindiran halus untuk menyatakan bahwa, "Kita ini jelas tak sama. Perbuatan dosamu dan dosa saya juga jelas tak setara. Saya berbuat dosa padahal tahu itu dosa, sedang kamu berbuat dosa karena tak tahu itu dosa." Bagi pejuang kesetaraan, kelak saat dihadapkan dengan kesulitan, semoga tetap bisa mempertahankan dalih kesetaraannya.

Pilihan, seperti kuis di akhir permainan.
Pertama, sama baru bisa dikatakan adil.
Terakhir, setara baru bisa dikatakan adil.
Pilih, yang pertama atau terakhir?
Contekan, akan sama saja jawabannya kalau "setara" diartikan sebagai "sama".


Memaknai Kesia-Siaan

Hal yang tidak dituntaskan cenderung dimaknai sia-sia. Pemahaman sejenis ini ada karena tertanam sejak kecil. "Jangan sia-siakan nasi, Nak. Makan itu harus habis." Atau, "Sia-sia kau sekolah sampai SMA, tapi tak lanjut kuliah." Atau pula, "Sia-sia kau mondok selama ini tapi masih berpikir besok akan makan apa."
Dalih semacam itu tidak aneh. Dari saking tak anehnya, sering digunakan oleh kekuasaan untuk menggerakkan manusia melanjutkan perang berulang-ulang. "Kita harus melanjutkan perang, agar mereka yang gugur tidak mati sia-sia." Kemudian peperangan terjadi, tapi kalah karena jumlah musuh lebih banyak. Lagi-lagi kekuasaan berkata, "Kita harus kembali berperang, agar mereka yang berjuang tidak sia-sia." Keluarga dari orang yang mati dalam perang pasti setuju untuk melakukan peperangan lagi, dengan bayangan yang kental, bahwa keluarganya yang berjuang tidak berhenti begitu saja. Perjuangan akan sia-sia kalau perang tak dilanjutkan. Begitu seterusnya, walau tahu akan kalah, tapi demi sesuatu agar tidak sia-sia, perang berlangsung seperti dejavu.

Barangkali pas untuk menyandingkan kesia-siaan itu dengan kebodohan. Jujur, penulis memahami, bodoh itu bukan karena tidak tahu. Sama halnya dengan melompati jurang yang lebarnya sepuluh meter, diri tahu tak akan sampai, tapi masih melompat. Lompatan semakin meyakinkan saat mengingat, perjalanan yang panjang tak akan berhenti hanya karena jurang selebar sepuluh meter. Kalau berhenti, semua akan sia-sia, lalu lompatlah.

Sia-sia, sepantasnya pas dipasang pada situasi apa? Apakah sia-sia harus selalu tuntas agar tidak sia-sia?

Pada akhirnya, sia-sia itu pilihan. Tidak mungkin penulis menghabiskan setengah piring singkong sedang perut serasa ingin memuntahkan isinya. Ya, mungkin saja dipaksakan, tapi bukankah itu yang akan menjadi sia-sia?


Memaknai Kesempurnaan

Susah sekali untuk mendapatkan kesempurnaan. Terutama dalam suatu hal yang harus menunggu kesepakatan beberapa orang. Yang satu bilang harus merah, karena warna hidupnya merah. Yang satunya lagi bilang harus biru, karena hidupnya biru. Bayangkan kalau sampai lima orang dengan varian warna yang berbeda, kemudian menginginkan seorang seniman melukis dengan warna yang mereka sukai. Tidak boleh warna-warni, karena kelimanya tidak menyukai warna yang macam-macam. Timbullah perdebatan, revisi panjang yang menghabiskan banyak waktu. Pada akhirnya, lukisan yang didapat bukan berwarna kuning, merah, biru, atau sesuai dengan keinginan lima orang tersebut. Seniman pelukis tersenyum hambar, karena setelah banyak revisi perpaduan warna, lukisannya malah menjadi gelap.

Kelimanya terpaksa harus sepakat dengan warna gelap tersebut. Apa itu baru bisa dikatakan sempurna? Ketika tak ada pilihan lain?[]

Memaknai Ulang Kebutuhan


Kalau diberi pilihan antara, menjadi orang yang dibutuhkan dengan orang yang butuh, mau pilih yang mana? Atau kedua pilihan ini kurang cocok, dengan alasan "sepatutnya saling membutuhkan"? Untuk yang ini tidak usah dibahas, sebab saling membutuhkan harus melibatkan orang lain, bukan lagi personal.

Bagi yang merasa harus butuh pada orang lain, sebetulnya tak ada masalah, hanya cara pandangnya saja yang perlu disleding. Butuh, apalagi harus butuh pada hal lain selain Tuhan, itu sudah beda dunia. Tak perlu lagi orang sejenis ini diandalkan, karena bagaimana pun dia jenis orang yang suka mengandalkan orang lain, merasa dirinya paling berhak untuk mengatur. Info tambahan, biasanya ini jenis orang pemalas. Suka sok butuh pada orang lain, padahal mengerjakannya sendiri bisa. Ya, namanya juga pemalas. Kecuali memang sudah tak sanggup untuk mengerjakan sendiri, pandangan bahwa orang sejenis ini pemalas, tak dapat diandalkan dan sebagainya, adalah keliru. Tapi kalau sedikit-sedikit memanfaatkan orang lain? Masih mau memaknai orang sejenis ini punya rasa empati yang tinggi? Oh, dia perhatian sekali, makanya orang yang nganggur dikasih pekerjaan. Iya kalau orang yang diberi betul-betul butuh pekerjaan, kalau tidak?

Lalu, bagi yang merasa dirinya perlu dibutuhkan orang lain, ini biasanya pemikiran para raja-raja. Saat diri merasa dibutuhkan orang lain, apa masih sanggup untuk menyatakan "tidak" dan menepi dengan menyatakan "tidak sanggup". Biasanya, orang yang merasa dirinya dibutuhkan, dia akan berusaha memberi bukti, melakukannya, dan akan berkata tak sanggup kalau memang tak bisa berbuat lebih. Sayangnya, orang jenis ini sering dimanfaatkan oleh orang yang suka dan gampang sekali membutuhkan orang lain. Padahal, yang memenuhi kebutuhan orang lain ini bukan berarti sedang lowong waktu, hanya saja dia jenis orang yang meluangkan waktunya demi rasa empati. Tak enak saja bilang "tidak" pada sesuatu yang bisa dikerjakannya. Selagi mampu, selagi bisa, mengapa harus mengelak? Barangkali, orang sejenis ini tidak pernah mau merepotkan orang lain. Bukan berarti suka direpotkan.

Dasarnya, saat diri dibutuhkan orang lain, apa lantas perlu merasa diri juga butuh pada orang tersebut?

Ketika orang lain butuh cangkul, apa kita juga perlu membutuhkannya? Ok, ini beda konteks, tapi bisakah cari contoh sendiri untuk memahami arti dari kebutuhan ini?

Tentang kebutuhan, konsep penulis begini: "Kalau saya yang butuh, saya yang harus repot." Butuh=tidak mampu. Sanggup=mampu. Kalau mampu, berarti tak usah butuh.[]

Back To Top