Rangkuman Tiga Pelajaran, Ekonomi, Bahasa Indonesia, dan Filsafat

Ekonomi. Berbicara ekonomi, tak lebihnya berbicara tentang hukum, tak ada selesai-selesainya. Isu besar dalam perekonomian hanya dua, kebutuhan dan sumber daya. Ekonomi sekarang lebih parah dari masa pemerintahan siapa pun. Hutang negara sampai menggadaikan tiga bank berplat merah. Bayangkan kalau negara tidak bisa membayar hutang yang jumlahnya puluhan triliun dolar itu. Siapa yang akan rugi? Tentu bukan hanya negara, tapi rakyat akan lebih sengsara. Kasihan sekali aku mengetahui hal ini. Sumer daya menjadi pusat perekonomian, mereka yang semena-mena menguasai perekonomian tidak memikirkan sejarah yang akan datang. Masa depan tidak ada di pikiran mereka. Hanya kekuasaan di masa mereka tinggal saja yang diperebutkan.

Bahasa Indonesia. Sejarah bahasa indonesia. Kalau berbicara bahasa, indonesia sendiri tidak memiliki bahasa baku yang pasti. Bisa dikatakan, bahasa indonesia tidak ada yang benar. Itu disebabkan dari isu Persepsi dan Transkripsi. Hal ini terjadi dari salah arti dari bahasa luar, yang kadang sulit untuk dilafalkan hingga terjadilah perubahan sedemikian rupa. Bahasa indonesia sangatlah filosofis. Seperti kata memohon, yang berawal dari kata pohon. Sejarah menjadinya kata memohon adalah ketika di masa itu orang mengadakan sesembahan terhadap pohon. Karena mereka berkeyakinan, pohon adalah sesuatu yang tertinggi dari apa pun yang ada di bumi. Saat melakukan sesembahan, kadang ada kata memanjat. Ya, karena saat memohon, yang mereka bayangkan adalah doanya memanjat pohon tersebut.

Filsafat. Pandangan tentang pemikiran ini berbeda-beda. Ada persepsi sesuatu diperoleh dari pengalaman, ada juga yang mengatakan dari rasio, atau pemikiran. Pendapat para orang botak itu tidak ada yang sejalan. Hal ini terkesan seperti mencari sensasi tersendiri agar mereka dikenal dunia. Ada sedikit keraguan tentang kata-kata pemikir-pemikir itu. Kalau kitab yang diturunkan pada nabi saja diubah-ubah, apalagi kata dari seseorang yang tidak ada jaminan seperti para filsuf yunani yang hidup pada masa sebelum masehi. Inilah yang patutu dipertanyakan. Kalau filsafat lebih kepada pemikiran kepada hal-hal yang nyata dan benar, maka sejarah para filsuf masih diragukan. Jadi, tidak perlu rasanya membahas terlalu mendalam pemikiran mereka. Memang, mereka membagi cara pandang filsuf itu pada beberapa bagian, seperti tentang hakikat benda itu adalah materi atau benda itu sendiri (Materialisme). Tentang hakikat sesuatu adalah rohani, jiwa atau spirit (Idealisme). Alam wujud ini terdiri dari dua subtansi, hakikat materi dan hakikat rohani (Dualisme). Ada yang mengatakan manusia tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan, hingga mustahil untuk membuktikan ada atau tidaknya Tuhan (Agnotisisme). Ada pula beberapa metode yang mereka kemukakan. Adalah Empirisme, Rasionalisme, Kritisisme/Fenomenalisme, Intuisionisme, dan Metode Ilmiah. Mereka mengatakan filsafat beda dengan ilmu pengetahuan, ini bisa diterima. Bahwa ilmu pengetahuan hanya mencoba menerangkan gejala-gejala secara ilmiah. Beda halnya dengan filsafat yang lebih pada mencakup segala hal yang memungkinkan untuk dipikirkan. Dari aliran Rasionalisme, menekankan rasio (akal), ini diyakini Rene Descartes (1596-1650) yang juga disebut sebagai Bapak Filsafat Modern. Ambisinya untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana ilmu non matematik bisa memiliki kepastian yang sama dengan hasil yang diperoleh geometri analitis. Tokoh pendukung dari pemikiran ini Blaise Pascal dan Baruch Spinoza. Ada teori Emperisme, bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan, baik pengalaman batiniah atau lahiriah. Teori ini beranggapan akal bukanlah sumber pengetahuan, tetapi akal sendiri untuk mengelola bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman. Hal ini diyakini John Locke, George Barkeley dan David Hume adalah pendiri tradisi emperisme. Lalu teori Kritisisme, dikenal sebagai filsafat yang diintrodusir oleh Immanuel Kant (1724-1804). Kant kritis terhadap rasio murni. Serta teori Materialisme, berkaitan dengan materi. Pemikiran ini menyatakan materi itu ada sebelum jiwa, dan materi adalah yang pertama, sedang pemikiran tentang dunia adalah yang kedua. Tokoh dari pemikiran ini Karl Marx (1818-1883). Dalam ini pula ada dua pembagian, Materialisme Mekanik (semua bentuk dapat diterangkan menurut hukum yang mengatur materi dan gerak), sedang pembagian yang lain adalah Materialisme Dialektik, menilai bahwa dunia misterius ini bersifat konstan, baik dalam gerak, perkembangan, maupun regenerasinya. Materi itu primer sedang ide atau kesadaran adalah sekunder. Idealisme, menekankan pada akal sebagai hal yang lebih dahulu. Ini diyakini Plato. Positivisme, mengakui pengetahuan yang benar kepada fakta-fakta positif, fakta yang sungguh nyata. Pemikiran ini diantarkan oleh Auguste Comte dari Montpellier katolik. Pragmatisme, aliran yang mengajarkan yang benar adalah sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan peantara akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Tokoh ini adalah William James dan John Dewey. Selanjutnya ada Fenomenologi, sesuatu yang tampak. Terus, Eksistensialisme, yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Dan Strukturalisme, pemikiran ini adalah arus penting dari pemikiran Eropa di tahun 1960an.

Abstrak. Semua yang tertulis itu adalah catatan sampah yang sekian dari catatan-catatan tak berguna. Tapi setidaknya, yang menemukan catatan ini tahu, bahwa semua itu tidak dapat dibenarkan secara mutlak. Saya tidak akan pernah percaya pada masa, kata-kata, dan apalah dari para pemikir yang jauh jarak waktunya. Bayangkan, sebelum tahun masehi mereka bilang. Kitab yang diturunkan pada nabi saja diubah-ubah, apalagi hanya pemikiran-pemikiran yang tidak sejalan itu. Tahun mereka berjaya pula tidak bisa dibenarkan, siapa coba yang pernah hidup di zaman itu dan sekarang masih ada? Tidak akan pernah ada orang yang demikian. Saya malah menarik kesimpulan, semua itu adalah hal semu, dibuat-buat dengan kepentingan sesuatu yang masih dirahasiakan. Untuk terusiknya negeri ini pun, saya pikir tidak demikian. Kalau memang negara memiliki banyak hutang atau sebagainya dari kabar-kabar yang tidak menyenangkan itu, lantas mengapa presiden sekarang masih bertahan. Jangan-jangan hanya omong kosong media. Atau malah ada hal lain yang tidak pantas diketahui publik. Hanya belum pada waktunya saja. Untuk bahasa indonesia juga, sebenarnya sampai saat ini masih dalam keterombang-ambingan oleh budaya luar. Sebagian yang bertanah daging Indonesia malu mengakui keunikan bahasa negeri. Mereka malah senang dengan bahasa asing, bahasa yang tidak seharusnya dijadikan patokan bahasa dunia. Bahasa dunia hanyalah bahasa Tuhan. Saya malah tidak mau mempelajari bahasa yang menyulitkan saya, kalau memang butuh, mengapa tidak mereka saja yang mempelajari bahasa indonesia. Saya hanya ingin menegaskan, jadilah Indosiaisme yang hakiki, mengakui jati diri bangsa, apa adanya. Kesadaran, ini yang terpenting untuk revolusi abad 21 ini. Percayalah, selagi ada kemauan, jangankan untuk tujuan negeri semakin baik, untuk menundukkan para penguasa yang ingin memperkaya diri saja mudah.[]
Labels: 2016, Renungan

Terima Kasih telah membaca Rangkuman Tiga Pelajaran, Ekonomi, Bahasa Indonesia, dan Filsafat. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Rangkuman Tiga Pelajaran, Ekonomi, Bahasa Indonesia, dan Filsafat"

Back To Top