Bagaimana Nasib Negeri Ini?

Lucu sekali memikirkan nasib negeri ini. Mereka mengatakan kemerdekaan dan turunnya pemerintah yang memperkaya diri karena mahasiswa. Apa benar demikian? Hem, kalau pun benar, tidakkah ada yang memandang suatu kejanggalan. Apa mungkin mahasiswa sepenting itu di mata publik? Sebenarnya ini adalah rahasia yang tidak perlu diketahui khalayak umum. Tapi, tegakah membiarkan mereka dalam kebohongan, membiarkan mereka manggut-manggut menerima kata begitu saja? Tentang kecapaian pemerintah. Tentang sejarah. Tentang kesejahteraan. Yang semua itu dibuat-buat. Mereka yang di pedalaman tidak akan pernah tahu, dan tidak akan pernah memikirkan. Mengapa harus begini? Mengapa harus begitu? Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk berpikir.

Cobalah renungkan, pandang sekitar. Di manakah letak kemerdekaan dan kesejahteraan yang dibuat pemerintah? Apa Jakarta dengan kemacetannya? Apa Universitas dengan tunjangan biayanya yang macam-macam seperti harga sayur di pasar? Apa bisa dikatakan negeri kaya sedang pedagang berkeliaran seperti penjajah, dan rakyat menyambut penjajah itu dengan gembira? Apa fungsi dari kartu pintar, sedang di pedalaman sana tak tersentuh hal demikian? Pemerintah tak seharusnya memanjakan rakyat, tapi perlu memperhatikannya. Mereka yang miskin kadang gengsi menyatakan diri mereka miskin, karena mereka tahu semua yang ada hanyalah omong kosong pemerintah saja. Pemerintah yang berusaha mati-matian atas kesejahteraan rakyat tapi hanya merata di media-media. Banyak yang kecewa, tapi mereka tak memiliki kekuatan untuk menggugat. Hei pemerintah, apa kami dianaktirikan? Hei pemerintah, di manakah letak kewibawaanmu? Teriak mereka dalam kebisuan.

Mahasiswa memiliki hak suara, tapi bukan lantas berunjuk rasa seperti orang yang tak memiliki etika. Kesadaran tidak seharusnya muncul dari mereka yang sudah tahu politik, tapi mereka yang sudah tahu sengsaranya hidup bernegara. Sebab, mereka yang tahu politik, maka akan semakin bersenang-senang, menggunakan kesempatan atas kedudukan untuk memperkaya diri. Ocehan tidak lagi didengarkan. Hujatan dan seruan untuk keadilan menjadi asap yang mereka hirup. Kepentingan pribadi. Kepentingan pribadi yang mereka penuhi. Mungkin mereka berpikir, tidak akan ada yang tahu apa yang mereka lakukan, mereka beranggapan rakyat tidak tahu apa-apa, dan memang rakyat banyak yang awam, jadi benarlah pernyataan atas rakyat tidak tahu apa-apa.

Setidaknya, kasihanilah generasi yang akan datang. Kehidupan bukan hanya untuk kalian yang hidup di masa kini. Negeri akan hancur, hancur sehancur hancurnya kalau hubungan sosial dan kepedulian menguap. Mereka yang hidup di pedalaman, yang tidak terjangkau pendidikan sedikit beruntung, dibanding mereka yang hidup di belantara gedung-gedung tapi tidak mau bertindak atas kesemena-menaan pemerintah. Mereka tahu, tapi terlalu takut untuk bertindak. Ketahuilah, kalau seseorang menginginkan sesuatu itu tercapai, maka dengan segala cara, baik itu menyakitkan atau malah menyenangkan akan tetap tercapai. Sebesar apa yang kau inginkan, maka semesta mendukungmu. Terakhir, untuk kau, wahai orang yang berkuasa, atau siapa pun yang membaca tulisan ini, akan ada waktu, di mana kebenaran terangkat ke permukaan. Akan ada waktu di mana ketertindasan menjadi benteng kejayaan yang hakiki. Tunggu saja waktu berbaik hati menunjukkannya pada kita.[]
Labels: 2016, Renungan

Terima Kasih telah membaca Bagaimana Nasib Negeri Ini?. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Bagaimana Nasib Negeri Ini?"

Back To Top