Jatidiri Manusia

Manusia harus menghilangkan potensi kemanusiaan untuk menuju pada hal yang lebih baik. Kalau kodok dengan potensi bertahan hidup dalam air dan melompat di darat, manusia tidak harus. Kalau belalang dengan ciri khas lompatnya, manusia tidak harus. Tahulah, bahwa potensi manusia adalah mencinta dan merusak, malas salah satunya, egois juga bisa masuk, selama itu berkaitan dengan nafsu. Hal merusak terjadi karena cinta yang tersakiti. Dalam kamus kehidupan, tidak ada kata jatuh cinta, karena jatuh pada nyatanya sakit, dan tidak ada orang yang merasakan cinta itu sakit. Pada mulanya, manusia diciptakan untuk berkasih sayang, tertawa dan semua yang berkaitan dengan kebahagiaan. Tapi, nyatanya, semua itu harus ditinggalkan, untuk menjadi manusia yang beda. Sebab, sejatinya, yang menonjol adalah mereka yang berbeda kehidupannya dengan manusia lain.

Pengorbanan, kadang menjadi sebuah jalan meraih perbedaan dalam hidup. Jelas, manusia sedikit sekali yang mau berkorban. Kalau kehidupan dihabiskan untuk diri sendiri juga kurang mantap, rasanya. Menikmati hal yang menyenangkan secara sendiri juga tidak begitu menyenangkan. Yang haki-hiki, adalah saat merasakan sesuatu dengan orang lain. Katakanlah berbagi. Memang, semua orang memiliki kekuasaan tersendiri dalam hidup, dan itu sama sekali bukanlah sebuah pedoman berkemanusiaan. Siapa bilang, nasi sepiring yang kita makan adalah kekuasaan kita? Bisa saja kita harus membaginya dengan lalat atau semut. Kembali pada teori jaring laba-laba, bahwa semua hal saling kait-mengait, menjadi jaring raksasa yang memperkuat kehidupan dunia. Tak ayal, hal yang berantakan menyebabkan terjadinya kiamat. Berjatuhan seperti domino yang diletakkan secara berjejeran. Roboh tak terbendung.

Sekarang, kita perlu memerhatikan kehidupan manusia yang itu-itu saja. Bisa dibilang tak ada perubahan sama sekali. Seperti burung yang terus terbang tanpa henti, pada akhirnya jatuh menghujam bumi. Seperti ikan yang tak pernah jalan-jalan ke darat, pada akhirnya lenyap bersama gelapnya samudera. Kasihan sekali, tidak pernah tahu seperti apa wajah daratan, kasihan sekali berakhir di tempat yang itu-itu saja. Seharusnya manusia bercermin pada kejadian-kejadian. Bukankah dalam kitab suci sudah disinggung untuk hal yang demikian?

Hei, kadang kita cemburu pada hewan yang bisa berubah-ubah. Katakan saja, cemburu pada bunglon yang bisa berkolaborasi warna dengan alam. Bahkan, makhluk yang satu itu juga bisa hidup dalam jangkauan yang tak terlihat, kasat oleh mata. Manusia, andai sekali saja mengikuti jejak yang berbeda. Manusia, andai sekali saja memandang langit, lantas meraupnya. Tapi, pada nyatanya, manusia tetap tinggal di bumi. Manusia tetap mencari dan menggali sumber kehidupan yang itu-itu saja.

Maka, jalan satu-satunya adalah meninggalkan tradisi kuno manusia, untuk membuat kehidupan di dunia lebih bermakna. Sekarang, di indonesia sendiri, hukum tak lagi pada lajurnya. Hukum diplesetkan ke berbagai kepentingan politik. Dalam Piagam Jakarta menyinggung melindungi segenap tumpah darah tanah air Indonesia, tapi nyatanya, mereka yang di luar negeri, mendapat masalah tidak ada perlindungan. Janji dan hukum yang dibuat hanyalah omong kosong. Kemanusiaan, tentang kepentingan, tidaklah menjadi manusia yang sebenarnya. Percayalah, dan mulailah pada kehidupan yang lain dari manusia yang lain. Jangan pedulikan pekerjaan, toh jatah makan sudah dijamin Tuhan, selama nafas itu ada, kita tidak akan makan batu. Manusia pesimis sekali dalam hidup, penuh ketakutan, dan keinginan terbesanya hanyalah kepuasan diri sendiri, antara makan, makan, dan makan. Menyakitkan menulis hal seperti ini, yang sebenarnya, diri manusia sendiri sadar terhadap keadaan. Bumi tidak lagi berpetak-petak dengan kekuasaan raja-raja, tidak zamannya lagi. Mulailah berubah.[]
Labels: 2016, Abstrak, Renungan

Terima Kasih telah membaca Jatidiri Manusia. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Jatidiri Manusia"

Back To Top