Memandang Negeri

Sebagai generasi abad 21. Adalah keharusan menjadikan kebaikan terhadap tanah air. Meneruskan perjuangan tidak berhenti di tahun 45. Bahkan sekaranglah waktu berjuang yang berat. Kalau sebelum 45 menentang ketidakadilan dengan senjata, sekarang senjata itu adalah diri generasi itu sendiri. Ada kata senjata makan tuan, itu dulu, sekarang senjata makan senjata itu sendiri.

Melihat hal yang demikian, para tetua dan menteri serta presidennya, seharusnya memikirkan senjata itu. Apakah mereka akan diberikan peluru baja, atau batu? Selalu ada pilihan kedua, kalau mereka tidak memberikan peluru itu, berikanlah mereka tebeng atau aling-aling.

Adakalanya dunia berubah. Tanpa sadar, sebenarnya perubahan yang paling tampak adalah di abad ini. Semua serba mudah dilakukan. Bahkan sekecil-kecilnya pekerjaan akan menghasilkan uang. Tapi apakah manusia akan menjadi lebih memerhatikan perubahan yang merosot? Apakah mereka sadar, semakin banyak ketergantungan dan sifat menguasai akan membuat mereka lemah? Semua orang tidak mau kembali pada awal peradaban bermula, itu hal pasti. Tapi apakah ada sedikit saja di antara mereka mengarang kejadian, bahwa saat semua menjadi mudah, suka bergantung pada sesuatu, mereka akan lemah? Yang ada adalah keluhan dan keluhan. Mereka akan selalu memilih hal yang lebih cepat tanpa susah payah. Mereka akan lebih asyik menghabiskan waktu sendiri-sendiri dengan kemudahan mereka.

Ketergantungan pada alat sudah meraja lela. Ada yang gila pada game firtual yang membuat banyak keteledoran. Saya tidak mau menyebut secara langsung apa jenis game itu. Tapi, itu sungguh mengganggu ketentraman mereka yang memperhatikan. Ya, memang hidup butuh hiburan, tapi tidak harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk kesenangan saja. Malah akan lebih baik membaca buku, menulis, atau membuat karya dari tangan sendiri. Apa pun yang membuat potensi diri tersaring, itu lebih baik.

Semua tidak mudah kalau kita mau menyadarinya. Baik dari kejadian akan hamil—maaf, padahal itu menyenangkan—lahir, berkedip, semua butuh beberapa pengalihan dan jeda. Tidak lahir langsung sekolah, tidak. Tidak sekolah langsung sarjana, tidak. Semua tahu itu. Seratus persen saya pastikan benar. Tapi mengapa untuk memperbaiki negeri maunya yang mudah-mudah? Hei, pohon kelapa untuk hidup puluhan tahun tidak berdiam dia. Untuk bertahan hidup tidak berhenti berbuah dia, malah selalu memberikan benih dan benih untuk kelapa baru. Nah, manusia?

Tidak, saya tidak membicarakan tentang keteledoran atau kritik terhadap tanah air. Saya juga tidak membahas tentang ketergantungan manusia pada benda dan kemudahan situasi. Bukan. Saya hanya ingin menyampaikan informasi kekinian tentang negeri yang kehilangan rohnya.

Pada masa kebangkitan dulu, negeri bertengger dengan urat pancasila dan perbedaan yang satu tujuan. Apa sekarang tetap dengan waktu itu? Mari simak bersama. Saya rasa akan ada yang menyerukan sama dengan apa yang saya serukan. Negeri dalam keadaan dijajah moral. Belanda tidak pergi, dia melekat di hati orang-orang yang tidak mau mengerti. Hukum di tanah air tak berjalan, dibekukan dengan hukum baru darinya. Apa yang dibuat oleh penegak, menteri dan presidennya? Nah, mereka santai-santai saja, selama jabatan melekat dan tak ada yang tahu, mereka merasa aman, lupa sudah bahwa serapat apa pun bangkai akan tercium.

Di kekinian, sulit mengubah doktrin belanda yang sudah mendarah di tanah air. Tapi ada kesempatan membekukan darah itu dengan minyak dan api. Harus ada pengobar semangat dan pendukung agar lancar jalannya perubahan itu. Adapun kemungkinan-kemungkinan, sudah pasti akan terjadi. Kemungkinan besarlah yang akan menentukan, dengan cara tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu. Apa yang dibutuhkan tubuh lemah? Adalah obat dan olah raga. Begitupun dengan cara menghilangkan kelemahan negeri ini.

Semua orang menginginkan kesembuhan, tapi selalu teledor dalam menjaganya. Semua orang butuh kenyamanan, tapi kadang mencari sendiri ketidaknyamanan dengan mencoba-coba sesuatu. Seseorang boleh menganggap hidup untuk coba-coba, tidak masalah, toh hidup untuk main-main. Tapi ketahuilah, main-main dalam hidup tidak untuk benar-benar dibuat mainan. Orang dewasa tahu itu. Apakah masih pantas berambut putih main kelereng? Apakah akan ada yang mengajak bermain anak yang sudah mati? Sama seperti itulah berperilaku terhadap negeri ini. Negeri tidak butuh dipuja atau mengangkat bendera setiap minggu, tidak akan membuatnya gemuk dan sehat. Malah kadang, terlalu dimanja menjadi luber gemuknya. Negeri butuh stamina dan urat baru untuk melaju pada abad berikutnya. Negeri butuh kaki atau roda untuk melangsungkan perjalanannya pada keadaan yang lebih jauh.

Sekarang kurang sesuatu di mana-mana. Dari segi apa pun itu. Sastra tidak bisa disejajarkan dengan sastra luar negeri. Keilmuan tidak bisa disejajarkan dengan ilmu luar negeri. Dalam ilmu eksakta juga tidak. Dalam bidang apa pun masih dalam golongan terbelakang. Bukan tidak bisa menyejajarkan dan melebihi mereka yang sudah melaju kencang, tapi karena malas saja untuk mencoba.

Mungkin revolusi pancasila harus terjadi, agar negeri ini bisa mengenyahkan kemalasan dan memulai semuanya dari awal. Mungkin pula sejarah harus diubah, dengan tidak memercayai pahlawan-pahlawan yang tercatat di buku sejarah dan di dinding-dinging sekolah. Selalu efektif memulai sesuatu dari nol, menghapus para diktator, menggusur rumah-rumah lonte, menghukum para koruptor dan sejenisnya, serta sejawat-sejawatnya.

Padahal negeri masih muda, terlalu muda jika dibandingkan dengan Negara lain. Seharusnya, semangat itu tetap ada, karena masa muda masih bisa menyimpan tenaga dengan baik, masih bisa menerima kritikan dan pikiran jernih dengan baik.[]
Jakarta, Tanpa hari
Labels: 2017, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Memandang Negeri. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Memandang Negeri"

Back To Top