Memandang Sejarah

Sejarah negeri ini tidak lagi aku percaya. Semua yang guru ajarkan tidak lagi dapat dibenarkan. Pidato menggelora Soekarno bukanlah dia yang sebenarnya. Kemerdekaan negara ini tak lain hanyalah omong kosong belaka. Sejarah dibuat sedemikian rupa. Kalau dipikir-pikir, negeri ini berdiri dengan kengerian. Dan lebih parahnya lagi, aku baru tahu bahwa tidak ada kebaikan di negeri ini.
Tidak ada namanya kesejahteraan kalau pemimpin ingin memperkaya diri. Mereka yang turun dari jabatannya, adalah orang-orang yang berselubung. Mereka yang berusaha meluruskan garis peredaran ekonomi negeri di cap hitam. Tapi ada kalanya dunia seimbang. Ada kalanya orang di luar pemerintahan bertindak. Aku yakin, banyak orang baik di luar sana, yang ngotot atas kebaikan tapi tidak pernah menampilkan diri. Karena, pada hakekatnya, seseorang yang tidak diketahui identitasnya, dia akan semakin kuat. Pura-pura bodoh atas banyak hal. Pura-pura munafik atas banyak hal. Tapi pada hakekatnya, orang itu si putih, bergerak atas keseimbangan dunia. Menumpas mereka yang ingin memperkaya diri.
Ya, bagaimanalah negeri ini. Kalau pemerintah tidak mau turun dari jabatannya, maka perekonomian dan hukum tidak lagi berguna. Terlalu banyak kebohongan. Terlalu banyak ambisi yang diisu-isukan. Moral tak lagi jadi perhatian. Orang yang dianggap mengganggu berusaha dimusnahkan. Tulisan-tulisan di media adalah kengerian. Bahwa, media tidak lagi suci, dia ternodai oleh nominal yang hanya ada di dunia firtual. Mereka yang tahu banyak hal memilih diam, tapi aku tidak, biarlah baju dari keindahan ini terungkap walau sampai mata kaki.
Negeri, negeri yang ngeri. Kebaikan dan apa yang tercapai adalah kebohongan yang diumbar di hadapan publik. Sungguh, aku tidak berani menulis untuk siapa hal ini. Tapi, waktu pasti akan menjawab, waktu pasti akan memberi cahaya di sela-sela kegelapan untuk jalan rakyat. Memang, penderitaan rakyat tidak merata, tapi sakitnya merata. Memang, kebodohan rakyat begitu kuatnya, tapi kepandaian tidak akan membiarkan kebodohan itu mengakar, menjadi beban untuk berdirinya negeri yang gagah.
Waktu, hanya tinggal menunggu waktu kebenaran sejarah terbongkar. Hanya tinggal menunggu waktu, pemimpin yang memperkaya dirinya atas kekuasaan tumbang mendengus tanah. Rakyat biarlah tidak tahu, karena mereka tidak mungkin menerima kebenaran yang menyakitkan, mereka lebih senang kebohongan yang menggiurkan. Kasihan sekali negeri ini. Sudah mulai renta, walau umurnya masih muda.
Abad 21 ini, harapan dari mereka yang sadar adalah generasi yang baik, yang menjaga harga martabat bangsa, peduli sesama, tidak penting sebanyak apa diri berkorban, tidak penting sebanyak apa uang yang dikeluarkan, tapi demi negara nyawa pun dipertaruhkan. Memang, kriteria orang seperti itu hanya ada di sejarah lampau, tapi sejarah tidak murni, sebagian besar dibuat-buat. Bagaimanalah aku akan tenang setelah mengetahui semua kebohongan ini? Bagaimanalah aku bisa diam untuk tidak menulis apa-apa setelah tahu kebodohan ini? Kasihan, kasihan sekali negeri ini.
"Jangan lupakan sejarah!" kata ini lebih tertuju pada penghianatan!
Labels: 2016, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Memandang Sejarah. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Memandang Sejarah"

Back To Top