Ontologi, Epistemologi, Aksiologi

Membahas tentang ketiga hal tersebut sangat menarik jika disertai dengan segelas kopi. Jadi, sebelum membaca ringkasan ini, silakan siapkan...☺
Filsafat, jika diartikan sebagai ilmu, maka salah satu unsur adalah ia harus mempunyai objek tertentu. Poedjawijatna (1986: 6-7) mengatakan objek suatu ilmu dapat dibedakan menjadi objek materi (lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu) dan objek forma (sudut pandang tertentu yang menentukan jenis suatu ilmu). Mudahnya, suatu keilmuan dapat memiliki objek materi yang sama, katakan saja si psikologi dengan ilmu jiwanya (membahas bagian dalam, rohani atau batin), dan biologi dengan ilmu hayatnya (membahas luar, wujud dari fisiknya), bagaimanapun tetap satu objek yang mereka bahas, tentang makhluk.[1] Hal ini dapat diasumsikan bahwa pengetahuan tak jauh dari pembahasan suatu objek, baik tampak atau tidak. Atau pula satu objek tapi beda pandangan.

Begitulah, mari bahas tiga hal pokok dalam filsafat ilmu, yang, dengan ketiga hal ini maka hasil dari pembahasan bisa dikatakan struktural dan benar. Tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Baiklah, ternyata landasan Ontologi berkaitan dengan pertanyaan; objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki objek, bagaimana hubungan objek dengan daya yang ditangkap manusia? Sedang landasan Epistemologi mempertanyakan proses, prosedurnya, hal yang perlu diperhatikan agar pengetahuan yang didapat menjadi benar, kriterianya, apa kebenaran itu sendiri, dan sarana apa yang membantu dalam mendapatkan pengetahuan berupa ilmu? Dan yang terakhir Aksiologi, mempertanyakan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan, kaitan penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral, ketentuan objek, dan bagaimana teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma moral? Singkatnya, ontologi dimulai dengan apa yang dikaji oleh pengetahuan itu? Epistemologi dimulai dengan bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tersebut? Serta aksiologi dengan pertanyaan untuk apa? Hal ini juga berkaitan dengan fungsi.[2] Beberapa penjelasan tersebut tak jauh beda dengan pokok-pokok filsafat itu sendiri, yang terdiri dari logika (membahas salah benar), etika (baik buruk), dan estetika (indah jelek). Artinya, akhir dari sebuah filsafat adalah keindahan. Keindahan memiliki banyak sekali jalan dan pandangan, tapi membuat siapa pun sepakat, bahwa seperti inilah keindahan, yang memiliki ikatan antara pikiran dan insting, otak dan hati sejalan.
Ontologi: Hakikat yang Dikaji
“Tuhan tidak melempar dadu!” Ini kalimat Albert Einstein. “Tidak ada sesuatu pun yang tidak berguna di jagat raya ini”. Kalimat tersebut sangat benar, terlepas karena itu ungkapan Tuhan atau bukan, itulah kebenarannya. Segala sesuatu memiliki esensi dan jati dirinya masing-masing. Batu memiliki legenda pribadinya sebagai batu, tiang memiliki legenda pribadinya sebagai tiang. Apa pun itu, pasti memiliki hakikat, dan untuk mengetahui hakikat tersebut, kiranya perlu pengkajian.[3] Seseorang tidak lantas bisa mengatakan kopi membuat si peminum ketagihan kalau orang itu sendiri tidak pernah meminum kopi, dan tidak tahu hakikat dari kopi itu sendiri.
Epistemologi: Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar
Perlu metode-metode dalam mencari kebenaran, dengan hal ini akan menjadi sistematis, dan kevalidan riset dapat dibenarkan. Dalam mencari kebenaran dari sebuah pengetahuan diperlukan pemikiran yang bebas, tidak terikat ruang dan waktu. Kebenaran dengan menekankan pada logika berbeda dengan kebenaran berdasarkan perasaan. Membunuh penjahat kejam baik kata perasaan (karena kekejaman tidak ada baiknya dipertahankan), tapi tidak dengan pemikiran.
Aksiologi: Nilai Kegunaan IlmuTidak ada di dunia ini yang tercipta tanpa seni, bahkan orang berberak pun itu seni. Coba perhatikan batu, dengan bentuknya yang khas, rumput, pohon, air, bahkan hal terkecil pun tak lepas dari keindahan dan kegunaan. Kembali pada kalimat awal, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak berguna dalam kehidupan, bahkan sampah sekalipun. Nilai kegunaan tidak sekadar sebagai kegunaan, tapi lebih pada indah tidaknya hal itu. Kehidupan ini tak lebih dan tak kurang tumpang tindih, yang satu bergantung pada yang lain, sambung menyambung seperti rantai kehidupan yang besar. Filsafat itu sendiri sebenarnya mencari hakikat dari keindahan berpikir. Seseorang tidak akan merasa tenang kalau pikirannya dalam keragu-raguan, bahkan bisa menganggap semua yang ada tak lebihnya omong kosong dari rekayasa kehidupan dunia.

Dalam film Mr. Nobody (film filsafat, 2009), aktor utama yang bernama Nemo mengatakan, hidup terdiri dari beberapa dimensi dalam waktu bersamaan, hidup penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, bahkan kata sekali pun mempengaruhi tindakan kejadian berikutnya. Hidup seperti ada di pesimpangan jalan, kita bisa saja melewati keempat jalan yang ada.[]
Catatan kaki:
[1] Darji DArmodiharjo, dan Shidarta, Pokok-Pokok Filsafat Hukum (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 1999). Hlm. 5.
[2] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan 2015) halm. 33-35.
[3] Paulo Coelho, Sang Alkemis (Sebuah Novel Filsafat Kimia).
Labels: 2016, Renungan

Terima Kasih telah membaca Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Ontologi, Epistemologi, Aksiologi"

Back To Top