Cara Berdamai dengan Masalah


Sebuah pandangan tentang hidup
Memikirkan banyak hal akan membuat kapasitas otak bertambah. Memang benar demikian, adanya. Tanpa aktivitas kehidupan tak lebihnya kebekuan, hidup tak seperti hidup yang sebenarnya. Adanya masalah dalam hidup membuat orang tetap bertahan untuk melihat matahari besok dan besoknya lagi. Tanpa ada sesuatu yang dipertahankan tidak ada alasan untuk hidup. Setiap orang memiliki permasalahan masing-masing dalam hidupnya. Permasalahan kecil menjadi besar kalau kita tidak mau berpikir dan menyadari bahwa permasalahan pelik apa pun memiliki jalan keluar.

Begitulah seharusnya negeri. Masalah datang untuk dihadapi, dijalani sebaik mungkin. Menghindari masalah tidak akan ada akhir penyelesaiannya, semakin berlarut-larut. Suatu masalah akan bertambah rumit, atau malah tidak mau diajak berunding yang pada akhirnya membunuh si punya masalah kalau tidak mencoba memaafkan diri dan berdamai dengan takdir. Tak ayal ada orang bunuh diri, orang tidak punya harapan, hal tersebut terjadi karena mereka tidak mau menjalani dan menerima masalah yang mereka hadapi.

Negeri, selama lari dari permasalahan politik dan kenyataan tentang kemerosotan, tidak akan pernah menjadi lebih baik, malah akan membuat negeri itu sendiri hancur. Seorang yang diberi tanggungan untuk memimpin tapi tidak mau dikritik, sama halnya dia telah membunuh negeri melalui jiwa angkuhnya yang mengosong. Tidak akan ada perubahan kalau tidak dijalani.

Memang, kehidupan yang ada pasti akan terjadi kalau sudah waktunya terjadi. Suatu masalah akan selesai kalau sudah waktunya selesai. Apa pun, kalau sudah sampai waktunya tidak dapat dielakkan lagi. Tapi, waktu yang diulur biasanya akan membuat sesuatu yang seharusnya terjadi menjadi lenyap, samar yang kemudian mencekik begitu saja.

Kehidupan memanglah tidak dapat dipahami dengan hanya memandang sebuah kejadian dari satu sudut pandang. Banyak sekali kejadian di dunia ini, dan dari satu kejadian ada banyak sekali sudut pandang. Begitupun dalam penyelesaian atau menghadapi permasalahan dalam lini kehidupan, ada begitu banyak cara menyelesaikannya. Kita tidak mau sadar akan apa yang ada di sekitar, karena kita hanya tahu bahwa membaca hanya pada hal yang tertulis, padahal tidak, kita bisa membaca apa pun di dunia ini. Kita bisa lepas dari hal yang tertulis. Penemuan atau tulisan dalam buku tak lebihnya manusia yang membuatnya, dan sebagaimana manusia, pasti memiliki kesalahan dan kekeliruan. Kalau si peneliti A mengatakan ini putih dan setelah beberapa dekade ada yang membantah dari apa yang dikemukakannya, itu tak lebihnya sebuah pembuktian, bahwa manusia memiliki pendapat yang berbeda-beda, dan memang seperti itulah sifat manusia. Hipotesis boleh ada, tapi tidak berarti itu benar.

Jadi, kadang aku merasa canggung dan acuh tak acuh pada buku, baik pada pendapat orang-orang yang dipercaya keilmiahannya, atau pada yang lebih tidak jelas sejarahnya. Bagiku, pada dasarnya semua adalah praduga dan kemungkinan-kemungkinan. Kalau seorang mengemukakan suatu pendapat dan diterima dengan kesepakatan hak paten, berarti telah melupakan sudut pandang kehidupan, bahwa satu batu bisa terlihat berbeda dari sudut pandang orang yang menjadikannya objek.

Kehidupan tidak akan berlangsung lebih baik kalau hanya tergantung pada pendapat dari satu sudut pandang. Permasalahan pun juga demikian, memiliki sudut pandang. Apa pun itu, memiliki sudut pandang tersendiri. Masalah, hem, hanya akan membuat orang lupa untuk menyelesaikannya bagaimana.[]

(Rahasia kecil dalam kehidupan. Begini, dunia tidak akan kiamat kalau orang baik dan orang jahat sama banyaknya. Dunia tidak akan berakhir selama ada keseimbangan di dalamnya. Dunia akan berakhir kalau hanya ada satu klan kehidupan. Lagipula, tidak ada serunya hidup tanpa perbedaan.)
Labels: 2016, Renungan

Terima Kasih telah membaca Cara Berdamai dengan Masalah. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Cara Berdamai dengan Masalah"

Back To Top