Tentang Kebudayaan

Kehidupan tak lepas dari yang namanya berpikir, dan benda-benda. Melalui berpikir timbullah gagasan, ide-ide, aktivitas dan semua itu adalah wujud abstrak dari gagasan manusia. Budaya erat kaitannya dengan manusia, tidak ada yang namanya budaya hewan, karena pada dasarnya budaya ada melalui pemikiran tertentu, yang melahirkan hukum dan kesepakatan nilai keinginan. Kebudayaan sangatlah kompleks, terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, kebiasaan dan bawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat. (Taylor, 1897). Kebudayaan itu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa sanskerta budhayah, bentuk jamak budhi yang berarti budi atau akal, jadi jelas kebudayaan ada atas akal pikiran manusia dalam berbudi.

Menurut Herkovits dalam bukunya yang berjudul Man and His Work, dalil tentang teori kebudayaan itu terdiri dari; kebudayaan dapat dipelajari, berasal dari sumber biologis, lingkungan, psikologis dan komponen sejarah eksistensi manusia, kebudayaan memiliki struktur, dapat dipecah-pecah dalam berbagai aspek, bersifat dinamis, mempunyai variabel, memperlihatkan keteraturan yang dapat dianalisis dengan metode ilmiah, serta yang terakhir, kebudayaan merupakan alat bagi seseorang untuk mengatur keadaan totalnya dan menambah arti dari kesan kreatifnya. Herkovits juga memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang superorganic, karena kebuyaan yang turun-temurun dari generasi ke generasi hidup terus. Pengertian kebudayaan meliputi pengertian yang luas, tak terbatas. Melville dan Bronislaw Malinowski sebagai antropolog terkemuka berpendapat bahwa Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimilikinya.
Sedang dalam dimensi wujudnya, kebudayaan memiliki wujud sistem budaya, wujud sistem sosial, wujud kebudayaan fisik. Dalam pembahasan yang merinci berarti, wujud sistem budaya itu abstrak, berupa gagasan, ide-ide, konsep, nilai-nilai, norma, dan peraturan, semua yang tersebutkan itu tak terpisahkan, hingga dikatankanlah sebagai sistem budaya. Serta wujud sistem sosial, yang bersifat konkret, dapat diamati dan merupakan aktivitas manusia yang saling berinteraksi mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat-istiadat masyarakat. Terakhir, wujud kebudayaan fisik, ini lebih kepada peninggalan karya yang telah mencapai tujuannya, terlihat fisik seperti peninggalan candi-candi.

Konsep B. Malinowski menyatakan kebudayaan di dunia memiliki tujuh unsur universal, yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi dan terakhir, kesenian. Ada lima dasar orientasi nilai menurut C. Kluchohn, yaitu hakikat hidup manusia, karya, waktu, alam dan hakikat hubungan antar manusia.

Suatu masyarakat memiliki pandangan hidup tersendiri dalam menjawab masalah yang dihadapi. Kepercayaan kadang menjadi fondasi dalam mengadu keyakinan yang bertentangan di suatu kelompok masyarakat. Manusia memang tak lebihnya sebuah individual yang berkelompok. Dalam artian sederhananya, manusia tak lepas dari komunikasi antara satu sama lain. Dalam hal ini pula, diperlukan sebuah hukum tak tertulis yang menjadikan itu sebagai etos tertentu. Ada pandangan terhadap kelompok tertentu, tapi kembali pada titik awal tentang bahwa semua kelompok bisa saja memiliki kebudayaannya tersendiri, seperti cara berkomunikasi, beragama, berbangsa, bermasyarakat, bahkan dalam berpikir pun.

Kadang, sebuah bahasa menunjukkan sampai mana tingkat kebudayaan orang yang berbahasa tersebut. Bahasa memiliki peran penting dalam pembentukan sifat, yang akhirnya bermuara pada bagaimana orang tersebut berpikir, hingga pada akhirnya melahirkan kebudayaan tertentu. Ada yang berpendapat bahwa kebudayaan itu dibagi atas kebudayaan material dan non material. Memang, di dunia ini tak lepas dari sesuatu yang tampak dan abstrak. Manusia sendiri memiliki dua hal tersebut. Tak ayal budaya dipetak-petak berdasarkan bentuknya.

Sebuah budaya itu diciptakan oleh manusia itu sendiri, jadi ada kata manusia sebagai daya. Daya cipta manusia. Manusia memang berperan penting dalam kehidupan, karena kehidupan itu sendiri kadang menjadi suatu pertahan untuk hidup.

Ada kebingungan dalam hidup ini, sebenarnya, budaya atau lingkungan yang mempengaruhi manusia, tau pemikiran manusia itu sendiri. Asumsi sebenarnya, lingkungan menjadi budaya tersendiri karena manusia itu sendiri, bukan lingkungan yang mempengaruhi budaya. Kebudayaan kadang menjadi suatu problematika dari suatu pandangan ke pangangan yang lain. Memang, manusia memilki persepsi tersendiri atas suatu permasalahan.

Faktor kebudayaan terdiri dari kepercayaan, pandangan, psikologi, komunikasi, dan sikap. Kadang, dari faktor ini terjadi beberapa perubahan, berkenaan dengan perubahan lingkungan alam, karena adanya kontak suatu kelompok, tersebab mempertahankan beberapa elemen kebudayaan yang dikembangkan, atau terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidup dengan mengadopsi kepercayaan baru dalam pandangan hidup. Kebudayaan akan selalu ada selama manusia itu ada. Keterikatan antara keduanya tak bisa dilepaskan, atau dipisahkan antar dimensi. Baik sejarah atau peninggalan, itu akan selalu ada selama manusia ada, dan akan selalu ada kalau kebudayaan dari pemikiran untuk daya cipta dipertahankan.

Sumber tulisan:Setiadi, elly M., Hakam, KA., Efendi, R. (2007). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sudibyo, L., Sudiatmi, T., Sudargono, A., Triyanto, B. (2013). Ilmu Sosial Budaya Dasar. Yogyakarta: Andi Offset.
Sulaeman, M. (2012). Ilmu Budaya Dasar: Pengantar ke Arah Ilmu Sosial Budaya Dasar/ISBD/Social Culture. Bandung: Refika Aditama.
Labels: 2016, Kebudayaan

Terima Kasih telah membaca Tentang Kebudayaan. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Tentang Kebudayaan"

Back To Top