Resensi Novel Matahari Karya Tere Liye

Menyelami Otak Tere Liye
Novel Matahari
Judul: Matahari
Penulis: Tere Liye
Tebal:
400 halaman
Cetakan II:
Agustus 2016
Penerbit:
PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-3221-6

Bagi peresensi, Tere Liye hampir seperti Dan Brown dalam menyajikan cerita, walau Tere Liye sendiri memiliki ciri khas dalam penulisannya, dan hal ini menjadi latar identitas dirinya sebagai warga Indonesia. Hampir dari keseluruhan karya Tere Liye, semua menceritakan dunia anak-anak yang amat menarik, dengan sudut pandang yang berbeda, dan sama sekali sederhana.

Dalam novel matahari, kehidupan seperti dunia imajinasi itu sendiri. Tere Liye berhasil membuat dunia bagi tokoh-tokoh fiksinya. Selalu ada hal baru yang dikupas habis Tere Liye. Selain bahasanya yang ringan dan mudah dipahami, juga terkandung beberapa pesan menarik untuk dipikirkan ulang, seperti di halaman 178 dan 184. Di sana ada kata-kata seperti puisi yang mengisahkan keberanian seorang petualang. Ata seperti di halaman-halaman lainnya yang berisikan ajakan semangat dalam menghadapi suatu hal.

Tokoh Ali dalam novel ini memberi inspirasi, bahwa usaha tidak cukup satu kali. Ali yang tidak bisa mengajak Raib menggunakan buku kehidupan untuk bertualang ke suatu klan membuat inisiatif yang begitu brilian dengan penemuannya Ily. Memang seperti itulah, kalau kita menginginkan sesuatu, maka alam semesta akan mendukung kita. Hal yang disampaikan penulis sebenarnya masih berkaitan dengan moral agama dan kitab-kitab yang diajarkan di agama islam.

Tere Liye selalu menyembunyikan pesan fanatik pada agamanya, dalam artian, setiap apa yang ditulisnya selalu netral, bisa dipahami setiap mereka yang sebenarnya tidak sama agama. Dibaca orang kristen, mereka bisa menangkap pesan moral keagamaan mereka, dibaca orang hindu, juga sama, bahkan dibaca orang islam pun, pesan yang disampaikan Tere Liye tetap sama sebagai moral agama yang luas. Pembahasan yang terkesan tak membatasi pembaca. Cukup mahir.

Novel Matahari ini juga tak lebihnya seperti karya De, yang juga berseri. Adanya novel Matahari menyumpal rasa penasaran penggemar novel Bumi dan Bulan. Matahari sendiri sebenarnya merupakan bagian dari dunia pararel dalam imajinasi Tere Liye. Novel ini pula sebenarnya merupakan fiksi fantasi yang kalau kita coba menyelami akan sangat ada kemungkinan bahwa dahulu kala, manusia memang pernah memiliki masa jayanya. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi, karena kebenaran sejarah sendiri sekarang perlu dipertanyakan. Nah, adanya novel matahari cukup membuat pembaca memikirkan banyak hal, dari detail kecil tentang kehidupan, hingga pada kemungkinan bahwa dalam perut bumi ada kehidupan.

Apa yang diimajinasikan penulis sangatlah logis walau itu tidak masuk akal. Sebab begitulah cerita, walau tidak nyata harus benar-benar logis. Novel Matahari sangatlah logis—kalau dipikir-pikir—jika dibandingkan dengan kehidupan nyata yang penuh dengan ketidakmasukakalan. Bagaimana pun ini adalah fiktif, tapi dari fiktiflah kadang sesuatu bermula. Dari imajinasi yang bentuknya abstrak bisa saja menjadi suatu yang berwujud. Orang terdahulu tidak pernah menyangka akan ada sesuatu yang bisa terbang dan ditumpangi, yang sekarang kita kenal dengan sebutan pesawat terbang. Dalam novel Matahari semua hal baru yang seandainya ada satu orang saja yang mencoba mewujudkannya akan menjadi karya agung.

Penulisan karakter tokoh dalam novel ini juga menarik. Melalui sudut pandang aku yang tentu bersifat terbatas, tapi penulis mampu mengurai seluruh kejadian dengan detail. Ini suatu hal yang menakjubkan. Jarang sekali penulis novel di indonesia yang imajinasinya seliar Tere Liye. Dari beberapa novel fiksi fantasinya, yang mungkin dapat menyaingi karya penulis novel luar negeri adalah Kisah Sang Penandai, tapi kalau dibanding-bandingkan lagi mungkin novel Matahari mampu bersaing di ranah sastra dunia. Atau, anggap saja bisa mengejar novel Harry Potter karya J.K. Rowling.

Suatu kelebihan pula dalam novel matahari, pembaca tidak dibiarkan jenuh dengan penyajian cerita yang serius, melainkan ada kesan tawa di bagian-bagian saat pembaca hampir merasa jenuh. Tentu, kehidupan saja tanpa tawa atau hal yang lucu terkesan seperti mayat hidup, tak ada ekspresi sama sekali. Begitu pun sebuah novel, tanpa hal lucu yang diselingi di bagian-bagian tertentu, mungkin pembaca akan berpindah pada kegiatan lain, dan kemungkinan buruknya buku itu ditinggalkan begitu saja, dicampakkan, dicampakkan lebih menyakitkan dari pada dicaci-maki.

Ada hal menarik dari penulis itu sendiri, yang hal ini membuat pembaca selalu penasaran, penulis tidak pernah memberi identitas diri pada setiap akhir novelnya. Ini suatu yang mencengangkan bagi pembaca yang selalu mencari tahu terlebih dahulu identitas penulis suatu novel sebelum membacanya. Siapakah Tere Liye? Apa novel matahari novel terjemahan luar negeri? Pembaca banyak yang bertanya-tanya.

Kelebihan dan kekurangan sudah menjadi sifat sesuatu yang ada di dunia ini. Debu yang kecil pun memiliki kelebihan serta kekurangan. Jadi, dari hal yang menyanjung novel matahari ada pula cacian yang akan peresensi sampaikan, nanti. Peresensi hanya ada di bagian terkecil dari mereka yang sudah pandai meramu kata menjadi sebuah sihir. Sebenarnya tidak pantas orang yang tidak pernah menerbitkan suatu buku mengkritik buku, dimana jalan ceritanya begitu. Peresensi tidak akan pernah pantas mengritik novel matahari, sebab peresensi tidak pernah menerbitkan buku sendiri—diterbitkan orang lain iya. Tapi biarlah peresensi mengungkapkan kritik pamungkasnya di bagian berikut ini.

Mungkin perlu di awali dengan kata namun untuk membuat pembaca tidak langsung naik darah—sebab bisa berabe kalau ada orang yang kagum sekali pada tere liye lalu peresensi mencacinya, bisa jadi orang tersebut tidak terima dan mengancam peresensi harus bertanggung jawab akan hal-hal yang tidak diinginkan. Baiklah, akan diawali dengan kata namun.

Namun ada sedikit hal yang mengganggu pada novel matahari ini. Semua orang pasti tahu, kesungguhan dan keunggulan sebuah tulisan itu dilihat dari bagaimana penulis menyajikan kalimat yang baik, menggunakan EYD, mudah di pahami, serta tidak salah ketik. Sebagian besar telah terpenuhi dalam novel Matahari, tapi kesalahan ketik ini yang bermasalah dan bisa jadi yang paling parah. Kesalahan ketik yang paling menonjol ada di bagian luar sampul, yang di sana tertulis oeang seharusnya mungkin orang. Ini merupakan hal kecil tapi bisa menjadi cacat bagi mereka yang kritis terhadap buku. Di isi pun, ada beberapa kesalahan ketik, bisa di hitung satu dua tigaan. Tidak banyak, tapi merupakan cacat dan bisa jadi kesalahan fatal.

Selebihnya, ada seorang teman yang menanyakan pada peresensi, “Novel Matahari ini ada ISBN-nya tidak, sih? Kok tidak ada tulisan ISBN-nya di bagian sampul?” Itu pertanyaan mendasar seorang yang tidak begitu tahu, atau baru mau menyukai novel yang hanya berpedoman pada kata, bahwa novel yang baik adalah yang memiliki ISBN. Di sana memang ada, tapi teman peresensi mempertanyakan karena tidak ada tulisan ISBN. Peresensi mencoba menunjukkan, tapi karena sampul plastiknya tidak bisa dibuka, karena itu di toko buku, jadi peresensi hanya dapat garuk-garuk kepala, tidak sanggup meyakinkan pada teman bahwa itu ada ISBN-nya. Penulisan ISBN di bagian sampul adalah hal sepele, tapi berabe bagi yang kritis terhadap suatu hal.

Hal yang paling menjengkelkan lagi, saat harus mengingat nama-nama sulit di episode dua. Di sana, pembaca seakan ditikam dengan cerita yang langsung berpindah pada alur dan pembahasan yang sulit. Butuh mengulang-ulang untuk bisa memahaminya.

Kekurangan novel matahari ini sebenarnya lebih pada genrenya yang berseri. Pembaca yang tidak membaca seri sebelumnya merasa kurang menikmati, lepas dari kelebihan berserinya yang membuat pembaca penasaran pada novel berikutnya. Karena kepiawaian penulis, kecacatan kecil tidak berdampak buruk bagi pembaca.

Terakhir, tidak ada hal lain yang perlu dipermasalahkan dari novel Matahari karya Tere Liye. Membaca dan menerapkan kebaikannya merupakan sebuah penerapan bagi pembaca yang baik. Sekian, selamat membaca.[]

Jakarta, 26 Oktober 2016
Labels: 2016, Resensi Novel

Terima Kasih telah membaca Resensi Novel Matahari Karya Tere Liye. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Resensi Novel Matahari Karya Tere Liye"

Back To Top