Egoisme dan Altruisme

Cukup membingungkan setelah tadi saya mendapat pelajaran tentang kehidupan sosial, etika dan kejanggalan yang terjadi di negeri ini. Tapi saya tidak mau membahas ketiga hal tersebut, saya hanya akan membahas tentang egoisme. Apa itu egoisme? Sebagian besar orang akan menjawab sifat keaku-akuan, ingin menang sendiri, tidak mempedulikan orang lain. Salah. Itu namanya egoistis. Egoisme itu perbuatan yang berdasarkan diri sendiri terhadap orang lain demi keuntungan diri sendiri. Intinya, egoisme melakukan hal seperti itu adalah dari hati dan bersifat baik bagi orang lain, padahal demi kepentingan sendiri. Itulah egoisme. Pada akarnya, hal ini bermuara pada tujuan kesenangan dan ketengan diri sendiri. Tak beda halnya dengan pembahasan altruisme yang menyinggung tentang lebih mengutamakan kepentingan orang lain yang dikatakan adalah kebalikan egoisme. Memang kebalikan, tapi pada akhirnya juga sama, untuk kepentingan diri sendiri. Bedanya memang egois tindakan untuk kepentingan diri sendiri, sedang altruisme tindakan demi kepentingan orang lain. Yang kesamaannya juga sama, untuk ketenangan. Karena tidak mungkin orang menolong begitu saja tanpa ada alasan tertentu. Lah, bagaimana orang yang menolong karena merasa iba? Semisal mendapati pengemis, tak tega, lalu memberi uang, pakaian atau sesuatu yang layak bagi pengemis itu. Itu juga sama, pada akhirnya, juga pada ketenangan. Sebab, orang itu saat ditanya mengapa memberi pada pengemis tadi, dia menjawab karena tidak enak saja. Nah, dari itu sudah jelas, dia memberi tidak semata-mata karena membantu, melainkan membantu dirinya sendiri untuk mengentaskan ketidaktegaannya.

Banyak sekali tindakan di sekitar kita yang seakan-akan adalah tindakan baik, membantu ini itu, dan sebagainya, pada akhirnya juga adalah kembali pada kepentingan orang yang melakukan. Katakanlah itu adalah drama. Memang tampak rapi dari luar. Kita melihat orang memberi uang pada pengamen bukan karena orang itu senang berbagi, tapi hanya untuk ketenangan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, kalau penyanyinya bersuara cempreng, gitarnya hanya bersenar lima, sumbang, genjang-genjreng tidak jelas, mengganggu saja. Jadi memberi uang. Bukan semata-mata karena baik.

Immanuel Kant dikenal sebagai tokoh pemikir yang tega, yang mengatakan kekuasaan adalah raksasa, yang bisa menikam kapan pun. Suatu ketika dia memberi uang pada pengemis. Seseorang yang selama hidupnya tahu bahwa Kant adalah orang yang tidak peduli terhadap sekitar menjadi tercengang. Bagaimana seorang yang begitu tega terhadap sekitar kok bisa membantu pengemis? Heh, rupanya Kant juga memiliki hati. Lalu pergilah orang itu ke hadapan Kant, bertanya, anda memberi uang pada pengemis tadi? Kant menjawab, iya, kenapa? Orang itu berkata, ternyata anda masih memiliki hati juga, ya, walau terkenal tidak peduli sekitar. Kant malah menjawab, tentu karena saya tidak peduli terhadap sekitar kuberi orang itu uang agar cepat pergi. Kant hanya ingin menyampaikan bahwa dia terganggu oleh pengemis itu, maka dia memberinya uang agar cepat pergi, agar pengemis itu cepat membersihkan dirinya yang bau. Hanya itu. Jadi, jangan karena tampilan luarnya baik lantas kita menganggap itu baik. Nonsens.

Sekarang ini pun, kehidupan berpolitik seperti itu. Parlemen mengatakan, pilih saya, kalua saya terpilih maka semua akan sejahtera, saya akan mengabdi dan memberikan pelayanan penuh terhadap masyarakat. Tidak, itu hanya omong-kosong. Tidak ada istilahnya peduli pada orang lain dalam politik, yang ada hanyalah kepedulian terhadap diri sendiri, egoisme tadi. Memang seperti itulah sifat manusia. Hanya sedikit oranglah yang benar-benar berbuat tapi tidak mementingkan dirinya sendiri, hanya orang-orang tertentu. Jadi jangan terlalu percaya terhadap janji-janji. Saya tidak berpihak pada apa pun, tapi hanya sekadar menyadarkan. Bahwa tidak ada kebaikan dalam politik.

Egoisme dan altruisme tak jauh beda, walau konteksnya adalah berlawanan, bahwa egoisme tindakan untuk keuntungan diri sendiri dengan kepura-puraan menolong orang lain, dan altruisme lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, walau seperti yang dijelaskan tadi, altruisme pada dasarnya sama dengan egoisme. Jangan bingung, karena memang begitulah manusia, selalu mencari keuntungan atas dirinya sendiri. Manusia kalau ditanyakan apa yang penting dalam hidupnya, apa yang dia tuju? Maka sebagian besar mengatakan, mencari kebahagiaan dan ketenangan. Maka, tidak heran orang melakukan apa pun demi ketenangan dan kenyamanannya.

Jangan harap orang yang kaya dan tenar itu nyaman dan tenang hidupnya, tidak. Sebagian besar gelisah, merasa terkurung, tidak bebas dia. Karena itulah yang terjadi pada artis-artis dan aktor-aktor populer kita. Saat tidak menjadi kaya dan hidup biasa-biasa saja keadaannya tenang, makan di mana saja santai, serba bebaslah pokoknya. Seperti orang yang memiliki mobil, beda keadaannya dengan saat dia tidak punya mobil. Saya berbicara bagi orang yang baru memiliki mobil, bukan mereka yang sudah lama kaya raya. Tentu orang yang kaya raya pun tidak tenang hidupnya, serba kelas sih. Makan di tempat yang berkelas, main, belanja, makanan, dan sebagainya, sampai-sampai cara tidurnya saja beda. Penuh pikiran akan ketidaktenangan.

Tidak sedikit dari orang kaya dan populer berkali-kali mencoba mengakhiri kehidupannya. Mereka tidak tahan dengan keadaan yang serba batasan. Artis terkenal di dunia pun, tidak jarang ditemukan ingin bunuh diri berkali-kali. Tekanan. Jadi, antara kebahagiaan dan ketenangan tidak didasarkan pada kekayaan dan kepopuleran diri. Semua tergantung hati dan sejauh mana kita menyukai kehidupan yang kita jalani. Karena saya bukan Gusmus atau Gus Nuril yang pandai berceramah, apa lagi saya tidak berniat berceramah sebernya, hanya sekadar iseng menuangkan gagasan dalam tulisan. Sekian.
Labels: 2017

Terima Kasih telah membaca Egoisme dan Altruisme. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Egoisme dan Altruisme"

Back To Top