Filsafat dan Bahasa

Berbicara merupakan bahasa manusia untuk menyampaikan apa yang dimaksud dan tujuannya. Bahasa juga simbol yang disepakati dalam suatu kelompok tertentu, seperti kata pohon, di tempat lain bisa tidak dengan bahasa pohon untuk menamakan batang dengan daun itu, tapi konsep dan simbol untuk pohon itu ada bahwa pohon seperti itu.

Bahasa tentu merupakan suatu fungsi bagi manusia. Dengan bahasa manusia memperoleh pengetahuan. Bayangkan saja kalau semua orang tidak memiliki bahasa, tentu hidupnya akan seperti binatang. Berkenaan dengan fungsi bahasa, Jujun S. Suriasumantri berpendapat bahwa:

“Bahasa pada hakikatnya mempunyai dua fungsi utama yakni, pertama, sebagai sarana komunikasi antar manusia dan, kedua, sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut. Fungsi yang pertama dapat kita sebutkan sebagai fungsi komunikatif dan fungsi yang kedua sebagai fungsi kohesif atau integratif. Pengembangan suatu bahasa haruslah memperhatikan kedua fungsi ini agar terjadi keseimbangan yang saling menunjang dalam pertumbuhannya. Seperti juga manusia yang mempergunakannya bahasa harus terus tumbuh dan berkembang seiring dengan pergantian zaman.”[1]

Ada sebagian orang yang menyatakan bahwa seorang filsuf menggunakan bahasanya sendiri. Louis O. Kattsof menyatakan bahwa, “Sebenarnya dalam arti tentu, suatu sistem filsafat dapat dipandang sebagai suatu bahasa dan perenungan kefilsafatan, atau bahkan sebagai penyusunan bahasa tersebut. Bagaimanapun juga alat terpikik dari semua filsafat ialah bahasa.”[2]

Bahasa juga memiliki hakikat tersendiri. Louis O. Kattsof dalam buku Pengantar Filsafat juga menyatakan bahwa bahasa tersusun dari perangkat-perangkat gabungan dengan cara tertentu. Ada tanda satu demi satu seperti yang tertulis dalam abjad, bila huruf digabung tentu menimbulkan kata. Perkataan dalam filsafat telah memperoleh makna khusus, dalam hal ini tentu tidak harus puas dengan makna yang dikandung oleh suatu istilah. Bahkan harus selalu siap untuk tidak tahu maknanya.[3]

Dari situlah kemudian Jujun dalam buku Filsafat Ilmu mengatakan bahwa keunikan manusia itu terletak dari bagaimana dia berbahasa bukan dari caranya berpikir. Dengan demikian Jujun menyetujui perkataan Ernst Cassirer tentang penyebutan manusia sebagai makhluk pengguna simbol, yang secara generik memiliki cakupan lebih luas dari Homo Sapies yakni makhluk yang berpikir karena dalam berpikirnya itu menggunakan simbol. Karena tanpa kemampuan berbahasa kegiatan berpikir tidak akan sistematis dan teratur. Tanpa bahasa pula, manusia tidak bisa mengembangkan budayanya. Itu pun bisa dikatakan bahwa manusia tidak ada bedanya dengan anjing atau monyet.[4]

Dalam pembahasan lebih lanjut tentang bahasa, Jujun dalam bukunya menyatakan:
“Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak di mana obyek-obyek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai sesuatu objek tertentu meskipun objek tersebut secara faktual tidak berada di tempat di mana kegiatan berpikir itu dilakukan. Binatang mampu berkomunikasi dengan binatang lainnya namun hal ini terbatas selama objek yang dikomunikasikan itu berada secara faktual waktu proses komunikasi itu dilakukan. Tanpa kehadiran objek secara faktual maka komunikasi tidak bisa dilaksanakan.”[5]

Adanya simbol yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia memikirkan sesuatu lebih lanjut. Transformasi objek faktual menjadi simbol abstrak lewat kata-kata yang tersimpan. Pada dasarnya, saat manusia berkomunikasi, yang dikeluarkan adalah kata-kata dengan unsur emotif, demikian pula saat menyampaikan rasa apa yang dirasakan, ekspresi itu mengandung unsur informatif. Kadang dari bentuk itu dapat dipisahkan dengan jelas.[6]

Dalam pemisahan dengan jelas itu Bertand Russell dalam buku Human Knowledgenya memberi contoh unsur yang dapat dipisahkan dengan jelas yaitu seperti yang dikatakannya, “Musik dapat dianggap sebagai bentk dari bahasa, di mana emosi terbebas dari informasi, sedangkan buku telepon memberikan kita informasi sama sekali tanpa emosi”.[7]

Kalau dipikir-pikir, bahasa menyampaikan tiga hal, yaitu perasaan, pikiran dan sikap. Atau meminjam bahasa Kneller yang mengartikan bahasa dalam kehidupan ini memiliki fungsi simbolik, emotif dan efektif. Jadi saat menggunakan bahasa pasti mengandung unsur simbolik dan emotif. Sedang menururut Kemeny bahasa memiliki kecenderungan emosional.

Karena manusia hidup dalam lingkungan bersosial dan bermasyarakat, tentu juga tidak ada salahnya membahas lebih dalam masalah bahasa. Khaerul Azmi dalam bukunya mengatakan, “Bahasa tak sekadar urutan bunyi yang dapat diterima secara empiris, tetapi juga kaya dengan makna yang sifatnya non-empiris. Bahasa adalah sarana vital dalam berfilsafat, yaitu sebagai alat untuk mengejawantahkan pikiran tentang fakta dan realitas yang direpresentasi lewat simbol bunyi. Tanpa bahasa para filsuf tidak akan pernah berfilsafat. Sebaliknya, tanpa filsafat seseorang tetap mampu berfilsafat”.[8]

Kaerul Azmi juga mengambil pemikiran A. Chaedar Alwasilah dalam bukunya Filsafat bahasa dan Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), bahwa filsafat bahasa dapat dikelompokkan dalam dua kategori besar. Pertama, perhatian para filsuf terhadap bahasa dalam menjelaskan berbagai objek filsafat. Artinya, objek material filsafat adalah bahasa, dan objek formalnya adalah sudut pandang falsafi terhadap bahasa. Misalnya kebenaran dan keadilan, tidak mungkin dapat dijelaskan tanpa bantuan analisis bahasa. Kedua, adalah perhatian terhadap bahasa sebagai objek materi dari kajian filsafat seperti filsafat hukum, filsafat seni, dan lain sebagainya. Filsafat bahasa yang bisa juga dikenal sebagai filsafat bentuk-bentuk simbolis berkaitan dengan pertanyaan hakikat dan fungsi bahasa, hubungannya dengan realitas, jenis sistem simbol dan dasar-dasar evaluasi sistem bahasa. Dari filsafat inilah kemudian berkembang teori-teori linguistik.[9]

Para filsuf sebenarnya lebih tertarik membahas hubungan bahasa dengan dunia. Hubungan ini penting untuk mengembangkan teori makna. Filsafat bahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, tapi bukan bahasa pergaulan, dalam artian hanya membahas bahasa baku atau standar saja. Khaerul Azmi menegaskan, “Filsafat bahasa berkewajiban menjaga supaya bahasa biasa tidak mengalami penyelewengan sehingga mengganggu proses berpikir”.[10]

Bahasa adalah bentuk pengungkapan. Dalam pengungkapan bahasa memiliki tiga segi, tanda itu sendiri, sesuatu yang ditunjukkannya, dan subjek yang memakai perkataan itu. Mengemukakan suatu objek dengan tanda kadang tidak penting dalam berbicara kefilsafatan, seperti yang dikemukakan Louis bahwa:
“Masalah tanda apakah yang digunakan, seringkali tidak penting dalam pembicaraan filsafat, meskipun ada orang-orang yang percaya bahwa perkataan yang berupa tanda—dengan suatu cara tertentu—menjadi penting sejauh menyangkut maknanya. Ada orang yang percaya bahwa perkataan itu yang merupakan maknanya. Tetapi apakah saya mengatakan tisch ataukan meja, namun yang ingin saya katakan adalah barang yang sama.

Tanda tersebut sesungguhnya tidak mempunyai makna dalam (internal being) seperti apa yang dikatakan oleh Hawa di dalam cerita klasik ketika ia dan Adam memberi nama kepada binatang-binatang. Seekor binatang berkaki empat yang kelihatannya aneh melenggang di depannya. Setelah melihat sejenak, Hawa berkata, ‘Sebaiknya kita memberinya nama lembu.’ ‘Tetapi mengapa harus lembu?’, tanya Adam. ‘Oh’, kata Hawa, ‘karena kelihatannya seperti lembu.’”[11]

Sedang dalam menunjuk suatu tanda atau perkataan dinamakan diacunya atau makna objektifnya. Memang sulit menemukan apa yang diacukan oleh suatu perkataan. Seperti menentukan apa yang ditunjuk oleh perkataan Tuhan atau Demokrasi. Hal itu menentukan makna perkataan. Serta aspek ketiga perkataan ialah hubungan perkataan dengan pikiran seseorang yang dibagikan perkataan. Perlu diingat bahwa tanda yang sama menghasilkan pragmatik yang berbeda.[12]

Demikianlah bahasa, begitu unik dan menariknya dalam kehidupan manusia, tapi tidak ada yang sadar akan hal yang penting itu. Banyak sekali kegunaan bahasa yang perlu disyukuri, seperti yang telah di sebutkan secara mendetail oleh Khairul Azmi fungsi bahasa berikut:
“Jadi, dengan bahasa manusia bukan saja bisa berpikir secara teratur, namun juga dapat mengomunikasikan isi pikirannya kepada orang lain. Dengan bahasa, manusia juga mengekspresikan sikap dan perasaannya. Dengan bahasa, manusia menyusun sendi-sendi yang membuka rahasia alam semesta dalam berbagai teori seperti elektronik, termodinamik, relativitas, dan quantum. Singkatnya, dengan adanya bahasa maka manusia hidup dalam dunia pengalaman yang nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan bahasa.”[13]

Dari kelebihan-kelebihan bahasa Khaerul Azmi mengemukakan bahasa juga memiliki keterbatasan. Menurut Korzybski, bahasa seringkali tidak lengka dalam mewakili kenyataan; kata-kata hanya menangkap sebagian dari aspek kenyataan. Selain terbatas dalam mengungkapkan suatu objek, kata-kata juga bersifat ambigu dengan bias budaya. Dengan prinsip bahwa kata-kata tidak mengandung apa-apa kecuali manusia sendiri yang memaknainya, maka makna kata-kata mudah dimanipulasi. Serta sebagian teoritikus bahasa mengemukakan kebanyakan kata-kata memiliki makna majemuk.[14]

Mengemukakan tentang apakah manusia membutuhkan simbol, Khaerul Azmi mengemukakan, “Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Manusia memang satu-satunya mahluk yang menggunakan lambang, dan itulah yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya.”[15] Ernst Cassirer mengatakan bahwa keunggulan manusia atas mahluk lainnya adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum.

Bahasa memiliki suatu pesan, baik pesan verbal atau nonverbal, Khaerul mengemukakan, “Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata.”[16] Dan pesan verbal merupakan kebalikan dari apa yang diungkapkan Khaerul.
 
Sebenarnya lambang atau simbol manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu. Karena lambang memiliki suatu variasi dari satu budaya ke budaya lainnya. Jujun S. Suriasumantri mengemukakan bahwa masalah bahasa ini menjadi bahan pemikiran filsafat modern. Kegagalan dalam berbahasa adalah bentuk dari ketidakpahaman tentang logika.[17]

Berlanjut masih dalam apa yang dikemukakan Jujun S. Suriasumantri yang mengemukakan bahwa bahasa dengan bunyi atau serangkaian suara itu dinamakan kata, atau sebut saja verbal. Dan bagaimana dengan orang bisu? Mereka juga menggunakan bahasa, yaitu bahasa isyarat, bisa dengan alat bantu, hal ini dinamakan nonverbal—seperti yang dikemukakan tadi.[18]

Hal yang ingin diungkapkan Jujun hampr seperti berikut, bahwa bahasa juga sebagai cermin kebudayaan, seperti yang diungkapkan bahasa melayu bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Adat sopan santun juga merupakan cerminan dari bahasa.[19]

Ungkapan selanjutnya dari Jujun, manusia memiliki simbol berupa bahasa yang menjadikannya meningkat pada perkembangan yang lebih baik. Bahasa sangat penting dalam kehidupan, karena itu menjadi hal pokok. Yang demikian hampir sama dengan kegunaan manusia dalam mengemukakan pendapat pada orang lain atau sesuatu di sekitarnya. Manusia beragam karena bahasanya yang beragam.[20]

Daftar Pustaka
Azmi, Khaerul. Filsafat Ilmu Komunikasi. Tangerang: Indigo Media, 2015.
Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004.
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2015.
[1] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2015), h. 300.
[2] Louis O. Kattsof, Pengantar Filsafat, (Yogya: Tiara Wacana, 2004), h. 39.
[3] Ibid., h. 41.
[4] Jujun S. Suriasumantri, Op. Cit., h. 171.
[5] Ibid., h. 173.
[6] Ibid.
[7] Bertand Russell, Human Knowledge: Ist Scope and Limits, (New York: Simon and Shuster, 1948), h. 59.
[8] Khaerul Azmi, Filsafat Ilmu Komunikasi, (Tangerang: Indigo Media, 2015), h. 213.
[9] Ibid.
[10] Ibid., h. 214.
[11] Louis O. Kattsof, Op. Cit., h. 42.
[12] Ibid.
[13] Khaerul Azmi, Op. Cit., h. 215.
[14] Ibid.
[15] Ibid., h. 215.
[16] Ibid., h. 217.
[17] Jujun S. Suriasumantri, Op. Cit., h. 187.
[18] Ibid., h. 175.
[19] Ibid.
[20] Ibid.
Labels: 2017

Terima Kasih telah membaca Filsafat dan Bahasa . Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Filsafat dan Bahasa "

Back To Top