Koruptor yang Biasa, Sudah Budaya

Kehidupan yang tak lepas dari budaya dan sosial seringkali menjadi kesalahan dalam berpandangan. Kalau diumpamakan, keduanya itu adalah kacamata, tergantung pada warnanya masing-masing. Kalau kacamatanya warna merah, tentu semua terlihat merah, kalau kacamatanya berwarna biru, semua juga jadi biru, dan seterusnya. Tidak ada sifat yang bisa dijadikan patokan atau nilai dasar dari tindakan. Kegemaran belajar dan berpikir manusia yang hidup di Indonesia masih terkekang, kebanyakan hanya mengikuti langkah itu-itu saja. Selalu jejak sama yang dilewati. Maka tidak heran kalau kebanyakan dari generasi kita memperoleh juara pertama di bidang matematika, fisika, dan perobotan, itu karena kegemaran yang ditularkan hanya sekadar menghafal, berpatok pada hal yang itu-itu saja, tidak ada inovasi yang dikembangkan. Seumpama siput, kita adalah yang bagian aseksualnya, siput yang melahirkan anaknya sama persis dengan induk karena tidak melakukan perkawinan lawan jenis. Sifat itu tidak ada bedanya dengan si induk. Beda halnya dengan orang amerika, filipina, tailand, jepang, cina dan sebagainya, mereka seperti siput yang melahirkan melalui seksual. Jadi ada hal rumit yang dilakukan, tidak hanya ilmu turunan, melainkan gabungan dan penelaahan untuk melahirkan jenis baru. Sejauh ini, tidak ada ilmuan atau sejarawan dari Indonesia, hal yang ada hanya itu-itu saja. Tak ada pengkajian dan pembebasan diri dari buku atau pelajaran yang diharuskan. Kalau satu tambah dua ya tiga. Dianggap salah kalau menjawab selain itu. Bahkan, saat UAS sekalipun, generasi saat ini hanya diberi arahan, kalau ada soal seperti ini jawabannya seperti ini. Jadi, apa bedanya dengan sistem robot?

Kebebasan berpikir dan nalar masih jauh dari maju. Kalau ditelaah, semua ini terlahir dari kekuasaan yang membudak dan membiarkan kebodohan dipelihara, bukan diberantas. Pernah saya menulis cerita, bahwa kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan harus dibumihanguskan. Penguasa yang baik demikian. Tapi karena pengertian tentang penguasa, pemimpin dan pimpinan hanya sebagian orang yang tahu, itu pun lebih banyak tidak tahunya dari pada tahunya, maka dianggap biasalah bahwa pemimpin itu berkuasa, yang berkuasa itu menindas dan memperbudak serta dianggap memiliki wewenang penuh. Antara pemimpin dan pimpinan saja akan sangat panjang kalau dijelaskan.

Proses hidup yang baik adalah dari cara berpikir yang baik. Cara berpikir itu pula melahirkan budaya dan kehidupan sosial yang mapan. Meskipun cara berpikirnya berkenaan dengan permalingan, selama itu terkonsep dan terstruktur, itu tampak hal yang bernilai dan baik. Memang demikian yang sering terjadi di masyarakat. Mafia sekalipun, mereka juga menggunakan sistem dan permainan yang halus. Orang yang paham dengan permainan kelas etika, semua bisa direkayasa seakan yang ada adalah baik, padahal tidak selamanya. Pengusaha dalam pemerintahan, para kolektor dan sejenisnya, bermain halus mereka. Memang, tidak ada kata baik dalam berpolitik, semua politik busuk. Saya tegaskan semua yang ada dalam politik busuk. Mereka tidak segan-segan membunuh orang yang dianggap mengancam. Paling tidak, kalau tidak membunuh raganya, mereka membunuh jiwanya. Saya pikir, ini anggapan saya, militer dan penegak hukum lainnya tidak hanya mendapat gaji dari pemerintah, tapi juga dari para mafia. Pemain yang baik, hal yang ilegal bisa menjadi legal, dan itu dianggap biasa. Kalau sudah begini, kembali lagi pada budaya. Sesuatu yang sering dilakukan, itu menjadi biasa dan membudaya.

Tidak mudah mengubah pola pikir yang sesat. Di negara ini, kesalahan yang dilakukan bersama-sama dianggap tidak masalah. Seperti halnya melanggar peraturan lalu lintas bersama-sama, tidak ada polisi jalanan yang mau menegur, apalagi menangkap. Beda halnya dengan satu orang yang melanggar lalu lintas, dengan keras, bahkan tak segan-segan mengacungkan senjata untuk menangkap pelaku pelanggaran. Sedang mereka para orang yang diberi amanah dalam pemerintahan, karena sudah mengerapkan sistem berjemaah itu, bermaling secara masal. Koruptor berjemaah mereka, dan itu dianggap biasa.

Pernah seorang dalam kantor melakukan suap-menyuap. Ada seseorang yang melihat dan bertanya, “apa tuh, Pak?” orang itu menjawab, “biasa”. Oh biasa, demikian yang masuk dalam pikiran si penanya, maka keesokan harinya mendapati hal itu, dianggap biasa. Biasa yang kemudian menjadi budaya. Jalan satu-satunya untuk memberantas budaya seperti itu hanya dengan satu cara, membunuh. Mereka yang bermaling miliaran dan jutaan rupiah dibunuh. Dengan demikian akan timbul pemikiran lain dari orang yang mendapatinya, biasa. Orang yang koruptor biasa dibunuh, maka takutlah para koruptor, tobat mereka.

Permainan sosial di negeri ini amatlah lucu. Mereka yang pandai membaca kehidupan sosial akan diam dan sok biasa-biasa saja, sok tidak paham. Di lain sisi mereka tertawa. Memang demikian yang saya dapati. Habitus dan etos seseorang dengan mudah terbaca selama kita tidak hanya menganggap kehidupan ini hanya material saja. Kehidupan yang ditujukan pada hal yang materi akan berakhir pada materi itu sendiri. Seperti yang dikatakan Saidina Ali ra. “Mereka yang mencari kehidupan dunia adalah sama dengan apa yang keluar dibalik duburnya.”

Hidup itu pilihan, maka pilihlah sesuatu yang dianggap penting untuk dipilih. Ibarat di pasar, kita tidak perlu membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan, cukup beli yang dibutuhkan saja. Orang yang serakah adalah demikian, sudah tidak butuh tapi masih disimpan dan dipertahankan. Sama halnya dengan menahan berak yang ingin keluar dari dalam perut, pada akhirnya akan jatuh pada rasa sakit. Di dunia ini penuh dengan sistem, dan hukum alam. Orang yang jatuh dari atas menara, jelasnya orang itu akan mati, orang yang membelah dadanya dan mengambil hatinya, juga jelas mati. Kalau kita melakukan sesuatu yang berkaitan dengan hukum timbal balik itu, maka sama saja kita membuat jalan mulus sendiri. Memberi peta pada kehidupan yang rumitnya sendiri.

Sekarang pun, keadaan yang sebenarnya mulai tampak. Kalau saat pertama kali ilmu itu ada dianggap sebagai budaya yang mulai membaik, dari itu terciptalah teknologi dengan tujuan menyesuaikan diri terhadap kebutuhan manusia. Tapi sekarang itu tidak lagi, malah manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi. Bisa-bisa, manusia nanti seperti robot. Mungkin saat itulah filsafat manusia dibutuhkan, atau malah filsafat robot yang dikedepankan. Manusia memang material dan bagian dari material, tapi ada substansi yang abstrak di sana.

Kecanduan kekuasaan, semua orang ingin diakui dan diperhatikan.[]
Labels: 2017

Terima Kasih telah membaca Koruptor yang Biasa, Sudah Budaya. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Koruptor yang Biasa, Sudah Budaya"

Back To Top