Kotak dalam Kotak--Subjektivisme

Seperti apa saya memandang dunia? Saya tidak begitu yakin dengan apa yang akan saya tulis. Tapi, ada hal mendasar yang ingin saya kemukakan. Kira-kira seperti membahas tentang hal yang ada di halaman rumah, atau dalam kamar. Dunia itu tidak luas. Dunia itu tidak besar. Yang ada di hadapan itu adalah dunia. Kadang orang beranggapan, dunia adalah sesuatu yang mencakup keseluruhan, padahal tidak. Karena terlalu berpikiran jauh, tanpa memperhatikan sekitar, lupalah tentang konsep sesungguhnya. Setiap benda atau hal yang memiliki volum, tersusun dari partikel-partikel kecil. Sekarang yang ada di pupil kebanyakan orang adalah rongga besar tanpa partikel-pertikel itu. Bayangkan saja, ada orang yang berkoar-koar mengatakan ini salah dan itu benar, padahal tidak tahu posisi dirinya di mana. Bagaimana diri akan tahu di luar diri, sedang pada diri sendiri saja tidak tahu?

Kenali diri sendiri, sebelum mengelu-elukan orang lain, apalagi mengenal orang lain. Pandanglah keseluruhan yang ada di sekitar, sebelum memandang jauh yang sebenarnya tak cukup untuk dijangkau. Sebagian orang yang melihat tindak kriminal di tembak mati dianggap itu adalah kebenaran, karena ada di layar, katanya. Padahal, fakta yang ada di tempat dan yang ada di layar itu jauh bedanya. Mungkin saja kameranya ngeblur, atau salah sisi. Atau, ada seorang yang amat agresif menyapa lelaki, padahal nyatanya seorang laki-laki berambut panjang, tapi karena dijepret dari belakang, tampaklah itu seperti wanita. Lalu ditebarkan berita, seorang wanita amat brutalnya menggoda lelaki, dan sebagainya.

Tidak usah berpikir jauh, hal yang dekat dengan kita saja kadang sulit mengartikannya apa. Semisal ada yang bertanya, apa itu pintu? Sebagian besar menjawab salah, bahkan hanya sekian persen yang tahu bahwa pintu adalah tempat keluar masuk. Setidaknya, kalau sedang mengemukakan sesuatu itu sama antara apa yang dipikirkan dengan apa yang disampaikan. Konteks dan implementasinya jelas, agar tidak salah minda. Sebab, di abad ke dua puluh satu ini kesalahan minda amat menjamur. Tidak sedikit orang yang saling tikam karena hal yang demikian. Salah sangka yang tampak benar.

Sebagian besar sesuatu masih bersifat bias adanya, sungguh. Saya tegaskan, sesuatu apa pun itu bias. Benar tidak mutlak benar. Salah tidak mutlak salah. Kebenaran dan kesalahan itu relatif, tergantung dari mana kita memandangnya. Seperti orang yang mendeskripsikan gitar itu senar yang berbunyi, ada pula yang mengatakan gitar itu kayu yang keras tapi merdu, gitar itu alat musik. Semua argumen itu benar, tapi konteks yang paling benar yang mana, itu subjektif.

Kita tahu badak itu apa, tapi konsep orang lain tidak. Badak adalah hewan bercula yang keras kulitnya, sebagian mengatakan badak adalah binatang pemakan rumput, badak adalah hewan tangguh setelah gajah, badak kakinya kuat dan sebagainya. Berbeda-beda, terserah apa yang dipahami. Tapi konsep badak tetap, badak ya itu, tetap sebagai badak. Tidak karena kita mengatakan badak itu seperti katak lantas badak jadi katak, tidak.

Hal yang tampak indah belum tentu indah bagi orang yang beda mata dan kepala. Sebuah lukisan bisa bias keindahannya kalau berdasarkan pada penilaian tiap kepala. Sebab, yang satu bilang lukisan itu indah, yang lainnya belum tentu. Objek sama, tapi penilaian berbeda.

Tentang dunia juga demikian. Dunia amat sempit bagi orang yang mendapati kesempitannya saja. Sebaliknya, dunia amat luas, bagi orang yang merasa dirinya tersesat. Mau berbicara dunia luas atau sempit, wong kadang mendapati barang berharga hilang dalam kamar saja terasa kamar itu begitu luasnya. Sejauh mana kita mengartikan bahasa, sejauh itu pula kita sampai pada pengetahuan yang mendekati kebenaran. Pintar dan bodoh itu beda tipis. Bodoh adalah kepintaran yang tertunda, sedang pintar adalah lari dari kebodohan.

Ada seseorang—saat saya mengemukakan rasa tidak semangat dalam menjalani keseharian—mengatakan saya lari dari kenyataan. Saya bilang, kalau saya lari dari kenyataan, tentu saat tidur saya tidak akan bangun-bangun, tidur saja agar tidak bertemu kenyataan. Dengan demikian, kan yang ada hanyalah ilusi dan mimpi.

Dunia ini bagai kotak saja, bagi saya. Kita yang membuat rumah seperti halnya membuat kotak dalam rumah. Ada orang yang kritik keras mengatakan, jangan membuat negara dalam negara, atau, jangan buat masjid dalam masjid. Padahal, secara nyata ucapan itu beda dengan kenyataan. Nyatanya kita membuat kotak dalam kotak. Berbicara kebebasan, dunia tidak pernah bebas, kita terjebak di pulau sendiri, atau parahnya kita terjebak di planet sendiri. Lahir di bumi, berak di bumi, mati pun di bumi. Tak enek apa? Tapi demikianlah hidup, seperti lapisan kue bolu.

Konsep dunia, dunia ini seperti halaman. Tidak usahlah memandang tingginya langit, melihat tanah yang dipijaki saja kadang sudah pusing. Mencari arti, apa itu bumi? Apakah bumi itu tanah? Apakah tanah itu adalah dunia? Atau, dunia itu adalah ruang yang penuh air dan kehidupan? Dunia itu kotak? Tidak ada orang pintar yang tahu apa itu dunia, karena terlalu banyak rekayasa dalam hidupnya. Hanya orang-orang bodoh dan tolol yang tahu apa itu dunia. Oh, tambah lagi satu, hanya orang-orang gilalah yang tahu apa itu dunia. Pikiran polos, itulah dunia. Jangan sekali-kali mengintip dunia dengan pikiran yang pernah terkontaminasi gelapnya pengertian.

Kita tidak hidup di dunia lain. Bukan dunia maya atau dunia virtual, tapi dunia nyata. Orang yang lari dari kenyataan, dia tidak pernah kembali sebagai seorang yang berjalan dengan jasad. Orang yang mengartikan dunia itu luas, betapa sempitnya otak di kepala orang itu.[]
Labels: 2017

Terima Kasih telah membaca Kotak dalam Kotak--Subjektivisme. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Kotak dalam Kotak--Subjektivisme"

Back To Top