Membuka Sejarah

Saya harap, akan ada waktu di mana sejarah kebenaran terungkap. Tentang para tokoh masa lalu dan semua hal yang berkaitan dengan negara ini, saya harap bisa jelas sejelas-jelasnya. Adanya penguasa dan pembuyaran fakta sosial, atau bahkan rekayasa yang masih menjadi kesepakatan secara tidak langsung. Saya sendiri, sebagai manusia yang lahir di tanah kesuburan yang makan saja tidak perlu mencari jauh-jauh, cukup di belakang rumah, saya merasa lebih baik kembali menjadi kecil daripada dewasa seperti sekarang ini. Saya malu mendapati tempat kelahiran yang penuh kebrutalan dan kebohongan. Akan sangat menyakitkan sekali, kalau kebohongan itu dihiasi kata-kata manis dan bukti yang tampak di layar saja. Saya tidak pernah tahu sosok sebenarnya pahlawan di negeri ini. Yang saya temukan hanya ayah dan ibu, saudara dan kerabat. Tak lebih.

Kalaulah ada kesempatan, saya ingin membuka sejarah. Terserah sejarah apa saja. Dan yang paling saya inginkan adalah sejarah kebenaran. Apakah Indonesia ini memang sudah bernama indonesia pada mulanya? Siapa yang menamakan Indonesia? Atau, siapa yang memberi lambang garuda sebagai wadah Pancasila? Jawaban yang sedikit sekiranya bisa membantu.

Tentang mengapa kebanyakan di negeri ini berkaitan dengan nama ibu, seperti ibu pertiwi, ibu kota, ibu pati, dan sebagainya. Apakah mungkin sejarah itu dibuat ibu-ibu? Atau sejarah itu sebenarnya adalah ibu, dan Indonesia adalah ibu? Kalau memang tidak demikian, mengapa negeri ini amat tega terhadap apa yang dikandung di dalamnya? Apa mungkin negeri ini adalah negeri tanpa ayah? Karena sejauh yang saya dapati, semua orang tidak tahu negeri dan jati dirinya ini apa. Berangkat dari ketidakpahaman itu kemudian ada perbedaan dan pengelompokan. Seperti sifat keibuan.
 
Kalau boleh, bolehlah saya berkoar tentang pertanyaan sejarah itu apa? Apakah negara hanya terdiri dari penguasa saja? Benarkah yang disebut presiden itu berwenang dalam segalanya? Memang negeri ini milik siapa? Milik orang yang duduk di bangku kekuasaan? Rumah dan tanah saya di Madura, adalah tanah yang bersaksi perjuangan yang berdarah, lantas mengapa kakek buyut kami yang memperjuangkan malah tanah itu masih dituntut pajak? Apa peran negeri? Ini perlu dipertanyakan. Saya tidak setuju kalau pejuang yang ada dalam kesejarahan negeri hanya orang yang dekat dengan kekuasaan, sedang kami yang di pedalaman dan jauh dari tampuk kekuasaan dijadikan budak yang padahal merdeka. Sejarah perlu diubah.

Baiklah, terlalu banyak pertanyaan dalam tulisan ini. Sebab saya merasa, saya seperti mengontrak di rumah sendiri. Saya berada di rumah, tapi kenyataannya saya harus bayar. Apakah konsep kepemilikan harus membayar atas apa yang telah dimiliki? Saya akan terus menuntut bahwa tidak seharusnya saya, atau anda sekalian yang senasib dengan saya, tidak membayar pada apa yang telah menjadi hak milik. Jujur, kekek buyut saya sudah menguasai sebagian daerah di desa sebelum negeri ini merdeka, lantas mengapa saat merdeka malah diperbudak? Parahnya, sampai saat ini masyarakat diperbudak oleh sesamanya sendiri. Kasihan sekali kita, dikuasai oleh orang yang bau bawang, bahkan konsep dan arti sejarah itu saja tidak tahu apa.[]
Labels: 2017

Terima Kasih telah membaca Membuka Sejarah. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Membuka Sejarah"

Back To Top