Tentakel Kapitalis


Entah sejak kapan saya mulai takut menulis. Ada beberapa kata dari seorang pemikir yang coba saya ulang, tapi saya lupa siapa namanya. Saya tak pernah pandai mengingat. Bahkan nama yang dari sudut pandang mana pun itu mudah, bagi saya sulit. Mengingat bagian dari menolak lupa, namun bagaimana jadinya kalau yang diingat adalah sesuatu yang tidak bisa diingat? Mengingat lupa,  apa bisa? Atau merasa bahagia dalam duka, bisa? Sama saja dengan merahasiakan sesuatu yang sudah banyak orang lain ketahui. Atau membunuh orang yang sudah mati. Semua sama saja dengan mempenjarakan yang benar,  dan memberi kebebasan pada yang salah. Dari terlalu banyak lupa itulah mungkin alasan mengapa saya takut untuk menulis.

Demikianlah rekayasa hidup. Saya melihat senyum tangis, nikmat luka, pahit gula dan sebagainya.

Yang menentukan benda berdiri itu dinamakan tiang siapa? Di antara kita hanya bisa berkata, sudah dari sananya. Itu adalah anu atau anu itu adalah itu. Demikian rekayasa kapital yang memperbudak dengan rela. Kesakitan yang dijadikan sesuatu yang setia.

Manusia sekarang sukanya yang sulit-sulit. Hal mudah  dipersulit,  yang  sulit apa lagi,  tambah sulitnya. Kehidupan sengaja dijalankan oleh pembuat naskah yang bernama kekuasaan dan pemilik modal. Sebagian besar diperobot. Semisal ada  orang yang uratnya dari kabel,  dan napasnya menggunakan tabung oksigen,  itu  tak menggherankan lagi. Hal yang dulu dianggap tidak mungkin sekarang begitu mungkin. Bisa jadi,  suatu ketika manusia dapat menemukan cara untuk hidup panjang. Setiap manusia pernah merasakan takut mati,  dari rasa takut itu kemudian ada keinginan untuk hidup tanpa kematian. Atau,  ada yang menginginkan tubuh tetap bugar meski ummur puluhan tahun. Andai diberi pilihan,  sebagian manusia ingin terus hidup dan memiliki kebebasan yang panjang. Keabadian yang diburu itu tidak akan pernah tertangkap,  tapi bisa dengan senjata. Demikianlah,  kekuasaan dan keinginan untuk abadi menjadi  amunisi terkuat dalam bertindak. 

Berbicara umur panjang, apa guna kalau hidup tanpa tujuan? Sebagian besar manusia tetap hidup karena keinginan memburu masih ada. Dan satu-satunya cara agar buruan itu tidak menimbulkan kekerasan dan penindasan adalah pemahaman tentang mati. Orang yang sadar bahwa dirinya tidak akan pernah bisa mencapai keabadian, dia tidak akan bertindak jauh menghalalkan segala cara saat mengejar buruaannya, tidak akan.[]

Labels: 2017

Terima Kasih telah membaca Tentakel Kapitalis. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Tentakel Kapitalis"

Back To Top