Etika Kehidupan Berbangsa

Berbicara etika, tentu lingkup pembahasannya luas, tidak bisa dengan mudah dipetak-petakkan. Etika dalam hidup berbangsa perlu diketahui, bahwa bangsa yang dibicarakan adalah bangsa Indonesia. Lalu, berbicara hidup, hidup adalah cara menjalani dan memandang segala hal dalam keseharian. Berbicara kehidupan erat kaitannya dengan habitus dan keadaan subjektif seseorang. Dari mana dan bagaimana situasi orang itu perlu ditinjau, tidak lantas kalau seseorang kehidupannya tampak tidak bahagia dianggap tidak bahagia. Murung wajah belum tentu murung pikiran.

Hidup di bangsa yang memiliki perundang-undangan dan pegangan yang kuat seperti indonesia ini seharusnya menjadi kebanggaan, bukan lantas kebanggaan itu dielu-elukan hingga akhirnya menciptakan keomongkosongan. Seperti yang terjadi di acara diskusi etika pada siang tanggal 30 Mei di MPR, di sana membicarakan tentang etika kehidupan berbangsa yang dibahas oleh tokoh hukum terkemuka di negeri ini. Para tokoh hukum dan seseorang yang bergelar profesor itu berbicara panjang lebar tentang kehidupan beretika di negeri ini. Sebagian menyinggung tentang pemetakan etika dalam segala bidang profesi. Saya menganggap tidak seharusnya etika dipetak-petakkan. Sedang di sana pembicara menjelaskan bahwa beretika itu berlaku dalam segala kedudukan. Seperti halnya para politikus, mereka harus tahu bagaimana itu etika politik. Atau seorang pengusaha, harus tahu apa itu etika ekonomi. Segala etika disandingkan dengan profesi. Etika seharusnya tetap sebagai etika, tanpa ada pengklasifikasian seperti itu. Hidup berbangsa, etika yang digunakan harus seluas pengertian tentang bangsa, tidak cukup dibicarakan dalam ruang lingkup tertentu. Mengapa saya ngotot membantah tentang pengklasifikasian etika? Karena berbicara etika adalah berbicara baik buruk, benar salah, layak tidaknya suatu tindakan atau tingkah laku. Baik dan buruk erat kaitannya dengan pandangan subjektif manusia, perorangan, katakanlah itu tidak bersifat universal. Baik dan buruk hanya berlaku di lingkungannya masing-masing. Yang menjadi permasalahan, kalau para politikus diberi bahasan tentang etika politik, mereka akan beranggapan bahwa dirinya sudah beretika, padahal korupsi dan penggelapan barang mereka lakukan, sebagian melakukan pelayanan terhadap masyarakat hanya sebagai rekayasa. Sogok-menyogok dianggap biasa di sebagian bangku penguasa, hal itu dianggap baik, bahkan orang yang tidak mau disogok dianggap aneh, atau orang yang tidak mau korupsi juga dianggap aneh, katakanlah dianggap buruk. Di sinilah kemudian mengapa etika politik sangat beda dengan etika berbangsa. Karena konsep baik buruk, layak tidak, benar salahnya sudah tercipta dari lingkungan sogok-menyogok, korupsi, yang dianggap itu baik dan layak, benar bagi mereka. Itulah yang mereka anggap beretika.

Etika berbangsa, di pembicaraan siang itu, menekankan pada penyandaran terhadap Pancasila. Segala tingkah laku, tindakan, pelaksanaan dan kebijakan harus dilandaskan pada etika yang berdasar Pancasila. Nah, itu baru lebih baik, pikir saya. Tapi tetap tidak boleh yang namanya etika itu dipetak-petakkan.

Etika yang berdasarkan Pancasila, di mana dalam bertindak harus sesuai dengan sila ketuhanan, keadilan dan beberapa sila yang ada dalam Pancasila itu. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana menerapkan etika berdasarkan pancasila itu di keadaan yang carut-marut penuh keamburadulan seperti sekarang ini? Ada beberapa hal yang ingin saya kemukakan, pertama kuatkan kekerasan, dalam artian hukum diperketat, tidak ambigu sedikit pun. Kedua, buat tulilah para jaksa atau penegak hukum, agar mereka tidak bisa terkontamidasi dari bisik-bisik ketidakadilan, suap atau apalah yang mengganggu proses hukum berdasarkan hati nurani. Terakhir, jangan petak-petakkan antara kebaikan berpolitik, berekonomi dan kebaikan apa pun dengan kebaikan berbangsa. Penyatuan anggapan yang salah arti adalah jalan terbaik untuk membuka gerbang baru. Dari apa yang saya kemukakan tadi, mungkin akan ada pertanyaan baru yang timbul, bagaimana hal itu bisa diterapkan di negeri yang luas ini? Iya kalau hanya di pedesaan atau dalam lingkup lurah. Ada satu cara yang saya anggap jitu, yaitu ketakutan, buatlah ketakutan yang sangat pada masyarakat untuk mengubah pola pikir mereka tentang hukum atau menganggap remeh kesatuan. Karena manusia hanya bisa menurut saat dalam keadaan ketakutan.

Kehidupan berbangsa bisa dilakukan siapa saja, tapi siapa yang benar-benar menjalankan nilainya dan siapa yang hanya sekadar hidup seperti seonggok daging saja, itu kemudian yang membedakan bahwa kehidupan berbangsa tidak mudah. Bagi saya, orang yang berada di pedesaan dan tidak tahu tentang apa dan bagaimana keadaan kekuasaan di negeri ini lebih beretika dan bermartabat. Jelas, mereka tidak usah mengubah etika berbangsa yang amburadul terkait kekuasaan karena mereka tidak tahu. Parahnya, sebagian besar orang yang tidak berkehidupan di desa dan tahu tentang keamburadulan etika di kekuasaan hanya diam saja, mereka diam seperti ada janji manis tentang kejayaan dari para pembuat kerusakan itu.

Memang penting mengubah etika yang paling luas cakupannya untuk menanggulangi pandangan masyarakat kecil. Maksud saya, mengubah etika para penguasa agar lebih baik adalah penting, agar pandangan anak kecil, pedagang, ibu-ibu dan pemuda tidak meniru kelakuan buruk penguasa yang buruk. Kalau penguasa berlaku buruk, atau baik bagi penguasa tapi buruk bagi masyarakat, masyarakat nanti juga akan berpikir dan tertanam dalam dirinya tentang pengertian baik itu adalah seperti penguasa yang korup, bermaling dan arogan. Anak kecil kadang lebih suka meniru penguasa yang memerintah-merintah dengan ancaman. Itu yang kemudian saya anggap bahaya.

Pembicaraan tentang etika berbangsa di MPR di akhir bulan Mei itu berlangsung baik dan menyenangkan. Walau saya sendiri tidak berani berbicara terus terang tentang ungkapan ini karena situasi diri yang gemetar karena menahan lapar, karena saat itu saya berpuasa, jadinya saya hanya menuliskan unek-unek itu dalam tulisan ini. Selebihnya, pembicaraan di sana cukup baik bagi saya dan cukup jelas pula untuk sedikit membuat para mereka yang sedang mengemban perintah dan menyimak, sadar bahwa perilaku berikutnya perlu polesan yang cukup hati-hati agar tidak ada sedikit pun daerah kasar yang terlewati. Hidup etika![]
Labels: 2017

Terima Kasih telah membaca Etika Kehidupan Berbangsa. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Etika Kehidupan Berbangsa"

Back To Top