Kebenaran Tentang Rokok

Ada selogan dari saya, "Rokok menjaga, Obat-obatan membinasa". Rokok yang katanya bahaya, sebenarnya hanya spekulasi dan argumen suatu mafia obat-obatan.

Sebagian besar lelaki di Indonesia tahu apa itu rokok. Rokok yang saya maksud adalah yang terbuat dari tembakau, bukan rokok listrik dan sebagainya yang bertebaran di pasaran seperti sekarang ini. Saya bukan mempromosikan keberadaan rokok agar banyak peminatnya, atau mendukung perokok agar merokok sebanyak-banyaknya. Saya hanya ingin menggemakan kembali apa yang telah disebarkan para mereka yang tahu kesejatian rokok, maksud saya kesejatian tembakau. Karena saya membahas rokok yang terbuat dari tembakau, saya akan lebih spesifik menyinggung tembakaunya saja. Tembakau, yang katanya mengandung nikotin dan tak baik bagi tubuh, katanya, sering membawa berbagai penyakit. Tapi apakah benar demikian? Benar bagi mereka yang menjual obat-obatan, takut obatnya tak laku. Juga benar bagi mereka yang sudah susah payah mempertahankan argumennya tentang keburukan tembakau.

Tembakau yang saya kenal dari semasa kecil, selalu dijadikan cemilan oleh nenek dan warga sekitar di Madura. Tembakau dijadikan makanan penutup setelah selesai makan, maksudnya bukan dimakan, tapi dihisap seperti menghisap batang tebu. Tembakau dijadikan teman di kala sendirian. Itulah yang saya ingat semasa ingatan saya belum begitu kuat. Nyatanya, sampai sekarang pun, nenek saya masih sehat dan kuat. Tidak sakit-sakitan karena daun yang menggemaskan itu. Bahkan, pernah suatu ketika terserang sakit karena pernah mencoba berhenti mengonsumsi. Jangan katakan itu akibat candu, tidak. Warga di sekitar rumah saya juga sama, menyatakan dirinya lebih mudah sakit kalau tidak memapah itu tembakau. Permasalahannya, sekarang ada seorang yang katanya bergelar dokter dan sebagainya dengan berbagai risetnya menyatakan pengonsumsi tembakau itu lebih mudah terserang sakit. Darimana benarnya, coba? Mereka yang menyatakan demikian tidak menawarkan bukti yang nyata dalam keseharian, hanya ada dalam ruang dengan dinding kaca dan kertas-kertas, sedang yang saya lihat tidak sama dengan apa yang mereka nyatakan. Bertahun-tahun, sampai saya sebesar ini, nenek saya tetap sehat dan bahkan lebih sehat dari nenek-nenek berikutnya yang tak mau menjadikan tembakau sebagai teman di bibirnya. Saya lebih percaya pada bukti yang tampak, dibanding data-data yang mudah sekali bohongnya.

Kalau ada yang membantah, menyatakan bahwa merokok dapat menunjang serangan jantung, impoten, gangguan dan kehamilan, serta sebagainya, itu adalah omong kosong belaka. Mereka yang pergi ke rumah sakit karena batuk-batuk dituduh batuk karena rokok. Nyatanya, orang itu tak pernah merokok. Karena beralasan demikian lalu dikatakan itu terlalu sering berada di dekat orang yang merokok, hingga timbullah istilah perokok pasif. Alasan, mereka terlalu sering mencari alasan untuk menyalahkan! Orang yang tidak mau berpikir lebih jauh ikut-ikutan saja, membenarkan pernyataan itu. Lalu oleh yang memeriksa dikasih obat, obat yang sebenarnya lebih mematikan agar candu. Seminggu kemudian orang yang batuk-batuk itu pasti akan ke rumah sakit lagi, meminta tambahan obat dan seterusnya dan seterusnya. Lalu kalau sudah sekarat dikatakan itu adalah penyakit paru-paru, asap rokoklah yang dituduh penjahatnya. Padahal asap rokok tampak romantis, seperti kabut pagi yang bisa diciptakan di bibir-bibir merekah.

Saya tidak menghakimi para mereka yang sudah susah payah sogok sana sini agar mendapat gelar seperti dukun penyembuh itu, tidak. Saya hanya ingin menyuarakan pendapat nenek tentang tembakau. Dan benar saja, sejauh yang saya amati, orang yang sering mengonsumsi tembakau, baik dihirup asapnya, atau dipepah di mulut, jauh lebih sehat hidupnya. Pernah saya dapati pula, seorang lelaki paruh baya yang setiap hari menghabiskan tiga bungkus rokok, saat discan tubuhnya bersih dari segala penyakit dan kotoran. Itu pun karena yang memeriksa tidak menanyakan lelaki itu merokok atau tidak, hanya langsung dilakukan pemeriksaan kesehatan saja. Andai sebelum melakukan hal itu menyatakan dirinya perokok handal, mungkin pemeriksa itu akan menyatakan hal lain.

Entah, tembakau atau obat-obatan yang mematikan, atau hanya spekulasi untuk menambah ketenaran dan kebergunaan para dukun palsu yang bergelar itu? Perokok boleh berbangga diri, tapi musuh para perokok adalah mereka yang berusaha membuat keburukan. Saya bukan pembela perokok, sebab saya belum bisa merokok. Maklum, belum punya penghasilan sendiri.[]
Labels: 2017, Kebenaran

Terima Kasih telah membaca Kebenaran Tentang Rokok. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Kebenaran Tentang Rokok"

Back To Top