Mazhab Artis dan Mesumnya Budaya Negeri

Manusia gila trend. Pakaian aneh yang secara fungsi tidak layak pun bisa mendunia. Celana panjang sebelah pun akan laku di pasaran selagi itu pernah dipakai artis. Artis memang kompeten membuat mazhab baru dalam berbudaya. Bagi saya, untuk menerapkan budaya yang baik seharusnya dimulai dari pakaian para artis dan tingkahnya yang baik. Itu sudah bagian dari menyumbang kebajikan. Tidak perlu hal besar seperti penyanyi berubah menjadi pendakwah. Atau pendakwah menyanyi agar disukai dakwahnya. Sekarang kebanyakan orang bertanya seru atau lucu tidaknya acara ceramah agama, bukan menanyakan apa isi ceramah itu. Anggaplah penceramah itu diposisikan sebagai artis yang berada di panggung, yang kemudian ceramah dianggap tontonan hingga tak ada bedanya acara tersebut dengan konser. Tontonan, kebanyakan orang suka tontonan, dari sanalah kadang tontonan bertransformasi menjadi kebiasaan yang diternak untuk kemudian dibudidaya.

Tidak ada hal penting untuk mengkritik pakaian, karena itu pembawaan sifat diri seseorang, apalagi yang dikritik adalah bintang film atau penyanyi papan atas, nanti yang disalahkan adalah yang mengkritik. Cara terbaik untuk menghindari itu adalah memasuki ranahnya, lalu mengubah dengan cara yang alami. Kalau sebagian orang yang sadar ingin mengubah pandangan publik tentang pakaian, tinggal menjadi artis atau orang terkenal dengan pakaian terbaik yang diinginkan, maka cepat atau lambat orang akan mengikutinya. Begitupun dengan sikap, kalau menginginkan sikap yang baik di kehidupan bermasyarakat, perbaiki tingkah laku diri saat menjadi orang terkenal.

Tapi entahlah itu akan berjalan baik atau malah sebaliknya. Orang di zaman ini begitu suka hal baru, jadi akan sangat sulit mempertahankan hal baru itu bertahan lama, karena pada akhirnya akan kuno di mata mereka. Atau, pertahankan reputasi diri di mata publik, buat perhatian beribu mata melirik, itu akan menambah kerentanan masalah ketertinggalan.

Ada sebab lain hingga seseorang mengikuti sesuatu yang diluar kebiasaan, terutama karena sifat bawaan manusia untuk tampil beda. Mereka yang kehidupannya dikelilingi hal yang menjenuhkan, itu-itu saja, dianggap tidak keren dan kurang menarik karena memerihkan mata, maka terjadilah perubahan warna, sekalipun dengan hal yang mencolok. Kejadian seperti itu bukanlah hal yang aneh lagi, kalau dilakukan berulang-ulang malah bisa jadi tradisi. Cukup miris memang, tapi mau dibagaimanakan lagi? Jalan keluar dari hal aneh itu ya itu, walau sebenarnya jalan keluar sama banyaknya dengan jalan masuk, tapi salah satu yang begitu pas menurut keadaan zaman adalah seperti yang saya sebutkan sebelumnya, mengubah pandangan publik melalui orang yang dikenal, baik itu artis, aktris, tokoh idola dan sebagainya.

Kalau dipikirkan secara mendasar dan tanpa tambahan kecurigaan, mengubah budaya melalui para bintang adalah jalan yang cukup mudah dan aman. Tapi apakah semudah itu untuk mempengaruhi masyarakat? Ya, mudah asal para bintang itu mau bekerja sama, tidak saling menghujam, menjatuhkan atau sebagainya. Langkah selanjutnya adalah hak paten dari pemerintahan. Pemerintah harus ikut andil, dalam artian diam sajalah pemerintah itu, jangan banyak bacot mengomentari ini itu dan sebagainya. Biarkan masyarakat berinteraksi dengan idolanya. Biarkan budaya itu mengalir dengan tenang seperti sudah ditakdirkan alam. Mungkin dengan cara yang demikian semua yang dianggap sulit akan terlihat mudah, seperti melihat matahari pagi di waktu sore melalui lensa kamera.

Atau, tawaran terakhir dari saya, buatlah tokoh antagonis yang positif. Jangan tanyakan seperti apakah tokoh antagonis yang positif itu? Jangan pula beralasan bahwa tokoh antagonis selalu negatif. Hal yang tampak negatif belum tentu seperti yang tampak. Sepasang pria dan wanita dalam kamar saling buka baju bukan berarti itu mesum. Memang, orang yang melihat sekilas akan berasumsi hal itu buruk dan berpikiran macam-macam. Tapi pada dasarnya sepasang orang itu saling buka baju karena kesulitan membukanya, jadi bergantian. Atau ada alasan lain. Begitupun dengan tokoh antagonis yang saya maksud. Cara untuk memunculkannya mudah, misal tokoh antagonis itu memakai sorban, berjenggot panjang, berpakaian jingkrang lalu meledakkan diri, atau berfoto dengan pisau berlumuran darah, walau pisau yang berdarah itu sebenarnya baru selesai memotong leher kambing, atau sebagainya yang tampak seram dan menakutkan, orang akan menjauhi pakaian tokoh antagonis itu. Buat hal seburuk mungkin terhadap apa yang ingin dihapuskan, maka dengan sendirinya, lambat atau cepat akan segera terhapus. Menghapus coretan pensil dengan karet saja lama, apalagi menghapus kebiasaan yang letak serta bentuknya tidak bisa diraba itu. Atau pula ada sosok artis yang pakaiannya ditiru khalayak publik, tapi tidak pantas, kemudian artis tersebut dibuat buruk situasi hidupnya, ditengarai pengedar narkoba, atau berbuat mesum yang kemudian diunggah ke media sosial, itu juga bisa. Terserah, asal bisa ditawar saja. Tentu bisa ditawar bagi mereka yang menggunakan analogi, segala sesuatu itu adalah uang, atau waktu adalah uang, atau pula waktu adalah emas dan sebagainya.

Pilihan paling terakhir adalah bersabar. Sabar bisa dikreasikan dengan berbagai cara, bisa dengan menggigit rumput, memutar kepala, meletakkan kaki di atas dan sebaliknya kaki di bawah. Gunakan hal yang bisa digunakan, itulah inti dari permainan budaya, moral, dan pilihan baik buruk di kepala manusia. Hanya saja, mana yang cepat masuk ke otak dan mudah dicerna, itu yang menang. Intinya, buatlah sesuatu agar tampak alami, sayangnya negara kita tidak melakukan hal itu. Negara kita terlalu ketahuan bohongnya dalam melakukan sesuatu, jangan tanyakan seperti apa contoh dan buktinya, sebab itu akan banyak sekali kalau disebutkan. Lagipula, kalau saya sebutkan, itu terkesan menjelek-jelekkan diri sendiri, karena saya masih berada di negara ini. Pada akhirnya segala tindakan dan alasan akan mendapat penghakiman, baik itu dari wartawan, para emak-emak, atau anak TK, termasuk dari bocah nakal seperti saya.[]
Labels: 2017, Kebudayaan

Terima Kasih telah membaca Mazhab Artis dan Mesumnya Budaya Negeri. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Mazhab Artis dan Mesumnya Budaya Negeri"

Back To Top