Bahasa yang Kita Butuhkan



Apa yang dikemukakan seorang ahli linguistik yang menyatakan bahasa menunjukkan budaya belumlah bisa dikatakan benar, itu menurut Levi-Strauss, yang menyatakan bahasa adalah hasil dari budaya. Budaya menunjukkan bahasa, juga belumlah benar, itu menurut Sapir-Whorf, yang menyatakan kebudayaan ada karena bahasa. Yang menjadi permasalahan dari argumen itu, mana yang benar? Keduanya bisa saja benar, bisa juga salah. Karena salah benar itu ralatif. Namun bukan berarti dari hal yang relatif itu tidak bisa diidentifikasi mana yang benar dengan kesejatiannya benar, dan salah yang jelas-jelas kurang tepat.

Bahasa tidak harus selalu dikaitkan dengan komunikasi. Kurang tepat kalau ada yang menyatakan bahasa itu hanya untuk berkomunikasi agar saling mengerti, untuk terhubung antara satu dengan yang lain. Tidak, sebab orang Inggris akan diam saja tak mengerti dengan apa yang dikatakan orang Arab. Orang Belanda akan diam saja tak mengerti oleh apa yang dikatakan orang Sunda. Dalam tanda kutip, beberapa negara yang disebutkan tadi asli menggunakan bahasanya masing-masing, tapa ada penerjemah atau pernah mempelajari bahasa yang satu dnegan bahasa yang lain. itulah mengapa perbedaan bahasa membuat lemah, hingga bahasa tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi. Jalan satu-satunya agar bisa dimengerti adalah gerak. Ditambah lagi bahwa ternyata bahasa juga mempengaruhi proses berpikir. Kalau bahasa yang digunakan sering amburadul, jelas proses berpikirnya juga demikian. Maka dari itu dalam bank data bahasa juga mempengaruhi proses penggunaan bahasa selanjutnya. Seperti kata ‘nanti’ untuk menunjukkan waktu, nanti ini tidak jelas kapan tepatnya. “Uang yang kupinjam nanti akan kukembalikan.” Kalimat itu tidak pasti akan mengembalikannya kapan, bisa jadi nanti dalam hari ini, nanti hari esok, atau nanti dalam waktu yang sangat panjang. Proses berpikir juga demikian, penggunaan bahasa yang tepat dan tidak ambigu harus digunakan secara tepat.
Memang dalam pelajaran-pelajaran filsafat, seperti yang ditulis Louis O. Kattsof, Jujun dan ahli filsafat lainnya bersepakat kalau bahasa ada jauh sebelum filsafat itu ada. Sedang ahli linguistik yang berargumen budaya terlebih dahulu ada baru bahasa itu cukup bisa dipahami dan dipikirkan dengan mudah. Sebab untuk berbahasa, tentu seseorang perlu kebudayaan. Sebutlah budaya berpikir, atau budaya menggunakan mulut untuk mempermudah kegiatan, atau budaya berbahasa itu sendiri. Namun selalu ada jalan tengah dalam hal apa pun. Untuk mengidentifikasi antara bahasa dan budaya adalah gerak. Orang yang lihai menggunakan bahasanya, gerak dari tubuhnya juga lihai. Coba perhatikan orang yang sedang mempresentasikan sesuatu, saat tidak lancar berbicara, gerak tubuhnya berubah-ubah, bahkan tak jarang ada yang menggerakkan tangannya lebih cepat dari apa yang dituturkannya.

Di masa yang serba mudah seperti sekarang ini, bahasa seperti mengalami pergeseran fungsi. Karena gerak tadi, manusia lebih suka menggantinya dengan simbol-simbol. Seperti kembali pada masa prasejarah. Namun dari pergeseran itu tidak mengurangi sedikit pun dampak budaya terhadap bahasa.

Para pengamat bahasa yang ingin menentukan mana yang lebih besar pengaruh antara bahasa dengan budaya masih kebingungan. Budaya yang baik tentu memiliki bahasa yang baik pula. Tapi itu seperti bercermin di dalam kamar. Tangan kanan memegang lipstik, tapi yang ada di cermin tangan kiri. Dalam keseharian kehidupan remaja bahkan yang dewasa mulai tampak sekali perbedaan bahasanya dibanding generasi sebelum mereka. Umpatan yang kurang pantas berselewengan seperti sampah yang kehilangan tempatnya. Hal yang berselewangan itu tidak hanya terjadi di lingkungan yang nyata, tapi juga dalam berbahasa di media sosial. Di sana menulis suatu ungkapan berarti menyampaikan kata yang tak dapat diucapkan, dan itu bahasa. Kalau sebelumnya bahasa si penutur melambangkan apa yang dipikirkan, dalam menulis belum tentu. Sebab sekarang kita hanya bisa berpandangan objektif terhadap suatu kejadian-kejadian. Bisa jadi apa yang ditulis adalah hasil dari jiplakan.

Meninjau dari yang telah lewat. Semua orang memiliki kecenderungan masing-masing. Dalam berkehidupan sosial, terutama di jalan raya, semua diumbar begitu transparan. Seseorang yang mengumpat dengan sumpah serapah, tentu dengan bahasa yang keras dan tak enak didengar telinga. Jarang sekali ada orang marah-marah tapi dengan bahasa lembut dan pelan.

Tutur kata dan gerak tubuh seseorang sangat erat kaitannya dengan bahasa yang digunakan. Itulah mengapa bahasa kadang dikenal menunjukkan bangsa. Kita bangsa egois, keras atau lembut, itu dari bahasa. Baik itu bahasa tulis, itu pula sebabnya negara Indonesia dikenal sebagai negara wkwk oleh negara tetangga, karena tulisan bagian dari bahasa.

Orang Jawa dengan bahasa tutur yang lembut memiliki perangai yang lembut pula. Kecuali orang jawa yang bahasanya dijangkit bahasa-bahasa kotor, maaf, seperti kata jancok, dan sebagainya. Tidak benar bukan kalau ada orang yang mengatakan kalimat itu tapi gerak tubuhnya halus, lemah gemulai, dan sangat patuh serta tunduk.

“Semakin sulit bahasa yang digunakan seseorang, maka semakin besar kemungkinan orang itu pandai.” Saya perlu menegaskan kata ini sebagai patokan berbahasa. Di suatu kesempatan, ada seseorang yang amat pandai mengolah bahasanya dengan baik. Tampak mudah orang itu mengucapkannya, tapi saat ingin meniru sulitnya sangat sulit. Dari kejadian itu saya tahu kalau seorang yang bisa menggunakan bahasanya dengan baik, orang itu akan setingkat dengan para filsuf. Karena hanya orang yang memiliki pemikiran luaslah yang bisa berbahasa tanpa ada ketimpangan dan ambigu saat berargumen atau mengatakan sesuatu.

Bayak sekali corak warna dan kehidupan manusia. Ada manusia yang lupa kalau dirinya punya mulut. Ada pula yang lupa kalau dirinya masih bisa berpikir. Atau ada pula yang lupa bahwa berbahasa tidak melulu melalui tangan dan mulut. Melupakan gerak sebagai bahasa universal itu yang sering terjadi di sekitar kita. Gerak yang dimaksud adalah mind dari bahasa yang tak sempat diucapkan. Seperti lambaian tangan yang diartikan jangan. Seperti anggukan kepala yang diartikan iya. Lalu bagaimana dengan orang yang menari seraya mengangguk-angguk, apakah itu juga ingin mengatakan iya? Itu bertanda sedang keasyikan.

Dari bahasa, gerak dan pemikiran bisa diprediksi. Tapi sekarang kita tak mempedulikan hal itu. Para calon pemimpin yang mencalonkan dirinya sendiri dengan mudah mengelabui masyarakat dengan kata-kata bias tapi meyakinkan. Seperti kata, “pilih saya, maka akan sejahtera”, masyarakat mengartikan masyarakat itulah yang akan disejahterakan. Padahal dari bahasa itu tidak demikian. Yang sejahtera bukan masyarakat, tapi yang mengucapkan.

Bahasa kadang mengelabui. Semakin pandai dan pintar si pengguna bahasa, semakin banyak pula fungsi bahasa itu. Bahasa bisa sebagai pedang yang bisa meruntuhkan penguasa, bahasa sebagai pelerai dari pertikaian, dan sebagainya. Namun dari semua itu seperti kembali pada pendeskripsian awal, kalau mengenai mana yang lebih awal antara bahasa dan budaya masih menjadi hal yang relatif. Keduanya memiliki tingkat keberagaman dan kegunaan. Sedang yang didapati sekarang ini, bahasa lebih sering digunakan dibanding budaya. Tidak hanya di rumah, di stasiun, di keramaian dan sebagainya tak lepas dari bahasa. Tidak melulu untuk berkomunikasi, tapi kadang pula untuk mengerti. Untuk mengerti marah, tinggal sumpah serapah.

Bahasa memungkinkan manusia bisa berpikir secara abstrak. Seseorang bisa menyebutkan nama benda-benda tanpa harus membawa benda yang disebutnya itu. Adanya simbol yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia memikirkan sesuatu lebih lanjut. Transformasi objek faktual menjadi simbol abstrak lewat kata-kata yang tersimpan. Pada dasarnya, saat manusia berkomunikasi, yang dikeluarkan adalah kata-kata dengan unsur emotif, demikian pula saat menyampaikan rasa apa yang dirasakan, ekspresi itu mengandung unsur informatif. Kadang dari bentuk itu dapat dipisahkan dengan jelas.

Dalam pemisahan dengan jelas itu Bertand Russell memberi contoh unsur yang dapat dipisahkan dengan jelas yaitu seperti yang dikatakannya, “Musik dapat dianggap sebagai bentuk dari bahasa, di mana emosi terbebas dari informasi, sedangkan buku telepon memberikan kita informasi sama sekali tanpa emosi”. Sama halnya dengan gerak manusia, itu terbebas dari unsur informasi, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sebab saat berkata-kata dan menulis kita masih bisa berbohong, tapi tidak saat bergerak.

Kata-kata dari bahasa sebebas angin. Tidak peduli ada orang yang mengatakan ada mobil bersayap, sapi beroda dan sebagainya, bahasa dari yang diucapkan tetap bisa dibayangkan sekali itu bohong dan tak ada dalam kenyataan. Kekuatan bahasa ada di sana, di ketersangkutan dengan apa yang bisa dibayangkan. Selama sesuatu bisa dibayangkan bentuknya, bisa diterima dalam bahasa. Terkecuali warna, seseorang tidak bisa menyebutkan jenis warna baru yang tidak pernah dilihat, sebab warna melekat pada benda.

Namun bahasa saat ini seperti terkurung dalam jeruji yang dari awal saya sebut sebagai gerak. Gerak peradaban dan budaya dari bahasa. Gerak bahasa lambat laun terus berubah menyesuaikan diri untuk mempermudah, padahal seperti yang dijelaskan di awal-awal, kalau tingkat pemikiran seseorang tergantung dari kerumitan bahasanya. Contohlah Arab, bahasa Kitab Suci Islam yang lebih rumit bahasanya dari bahasa negeri manapun. Dapat dipastikan tidak ada yang bisa menandingi bahasa kitab suci itu dalam jenis bahasanya.

Yang membedakan manusia dengan hewan juga dari bahasa. Bahasa hewan terbatas, sedang bahasa manusia tidak. Bahasa bisa bergerak setiap saat, menjadi budaya, dan mengubah peradaban. Di lain sisi, saya juga bisa berasumsi kalau bahasa juga bisa menghancurkan peradaban dan budaya. Bisa dikata kalau bahasa itu seperti pisau bermata dua. Bahasa yang menghancurkan budaya adalah hilangnya bahasa setempat, seperti masuknya bahasa-bahasa asing yang digunakan masyarakat tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Bahkan, untuk saat ini, badan bahasa pun kewalahan membahasaindonesiakan bahasa jenis baru yang bertebaran di masyarakat. Ditambah lagi dengan adanya media sosial, yang kalau ada bahasa jenis baru yang dianggap bagus diterapkan secara massal tanpa memperhitungkan bahwa bahasa yang digunakan bisa menggusur habis kebudayaan.

Mana yang lebih dahulu dari pertengkaran Levi-Strauss dan Sapir-Whorf, antara budaya apa bahasa yang mempengaruhi manusia adalah sesuatu yang salah sekaligus benar keduanya. Bahasa mempengaruhi budaya dan budaya mempengaruhi bahasa sama saja, sebab itu keterkaitan yang erat. Dalam keterkaitan yang erat itu ada gerak di tengah-tengahnya. Hingga perangai buruk atau baik seseorang bisa dilihat dari bahasanya. Hingga pula perangai buruk atau baik seseorang tidak bisa dilihat karena hal yang dianggap buruk sudah menyeluruh dan dianggap baik, sedang perangai baik yang berlangsung sudah punah dan dianggap aneh serta buruk karena tidak ada yang melakukannya. Kesejatian gerak, itulah yang kita cari sekarang.[]
Labels: 2017

Terima Kasih telah membaca Bahasa yang Kita Butuhkan. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Bahasa yang Kita Butuhkan"

Back To Top