Kecerdasan Multi Manusia


Sumber gambar: terapiotak.com

Mengapa di sekolah-sekolah, yang diberi bintang kelas hanya pelajar yang mampu dalam matematika, fisika, bahasa inggris? Itu hanya cerdas di otak saja. Mengapa hanya bagi yang kecerdasannya diukur dengan nilai dalam laporan tahunan? Mengapa hanya bagi yang IPKnya tinggi? Apakah pelajar yang hanya bisa tari balet, main pantomim, main musik, berteater dan jago masak juga dapat posisi sebagai pelajar yang cerdas? Sungguh itu tidak saya dapati. Mereka-mereka yang memberi nilai lebih itu tidak sadar bahwa kecerdasan tidak hanya terpaku pada nilai dan yang berkenaan dengan pemikiran saja. Sungguh mereka abai pada seorang pengemis, musisi jalanan, pencuri dan penembak jitu serta pemain sirkus dianggap bukan orang yang cerdas.

Manusia adalah makhluk yang menarik. Dikatakan oleh para dokter ahli bedah, ahli anatomi dan ahli binatang, dan ahli apalah-apalah bahwa struktur tubuh manusialah yang paling rumit, karena manusia makhluk spesial yang tak ada duanya. Bahkan setiap individu dari manusia, dari saking tak ada duanya, orang yang lahir kembar pun tak memiliki kesamaan, baik sidik jari, pola hidup, serta cara berpikirnya. Saya setuju-setuju saja mengatakan manusia adalah makhluk tersempurna, karena saya juga manusia. Mungkin kalau saya binatang, saya akan mengatakan bahwa binatanglah yang paling istimewa, semoga saja tidak. Iya, di dunia ini bisa saja benar bahwa manusia adalah yang tersempurna, tapi siapa yang tahu di luar tata surya sana? Di luar bumi yang maha luas, masa tidak ada yang lebih sempurna dari manusia? Jangan sok membanggakan dirilah, wahai manusia. Dari saking berbangganya, kadang cerdas secara otak saja sudah jumawa, jumawanya minta ampun.

Kecerdasan itu tidak hanya berbatas pada sesuatu yang ada di batok kepala. Tidak! Mengutip dari buku Frames of Mind karya Howard Gardner, manusia itu memiliki delapan kecerdasan multifaset. Pertama kecerdasan linguistik, kedua kecerdasan logis matematis, terus kecerdasan visual, kemudian kecerdasan musikal, lanjut kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, serta kecerdasan intrapersonal dan terakhir kecerdasan naturalis. Untuk penjelasan semua itu bisa dicari sendiri. Namun sebagai penjelasan yang lebih mudah saya akan menjelaskannya di paragraf berikut.

Kecerdasan manusia bisa dilihat dari delapan sisi seperti yang dikemukakan Howard Garder, tapi pandangan kedelapan sisi tersebut beda dengan sesuatu yang saya lihat. Sebab kecerdasan manusia itu bisa dilihat dari lima indranya. Lebih spesifik, pada fungsi kelima indra tersebut. Ditambah tiga yang bisa dianggap sebagai penopang segala indra, pertama otak, dua hati, terakhir segala anggota tubuh.

Kecerdasan mata, seseorang dikatakan cerdas apabila sesuatu yang dilihatnya tampak sebuah pelajaran yang perlu dipikirkan. Bahasa kerennya adalah kecerdasan visual, contohnya seperti arsitek, desainer, pelukis, dan cari sendiri contoh lainnya. Kalau orang yang sering baca komik, nonton film, terutama film kartun, apakah cerdas juga? Kalau mau menantang kecerdasan mereka silakan, jangan takjub mengetahui kelebihannya.

Kecerdasan hidung, orang yang penciumannya tinggi dapat dikatakan cerdas. Apakah anjing pelacak juga cerdas? Bisa jadi. Kita kadang mendapati seseorang yang amat pilih-pilih makanan dengan menciumnya terlebih dahulu, itu contohnya. Contoh riilnya seperti anjing pelacak tadi, atau seperti para detektif. Menganalisis keadaan tidak selalu dengan akal, tapi perlu keterlibatan indra.

Kecerdasan mulut beserta perangkatnya. Kecerdasan ini bisa dikata seperti kecerdasan linguistik, kecerdasan berkata-kata, kecerdasan berbahasa, dan berbohong juga bisa dikatakan kecerdasan. Iya, sungguh kebohongan bisa dikatakan sebagai kecerdasan, tapi mata tak pernah bisa membohongi. Jangan tanyakan orang yang kecerdasan mulut itu seperti siapa, dan apa profesinya, tentu sudah tahu. Seperti para komedian suara, pengisi suara kartun, penceramah, dan cari sendiri contoh lainnya.

Kecerdasan telinga, orang yang kalau mendengar sesuatu ingin mempelajarinya dan selalu memasang telinga lebar-lebar, seperti para musisi, pemain musik, gitaris, pionis, dan drumer.

Kecerdasan perasa. Tak usah dijelaskan panjang lebar kecerdasan perasa seperti apa, lihat saja para koki. Walau sebenarnya indra perasa ini lebih pada hal yang supranatural, karena berkaitan dengan sensitivitas. Orang yang cepat menerima rangsangan bisa dikatakan orang yang cerdas. Tubuhnya amat perangsang. Kalau pelacur dan orang yang selalu ingin dirangsang apakah juga orang yang cerdas? Entah.

Kecerdasan otak, kecerdasan yang lebih mengedepankan kesistematisan dan kerasionalan. Inilah yang sering dapat penilaian lebih di sekolah-sekolah. Padahal kecerdasan tidak hanya pada otak. Contohnya, seperti orang atau mereka-mereka yang berkacamata dengan segala pikiran logisnya. Ahli matematika, ahli fisika, alkemis, dan entahlah masih banyak lagi yang lainnya.

Kecerdasan hati, orang yang amat perasa jiwanya. Seperti ahli jiwa, psikiater, mereka juga orang yang cerdas. Bisa saja, orang yang ahli cinta itu dikatakan cerdas, karena dia mampu mempermainkan jiwanya.

Dan yang terakhir tentang orang yang cerdas dari gerak seluruh tubuh atau anggota badannya. Langsung ke contoh saja, seperti para akrobat, pemain sirkus, pemain pantomim, perenang, dan banyak lagi. Mereka semua adalah orang-orang yang cerdas. Jadi berhentilah membatasi kecerdasan hanya pada otak saja. Karena betapa sempitnya kalau kecerdasan hanya berhenti di otak sana.

Lain kali perlu ada penghargaan terhadap pelajar yang jago linguistiknya (jago berbohong), jago membobol password wifi kampus, jago bersandiwara, dan pada yang jago melukis serta mendesain. Mereka patut diberi penghargaan yang sama. Bukan berarti saya menuntut karena nilai IPK saya di kampus rendah.[]
Labels: 2017, Renungan

Terima Kasih telah membaca Kecerdasan Multi Manusia . Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Kecerdasan Multi Manusia "

Back To Top