Kids Zaman Now Sudah Jadul

Setiap manusia memiliki zamannya masing-masing. Tingkat kecanggihan dari setiap zaman pun berbeda-beda. Tapi apakah generasi zaman sekarang tidak lebih baik dari generasi sebelumnya? Itu tergantung pada perspektif masing-masing. Tapi bagaimanapun perlu ada pespekulasian, bahwa hal negatif tentu lebih banyak di akhir zaman daripada di awal zaman, kalau dipandang dari keislam-islaman, sedang dari pandangan akademis, tidak semerta-merta menyalahkan zaman, melainkan keadaan sosial yang berubah drastis. Perubahan drastis tersebut bisa dilihat dari sudut pandang manapun, baik dari ekonomi, sosial, bahasa, politik bahkan media.

Kids zaman now hanyalah anekdot, bagi saya. Kalimat tersebut hanya pelesetan, yang kemudian dinyanyikan, dijadikan meme, dan dibuat mengaduh sampai gaduh. Anak zaman sekarang kebanyakan memakan micin? Tidak, mereka terlalu banyak menerima doktrin. Di pedalaman Madura, masih banyak anak-anak generasi muda yang masih senang memancing, bermain petakumpet, kejar-kejaran, main layang-layang, membantu orang tua di sawah dan ladang, mencari rumput untuk makanan sapi, mencari kayu, rebutan sarang burung, menangkap belalang dan sebagainya. Masih banyak yang sangat amat jauh dari doktrin tentang kehidupan mewah dan sok kedewasa-wasaan. Kids zaman now yang banyak bodohnya dan nyeleneh tak lain adalah bualan dari mereka-mereka yang merasa masa kecilnya kecolongan, bagi mereka-mereka yang masa kecilnya tidak semenyenangkan anak zaman sekarang, yang gamenya saja sudah digital, sedangkan dulu mengantri di rental ps berjam-jam, cari jodoh malah dinikahkan paksa, dan kadang hanya bisa main kejar-kejaran.

Sudahlah, kata kids zaman now tidak sampai ke pelosok desa yang tak memedulikan tentang hiruk pikuk yang tak pasti, buat apa dipermasalahkan? Yang perlu dipermasalahkan bahasanya saja. Itu lo, mengapa bahasa Inggris dicampur-campur dengan bahasa Indonesia. Kids dan kata now adalah bahasa Inggris, sedang di tengah-tengahnya kata zaman adalah bahasa Indonesia. Hanya itu permasalahannya, dan permasalahan itu tak lebih dan tak kurang terkesan lucu. Lucu sekali, kids zaman now. Struktural bahasa yang salah. Kalau ketahuan orang ahli linguistik bisa berdebat tak kesudahan. Kalau ketahuan Badan Bahasa, tentu dibiarkan. Ah, sudahlah.

Memang apa bedanya, secara fisik, anak zaman sekarang dengan anak zaman kuno? Hanya berbeda masa saat lahir, bukan? Andai bisa membual, kalau hanya karena baru lahir kemarin lantas dibully, mereka para yang merasa anak zaman sekarang akan bilang, "andai kami bisa memilih kapan waktunya kami lahir, tahun berapa dan di negara mana, pasti kami ingin seperti abang-abang dan kakak-kakak yang membully kami. Hanya karena kami tidak tahu menjawab soal matematika, hanya karena kami masih SD sudah pacaran, hanya karena kami makan micin lebih dari kakak-kakak, lantas kami dibilang anak zaman now. Tidak enak lo, Kak, Om, Tante, dianggap anak melinial yang otaknya kropos, mengerut, tak berisi pengetahuan. Tak enak." Sungguh mereka akan meratap.

Sekarang, sesuatu yang harus diwaspadai adalah masuknya budaya astral. Budaya alien yang tak mengenal usia. Kids zaman now sudah usai, nanti akan jadi old zaman now, mother zaman now, grandmother zaman old now, now, now, entah. Bahasa Inggris saya tak paham, jadi saat mendengarnya dicampuradukkan dengan bahasa Indonesia, terkesan lucu di telinga, seperti digelitik.

Salam kepada kakak zaman now, totong zaman now dan akang zaman now, anak zaman sekarang menangis dianggap dirinya berbeda. Mereka menuntut kesamaan (kesetaraan gender berubah kesetaraan umur). Mereka ingin bermain petakumpet juga, hanya saja tak ada lahan dan teman sepermainan, karena sekolah penuh hari. Mereka juga ingin bermain dengan lumpur, menangkap ikan dalam kali, mencari burung dan cari kayu, tapi mereka tak bisa lepas dari kekejaman kapitalis yang menabur segala produk yang membuat mereka mudah tergiur. Tolong, jangan salahkan mereka. Hidup kids zaman now![]
Labels: 2017, Renungan

Terima Kasih telah membaca Kids Zaman Now Sudah Jadul. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Kids Zaman Now Sudah Jadul"

Back To Top