Potensi Membunuh dari Zaman Dinosaurus

www.journalsampah.blogspot.com
Manusia bisa belajar pada dirinya sendiri, buat apa diajari? Tapi sayangnya, manusia keras kepala mengatakan butuh diingatkan berulangkali. Tak peduli batu sudah menjadi bata, dan pasir menjadi dinding. Manusia tetap berusaha menjadi pelupa. Lupa dijadikan alasan. Alasan menjadi senjata terampuh untuk menghindar. Menghindarnya manusia pun tak perlu diajari, sudah insting yang mendarah nadi. Jika sewaktu-waktu ada manusia yang dapat mengingatkan dirinya sendiri sekaligus menjadikan orang lain sebagai alasan untuk bertindak, maka di sanalah eksistensi manusia sebenarnya. Dan itu amat sedikit, hampir punah.

Dalam kitab suci, Tuhan mewanti-wanti manusia agar mengenali dirinya sendiri agar dapat mengenal Tuhan. Walau pada riilnya, pernyataan itu sama saja dengan pertanyaan yang belum terjawab dari zaman dinosaurus sampai sekarang. Para dinosaurus tidak dapat menjawab pertanyaannya tentang, "siapa aku?" Para filsuf Yunani juga tidak bisa menjawab tentang pertanyaan yang sama. Begitu sulitkah mengenal diri sendiri, apalagi mengenal Tuhan? Begitulah, karena memang pada mulanya deskripsi tentang manusia dari para pakar ilmuwan tidak ada yang sama. Ada yang mengatakan manusia adalah pengguna simbol, manusia penggerak ekonomi, manusia penoreh peradaban, human sosial, human capital, human kuman dan sebagainya. Terlalu banyak human yang dideskripsikan, namun malah membuyarkan pengertian tentang, "siapa aku?" Siapa manusia? Manusia adalah misteri. Jangankan mengerti tentang siapa pacar, siapa orang yang terdekat dengan kita, itu tak pantas dipertanyakan, sebab kebanyakan dari kita belum bisa menjawab tentang siapa dirinya.

Manusia katanya adalah makhluk yang mulia. Paling sempurna dan diagung-agungkan keberadaannya. Namun, apakah di alam semesta yang maha luas, yang seperti tak ada batas itu, tidak ada kehidupan lain yang lebih baik dari manusia? Masa Tuhan menciptakan luasnya antariksa hanya untuk kekosongan, itu membuang-buang tempat saja. Sedang bumi, yang maha kecil dibanding alam raya, di manakah manusia? Pada nyatanya manusia tak ada.

Memahami diri sendiri tak perlu belajar pada orang lain, cukup belajar pada diri sendiri. Meniru tak apa, mengamati orang lain tak apa, karena potensi belajar sendiri sudah ada dalam diri manusia. Tinggal bermodal percaya diri saja. Jangan sedikit-sedikit berkata, duh tak bisa, duh tak sanggup, duh banyak kerjaan, duh itu sulit, duh terlalu banyak mengeluh! Sungguh ilmu dan pengetahuan tak butuh alasan yang jelas-jelas manusia memilikinya. Tak apa mengungkapkan hal bodoh seperti. terjadinya banjir karena ada air di sana, si fulan sakit karena dia tidak sehat, atau pernyataan "saya pembohong yang jujur", dan sebagainya.

Sebagai manusia yang multi fungsi, serba bisa. Bayangkan, menjadi Tuhan bisa, menjadi Malaikat bisa, menjadi Dajjal atau bahkan Iblis, manusia berpotensi sekali. Menjadi babi? Menjadi babi, bahkan jadi sampah saja bisa. Itulah manusia.

Hanya karena manusia bisa belajar pada dirinya sendiri, maka patut disalahkan apabila dia tidak tahu tentang jati dirinya, menyalahkan pasangannya, bahkan kadang berbahagia atas kematian. Ah, tentang kematian, memang buat apa disesali dan ditangisi, toh semua yang hidup pasti akan mati? Lah, mbok, memang iya yang hidup pasti mati, tapi apa pantas ada orang mati dan kita berselfi, berfoto dan tersenyum ria? Atau paling parahnya, membiarkan pasangan putus cinta dan perpaling pada yang lain, bahkan tak ada penyesalan seumpama orang yang dicampakkan menggantung diri di hadapannya. Itulah contoh manusia yang tak mau mengerti. Sudahlah, manusia tak butuh diceramahi, dia maunya menceramahi. Sudahlah, manusia tak butuh diajari, dia maunya mengajari. Sudahlah manusia tak mau terluka, tapi dia mau melukai. Betapa tak mengertinya tentang misteri manusia ini.[]
Labels: 2017, Renungan

Terima Kasih telah membaca Potensi Membunuh dari Zaman Dinosaurus. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Potensi Membunuh dari Zaman Dinosaurus"

Back To Top