Surat Cinta untuk Presiden Republik Indonesia


campalleghanyforgirls.com
Teruntuk Presiden Republik Indonesia.

Seperti surat cinta kebanyakan, surat ini sama romantisnya untuk yang dituju. Saya harap bisa dibaca oleh presiden Republik Indonesia, tak peduli Presiden yang sekarang atau Presiden yang akan datang. Surat ini disengaja tak memiliki tanggal kedaluarsa, karena akan selalu berlaku pada semua yang menjadi Presiden di negeri ini.

Pertama, datangnya surat cinta ini tulus dari hati. Walau sempat terinspirasi oleh surat cinta-surat cinta para kritikus terhadap orang yang tidak disukainya. Surat ini bukan berarti tidak suka pada Presiden, bukan, sama sekali bukan. Karena bagaimanapun, Presiden adalah orang yang telah mendapat suara mayoritas memerintah di negeri ini. Jadi tak ada alasan untuk membenci. Tapi—ada tapinya, jangan senang dulu—saya tidak suka pada Presiden yang tidak mau mengerti. Tidak suka bukan berarti benci, namun lebih kepada penolakan. Semisal, saya dikasihani dengan diberi uang satu triliun, saya tidak suka, tapi bukan berarti menolak. Bisa dimengerti?

Kedua, seharusnya saya sopan dalam kepenulisan surat cinta ini. Sebagaimana halnya surat cinta, tentu mengandung kasih sayang, doa, dan harapan. Tapi, entah untuk surat cinta yang saya tulis ini, bisa jadi nanti cinta yang tersampaikan ditolak, atau doa yang terbang tak diterima, dan harapan yang terlampir jatuh di mulut jalan. Entah. Tapi, saya harus sopan sebagai tanda penghormatan akan cinta.

Terakhir, surat cinta ini semata-mata karena saya iseng ingin menuliskannya. Bukan berarti karena iseng ketulusan menulis surat cinta ini plinplan. Bayangkan, semua penulis hampir pernah menuliskan surat cinta. Saya ingin menulis surat cinta pula, tapi bingung mau ditujukan pada siapa. Jadilah surat cinta ini saya tujukan pada Presiden Republik Indonesia. Dari judul, semoga saja keren dan menarik perhatian Presiden yang terhormat.

Itulah berkenaan surat, asal usul, tujuan dan penjelasannya. Namun surat ini belum selesai, mungkin masih akan panjang. Semoga Presiden tidak lelah membaca. Saya harap, kalau merasa lelah, tak apalah minta dibacakan ke ajudannya, kebawahan, atau sekretaris Presiden. Biar berguna adanya mereka. Maaf seribu maaf bila usulan pembacaan surat ini nanti menyinggung. Terutama pada yang tak sengaja mengintip surat ini.

Presiden saya yang terkasih, tersayang, dan tercinta. Banyak sekali masyarakat yang tidak tahu tindak-tanduk Presiden, tapi mereka menaruh harap dan kepercayaan yang tinggi, bahkan tak jarang Presiden menjadi idola dan cita-cita anak-anak. Sewaktu-waktu, mereka amat berbinar-binar menyaksikan televisi karena ada Presiden di sana. Saya yakin, seluruh Presiden pasti mau menyapa orang yang telah memberinya wewenang, walau dari balik layar. Tapi sayang, kalau presiden tidak menerima salam dan santun mereka lewat apa yang mereka lihat di dalam layar televisi, presiden hanya tinggal nama, tak dihormati lagi. Saya tidak mau itu terjadi, Presiden.

Saya tahu Presiden lebih tahu posisi kedudukan presiden. Saya amat bisa memahami, bahwa rakyat hanya bisa mengkritik tapi saat disuruh duduk di kursi kepresidenan menggelengkan kepala. Posisi seseorang tidak bisa dirasakan oleh orang yang tidak mendudukinya, bukankah demikian, Presiden? Walau pernah jadi presiden sekalipun, tak mungkin bisa merasakan kedudukan yang sama, karena zamannya tentu berbeda. Namun Presiden, perlu diperhatikan tentang kewaspadaan. Sedikit saja abai kanan kiri, Presiden bisa menjadi anarki. Jangan terlalu sering memandang ke kiri, juga jangan terlalu sering memandang ke kanan. Kalau bisa sejajarkan. Sebab, kalau terlalu sering memandang ke kiri, rakyat menengah ke atas akan sewena-wena, karena mereka tidak diperhatikan. Sebaliknya, saat Presiden sering menoleh ke kanan, rakyat menengah ke bawah terlantar, seperti tak mendapatkan keadilan. Itu menyakitkan sekali.

Presiden, memang sudah menjadi tugas Presiden untuk mencintai banyak orang, membagi hati Presiden terhadap banyak kalangan. Tak peduli hati yang dibagi nanti diterima kecil-kecil, asal sama rata itu tak masalah, Presiden. Sungguh tak masalah. Nanti, kalau sudah bisa membagi-bagi hati, cobalah membagi makanan. Urusan makanan ini yang bisa memakmurkan negara kita, Presiden. Lihatlah, kebanyakan dari tindak kejahatan karena ulah mereka yang lapar. Hanya urusan perut semata sebenarnya, tapi bisa meruntuhkan satu negara. Jadi, kalau Presiden kenyang, cobalah berpikir apakah rakyat juga merasa kenyang? Jangan sekali-kali menganggap itu bukan urusan Presiden, karena luka mendalam tak membutuhkan alasan untuk memberontak agar sembuh. Saya kasihan saja, semisal nanti karena lapar, seluruh rakyat menjadi mayat hidup yang mengaung-aungkan lapar, membongkar istana negara, merobohkan monumen nasional untuk ditempa emasnya. Saya tidak sanggup membayangkan itu terjadi, Presiden. Ingat, hanya karena lapar seseorang bisa nekat melakukan hal yang berbau kematian. Jangan mengambil kesimpulan kalau lapar adalah kekuatan negara agar bisa mengamuk.

Posisi dan kedudukan sudah menjadi karakter dari skenario Tuhan, Presiden tentu tahu itu. Semua orang sedang berusaha menjadi aktor yang baik, karena akting yang sesungguhnya bukan saat bermain film, syuting di depan kamera, bukan, itu hanya pekerjaan. Akting yang sesungguhnya adalah kehidupan ini. Presiden tentu tahu, lebih tahu dari saya, bahwa rakyat yang bertani haruslah menjadi petani yang baik, rakyat yang berlayar, jadilah nelayan yang baik, dan presiden yang baik, presiden yang bisa mengatur peradabannya. Seluruh tanah di dataran Indonesia milik rakyat, semua tahu itu, jadi jangan sekali-kali Presiden mengusik kepemilikan rakyat. Tak peduli itu tanah tak berpenghuni, tak bertuan, atau apalah, karena Presiden tidak akan bisa hidup sendiri tanpa rakyat. Maaf, di paragraf ini saya rasa teramat kasar kalimat yang saya sampaikan, itu tak lain karena rasa cinta saya meluap-luap, Presiden. Maafkanlah.

Presiden yang saya cinta sayangi, saya tak bisa berkata-kata lagi. Namun pesan terakhir dari saya, jadilah presiden yang mengerti, mengerti segala hal. Jangan terlihat bodoh, karena rakyat akan ketularan bodohnya, jangan culun, karena rakyat juga akan merasa culun. Jadilah Presiden yang bisa dijadikan permata dan mengerti segala peristiwa. Sungguh rakyat tak membutuhkan apa-apa, selain rasa berpengertian Presiden.

Surat ini saya tutup dengan seribu cinta dan harap, semoga Presiden selalu bisa menjadi penjaga, pengertian dan senantiasa sehat. Paling terakhir, jangan lupa makan dan tidur yang teratur. Salam cinta dari saya, lopeyu.[]
Labels: 2017, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Surat Cinta untuk Presiden Republik Indonesia. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Surat Cinta untuk Presiden Republik Indonesia"

Back To Top