Keromantisan Sepi untuk Pencari Legenda Pribadi

Sepi itu sangat romantis. Hening bagai belaian yang mengingatkan diri pada semesta. Apalagi kalau  temaram dengan sepotong lilin. Sangat romantis. Entah sejak kapan, saya merasa sepi bagian dari keromantisan. Padahal, dulu semasa kecil, saya lebih suka berkeliling desa, mendatangi berbagai tempat, mencari banyak teman, bahkan di antar desa hampir sebagian wajah saya kenali.

Mencari teman dan berbaur dengan kelompok manusia adalah bagian dari kesenangan. Saya sadari itu ketika kembali mengingat masa lampau. Tapi, itu saat saya polos-polosnya, tak memedulikan siapa-siapa, yang ada di pikiran hanya kesenangan mencari teman dan membongkar habis pengalaman. Apalagi saat diri berkeinginan bisa berenang. Karena di sekitar rumah tak ada kolam atau persawahan yang berair, kadang melintasi beberapa desa mencari sumber air. Atau kadang, pergi ke laut untuk sekadar berenang dan sesekali membawa pancing. Belajar berenang membutuhkan kebiasaan, saya baru bisa saat diri hampir tenggelam, setelah membuat diri bertualang ke segala tempat yang berair. Tak jarang pula kadang dimaki-maki orang yang merasa jengkel karena beberapa kali lewat di halaman rumahnya tanpa pamit. Begitulah, saya dulu amat serampangan. Demi cepatnya mencapai tempat yang dituju, berjalan lurus yang saya lakukan. Kadang, tidak tahu jalan sok tahu jalan. Jadilah lurus selurus-lurusnya, melintasi jalan yang sama sekali berbeda, nyasar ke tengah hutan. Prinsip saya saat itu, berjalan lurus selagi ada timur karena rumah saya ada di timur. Entah timur yang dituju sedikit miring hingga menjadi utara.

Masa kecil yang dihabiskan dengan berpetualang, mengenali keramaian, mengenal banyak wajah, tapi tak mengingat nama, bahkan tak kenal waktu di mana tempat belajar dan bermain. Mungkin karena itulah saya sekarang lebih suka dengan kesunyian. Keramaian terkesan mengada-ada. Memberi janji-janji yang pada akhirnya menghujam kebohongan. Di keramaian, saya merasa selalu tertinggal di belakang, merasa paling bodoh, merasa paling tak bisa berbicara. Hanya dengan kesepian dan bermain dengan pikiran yang kemudian sedikit, lambat laun membuat saya paham, betapa romantisnya sepi itu.

Di keramaian, saya tak menemukan kedamaian. Celaan, maki-memaki, sakit hati, bertengkar, saling adu otot mata, dan hanya ketidakserasian adanya. Padahal, sifat awal dari segala sifat manusia adalah kebaikan dan kebaikan. Entahlah, saya tak mengerti. Dari ketidakmengertian itu saya beralih pada kesunyian. Jelas, sunyi lebih mengerti dari siapa pun. Ah, tentang itu, saya jadi teringat pada malam saat dimarah-marahi orang tua karena terlalu sering bermain, jarang pulang. Diri ini dihukum di luar rumah. Tidur di luar. Saya pergi ke pojokan, memikirkan segala. Malam yang amat sepi. Waktu itu saya tidak suka pada kesepian, amat membenci malah. Dari kebencian yang amat, entah kenapa sekarang bisa berubah begitu menghayati.

Menghayati hidup tidak bisa dengan membuka mata, kalau membuka mata hati iya. Mengerti keramaian tidak harus dengan terjun langsung pada keramaian tersebut, berdiam pada kesepian cukup akan membuat diri mengerti.

Menyendiri, mungkin bisa dikatakan adalah kegiatan mencari legenda pribadi, seperti yang dikatakan Paulo di Alkemisnya. Merenung dan masuk pada diri sendiri. Memelajari keseharian, berinteraksi dengan angin, pekat, dan bunyi panjang keheningan. Tahulah, bahwa kalau kita terlalu berada di tempat yang amat hening dan sunyi, denging panjang akan terdengar di telinga. Jadi, bersyukurlah bagi yang di dinding kamar tidur ada jam yang menyala. Saat terbangun dari tidur di tengah malam akan terasa bahwa diri tidaklah benar-benar sunyi. Saya tahu itu, pernah saya rasakan dulu saat kecil, kecil sekali, entah kapan tepatnya, waktu itu saya ingat detak jarum jam terdengar kencang seperti orang yang sedang mengetuk pintu. Tapi lupakanlah tentang dulu. Karena tak bisa dibayangkan, semisal saya kembali pada kebiasaan lama, mungkin seluruh pelosok Jakarta saya hampiri, tak terkecuali. Sekarang saya lebih suka pada kesunyian, sekali lagi lebih suka pada kesunyian. Mengapa saya menulis tentang kesunyian dan berulang-ulang mengatakannya? Karena sedikit orang yang suka dan salah paham tentang kesunyian. Mereka yang merasa sunyi akan mencari pasangan hidup, bersuami istri, membuat organisasi, mengadakan perkumpulan yang entah apa tujuannya, berbuat onar, bahkan tak jarang menertawakan orang lain. Masalah menertawakan orang lain ini yang paling menjengkelkan, apalagi yang menertawakan adalah orang yang hanya melihat dari penampilan luarnya saja. Kadang saya temui para pemuda—walau saya juga masih muda—menertawakan saya hanya karena rambut saya panjang, hanya karena saya kurus, hanya karena saya terlihat lemah. Padahal mereka tidak tahu bahwa saya juga bisa membela diri, disangka lemah mungkin. Saya kira, mereka adalah bagian orang yang tidak suka pada kesepian, jadi hal kecil saja bisa ditertawakan. Andai yang ditertawakan adalah hal yang berarti, itu bisa menjadi nilai plus, sayangnya tawa mereka adalah ungkapan perendahan. Saya sadar diri ini amat rendah, tak ada nilainya, toh bukan mata uang, buat apa dipermasalahkan? Lo, saya tak mempersalahkan, hanya mengungkapkan, tak lebih, tak kurang.

Baiklah, semua itu hanya tentang sepi. Pelajaran terbaik hanya bisa diperoleh dari diri sendiri. Mengenal diri dapat dilakan saat nyepi. Cobalah mengerti.[]
Labels: 2017, Renungan

Terima Kasih telah membaca Keromantisan Sepi untuk Pencari Legenda Pribadi. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Keromantisan Sepi untuk Pencari Legenda Pribadi"

Back To Top