Lagu Kebangsaan yang Hambar | Merdeka!



Kota yang direnggut. Bagaimana jadinya kalau Yerussalam menjadi ibu kota Israel? Sudahlah, jawaban itu bisa dicari sendiri, di internet banyak. Pidato yang disampaikan Presiden Amerika masih berbentuk kata-kata, dan tahulah kalau kata-kata itu bisa menguap. Pun kalau berbentuk tulisan, tahulah kalau tulisan masih bisa dihapus. Urusan itu, sudah bagian dari urusan perserikatan negara, rakyat kecil seperti kita cukup memikirkan nasib negeri sendiri dulu. Lihatlah, tidak hanya kota yang direnggut, di depan mata kita, disiarkan di seluruh media, bertebaran, tapi kita hanya bisa diam. Memang, untuk masalah perenggutan yang berkaitan dengan negara hanya orang ahli hukum yang patut berbicara. Kalau hanya rakyat biasa, meye-meye percuma, kecil kemungkinan didengar. Baiklah, selagi ada kemungkinan walau kecil, suara tentang penolakan dari perenggutan paksa masih bisa dilakukan, tapi lagi-lagi tapi, kita kebanyakan abai tentang sesuatu yang ada di sekitar kita.

Di Indonesia, rumah beberapa warga desa direnggut, lahan pertanian juga sama direnggut, halaman bermain tinggal puing demi pembangunan burung metal. Kita dapat melihat kesaksian tentang tangis histeris mempertahankan tanah nenek moyang, peninggalan dari beberapa kenangan, dan saudara janin yang terkubur mereka di internet, baik yang berupa video atau foto, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa. Dalam teori hukum, selama itu kepentingan negara dan bersangkutan dengan rakyat banyak, hal yang menyakitkan sekalipun harus dilakukan. Memang begitu, tapi akan selalu ada kata tapi, bukankah rakyat tak membutuhkan pembangunan? Rakyat hanya membutuhkan kesejahteraan. Tak apa walau tak semaju negeri sebelah yang karena pembangunan bahkan oksigen harus membeli, air harus membeli. Pemerintah seakan mendukung kalimat, “uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang”. Tidak! Rakyat menolak. Mereka sudah terbiasa minum air dari bumi secara langsung, tak usahlah diikutkan seperti mereka-mereka yang tidak mau minum kalau bukan dari air kemasan. Lingkungan hijau seharusnya dilestarikan, dibiarkan demi keselamatan bumi dan manusia, bukan diberi beton yang seakan menjadi permadani permanen mematikan. Tanah dan udara di bawah sana tak bisa berkutik, kebebasan bukan hanya direnggut dari manusia, tapi dari bumi tercinta. Kalau seperti itu, kata-kata dalam lagu kebangsaan malah terdengar omong kosong yang hambar. Hiduplah tanahku, tapi dibunuh secara perlahan. Hiduplah negeriku, itu hanya berlaku pada para penguasa.

Tinggal menunggu rakyat mencekik dirinya sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau perenggutan rumah, tanah, dan lahan pertanian itu terjadi pada kita? Sesak dan histeris, menangis tanpa suara dan airmata. Cukup sudah kejadian hilang tempat tinggal hanya menimpa mereka yang terkena nasib lumpur lapindo. Cukup itu saja, jangan ditambah.

Andai, mereka yang diusir paksa, dijanjikan uang ganti rugi, yang hidupnya tentu tak sama lagi itu diberi rumah pengganti yang sudah jadi, diberi lahan untuk bertani yang siap dibajak. Sayangnya, itu hanya janji-janji. Rakyat memang bodoh, karena mereka tak mau menjadi pemerintah yang akan lebih hina dari orang bodoh. Dalam ajaran Islam—untuk kalian yang beragama islam—tentu pernah mendengar tentang ancaman orang pintar dan berilmu tapi tak mengamalkan keilmuwannya, itu lebih berat dari mereka yang bodoh.

Pemerintah, pemerintah. Membangun negara bukan dari gedung dan lapangan-lapangan, tapi dari jiwanya. Makanya, kalau sedang menyanyikan lagu kebangsaan jangan hanya dihafal, tapi hayati. Bangunlah jiwanya, bukan bangunlah gedungnya, apa lagi lapangannya.

Indonesia tanah airku, yang dijaga tanah dan air agar kita tetap bisa berdiri. Pikirkan sekali lagi kalau ingin membangun, jangan membangun di rumah orang. Pikirkan kembali kalau bercita-cita, jangan cita-citakan cita-cita orang. Merdeka![]
Labels: 2017, Renungan, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Lagu Kebangsaan yang Hambar | Merdeka!. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Lagu Kebangsaan yang Hambar | Merdeka!"

Back To Top