Masalah yang Diciptakan Para Pers

Selalu ada berita yang dapat dituliskan. Seperti selalu ada masalah yang bermunculan. Masalah yang satu lewat, diangkatlah masalah yang lainnya. Hal itu tentu sebuah keuntungan bagi para pers dan dunia pembacotan, sebab akan selalu ada hal yang bisa dibacotkan. Untuk yang awal-awal kerja di situs pemberitaan, jangan panik tidak dapat topik untuk dituliskan, karena selalu ada topik terpopuler sepanjang waktu.

Namun permasalahannya, dari masalah yang selalu bisa diangkat, manusia selalu terjebak dalam salah simak. Kesalahan dari menyimak itu pulalah yang bisa menjadi tren topik, bisa jadi adalah sebuah keuntungan. Karena masalah baru akan muncul kembali.

Media, terutama dalam sifat kepersan, selalu ingin jujur dalam menyampaikan berita. Tapi tuntutan kadang datang bertubi-tubi. Mereka akan dicela karena tak ada berita menarik yang disajikan. Jadi jangan salahkan media semisal nanti mencipta dunia fiksi, seperti, kucing berselfi, monyet tertawa melihat orang yang sedang main sulap, gajah jatuh cinta dan sebagainya. Pembaca dan pendengar lebih senang kebohongan ketimbang kebenaran.

Dari media, artis terpopuler, bintang film dan orang yang sering muncul di televisi itu bisa dikenal masa. Padalahal, kalau dipikir-pikir, mereka yang memegang kamera, yang bisa kapan saja menayangkan dirinya di media, lebih bisa menahan diri untuk tidak populer. Sifatnya begitu wara', berusaha mengangkat orang lain menjadi bintang dengan jerih payahnya, sedang dirinya tetap memegang kamera.

Sekarang yang terjadi di belahan media tentang ustad kondang. Kalau perkataan dan ceramahnya salah, itu adalah bagian dari keuntungan media yang mengangkatnya. Bayangkan saja, mereka terkenal dikatakan ustad begitu saja hanya dengan mengisi acara televisi. Uniknya, ustad televisi ini lebih merasuk kalimatnya ke ibu-ibu dan anak-anak yang suka menonton televisi, kalimatnya seperti sabda yang digemakan ketika ada masalah singgah. Semisal nanti tutur katanya salah, membuat sakit pendengar, dan sebagainya, itu karena tidak sempat dicekal oleh media. Walaupun, media yang mengangkatnya akan tetap memiliki keuntungan lebih.

Kalimat salah dan luput tapi mengena, jangan salahkan ustadnya, tapi salahkan orang yang meliput dan mengangkatnya menjadi ustad. Entahlah, sekarang kehidupan serba amburadul hanya karena media. Seperti tentang perang, terjadinya pemberontakan, kecelakaan, mereka ungkapkan pada masyarakat, hingga masyarakat yang kehidupannya tenang menjadi berang, kehidupan yang damai menjadi serba berkepanikan.

Pilihan akhir agar tak mata tak ikut memerah mendapati keadaan yang belum pernah kita lihat secara langsung adalah menutup telinga dan memakai kacamata hitam tebal. Lepaskan diri dari teknologi.[]
Labels: 2017, Kebenaran, Renungan

Terima Kasih telah membaca Masalah yang Diciptakan Para Pers. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Masalah yang Diciptakan Para Pers"

Back To Top