Pembungkaman



Dulu, dulu sekali sebelum manusia mengedepankan rasionalitasnya. Hidup seorang lelaki di tengah hutan dengan seorang istri di gubuk yang amat sederhana. Pada suatu malam penungguan, istri dari lelaki itu mengerang kesakitan. Si lelaki menunggu dari kejauhan, khawatir dengan apa yang terjadi berikutnya. Tak lama setelah penungguan yang mengkhawatirkan, terdengar suara tangis yang mungil. Dia berlari membuka pintu gubuk.

“Perempuan,” ucap seorang wanita tua yang mengurus persalinan.

Lelaki itu menerima sosok mungil yang baru lahir, hening. Beberapa saat lagi terdengar erangan. Sang istri mengerang hebat, seperti sebelumnya.

“Ada lagi,” gumam seorang wanita tua.

Erangan itu berakhir panjang dengan napas tersengal mengeluarkan satu sosok kecil lagi.

“Laki-laki.”

Hening, keadaan benar-benar hening. Sang istri terlelap setelah lelah, sang suami terpaku, sedang wanita yang membantu persalinan segera pergi.

***

Dua saudara kembar dari keluarga sederhana itu bernama Buya dan Baya, Perempuan dan Lelaki. Mereka telah melumat waktu dua puluh tahun dari kelahiran. Baya menjadi lelaki yang tangguh, disenangi banyak orang. Dia memiliki kesempatan untuk keluar dari hutan dan menghampiri penduduk, bersosial dan menyelamatkan orang-orang yang tertindas.

Bagaimana dengan Buya yang hanya bisa bermain di sekitar rumahnya tanpa bisa seperti adiknya? Dia tak bisa kemana-mana bukan karena dia perempuan, tapi ayah mereka tak pernah membolehkan. Atau kalau memaksa, orang-orang yang melihat tampang buruk Buya akan berlari ketakutan, mengatakan dia adalah seorang penyihir.

Jelasnya, kedua anak yang beranjak dewasa itu memiliki sisi dan kehidupan berbeda. Buya, suatu kesempatan ingin seperti adiknya. Baya mengikuti keinginan kakaknya itu dengan membawanya berjalan-jalan melintasi hutan menuju pedesaan. Kepala Buya tertutup kerudung, rambutnya berusaha menutupi bagian mengerikan dari wajahnya.

Yang terjadi pada akhirnya adalah pengasingan. Buya dilempari sayuran busuk, kotoran keledai dan kotoran hewan peliharaan lainnya, dimaki kalau Buya adalah penyihir. Begitu nyinyir di mulut mereka yang mengatakan kebencian terhadap Buya. Andai saat itu Buya hati-hati menjaga kerudungnya tetap menutupi kepala. Tapi dia lupa, terbuai oleh kerumunan yang jarang dilihatnya. Kerudungnya menjatuhkan diri, menggulung di lehernya.

Buya berlari ke dalam hutan. Baya mengejarnya dari belakang. Menuju lebatnya hutan yang tampak bersahabat bagi Buya, tapi tidak bagi Baya. Walau hatinya sedih, Buya tetap merasa lebih baik dalam hutan daripada dalam keterasingan. Dia merasa tak adil menjalani kehidupan, padahal mereka berdua memiliki keburukan yang sama, tanda lahir bersisik yang sama, hanya saja di bagian tubuh yang berbeda. Sebagai perempuan sendiri di keluarga kecil gubuk itu, Buya termasuk yang paling sabar. Dia akan segera melupakan kutukan warga yang tidak menerima dan menganggapnya penyihir.

“Ini tidak adil, seharusnya mereka juga mengasingkanmu.”

“Kita memiliki kehidupan yang berbeda. Dan ini kesempatanku untuk berbaur dan mendapatkan kepercayaan.”

Hening, mereka tak berbicara apa-apa lagi. Keduanya duduk mematung di depan api unggun dekat sungai. Gemericik air dan suara serangga membuat malam itu terasa ramai.

***

Terlihat dari kejauhan kobaran api membakar gubuk di tengah hutan. Gemeretuk suara kayu yang gayang oleh api terdengar dengan jarak lima puluh langkah. Baya berlari mendekatinya. Buya berdiri seraya menggigit ujung jari menyaksikan semuanya.

“Apa yang terjadi?”

“Aku tak berniat melakukannya, maafkan aku.”

“Apa yang terjadi, Buya?”

“Maafkan aku. Aku marah. Aku tak bisa mengendalikan kekuatanku.”

“Padamkan apinya, padamkan apinya!”

“Aku tak bisa.”

“Aku harus menyelamatkannya.”

Baya ingin masuk ke dalam kobaran api. Buya menahannya seraya menangis. Tatapan marah dan sedih muncul di mata Baya. Ayah mereka ada di dalam gubuk itu. Buya telah membakarnya.

“Lakukan sesuatu, Buya. Bagaimana kau membakar ayah kita?”

“Aku tak sengaja. Dia membuatku marah, aku tak bisa mengendalikan kekuatanku. Terlambat.”

Baya seperti orang yang bingung. Segera, entah dari mana semua orang yang rumahnya tidak begitu jauh berdatangan. Lantas menyuarakan agar Buya dibakar bersamaan dengan gubuk yang terbakar.

“Bakar penyihir itu, bakar!”

Auman amarah terdengar serempak. Tubuh Buya lemah di seret dan didorong ke tubuh yang lain, begitu seterusnya. Hingga kemudian jatuh di tangan Baya. Dia segera membawa lari Buya, melintasi hutan, menuju perairan sungai.

“Aku terpaksa mengasingkanmu. Aku harus tetap di sini. Ini kesempatanku untuk hidup lebih baik.”

Buya tak menggemangkan apa-apa. Seseorang pemilik sampan mengayuh. Membawa Buya pergi dari tempat lahirnya.

***

Baya tak kenal arang dan takut pada siapa pun. Beberapa orang jahat yang merusak kedamaian ditinjunya lalu melayang. Mengaduh kesakitan. Beberapa lagi dilemparnya hingga tersangkut di atap rumah.

“Siapa namamu, Anak Muda?” Seseorang dari pihak kerajaan menghampirinya. Menyalami.

Baya menyebutkan namanya.

“Kekuatanmu setara dengan tiga orang. Aku mengagumimu. Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menangkap bandit-bandit. Kau bekerja padaku, bayaran dan kesejahteraan akan menyertaimu.”

Baya mengangguk. Lantas melempar satu orang penjahat yang ditangkapnya ke dalam gerobak kuda dengan satu tangan. Dia ingin menunjukkan kehebatannya. Selain menunjukkan kehebatan saat adu tarung dengan para lelaki dewasa yang dijadikan tontonan sekaligus perjudian oleh warga, dia juga bisa berlaga dalam situasi seperti saat pihak kerajaan menawarinya kesepakatan. Tentu, nama Baya segera dikenal oleh semua warga yang pernah disinggahinya. Dia bahagia, walau kadang sesekali termenung mengingat ayahnya.

Di suatu siang, ayahnya mengajak dia untuk pergi dari gubuk tengah hutan, mengungsi ke tempat yang jauh.

“Kita harus pergi, Baya. Aku melihat dia menyembah api. Aku takut kutukan itu membawa malapetaka.”

“Aku tidak akan pergi dari sini.”

“Kau dengarlah. Ibumu sudah tidak ada. Hanya kita, dan sekarang dia tak bisa kubayangkan akan bagaimana nantinya. Aku takut hal buruk itu telah datang, menghantui kita.”

Baya tetap menolak keras. Pembicaraan dalam rumah itu berlangsung cepat dengan amarah yang muncul dari dalam diri Baya. Dia tidak mau meninggalkan reputasinya yang sudah dikenal warga. Dia ingin membaur. Tapi sang ayah tetap memaksa, mengajaknya untuk pergi saat itu juga. Dengan amarah, Baya mendorong ayahnya. Ayahnya terhuyung ke belakang, menyentuh dinding gubuk.

Setelah kejadian singkat yang membuat marah itu, Baya berlari dengan marah. Menjauh hendak pergi ke tempat yang cukup tenang. Tapi di tengah perjalanan, dia melihat kepul asap dari arah rumahnya.

Seseorang datang membuat lamunan Baya membuyar. Orang itu menawarkan makanan yang enak. Juga kain yang layak untuk mengganti pakaian Baya yang lusuh.

***

Suatu pagi yang berkabut, seseorang yang mengaku butuh pengganti kerajaan mendatangi Baya. Baya dengan sikap sombong menantang orang yang mengaku itu berduel. Tapi pada akhirnya hanya pada pembicaraan panjang yang tidak masuk akal di benak Baya.

“Ayahmu, siapa nama ayahmu?”

“Hameru. Dan aku ragu kau bukanlah pecundang yang banyak bicara.”

“Sudah kuduga. Aku yakin yang memiliki keterikatan, yang dapat kurasakan di sini,” ucap orang yang mengaku dari kerajaan seraya menunjuk dadanya. “Adalah kamu. Aku harus mengajakmu ke kerajaan.”

“Jangan main-main. Aku tak semudah itu kau tipu.”

Dengan gagah Baya maju menggempur. Tangannya terkepal melayang. Kakinya sesekali terangkat menyerang. Gesit tubuhnya yang cukup berisi mengelak dan menyerang balik. Rupanya orang yang ditantangnya berduel tak mau kalah.

“Sadarlah, semua yang kukatakan adalah benar.”

Kalimat itu terucap setelah kepalan tangan dari orang pihak kerajaan itu mengenai dada Baya. Dia terjengkang, mengeluh kesakitan. Baru kali itu dia merasakan sakit sungguhan dari pulukan lawannya.

“Kau boleh juga.”

Bersamaan dengan kata yang terucap, Baya meluncurkan tinju. Tinju itu segera dipatahkan. Tangan Baya dengan singkat terlipat ke belakang, dikunci oleh lawannya.

“Sikap sombongmu, arogan, tidak penakut, dan terlalu percaya diri terhadap kekuatan, tampak sekali kalau aku tidak salah.”

Mendengar kalimat itu Baya menjadi berhenti dari pemberontakan badannya agar lepas dari kuncian. Orang yang melipat tangannya melepaskan Baya.

“Ayahmu, dia adalah satu-satunya pewaris tahta yang memilih pergi. Bertahun-tahun keberadaannya tak dapat ditemukan. Ceritanya panjang agar kau dapat mengerti. Yang jelas, kau memiliki keterikatan kontrak denganku. Raja yang sekarang sudah tiada. Sebelumnya aku memiliki kontrak dengannya. Seharusnya aku mati bersamanya, bersamaan dengan kontrak itu. Tapi rasaku tak mengenali kontrak itu. Masih ada keterikatan baru lainnya hingga aku tidak ikut mati bersamanya. Dan itu kurasakan dari auramu. Orang tuamu, Hameru adalah putra satu-satunya dari raja. Hameru pergi saat mengetahui ratu meninggal karena istriku yang terhubung kontrak dengannya mati. Hameru mengutuk keterikatan itu. Dia memilih pergi dan melupakan kerajaan. Bertahun-tahun tak kutemukan, dan sekarang kau begitu nyata mewarisi wataknya yang persis sama.”

“Aku tak tahu kau sepandai itu dalam mengarang cerita, Bapak Tua.”

“Sekarang ikutlah aku. Kau akan mengerti kemudian.”

Tanpa penolakan, Baya dibawa pergi ke kerajaan mengendarai gerobak kuda.

***

“Bukankah dia terlalu muda untuk menjadi seorang raja?”

Salah seorang kerajaan berkomentar saat orang yang membawa Baya ke kerajaan mengatakan dialah keterikatan yang dimaksud. Semua pihak kerajaan tidak dapat menolak dari apa yang diyakini pendamping raja.

“Sekarang lakukanlah pemindah kekuasaan. Mahkota kerajaan akan kuserahkan kepadamu, Baya.”

Baya menerima mahkota yang hendak dipasangkan ke kepalanya dengan tangan. Dia memegangnya. Memandang pihak kerajaan yang menjadi saksi. Mereka semua berkumpul di depan kursi raja yang memiliki ruangan luas dan ekstalase menakjubkan. Baya dengan wajah merengut berjalan keluar pintu, memandang seluruh kekuasaan kerajaan yang terbentang dari balik tembok pembatas. Lalu segera kembali ke tempat semula.

“Aku akan menjadi seorang raja?”

Semua orang mengangguk. Baya tersenyum. Dia merasa biasa saja untuk menjadi raja. Senyumnya sering muncul seraya menyentuh mahkota. Kadang menurunkannya untuk dilihat, lalu dipasang lagi.

“Aku siap memimpin,” ucap Baya.

Segera setelah itu datang seorang prajurit pembawa kabar. Semua orang memalingkan wajah demi mendengar pintu berderit yang disertai sedikit suara tersengal panik.

“Ada penyerang yang ingin menguasai bagian dari kerajaan kita. Mereka sangat mengerikan. Sudah dua desa yang diberhanguskan, dibantai hingga tak tersisa.”

Baya yang mendengar hal itu tersenyum. Dia sangat antusias untuk segera memimpin dan melawan. Untuk dikatakan dia senang memamerkan kekuatannya, ditambah sebagai raja.

“Baik, kita menyerang sekarang. Siapkan pasukan, biar aku yang memimpin,” ucap Baya.

Pendamping raja yang memiliki keterikatan hendak mengucapkan agar tidak untuk saat ini. Tapi melihat wajah antusias yang membara, dia urung. “Aku akan mendampingimu,” ucapnya kemudian.

***

“Aku menantang pemimpin kalian untuk berduel,” ucap Baya seraya maju dengan kudanya.

Di belakang Baya, ratusan prajurit berkuda berbaris dengan tameng dan tombak bermata tajam, sebagian memegang pedang. Sementara yang berdiri di sela-sela kuda memegang busur, siap melepas anak panah.

Dari pihak lawan yang tampak serba hitam dengan pakaian serampangan membelah. Ada seseorang berkerudung, berambut panjang berjalan mendekat ke arah Baya yang jauh dari barisannya. Seperti pertunjukan yang dramatis, orang itu membuka penutup kepalanya. Baya segera mengenali wajah kakaknya.

“Apa yang kau lakukan?” Baya turun dari kudanya.

“Aku mendengar ada raja baru dengan kekuatan yang setara dengan tiga orang. Aku tahu itu kamu. Aku akan menuntut sesuatu.”

“Apa maksudmu? Baiklah, aku senang kau baik-baik saja. Tapi apa tujuan hingga kau membantai seluruh orang dengan orang-orangmu yang katanya menyeramkan itu.”

Dari kejauhan, pemilik keterhubungan kontrak dengan Baya menyakiti tubuhnya sendiri. Baya tidak merasakan hal itu. Dari kejauhan pula, mata orang yang menyakiti tubuhnya itu melihat seseorang yang berdiri di hadapan Baya mengeluh, tersentak satu langkah ke belakang seperti menahan sakit.

Kembali ke posisi Baya, Buya meminta agar dirinyalah yang menjadi raja kalau memang Baya menjadi raja sebab ayah mereka keturunan raja. Baya mengerutkan dahi. Dia tidak berharap mendengarkan hal itu. Tapi sebelum mengucapkan sesuatu, Buya sudah melangkah melewati Baya. Mereka menuju benteng peristirahatan Baya.

Di dalam tenda, mereka duduk berdua. Berbicara tentang tujuan masing-masing.

“Sudah cukup, aku terlalu lama menderita. Aku hanya sekadar meminta bagianku dari kekuasaan itu agar aku menjadi ratu. Kau menolaknya.”

“Aku baru saja menjadi raja. Dan itu tidak menyenangkan sekali, lalu kau ingin menjadi ratu? Ayolah, Buya.”

“Walau kita kembar, bagaimana pun aku lebih tua darimu. Yang berhak atas tahta itu adalah aku.”

Dengan marah Baya menggebrak meja. Bagian meja dalam tenda itu porak poranda. Buya memejamkan mata. Dia mengakui kekuatan adiknya, tapi dia harus menerima balasan setimpal atau kesetaraan dari kesengsaraan, paling tidak menjadi ratu.

Buya keluar dari tenda, kembali ke kelompoknya. Hingga malam menjelang, dia kembali mengendap-endap membantai seluruh prajurit Baya. Baya terbangun dalam keadaan todongan api oleh Buya. Dalam penyanderaan, semua yang tersisa dibawa ke kerajaan. Buya meminta Baya untuk menyerahkan mahkota, ritual pemindahan kekuasaan untuk segera dilaksanakan.

Pada saat itu pula pemindahan kekuasaan dilakukan. Baya diasingkan. Sedang pemilik keterikatan dikurung dengan besi bertali rantai terikat di kakinya. Buya tak bisa menyakiti pemilik keterikatan dengan raja itu, karena setiap kali dia berusaha menyakitinya, dia merasakan sakit pula.

“Jiwamu memang tak terikat denganku, Buya. Tapi ragamu adalah ragaku. Aku baru sadar, mengapa aku tak merasakan keterikatan utuh dengan Baya, rupanya dia memiliki saudara kembar, yang kemudian membuat keterikatan itu membelah. Kau tak bisa menyakitiku. Sakit, bukan?”

Buya mengeluh lantas pergi tak peduli dengan penjelasan atau kata apalah dari pemilik keterikatan. Dalam perginya dia mengingat perihal keterasingannya. Di mana dirinya terombak-ambing oleh lautan karena pemilik sampan terjatuh ke air dan tak pernah kembali. Dia berhasil selamat atas pengakuan seseorang yang berkuasa di suatu tempat entah berantah karena melihat kekuatannya, mengendalikan api. Dan sekarang dia sudah menjadi orang yang baik, tidak lagi lari dari keterasingan. Karena buaian kebaikan yang tidak mengatakan kelebihan bisa mengendalikan api itu sebagai penyihir membuat Buya tersanjung. Demi membalas kebaikan dan sekaligus diberi kekuasaan oleh orang yang menolongnya, dia berjanji akan memberikan sesuatu atas balas budi, dengan memberi sebagian tanah dari kerajaan yang dikuasainya.

Untuk malam yang melelahkan, Buya ingin beristirahat dan melupakan sejenak kejadian-kejadian yang menimpanya. Dia ingin terlelap, tapi ingatannya selalu terjatuh pada Baya. Kenangan saat mereka kejar-kejaran, bermain petak umpet di sela-sela pohon, berguling di rerumputan, menangkap ikan di sungai. Dan yang paling dia ingat saat gubuknya terbakar. Dia menitikkan air mata lalu benar-benar terlelap. Sementara itu, seorang pembunuh dari pihak orang yang menolongnya berusaha berkhianat. Mereka yang menggunakan Buya sebagai alat karena kekuatannya memboikot malam itu juga.

Di luar tempat peristirahatan Buya yang sebagai ratu, terdengar kegaduhan karena Baya yang kembali dari pengasingan. Suara gaduh itu membuat Buya terbangun. Betapa terkejutnya dia, saat hendak berusaha beranjak duduk, sebuah pisau mengarah ke lehernya. Sontak Buya mengendalikan api yang menyala di ruangan. Api memburu begitu cepat dan melempar pemboikot hingga terbakar. Segera Buya keluar halaman. Di sana tampak Baya sedang kewalahan menahan serangan musuh. Orang yang telah menyelamatkan itu rupanya hampir menyamai kekuatan Baya.

Demi menyelamatkan Baya, dia berlari mendekat dengan menyalakan api besar-besar. Saat hampir dekat, puluhan anak panah yang mengintai dari atas tembok tertuju pada Buya. Baya yang menyadari jebakan itu segera berteriak agar Buya menyingkir. Tapi telat, sebelum Buya mengendalikan seluruh apinya untuk menjadi bola-bola yang menyerang, tubuhnya tertembus panah, lalu ambruk.

Melihat kejadian yang singkat itu, Baya marah. Kekuatannya berlipat. Dengan mudah dia membuat lawannya terjengkang dan tak sadarkan diri. Para pemboikot mendekat. Tak ada guna bagi singa yang sedang mengamuk marah. Mereka semua beterbangan oleh hantaman. Satu dua berhasil kabur melewati benteng pertahanan. Orang yang setia pada Baya segera mengumpulkan kekuatan bersatu. Melawan balik. Para pemberontak dapat dipukul mundur. Sedang orang yang tak sadarkan diri karena pukulan mematikan Baya, mengeluh. Buya masih memiliki sedikit kesadaran, dia sadar akan pemberontakan yang dilakukan orang yang menolongnya ternyata tak lebih hanya memperbudak. Dia terlalu bahagia karena telah ada yang mengakui hingga lupa perangai busuk. Dengan sisa tenaga, dia mengendalikan api, memburu orang itu, membakarnya.

“Kau ceroboh sekali, Buya. Kau memang tak pernah bisa berpikir.”

“Kau, mengapa kembali, heh?”

“Kau merebut tahtaku.”

“Aku hanya mengasingkanmu, seperti apa yang pernah kau lakukan.”

“Kau membunuh ayah.”

“Kau yang membunuh ayah.”

Setelah kalimat itu Buya menangis. Dia mengingat semuanya. Saat itu dia mendengar Baya dan ayahnya bercakap-cakap tentang dirinya. Mereka ingin meninggalkannya. Tapi Baya menolak, lantas mendorong ayahnya lalu pergi. Buya yang bersembunyi di balik pintu mendengar semuanya. Melihat Baya yang sudah pergi jauh, Buya masuk ke dalam gubuk. Dia hanya ingin menemui ayahnya. Tapi ayahnya tetap berdiri dengan mata terbuka bersandar pada dinding gubuk. Buya tahu, kalau ayahnya tak hidup lagi. Di balik punggungnya, besi tajam tempat penggantungan baju menusuk persis di ulu hati. Baya tidak pernah tahu itu. Karena melihat kesedihan, dia tidak mau membuat Baya sedih, lantas membakar gubuk itu dengan kekuatannya. Saat sudah berada di luar rumah, Baya kembali lalu menyalahkannya. Siapa yang salah? Sesungguhnya adiknya itu yang salah, hingga dia yang menanggung semuanya. Buya menceritakan kejadian sebenarnya. Baya yang mendengar menjadi lemah. Hatinya kelu. Dia ingin marah pada dirinya sendiri. Baya ingat dengan jelas memang dia mendorong ayahnya.

“Kita sama, Baya. Tapi aku yang selalu terasingkan. Mereka menyatakan aku sebagai penyihir karena tanda lahir yang mengerikan ini, padahal kau juga memilikinya di punggungmu. Aku barusaha berbuat sama padamu, kau telah mengasingkanku. Menyatakan akan ikut pergi karena orang yang ingin membakarku, tapi saat sampai di akhir kau menyatakan hanya mengantar dan ingin kembali. Kau tak mendengarkan keluhan dan tangisku. Dan kau mendapat kekuasaan, sedang aku masih dalam kesengsaraan. Salahkah kalau aku ingin sama sepertimu?”

Dalam keributan dari api yang membakar dan bau amis peperangan, suasana yang gelap terasa amat gulita bagi Baya. Buya dengan tenaganya yang tersisa berusaha tersenyum. Baya mendekap Buya dengan erat. Matanya basah, sungguh basah.

“Aku tak akan pernah mengeluh, Baya. Aku hanya ingin menjadi kakak yang baik. Kita sama, seharusnya kita diperlakukan sama. Ayah selalu menganggapku berbeda dan sebagai sumber kutukan. Tapi kau selalu mendapat tempat yang istimewa. Aku tak cemburu akan hal itu. Tapi aku ingin sama.”

Dari kejauhan pemilik keterikatan kontrak dengan raja datang. Seseorang telah membebaskannya. Dia datang mendekat pada Buya dan Baya.

“Ambillah ini, dengan demikian aku yakin kalian akan saling menjaga, dan tak perlu penjaga lagi. Buatlah kontrak kalian sendiri. Jadilah penguasa yang bijaksana. Rangkul semuanya dengan pundak kalian berdua.”

Tangan pemilik keterikatan itu menyentuh bagian yang terkena anak panah di tubuh Buya. Baya menarik anak panah yang tertancap.

“Hiduplah dengan damai. Kalian tidak membutuhkan keterikatan denganku lagi sebagai penjaga. Kalian akan saling menjaga. Selamat tinggal.”

Persis setelah kata selamat tinggal itu terucap, tubuh si pemilik keterikatan menjadi debu yang bersinar. Luka di tubuh Buya sembuh seketika. Tanda lahir yang mengerikan di wajahnya hilang. Semua berpindah pada Baya sebagai penjaga. Kematian mereka terikat.[]

Jakarta, 9 September 2017.



Labels: Cerpen, Fiksi

Terima Kasih telah membaca Pembungkaman. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Pembungkaman"

Back To Top