Penyatuan Jiwa


Tentang kehakiman. Penyatuan jiwa yang harus dimiliki seorang hakim.

Mempelajari hukum sama halnya mempelajari filsafat di bagian etikanya. Walau seperti yang dikemukakan Lois, Jujun S. Suriasumatri atau Darji Darmodiharjo dalam bukunya bahwa, di bawah etika itu adalah filsafat hukum. Tak ayal, syarat-syarat menjadi seorang hakim yaitu harus bijaksana, sedang kebijaksanaan diperoleh dengan belajar filsafat, memahami tentang Epistemologi, Ontologi, Kosmologi, Logika, Gramatika, mengerti nilai, dan terutama teori-teori Etika, selain paham perundang-undangan. Bisa dibayangkan kalau seorang hakim hanya berdasarkan pada undang-undang yang ada, tapi tidak menggunakan sudut pandang yang berbeda tentang kehidupan, melupakan moral—walau bukti moral tak akan pernah bisa dibuktikan—atau tidak paham tentang habitus. Semisal ada seorang pencuri, lalu dia dihakimi tanpa mengetahui latar belakangnya seperti apa. Padahal pencuri itu lahir di kampung pencuri, tempat para pesakitan akan moral bertebaran. Menangkap si pencuri itu, seharusnya tangkap keseluruhan mereka yang ada di kampung pencuri, atau kalau tidak bisa, hakim jangan semena-mena memberi putusan tanpa mempertimbangkan hal lain, terutama dari sudut pandang etikanya. Itulah pentingnya penyatuan jiwa yang harus dimiliki seorang hakim.

Jiwa yang dimaksud bukan lantas berkenaan dengan psikologi—Ilmu tentang jiwa—karena yang dipelajari psikologi sebetulnya adalah tentang gejala. Arti dari kata jiwa amatlah luas dan mendalam. Dalam bahasa Sanskerta diartikan sebagai benih kehidupan. Dalam agama dan filsafat, jiwa diartikan sebagai akal pikir, atau roh, dan roh adalah cahaya, sedang cahaya adalah ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan tertinggi adalah filsafat. Jika seorang hakim, jiwanya tercecer, maka suram, dan putusan yang diambil sama suramnya.

Hakim dikatakan sebagai peranan terpenting demi tegaknya negara hukum. Sesuai dengan pasal 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 KUHP, hakim diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili. Mengadili berarti sebagai serangkaian tindakan menerima, memutuskan, memeriksa, jujur dan tidak memihak. Begitulah yang diterangkan Shidarta dan Darji Darmodiharto dalam buku Pokok-Pokok Filsafat Hukum di bab etika profesi hukum. Ada pepatah yang menyatakan, tegaknya hukum berada di palu para hakim. Masalahnya, kalau hakim yang ada tidak masuk ke kategori ketentuan seorang hakim tapi berpura-pura dalam tindakan moralnya, tentu sampai kapan pun negara dari yang memelihara hakim itu akan sama saja dengan neraka. Dan itu semua dapat kita saksikan dengan mata telanjang di abad ke dua puluh satu ini.

Menghakimi dan mengadili yang dilakukan kehakiman tentu sudah dipetak-petakkan, ada hakim peradilan umum, militer, agama dan tata usaha negara. Dan dari keempat itu masih ada perpetakan lainnya untuk mengadili yang berkenaan dengan tindak pidana, perdata dan sebagainya. Namun dari keseluruhan itu, hakim tetaplah sebagai penegak keadilan dengan seadil-adilnya. Hakim tidak diharapkan bodoh dan lemah akal, dengan terlalu bergantung pada undang-undang yang ada, tapi tak menggunakan keilmuannya sebagai hakim.

Ada anekdot yang mengatakan, mengapa tidak tuhan saja yang mengadili para pembuat kesalahan, mengapa para hakim? Tuhan hanya patut menjadi saksi, karena dia maha tahu. Lepas dari anekdot itu, hakim perlu sadar bahwa dirinya yang berperan sebagai pengadil selalu disaksikan oleh yang maha tahu. Dalam putusan pengadilan, yang paling salah di ruangan tersebut bisa jadi adalah hakim yang dungu.

Dalam sebuah film yang diangkat dari novel Stephen King dengan judul The Shawshank Redemption tentang peradilan dan hukum penjara dijelaskan secara indah dan menusuk. Diceritakan seorang taller bank diadili dan diputuskan sebagai bersalah karena telah dibuktikan membunuh istrinya yang sedang selingkuh. Pengacara dari pihak yang dibunuh membawa bukti jelas, syarat-syarat pembuktian telah dipenuhi, ditambah argumennya yang skakmat, hingga si Teller Bank tersebut dinyatakan bersalah dan dimasukkan ke penjara Shawshank dengan putusan seumur hidup penjara. Nyatanya, tokoh tersebut tidak bersalah, walau benar dia memegang pistol dan berniat membunuh tapi urung lalu pistol itu telah dibuangnya, dan entah mengapa masih bisa ada dipersaksian. Tapi hakim yang tidak paham raut wajah, dengan gramatika bahasa yang tidak diperhatikan, serta bukti yang bisa jadi dispekulasi, dia tidak memeriksa hal itu, lantas mengadili begitu saja. Pada akhirnya, walau dihukum seumur hidup, meski raganya dikurung, dia tetap memiliki sesuatu yang tak bisa dikurung, yaitu harapan. Bertahun-tahun dia menggali lubang dinding penjara karena sadar dirinya tak bersalah, yang kemudian dapat pergi setelah dua puluh tahun lamanya dengan membawa bukti kebusukan para polisi yang memenjarakannya. Dari kisah itu, Stephen King ingin mengatakan pada dunia bahwa hukum yang seharusnya adil akan salah tangkap kalau hanya berdasarkan pada bukti dan undang-undang tapi tak mau bernalar, dan pada akhirnya kebenaran yang selalu menang.

Di negara kita saat ini, dapat disaksikan beberapa putusan hakim yang tampak jahil. Seorang nenek-nenek, yang sudah tua, hanya karena mengambil kayu lalu diadili tanpa melihat latar belakang kehidupannya seperti apa. Atau, para napi, koruptor, mereka diadili hanya menekankan pada pelanggaran yang ada dalam undang-undang. Padahal undang-undang bukanlah segalanya. Undang-undang dapat diubah, tapi moral harus tatap sebagai eksistensi nilai. Nyatanya, adanya sekarang tampak seperti penyakit moral. Mereka yang diketahui meraup uang negara hanya tersenyum dan tertawa lepas di depan kamera, tiba-tiba populer, tampak seperti artis. Penyakit akut yang mematikan. Parahnya lagi, hakim seakan takut mengadili mereka-mereka. Kadang perlu melakukan sidang puluhan kali, sedang bagi pencuri ayam cukup sekali dua kali.

Memang, yang tahu posisi dari sudut pandang hakim adalah hakim itu sendiri, tapi lagi-lagi tapi, hakim selalu bisa memutuskan sesuatu tanpa berpatokan pada undang-undang selama itu mengedepankan kebenaran. Hakim bukan tuhan, tapi dia disaksikan oleh Tuhan. Akhirnya, kita butuh hakim yang berpengertian, bukan hakim yang hanya bisa mendikte, membaca undang-undang seperti robot. Kalau hakim yang penyatuan jiwanya berserabut, kita menggunakan komputer saja sebagai pengidentifikasi kesalahan seseorang sudah lebih dari cukup.[]
Labels: 2017, Renungan, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Penyatuan Jiwa. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Penyatuan Jiwa"

Back To Top