Refleksi Panjang


Untuk kesekian kalinya aku memotivasi diri bahwa, setiap orang bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya. Seseorang bisa menjadi apa saja selama orang itu mau berusaha. Seharusnya itu terjadi pada diri yang seringkali mencari jalan untuk lepas dari kehampaan.

Pernahkah kalian merasa amat hampa karena tak bisa melakukan hal yang berarti? Jujur, aku sendiri amat sering. Bahkan hampir lupa dan tak sadar bahwa perasaan itu adalah bagian dari kehampaan. Hampa datang begitu tiba-tiba. Tak memandang siapa yang akan merasakannya. Tak peduli itu seorang pemuda culun, pemuda pemberani, siswa atau mahasiswa. Parahnya, hampa datang padaku yang sedang berstatus sebagai mahasiswa. Semena-mena pikiran menuntut, bahwa seorang yang sudah menjadi mahasiswa seharusnya bisa menghidupi dirinya sendiri, melepas diri dari tanggungan orang tua atau orang lain. Sayangnya itu amat sulit kulakukan. Melepas dari orang tua oke, itu bisa. Tapi membiayai perkuliahan, membayar ini itu, itunya yang sulit. Memang tidak ada kata sulit selama kita mau berusaha, kalian pasti tahu hal itu. Lalu bagaimana dengan lingkungan yang memaksa diri seperti orang yang salah hidup di suatu zaman. Kurasa ini bukan zamanku, bukan situasiku untuk melakukan hal yang tidak pernah kulakukan.

Andai orang di sekitar mau saling memerhatikan. Termasuk diriku. Aku jarang sekali memerhatikan. Padahal berharap mendapatkan uang untuk sekadar bayar semesteran kampus. Berharap ada yang tahu kemampuanku, bahwa walau seperti ini aku juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang orang lain lakukan. Bukankah setiap orang bisa menjadi apa saja sesuai keinginannya?

Bisa melakukan apa saja sesuai keinginan rupanya percuma kalau pengalaman diri, pengklaborasian terhadap masyarakat dan tindakan sosial kurang. Entah, apa mungkin karena aku terlalu suka menyendiri? Atau karena terlalu menganggap remeh keadaan? Bayar uang semesteran yang tidak seberapa itu tentu bisa dengan usaha, usaha apa saja. Tapi percuma, aku sudah mencoba berusaha, melakukan ini itu, hasilnya nihil. Keteguhan diri tidak cukup menghadapi keadaan. Begitulah hingga mengapa aku merasa sangat hampa.

Bisa dibayangkan, umur sudah dua puluh tahun lebih, tapi masih bingung masalah akan menjadi apa diri ini? Cita-cita tak ada, hanya tujuan yang berlangsung seperti sementara. Bukan berarti aku meremehkan cita-cita, hingga badan sebesar dan umur semakin sedikit ini masih belum memiliki cita-cita. Cita-cita itu berat rasanya untuk diucapkan. Bagaimana aku akan mengungkapkan sebuah cita-cita sedang mengurus diri sendiri saja tidak becus? Sungguh tidak becus, yang bisa dilakukan hanyalah mencoba sok filosofis menghadapi hidup, bahwa hidup hanya satu kali dan harus digunakan sebaik mungkin untuk mencari legenda pribadi.

Pengetahuan-pengetahuan berserampangan, bisa kuambil secara cuma-cuma. Tapi uang tidak demikian. Aku yakin, bahwa kalimat yang menyatakan “uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang” kurang tepat. Karena pengetahuan dan pemahaman bisa diambil dari mana saja, tanpa uang. Yang membuat seseorang terjebak adalah profesi dan cita-cita. Kebanyakan orang menyita-citakan sesuatu yang pada akhirnya berdasar pada uang. Kalau aku tidak, sungguh. Aku hanya memiliki tujuan untuk memperbaiki sesuatu yang bisa kuperbaiki. Tak apa walau hal kecil. Tapi lagi-lagi itu tidak akan cukup kalau pikiran jatuh pada pembiayaan hidup tentang kuliah. Pembiayaan hidup bukan berarti makan, tapi tanggungan. Kalau masalah makan santai-santai saja, toh Tuhan menciptakan tenggorokan bukan untuk diisi kerikil dan batu. Mulut ini untuk dimasuki makanan, jadi tak usahlah memikirkan masalah makanan. Aku yakin diri pasti akan tetap bisa makan, masalah menunggak sampai beberapa hari itu bukan masalah. Hidup sudah dibagi-bagi. Semua orang memiliki masa dan kesempatan. Sayangnya, aku belum tahu kesempatan apa yang akan datang pada diri ini. Apa kalian sudah tahu apa kesempatan yang akan datang pada diri kalian?

Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah menjadi pengamat yang baik. Setelah beberapa kali mencari pekerjaan, menanyakan pekerjaan pada teman yang sudah kerja tapi tak dapat-dapat, bahkan kadang pergi ke suatu media yang sesuai dengan kesukaanku, menanyakan apakah butuh wartawan baru, atau sekadar membantu dulu, hasil bisa dilihat nanti, semua itu percuma, akhirnya hanya bisa pasrah. Sungguh percuma kutawarkan bahwa diri ini bisa desain, editing video, menulis esai, artikel, resensi, dan mengatakan ahli dalam bidang fiksi, tetap tak ada yang tertarik. Aku tahu mereka-mereka itu tak butuh kata-kata, mereka butuh bukti. Tapi percuma aku membuktikan, kalau mereka menerima, tertarik, iseng untuk merekrut saja tidak. Ini yang membingungkan. Kadang aku berpikir, tak apalah diri ini tak bekerja, tapi uang terus mengalir. Tapi dengan cara apa, ya?

Segala usaha yang tidak kubisa, itu sudah bagian dari lepas tangan. Tapi kalau yang berkenaan dengan hal yang berbau elektronik, aku masih bisa memelajarinya. Syukur-syukur, ternyata sedikit demi sedikit diri ini bisa beberapa hal yang seharusnya bisa dilakukan mahasiswa fakultas teknik. Ah, bukan teknik seperti di film ninja Naruto, kalian mengertilah. Sedikit-sedikit, aku bisa membuat blog, mengubah domain, mengedit template, kadang iseng sok jadi peretas, menginstal komputer secara ilegal, dan bebarapa hal yang akan sedikit panjang kalau disebutkan. Nanti juga aku dikira sombong oleh kalian, tak apalah. Hitung-hitung ini adalah promosi diri, siapa tahu ada yang tertarik menawariku pekerjaan. Adduh, aku lupa bahwa blog ini amat sepi pengunjung. Aku tahu diri ini hanya ngoceh-ngoceh sendiri, tidak ada yang membaca juga. Tapi, ini bagian dari usaha memproklamirkan diri. Siapa tahu ada di antara kalian yang kesasar salah baca, lalu mengomentari di kiriman ini menawari aku pekerjaan. “Hei, mau jadi wartawan, tidak? Hei mau jadi pengedit video tidak, mau jadi tim pengajar desain atau?” Aku harap demikian.

Baiklah, terakhir, karena aku ragu tulisan ini akan dibaca banyak orang, ini sekadar ungkapan dari kebingungan dan kehampaan diri memikirkan potensi yang seperti terbuang sia-sia. Ya, aku tahu bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia di dunia ini, Tuhan sudah menjelaskannya dalam Al-Quran. Aku tahu itu, tapi pahamilah, kalian mungkin akan merasakan hal yang sama, pernah merasakan kehampaan. Pernah merasa seperti orang yang amat tak berguna. Menghabiskan waktu seharian untuk berbaring, jungkrak-jungkrik di kamar, kadang iseng nonton film, mendesain, menulis, membaca, tapi tetap itu adalah hal yang membosankan, dan semerta-merta kehampaan datang. Maha besar pemilik kehampaan.[]
Labels: 2017, Cara, Renungan

Terima Kasih telah membaca Refleksi Panjang. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Refleksi Panjang"

Back To Top