The Shawshank Redemption |Resensi Film Lama



Apakah kebenaran butuh pengadilan? Apakah orang yang terkurung, yang segala kekuasaannya direnggut, harus tak memiliki apa-apa? Benarkah seseorang yang ada di dalam kurungan merasa dirinya tidak bersalah? Harus berapa penyesalan yang dilalui di setiap dentuman jantung hingga diri sadar bahwa perbedaan keadaan seikat dengan perbedaan waktu? Semua itu akan terjawab oleh harapan. Semua jawaban ada di dalam film yang akan saya kupas.

Baiklah, dari film ini hanya ada satu keteguhan, harapan. Tak apa hilang kebebasan, terbelenggu, tersiksa, terasing, dan sebagainya, selama masih ada harapan. Andy Dufresne, tokoh utama yang diceritakan oleh tokoh pembantu, menjadi peran penting dalam segala alur, segala siksa diterimanya, siksa yang dikorbankan. Red, seorang yang dihukum karena tindak kriminal, harus mendekam puluhan tahun, juga harus menjadi saksi tentang perjalanan Andy. Tentang seorang lelaki yang tak putus harap mengejar harapannya.

Alur dalam kisah ini sulit ditebak. Bisa dibayangkan, di tahun 1994, seseorang bisa membuat film dengan alur yang memukau, penuh pesan yang mendalam, walau, sebenarnya film tersebut diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Stephen King. Memang, banyak sekali film yang alurnya bagus, tidak mudah ditebak, penuh kejutan, seperti film Now You See Me yang menceritakan tentang sulap, Crazy Love yang menceritakan tentang kekaguman dan cinta, dan beberapa film yang akan panjang kalau saya sebutkan—yang diangkat dari novel juga tak kalah banyak. Namun, sejauh analisis saya, film yang saya kupas ini melebihi dari film lain yang dulu saya anggap bagus.

Untuk menceritakan detail dari film ini, saya tak bisa mengulangnya, karena itu tidak akan sama, dan tentu akan membuat film tersebut tamak hampa. Baiknya, kalau pembaca menontonnya sendiri. Tahulah kalau diri ini jarang sekali mengulas suatu karya berupa film. Bisa dikata tidak pernah, karena menganggap tidak ada yang menarik. Toh apa yang mau diceritakan, kan, sudah jelas? Namun sekarang diri ini mencoba berpandangan lain. Berpikir, betapa sebuah karya tidak hanya mengandung keindahan, tapi pesan. Seni terindah selalu menyampaikan pesan secara tersembunyi. Itulah yang diri ini dapatkan di film The Shawshank Redemption.

Jujur, dari sekian film yang saya tonton, ratusan atau bahkan hampir sampai ribuan, baru pada yang satu ini saya menaruh perhatian lebih. Untuk sebuah pengantar dari pendeskripsian film, beberapa kalimat yang saya tulis terkesan monoton. Tapi terserahlah, toh ini hanya penjelasan mengapa diri ini mau menulisnya.

Saat menulis hal ini, saya masih terbayang dan larut dalam ending. Walau, sebenarnya itu adalah ending sederhana, tapi begitu menggantung di benak saya. Yang masih terlintas, bayangan singkat tentang tokoh utama yang hanya beralatkan palu kecil, menggali dinding penjara yang tebal selama belasan tahun secara tekun, tak pernah mengeluh walau dirinya tidak salah, hingga akhirnya bisa bebas sebebas-bebasnya, serta bisa mengungkap segala kebusukan yang terjadi di penjara pada pemerintah. Tak bisa dibayangkan bagaimana si tokoh utama keluar lewat terowongan kotoran manusia dengan merangkak puluhan mil, lalu keluar dalam keadaan bersih. Untuk jelasnya, lebih baik menontonnya secara langsung. Durasinya hanya dua jaman, bisa dibuat santai seraya menghayati. Anjuran, kalau memang mau menonton, usahakan melihat segala alurnya. Kalau menonton seraya main bola, main game, curhat, bercanda dan sebagainya, saya rasa akan membuat salah arti dari alur dan kata-kata yang diucapkan para tokoh.

Terakhir, film yang sebagus ini saya rasa masih memiliki beberapa kekurangan, alurnya yang terkesan sulit, padahal sederhana, dan tak cocok untuk anak kecil. Film yang tidak untuk semua kalangan umur. Dari kekurangan tersebut, tidak berpengaruh sekali pada kualitas film, karena itu film diproduksi pada tahun 1994, berlandaskan novel, yang diperankan penulisnya langsung. Semoga dari menonton film ini, kita mendapat pengertian baru tentang diri. Bahwa di badan yang terkurung, ada angan kebebasan dan harapan yang lepas.[]


Andai bisa mengulang, aku ingin memarahi diriku yang dulu. Betapa bodohnya. Aku ingin bertanya tentang apa yang terjadi. Sayangnya, aku yang muda menghilang, menyisakan aku yang sekarang.
Labels: 2017, Ulasan

Terima Kasih telah membaca The Shawshank Redemption |Resensi Film Lama. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "The Shawshank Redemption |Resensi Film Lama"

Back To Top