Apa Kau Takut Mati?



Dari berbagai hal yang berserampangan di depan mata, cobalah sesekali kita perhatikan. Ada kejanggalan di sana. Setiap waktu, kita bisa menjadi apa saja sesuai yang kita inginkan. Kita bisa menjadi kaya, dapat pekerjaan dan sebagainya, bahkan kenyang dan lapar pun bisa kita perbuat sedemikian rupa. Dan tahulah kita, bahwa semua itu adalah hal yang tidak pasti. Dipikirkan dari sudut pandang mana pun, sesuatu yang kita lakukan adalah hal yang tidak pasti. Anehnya, hanya satu yang pasti, yaitu kematian. Kita semua sadar, bahkan seperti tak perlu dituliskan dalam catatan ini. Tapi, kesadaran kita sebagian besar dikalahkan oleh lupa. Lupa dan sadar ini sangat tipis batasnya. Bayangkan, seorang ibu-ibu yang sedang melahirkan berjanji, bahkan bersumpah bahwa dirinya tidak mau membuat anak lagi dari saking sakitnya, tapi pada tahun berikutnya hamil lagi. Dia sadar akan sakitnya, tapi lupa. Bagaimana ya menjelaskannya, bingung juga. Kurang lebih seperti itulah kematian, pasti, waktunya pun juga pasti, tapi masih tersembunyi. Kita takut, tapi suatu saat akan menjalani yang ditakuti itu.

Saya hanya ingin menuangkan hal sederhana dalam tulisan ini, tentang kepastian. Tentang kepastian ini, saya pikir hanya ada satu, yaitu kematian tadi. Lalu bagaimana dengan Tuhan? Apakah kepastian dari keberadaan-Nya diragukan? Kalau kita bertanya pada seorang ateis jawabannya iya. Kalau ditanyakan pada seseorang yang fanatik benar terhadap aliran objektivisme dan fenomenologi, iya, dapat diragukan. Karena pengetahuan manusia terbatas pada indra dan segala bentuk aktivitasnya. Manusia belum pernah melihat Tuhan secara langsung, bahkan nabi yang pernah melihat cahaya Tuhan sekalipun masih mempertanyakan kepastiannya. Lalu kematian? Kematian dapat kita saksikan setiap saat, di mana pun. Itu riil, sangat riil bahkan. Belum pernah saya menemukan orang yang hidup dari zaman dinosaurus sampai sekarang. Tapi mengapa kita seakan mengabaikan hal yang pasti? Jawabannya, karena lupa. Ya ampun, lupa selalu menjadi alasan.

“Kemarin tidak mengerti, sekarang lupa.” Pernah seorang dosen mengatakan hal itu, ketika menanyakan tentang hal yang diajarkan sebelumnya pada mahasiswa, tapi mahasiswa yang ditanya berkata lupa. Sindiran yang ringan sebetulnya, tapi nyeri di hati. Lupa bukanlah alasan, tapi bagian dari keteledoran otak. Tahulah, bahwa lupa itu bukan hal yang pasti. Tidak mungkin seseorang akan lupa pada sebuah pelajaran kalau dia berusaha mengingatnya. Lalu, apakah seseorang tetap tidak akan mati kalau dia berusaha untuk tidak mati? Kita tahu sendiri jawabannya bagaimana.

Tentang kematian ini, semua tak butuh diingatkan, karena peringatan yang nyata sudah bertebaran, dan kita sadar, hanya saja terkadang lupa. Lalu, mengapa kita harus takut? Karena belum siap? Ya ampun, saya ingin menjelaskan dalam catatan ini nanti dikira berceramah, memberi alternatif takut membuat sesat. Karena begini, kebanyakan dari kita sekarang tidak lagi membutuhkan petuah. Kebanyakan dari kita sudah merasa paling benar dan pandai. Ada yang membaca catatan ini sampai akhir pun adalah sebuah keajaiban. Namun saya akan tetap menuliskan tips agar tidak takut pada kematian di akhir catatan ini. Apa saya tidak takut pada kematian? Tentu saya juga takut. Tapi, kematian pasti datang, bukan?

Tibalah pada tips yang saya janjikan. Untuk tidak takut kematian, anggaplah itu adalah ketentuan Tuhan, saya membaginya pada tiga bagian. Pertama, ketahui jati diri, bahwa diri bukanlah siapa-siapa, diri tak bisa menuntut lebih pada pencipta. Seumpama dalam kehidupan kita telah berbuat banyak tentang kebaikan tapi nanti masuk neraka, tak apa, toh kita tak memiliki hak apa-apa pada Tuhan. Itu sama halnya saat kita memiliki boneka, terserah kita dong boneka itu mau dirobek, dibakar, atau diletakkan dalam almari kaca? Kedua, anggap kehidupan sama halnya dengan mimpi. Saat bermimpi, apa yang tidak nyata? Rasa sakit, penyesalan, takut, nikmat—bahkan bermimpi sedang senggama pun sama rasanya—tertipu, semua sama. Dalam mimpi, kadang kita tidak sadar terbangun atau tidak. Bisa jadi dong, kalau kematian sama halnya dengan mimpi. Kita dipukul malaikat berkali-kali sakit, kita masuk ke surga penuh kenikmatan enak, tapi itu fiksi. Ketiga, yang merupakan terakhir, menyadari bahwa kematian adalah pasti. Kalau perlu teguhkan, bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali kematian. Kita dapat menjadi orang terkaya sedunia, kita bisa menjadi orang termiskin seantero semesta, bahkan kita dapat menjadi tampan dan sebagainya, terserah kita, bebas. Begitulah ketidakpastian, dapat kita atur sedemikian rupa. Tapi kematian? Heh, kita hanya dapat menarik napas dalam. Menyadari, menyadari, dan menyadari, itulah pilihan terakhir yang saya tawarkan. Karena dari menyadari, mengambil satu langkah pun dibutuhkan pertimbangan. Itulah mengapa seorang pemikir menyatakan bahwa bertindak atau tidak bertindak memiliki konsekuensi.[]
Labels: 2018, Renungan

Terima Kasih telah membaca Apa Kau Takut Mati?. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Apa Kau Takut Mati?"

Back To Top