Pencarian Jati Diri?



Saya yakin semua orang pernah merasa kebingungan mencari jati dirinya. Bahkan banyak yang mengatakan, “saya sedang dalam pencarian jati diri,” atau, “bagaimana jati diri saya yang sesungguhnya?” Apakah benar jati diri perlu dicari? Hingga banyak orang yang beralasan, bahwa dirinya belum pantas menggurui orang lain karena belum menemukan jati dirinya. Sungguh pencarian yang akan lama. Bisa jadi akan berakhir seperti lagu Kelana yang dinyanyikan Roma Irama. Untuk yang tidak tahu lirik lagunya, silakan cari sendiri.

Eksistensi dari seseorang ada pada orang itu sendiri. Mustahil akan menemukan eksistensi dari orang lain, karena walaupun dapat, itu tidak akan sama. Kalimat mencari jati diri kurang tepat, sungguh kurang tepat. Bagaimana akan mencari sedang yang dicari berada dalam diri sendiri? Istilah itu perlu diubah menjadi, penciptaan jati diri. Ciptakan jati diri dari dalam diri sendiri. Itulah mengapa pertanyaan tentang “siapa aku?” tidak pernah tertuliskan secara akurat dalam novel Dunia Sophie, atau di film-film filsafat, bahkan di film yang berjudul “Who Am I?” Walau sebetulnya di film Who Am I menceritakan tentang Hacker.

Eksistensi, atau gradiasi wujud, adalah wujud itu sendiri. Itulah mengapa teori relativitas Einstein dianggap mengubah dunia. Secara tidak langsung Einstein ingin mengungkapkan pada sahabat sesama manusianya, bahwa wujud dari seseorang itu relatif, jati diri seseorang juga relatif. Contohnya dapat kita temukan dalam sejarah peradaban dunia orang yang sudah paham dari penciptaan jati dirinya, orang itu akan sulit dimengerti, kadang terkesan gila, kadang pula dianggap memiliki dunianya sendiri. Sebagian orang yang telah selesai dari penciptaan jati dirinya tidak takut akan kematian. Kehidupannya dipenuhi dengan senyuman. Melihat sesuatu yang ada seperti halnya komedi. Orang mati kecelakaan pun bisa jadi bahan tertawaan oleh mereka yang sudah selesai dari penciptaan jati dirinya.

Tidak ada ceritanya seorang filsuf menjadi filsuf karena filsuf, kecuali oleh dirinya sendiri. Percuma seorang filsuf menuangkan pemikiran, tentang apa itu dunia, apa itu kehidupan, buat apa manusia diciptakan, dan sebagainya pada seorang yang tidak berkeinginan menjadi filsuf. Oke, memang habitus, atau lingkungan dapat membuat seseorang sama dengan yang ada di lingkungan tersebut, tapi pembentukan jati diri itu dari dalam, bukan dari luar. Jadi, mulai sekarang berhentilah mencari jati diri. Beralihlah pada pembentukan jati diri, buat jati diri, agar bisa tahu tentang legenda pribadi.

Sama halnya dengan karakter, banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya sedang dalam pencarian karakter, baik dalam dunia seni atau musik, tentu tidak akan pernah mendapati apa yang dicari. Karakter itu dibuat, bukan dicari. Kalau menanyakan filosofi, atau alasan tentang mengapa karakter dibuat bukan dicari? Mudah saja, seumpama kita memiliki kalung, kalung itu sudah ada di leher, tapi kita mencarinya di jalanan, di ruang kelas, di rumah, dan di segala tempat yang dianggap memiliki potensi menemukan kalung tersebut. Jati diri juga demikian, sudah ada dalam diri pribadi, tapi kita tak mau menyadarinya. Lalu kadang sok bingung mencari jati diri, mencari legenda pribadi dan sebagainya. Bisa dikata, mencari hal yang sudah ada dalam diri sendiri itu tentu akan lama didapatnya.

Saya menyambungkan tentang jati diri dengan karakter karena memiliki kemiripan yang pada akhirnya tertuju pada titik yang sama. Manusia diberi porsi yang sama tentang pembentukan. Sama juga dalam pemilihan peran, ingin menjadi penjahat, orang baik, filsuf, seniman, petani, birokrat, atau apalah, itu adalah karakter. Dan seharusnya karakter itu melegenda, agar bisa dibedakan dengan pribadi orang lain.

Kita dapat menemukan tentang pernyataan bahwa, jati diri adalah dasar dari sebuah karakter, atau jati diri itu adalah karakter dasar. Pilihannya sekarang, kita lebih mementingkan yang mana? Tentu yang paling mendasar, bukan? Kalau yang paling mendasar dicari, bukan diciptakan, apakah hal di atas dasar itu bisa diciptakan? Itu kembali pada diri pribadi. Atau bisa kembali pada kitab suci, yang menjelaskan bahwa nasibmu adalah dirimu yang menciptakan. Manusia diberi kebebasan untuk menjadi aktor yang baik. Terserah mau jadi penjahat, jadilah penjahat yang baik, atau mau menjadi pahlawan, tentu menjadi pahlawan yang baik. Jangan setengah-setengah, karena karakter yang setengah-setengah hanya menjadi pemain cadangan, dan pada akhirnya terhapuskan. Hidup itu pilihan, dari sebuah panggung dunia yang berisi permainan-permainan untuk dipentaskan. Dalam pementasan, peran dari sebuah jati diri diperlukan, lalu karakter. Itu saja sebetulnya tentang pembentukan jati diri.[]
Labels: 2018, Kebenaran, Renungan

Terima Kasih telah membaca Pencarian Jati Diri?. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Pencarian Jati Diri?"

Back To Top