Hukum dan Sejarah Homo Sapiens




Yang menjadi pertanyaan mendasar kebanyakan orang berkenaan dengan sejarah adalah, apakah ada keadilan dalam sejarah? Apakah sejarah itu kejam? Lalu dari mana hukum berasal? Apakah manusia hanya yakin bahwa hukum paling awal adalah hukum alam? Kalau iya, bagaiamana aturan-aturan alam bisa membuat manusia begitu maju dan sememberontak dan semerusak sekarang? Mari kita lihat kilas gulir sejarah beberapa waktu silam.

Sebetulnya, peradaban memberontak baru muncul kemarin, pada pertengahan abad ke 18 Masehi. Sangat banyak sekali kerusakan, dan hal mengerikan lainnya yang diciptakan, yang semua itu baru terjadi kemarin. Ketahuilah, bahwa ada ikut andil hukum di sana, yang membuat manusia serakah memperluas kekuasaan dengan ilmu pengetahuan. Pada abad ke 18 pula, peperangan yang pada dulunya hanya membawa pedang dan pasukan berkuda menjadi peperangan dengan membawa beratus-ratus ilmuwan dan peneliti. Lalu para ilmuwan itu menggali seluruh pengetahuan dari wilayah yang diserang, mempelajari sejarahnya, dan peninggalan-peninggalan berharganya. Di setiap tindakan para ilmuwan tersebut, ada kekuasaan hukum yang mendanai.

Paragraf kedua hanya sekadar serpihan kecil dari keterkaitan hukum. Mari kita bahas beberapa abad sebelum Masehi. Jauh 2000 tahun sebelum Masehi, manusia hanya mengenal pemburuan untuk bertahan hidup. Lalu pada masa berikutnya, manusia mulai terbiasa hidup menetap, menanam umbi-umbian, membuat rumah. Manusia pemburu pengumpul mulai berkurang, berganti menjadi petani. Di sanalah kekuasaan gandum, umbi-umbian, dan tanaman lainnya menguasai manusia. Manusia diperbudak, tidak lagi bisa berburu karena sibuk menjaga gandum. Sedang gandum yang dijaga seperti bayi, ogah rumput liar, membutuhkan penjagaan dari hama, dan sebagainya. Di sanalah manusia mulai tunduk.

Kemudian pada abad berikutnya, manusia yang pada mulanya hanya hidup berkelompok-kelompok, mulai bisa menjalin komunikasi lebih dari seratus orang. Sistem barter mulai diterapkan, padi dengan jasa memperbaiki rumah, apel dengan alas kaki, dan sebagainya. Sistem kehidupan mulai bermunculan. Kebiasaan-kebiasaan baru tanpa sadar mulai menjadi hukum. Komunikasi antar manusia yang sebelumnya tak dikenal mulai meluas. Mitos-mitos mulai bermunculan. Jangan memasuki wilayah ini atau itu, di sana tempat para dewa-dewi. Jangan memakan apel di pohon itu, beracun. Dan beberapa mitos lainnya, yang tanpa sadar, semua itu adalah mula dari kesepakatan-kesepakatan bersama.

Dulu, hukum tidak tertulis dalam lembaran-lembaran, melainkan dengan mitos berupa cerita-cerita. Seiring berlalunya abad, kira-kira pada tahun 1776 SM, saat imperium-imperium mulai bermunculan, hukum pertama mulai tertuliskan. Sebutlah pada kekuasaan Babilon, yang merupakan imperium terbesar kala itu. Sedang yang paling dikenal adalah masa kekuasaan Hammurabi. Keterkenalannya terutama karena adanya Undang-Undang yang menyandang namanya, yaitu Undang-Undang Hammurabi. Dalam undang-undangnya berisi sekumpulan hukum yang mencoba menggambarkan keadilan Hammurabi. Barangkali, undang-undang itu pula yang mendasari genarasi masa depan tentang pemahaman keadilan dan bagaimana raja adil bertindak. Para juru tulis menyalin naskah itu generasi ke generasi. Walau sebenarnya, hukum yang diterapkan Hammurabi amatlah simpel. Seperti, “kalau begini-begini, maka beginilah hukumnya.” Walau kemudian ada sebagian para akademisi menyatakan, undang-undang Hammurabi terlalu memetak-metakkan. Karena dalam undang-udang itu ada perbedaan antara kelas atas, rakyat jelata, dan budak.

Beda halnya dengan sesuatu yang dikemukakan orang Amerika, bahwa setiap manusia diciptakan setara, tapi menurut orang Babilonia tidak. Namun Amerika terus menyerukan asas-asas kemanusiaan, hak asasi manusia, dan kesetaraan perihal kebebasan. Walau pada akhirnya, kebebasan dan hak asasi manusia adalah omong-kosong belaka. Kebebasan dibatasi oleh hak-hak orang lain, dan hak-hak perindividu. Lalu tentang ini, sejak kapan manusia memiliki hak? Hak tetap menjadi milik bersama.

Dari sejarah yang ada, para historikus dunia hampir seluruhnya sepakat, bahwa ada tiga hal yang dapat menyatukan seluruh manusia. Yang pertama adalah Imperium, sejauh perjalanan kemanusiaan, peperangan, penakhlukan, dan batasan wilayah tak lain hanya untuk Imperium tertentu. Baik Imperium Romawi, Tiongkok, Arab, dan sebagainya. Mereka menyatukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal, berperang bersama, mati bersama, hanya demi Imperium yang mereka pertahankan.

Yang kedua adalah Uang. Dengan uang, orang-orang yang tidak saling kenal bisa bersepakat bersama. Jika kepercayaan tidak ada, maka uanglah solusinya. Beda sekali pada masa, sebutlah sebelum Adam Smith mendeklarasikan sistem perbankan. Orang-orang terdahulu kesulitan dalam menentukan takaran sama, antara ikan dengan gandum, sepatu kulit dengan apel, harus berapa karung apelkah untuk mendapatkan satu sepatu kulit. Penjual sepatu kulit harus berpikir berkali-kali, tentang harga kulit, perbedaan sepatu kulit perempuan dan laki-laki, yang tentu beda besarnya. Namun, uang ada mengatasi semua itu. Orang tidak lagi sibuk menjaga gandum berkarung-karung agar bisa dibarter dengan ikan. Bisa dibayangkan, semisal sampai sekarang orang masih tidak mengenal uang, orang Betawi yang ingin pindah ke Bogor, harus menukar tanahnya dengan berkarung-karung beras atau apalah itu. Tentu untuk membawa berkarung-karung beras itu ke Bogor akan memakan biaya lebih, ditambah lagi, saat sampai di Bogor, siapa yang akan sudi menukar sepetak tanah dengan berkarung-karung berasnya? Tak ada solusi. Namun dengan uang, orang yang ingin pindah rumah, tinggal menjual pada orang lain, mendapatkan uang, lalu uang itu untuk membeli tanah baru di tempat berikutnya.

Tarakhir, yang dapat menyatukan manusia adalah agama. Orang rela mati demi agamanya, orang saling berbuat kebaikan karena sama agamanya. Dalam sejarah, ada tiga agama besar yang dapat menjangkau banyak manusia utuk bersatu, seperti agama Budha, Kristen, dan Islam.

Di abad ke 18 sampai 19 Masehi pun sampai sekarang, orang-orang mulai meyakini mitos-mitos agama baru bernama radikalisme, feminisme, marzisme, kapitalisme, dan me-me lainnya. Seseorang rela melakukan ini-itu demi suatu pekerjaan, diperobot, dan manusia begitu jinaknya jika dibandingkan dengan masa manusia pemburu pengumpul. Walaupun sangat merusak.

Dari semua paragraf yang tertuliskan itu, sebetulnya di sanalah hukum-hukum disepakati. Antara ukuran cantik seperti apa, baik itu seperti ini, pakaian bagus itu seperti dia, bahkan definisi-definisi layak-tidaknya suatu perbuatan atau budaya, dikuasai para penguasa-penguasa imperium tadi. Kalau tidak oleh Imperium, yaitu oleh uang, kalau tidak oleh uang, mungkin oleh agama, dan terus berputar. Orang miskin tidak bisa makan enak-enak atau bermobil mewah, karena kalau mereka ingin sama, aturannya harus punya uang. Yang berkenaan dengan hukum sekalipun, yang satu akan disingkirkan kalau tidak mengikuti aturan Imperium ini atau agama itu.

Pada akhirnya, hukum dan segala kesepakatan manusia adalah mitos bersama, yang dijalani demi kepentingan Imperium, Uang, atau Agama.[]
Labels: 2018, Kebudayaan

Terima Kasih telah membaca Hukum dan Sejarah Homo Sapiens. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Hukum dan Sejarah Homo Sapiens"

Back To Top