Mitos Dunia (Perspective International and Natural Law)



Fakta sejarah peradaban manusia meninggalkan bekas aturan-aturan yang seakan sudah terjadi karena memang seharusnya terjadi. Orang memahami membunuh itu buruk, mengambil paksa milik orang lain tercela, dan sebagainya dianggap pemahaman natural. Namun, kalau kita mau melihat fakta sejarah jauh sebelum satu masehi, manusia tak memahami tentang aturan main bertetangga, karena hidupnya masih nomaden dan dipenuhi dengan kebebasan. Sedang sekarang, yang kita pahami, hukum dunia itu menjunjung kebebasan dan hak asasi manusia. Walaupun tentang kesetaraan dan hak asasi manusia baru didekralasikan berkisar abad ke 18 Masehi oleh orang Amerika.

Manusia yang memercayai mitos (sebut saja natural law, walau segala hal di dunia ini adalah mitos, fiksi) sebagai batasan untuk membentengi keamanan diri. Di perspektif hukum alam, para pengemukanya meyakini, hukum tertinggi adalah hukum alam, yang merupakan hukum universal. Bahkan, kata Hugo Grotius, hukum alam akan tetap ada walau tidak adanya Tuhan. Para orang yang sejalan keyakinannya dengan Grotius mengungkapkan bahwa hukum Internasional adalah bagian dari hukum alam. Yang namanya bagian, tentu lebih kecil. Sepertihalnya negara bagian, kursi bagian, baik bagian penyangganya mungkin. Jelasnya, Natural Law tidak bisa menjawab semisal ada yang memertanyakan tentang konsep keadilan, apakah orang yang tidak berpakaian di pedalaman baik menurut masyarakat perkotaan? Sesuatu yang dianggap adil oleh suatu masyarakat belum tentu adil bagi masyarakat lain. Dengan demikian, konsep hukum alam ini ambigu, terlalu abstrak dan ada di awang-awang.

Ada beberapa pengemuka hukum internasional yang terkenal, seperti Fransisco Vittoria dengan ius intergentesnya, Fransisco Suarez dengan kaidah objektif yang harus dituruti bangsa-bangsa, Balthazer Ayala dan Alberico Gentilis tentang hubugan antar bangsa yang harus didasarkan pada falsafah agama, tidak ada pemisah antara hukum, etika atau teologi, serta Pemikiran Hugo Grotius yang telah melepaskan hukum alam dari agama dan kerajaan, yang kemudian dianggap salah-satu penyumbang teori hukum internasional.

Hukum internasional sendiri, sebetulnya sudah dimulai sejak adanya Imperium-Imperium, baik itu Imperium Romawi, Yunani, dan Eropa. Karena manusia sudah bisa membuat aturan-aturan dalam lingkup wilayah yang kecil, kemudian manusia ingin memperluas wilayahnya lagi dengan mengadakan hukum internasional. Walau, dalam hukum internasional ini tidak ada polisinya, atau kepala hukumnya. Sebagian besar para pengemuka hukum internasional mengamini bahwa, kurang lebih, hukum internasional itu adalah kesepakatan negara-negara. Simpelnya, sebut saja imperium. Manusia mencoba membuat imperium yang besar, dengan mitos yang besar pula. Bayangkan negara yang ketahanan wilayahnya terjaga, dipenuhi nuklir yang sewaktu-waktu bisa membuat bunuh diri bersama, masih membutuhkan kesepakatan bersama dengan negara lain. Kalau bukan karena politik untuk membuat koloni dunia dan memperbesar imperium, hukum internasional tak akan pernah ada. Berkat keserakahan manusia, kemudian hukum internasional tersebut tercipta.

Pada dasarnya, hukum itu diciptakan, tidak sealami seperti yang dikemukakan para penganut teori Natural Law, dan juga tidak sebaku penyembah hukum internasional. Hukum tak lain atas spekulasi membentengi keserakahan, menebengi perut. Karena memang begitu, para penguasa yang serakah hanyalah soal perut. Keserakahan pun itu masih jatuh ke perut, terlepas dari sifat ingin diakui.

Sari pati yang ingin saya sampaikan, kalau mengaitkan dengan Natural Law dan International Law, hukum itu berusaha untuk membentengi kesetaraan, hak asasi manusia, dan keadilan yang dianggap seadil-adilnya.[]
Labels: 2018, Kebenaran, Riil, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Mitos Dunia (Perspective International and Natural Law). Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Mitos Dunia (Perspective International and Natural Law)"

Back To Top