Masalah Lapar



Korupsi adalah kejahatan luar biasa, untuk menghadapinya harus dengan potensi yang lebih luar biasa.

Penyuluhan anti korupsi selama ini yang kita lihat hanya disuarakan pada masyarakat kecil, yang berpenghasilan menengah ke bawah. Padahal, yang paling marak terjadi kebohongan adalah di mereka yang menjadi rakyat besar, yang penghasilannya menengah ke atas. Dan hal itu banyak ditemukan di keanggotaan parlemen atau yang, katanya, memabantu negara, membantu negara agar tak maju-maju. Penyuluhan yang seharusnya dilakukan adalah terhadap mereka-mereka yang berpenghasilan menengah ke atas, terhadap mereka yang berkedudukan sebagai pembantu negara. Merekalah permasalahannya, bukan rakyat dan masyarakat biasa.

Kuakkan dan suarakan anti korupsi terhadap para anggota di kenegaraan, ingatkan di ruang-ruang mereka. Itu saja mudahnya.

Namun yang paling aneh, masyarakat menyuarakan jijik terhadap korupsi, tapi saat pemilu atau pemilihan pimpinan, mereka memilih yang uangnya lebih banyak. Mereka tergiur dengan uang, tapi saat orang yang mereka pilih korupsi, mereka marah. Padahal dari awal mereka sudah tahu bahwa menyuap untuk pemilihan dengan memberi uang dan sebagainya adalah langkah awal terdeteksinya korupsi. Tapi masih dipilih. Siapa yang salah kalau sudah demikian?

Penguasa hitam, politikus busuk, dan mafia. Semua berkalaborasi menjadi kekuatan dahsyat untuk menguasai secara kolonial. Penjajahan. Karena awal dari tindakan seperti itu diawali dari yang fertikal, lalu horizontal.

Awalnya bersosial, lalu menguasai kesosialannya. Semua itu berawal dari urusan perut sebetulnya. Hanya urusan perut! Hanya itu. Tapi lagi-lagi, mereka yang membuat kekuatan dahsyat lupa bahwa ada zat yang maha dahsyat.

Hukum sosial tak berlaku pada penjahat kelas kakap seperti koruptor. Andai masyarakat tidak memberi tempat istimewa atau penghormatan pada orang yang sudah menjalani hukuman, mungkin akan memberi efek jera pada orang yang ingin melakukan tindakan serupa. Sayangnya kita terlalu sopan pada orang yang berbuat jahat. Otak masyarakat sungguh benar-benar sakit, sakit secara sosial dan tak mau paham. Lihat saja mereka yang ketahuan koruptor, masih sempat melambaikan tangan dan tersenyum di depan kamera. Dan media massa begitu tergiur memampang fotonya di halaman koran paling depan.

Mandiri ada tingkatannya, mandiri bagi anak paud, sd, smp, sma, mahasiswa. Tingkat mandirinya tidak sama. Jangan anggap yang pengahasilannya tiga juta ke atas itu mandiri. Perlu dipertanyakan.
Di Indonesia terjadi korupsi karena banyak orang yang lapar. Itu saja permasalahannya. Tentu kalau tidak lapar, semua sudah terpenuhi, akan tenteram seperti di China, di Dubai dan begara-negara yang kenyang. Ya, karena negara Indonesia adalah negara yang lapar, mau diapakan lagi?[]
Labels: 2018, Renungan

Terima Kasih telah membaca Masalah Lapar. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Masalah Lapar"

Back To Top