Selalu Terlambat





Sebetulnya, yang pernah kita pikirkan saat ini pernah dipikirkan orang lain jauh tahun sebelum kita. Sesuatu yang pernah kita lakukan, juga pernah dilakukan orang lain jauh tahun sebelum kita. Kita yang sekarang selalu terlambat dalam banyak hal. Mau membahas tentang sakit hati, dari sakit hati sekecil semut sampai sebesar planet sudah dirasakan orang yang lahir lebih dulu daripada kita. Mau memikirkan suatu penemuan tentang hal yang paling mustahil pun, orang lain pernah lebih dulu memikirkannya daripada kita. Kita selalu terlambat. Bahkan kadang, kita yang lahir lebih dulu baru tahu dan melakukan sesuatu yang pernah orang lain lakukan. Selalu tumpang tindih. Lalu akan menjadi lebih parah ketika yang dipikirkan itu hanya sebatas pikirkan, tidak ditulis atau dilakukan. Jika demikian, maka semakin terbenamlah kita.

Mungkin kita pernah berpikir tentang kegilaan yang tak mungkin terpikirkan orang lain, tapi nyatanya, saat kita melihat jendela lebih lebar, menyusuri jalan lebih jauh, banyak sekali kegilaan yang lebih terang dan nyata dari sekadar yang kita bayangkan. Kita seakan makhluk kuno punah yang lahir di zaman yang akan datang. Tempat kelahiran tak ada, tapi lebih dulu merasa pernah dilahirkan.

Bisa jadi, kita lahir di zaman susah ini adalah bagian dari terlambat. Zaman susah? Iya zaman susah, kita susah menghilangkan kebiasaan buruk, susah memalingkan hati dari telepon genggam, khawatir kalau tenaga baterai tinggal sedikit, takut paket internet habis, dan kita susah menghilangkan itu semua. Kita lahir di zaman yang tepat tapi di waktu yang salah.Zamannya penuh kecanggihan, hal yang dulu tampak di angan-angan dan hanya bisa jadi harapan mitos, kini lebih nyata dari sekadar mimpi di pagi hari. Dulu mungkin ada orang yang berharap bisa terbang, tapi tak kuat melakukan ujian-ujian kebatinannya, sekarang tinggal pesan tiket pesawat, selesai urusan terbang. Pernah juga ada orang yang berharap bisa menguasai telepati, biar bisa berbicara jarak jauh, sekarang semua orang bisa menguasai dengan bantuan telepon genggam beserta seperangkat pengabulan keinginan lainnya. Hampir mirip kantong Doraemon.

Baiklah, kita tidak menarik lagi membahas hal kekinian, karena semua sudah tahu itu. Dan tulisan seperti ini sebetulnya sudah tertinggal, sebab ada orang yang pernah memikirkannya lebih dulu jauh tahun sebelum saya. Tapi ada kata-kata menarik dari seseorang, bahwa sekarang ini ktia menjadi manusia yang tidak takut Tuhan. Kita lebih takut ketika tak punya telepon genggam, lebih takut ditinggal pacar, status tidak ada yang ngelike, dan frustasi sekali ketiak kalah main Mobile Legend. Ya, itu, sih, bagi yang suka ngegame, kalau seperti kita yang hanya suka membaca pesan grub, status orang, lihat-lihat konten lucu dan berusaha mencari penghasilan lewat kerja online? Lah itunya, kita khawatir hingga selalu melihat notifikasi-notifikasi baru, malah bingung kalau di media sosial sepi, seakan dunia sedang dilanda kiamat tak ada jaringan internet.

Masalah takut, semua orang pasti takut berbuat dosa, baik itu yang orang Islam, Kristen, Budha Hindu, Kongucu, Nasrani, Katolik, dan apa lagi? Takut ada yang tersakiti karena tak disebut. Masalahnya, sekarang itu serba instant, maka dosanya juga instant. Kita mudah berbuat dosa, juga mudah berbuat baik, tapi lebih sulit berbuat baiknya, sih. Tidak mudah bagaimana untuk berbuat dosa? Kita melihat aurat orang lain di televisi saja dosa, pacaran dosa, mengumbar keseharian di Instastori, membicarakan orang di grub Whatsapp, pamer kecantikan dan sebagainya. Ditambah, kita seringkali mudah tertipu dengan berita-berita bohong. Fitnah di mana-mana, perjinahan di mana-mana. Tidak di mana-mana bagaimana, coba? Melihat foto orang lain di telepon genggam itu bagian dari zina, menelpon yang bukan mahram zina, pacaran, melihat film porn, berpikiran mesum, berhubungan intim dengan teman di hotel dan sebagainya. Dapat dibayangkan pula, berapa artis bintang porno di internet? Jumlahnya mungkin miliaran, ditambah penyuka pornonya. Ya ampun, banyak sekali dosa kita. Kita, lo saja kali! Baik, bisa jadi saya termasuk di dalamnya. Semua agama mengakui itu, baik yang mengubah kodrat Tuhan, laki ke perempuan atau sebaliknya, anarkisme, ekonomi hitam dan sebagainya. Anggaplah kita sedang berada di zaman dosa yang isinya para pendosa.

Tapi sekali lagi tapi, kalau berbicara dosa setiap langkah adalah dosa. Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah keterlambatan. Apakah benar kita adalah manusia-manusia yang terlambat dan selalu terlambat? Berbuat dosa untuk kembali baik adalah terlambat? Kita sepatutnya mengutuk diri sendiri atas ketidaksadaran. Kita masih bisa berbuat baik dengan selalu konsisten. Tekuni hoby. Sebetulnya ini seperti berbicara pada diri saya sendiri, sih. Namun, kita tak bisa mengubah diri dengan barharap pada orang lain, apalagi pada nasib. Kita hanya bisa berharap pada diri sendiri, lepas dari pembahasan Tuhan, ya. Di saat tidak ada yang bisa dipercaya, kita hanya perlu percaya pada diri. Ciptakan diri kita sendiri. Karena bisajadi, kita ini hanya makhluk virtual yang hidup dalam komputer bernama semesta dengan programer yang amat canggih, hingga kita bisa merasakan kenyataan yang sebetulnya fiksi. Kita bisa jadi tak pernah ada. Kesempatan merasa, cobalah.

Kita semakin tua, semakin dekat ke tanah daripada ke langit. Semoga kita bisa menjadi manusia yang baik, tidak membuat tambah buruk zaman ini.[]
Labels: 2018, Renungan

Terima Kasih telah membaca Selalu Terlambat. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Selalu Terlambat"

Back To Top