Sepanjang Jalan Pendosa





Lama sekali tak kau pahami hidup ini, kawan. Hidup yang melesat bagai peluru dan menembus dinding kematian tanpa aling-aling. Semua dosa dan kebaikan yang lalu tak ada guna saat tiada. Nama, kadang hanya membekas selama batu nisan tak dimakan rayap, atau terbenam menuju tulang belulang kau yang rapuh. Saat pergi kelak, tak lagi peduli benar salah, baik buruk dan dosa tadi. Tak butuh. Yang kau butuhkan hanyalah kesadaran bahwa kau tak lagi nyata. Sesungguhnya sama tidak nyatanya saat kau hidup. Tapi lupa ada gunanya juga. Lupa membuat kau terpesona, terbuai, seakan kehidupan terus panjang. Seakan puisi Chairil Anwar yang berjudul “Aku” itu terjadi pada kau. Berlari untuk hidup seribu tahun lagi. Cuih, hanya bualan semata.

Sadarilah, para pemikir besar, para manusia yang namanya masih dikenal dan dikenang sampai sekarang itu pernah hidup dan berakhir. Dan kau akan sama seperti mereka-mereka. Dari saking banyak kesamaan, kau membaca, mendengar, tidur ala monyet mabuk atau apalah itu, pernah dilakukan orang-orang terdahulu. Semua hampir sama. Yang tidak sama mungkin hanya sidik jari saja. Bahkan, luka terkecil di tubuh bisa jadi sama dengan luka di tubuh orang lain di masa atau waktu tertentu. Lalu seberarti apakah diri kau?

Kehidupan ini simpel dan mudah sekali sebetulnya. Seperti sistem dalam permainan di gawai canggih. Contohnya saja permainan-permainan yang ada di Google PlayStore, semua fungsi dan sistemnya hampir sama semua, dan bisa dibilang sama. Sama-sama ada tombol navigasi, karakter yang terhunus pedang bisa berkurang nyawanya, bahkan juga bisa melompat dengan lompatan yang sama, semuanya hampir sama. Walau digunakan beribu orang sekalipun, seribu karakter sekalipun, tetap mudah pengoperasiannya, karena sistemnya memang seperti itu. Kehidupan seperti itu pula. Lalu kau akan mau seperti apa? Menjadi Tuhan? Firaun sudah lebih dulu. Menjadi pahlawan? Para petarung Yunani sudah melewati itu. Menjadi orang yang berbeda? Seperti apa?

Namun pada akhirnya, kita tak bisa berbuat apa-apa. Tentu kau juga. Di kehidupan yang panjang sekali kalau dikisahkan kesamaan-kesamaannya, tak terhitung. Baiknya menyadari diri, bahwa telah berdosa karena meniru-niru hal yang pernah dilakukan orang terdahulu. Bisa jadi itu hak cipta dan terpaten, bukan? Kalau di kehidupan ini serba hak cipta, gambar, tulisan, dan sebagainya memiliki hak cipta, dan seakan-akan berdosa kalau mengakui atau memiliki hak cipta itu tanpa membeli dan dapat izin. Berapa banyak dosa kau? Kau menangis karena sebuah film, mengambil gambar gunung, sedang gunung bukan milik kau dan film yang kau tonton adalah bajakan. Berapa dosa?

Baiknya, di akhir bulan Nisfu Sya’ban—Ini mengajak yang Muslim, ya—kau mereka-reka ulang semua dosa itu. Atau, kalau memang merasa tak punya dosa, maafkanlah orang yang minta maaf pada kau. Jangan egois. Sungguh, mereka yang minta maaf, mungkin pernah tahu tentang hadist nabi yang mengamini perkataan malaikat Jibril perihal, “Tiga Jenis Orang yang Tidak Diterima Puasanya”. Dan itu semua tentang maaf. Salah satunya adalah, seseorang yang tidak meminta maaf pada orang tuanya, tidak akan diterima puasanya, dan nabi mengamini doa Jibril. Lalu, orang yang tidak meminta maaf pada orang di sekitarnya, nabi juga mengamini itu. Kemudian yang terakhir, tidak diterima puasanya orang yang suami istri tidak saling memaafkan. Hal itu dijelaskan dalam kitab Sahih Bakhari. Namun untuk sebagian orang, bulan Sya’ban dianggap sebagai pengakhir dan pemulai catatan perbuatan. Merinding sekali, bukan, kalau kita mengakhiri catatan dengan perbuatan buruk dan memulainya dengan yang buruk pula. Saat dilihat pertama kali, buruk, dilihat di bagian terakhir sama. Malaikat yang kalau seperti manusia, karena malas mengoreksi perbuatan yang begitu banyaknya, tinggal dilihat akhir dan awalnya saja, maka masuk nerakalah kau. Apa mau seperti itu?

Kalau merasa ngeri, sepertinya kau, termasuk kita, segera menyadari dan memulainya dari sekarang. Berbuat baik, baik bukan menurut pribadi, ya. Kalau kepepet hal buruk malah kau anggap baik. Baik itu ketika tak ada permasalahan, tidak merusak tatanan kehidupan. Ibarat jaring laba-laba raksasa, kau tidak memutus atau menyederainya hingga tipis. Karena itu bisa membuat jaring itu lemah. Ada anekdot Madura yang mengatakan, “iya yang berbuat dosa kau, yang zina kau, dan yang akan masuk ke neraka sendiri kau, tapi kalau Tuhan memberi azab, dibuat tsunami atau gempa, bukan hanya kau yang mati, Cuk!”[]
Labels: 2018, Renungan

Terima Kasih telah membaca Sepanjang Jalan Pendosa. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Sepanjang Jalan Pendosa"

Back To Top