Bersetan dengan Konsep


Sebagian besar pengguna android, iphone dan sejenisnya adalah orang yang mencari hiburan. Keyakinan tentang sebagian besar itu bertambah, ketika aku mendapati teman sekitar menggunakannya untuk bermain game, menonton film, berkirim pesan lewat media sosial, untuk merekam dan berfoto. Jelasnya, menggunakan benda itu untuk internetan pun adalah bagian dari kesenangan. Sedikit sekali kudapati seseorang menggunakan media sosial untuk belajar, termasuk aku di dalamnya. Ini bukan sakit moral, memang begitulah manusia yang hidup di generasi melineal. Ada yang berargumen, generasi sekarang kurang solidaritas, kebudayaan dan keilmuannya, ditambah kadang disebut generasi micin. Ya, suatu masa memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, mungkin ada yang berargumen demikian pula.

Generasi sekarang ini tidak seperti yang kebanyakan orang pikirkan. Pikiran terdalamku mengatakan, semua orang ingin merasakan kebebasan dan kebahagiaan. Sayangnnya, kadang memilih bodoh asal bahagia dibanding pintar sengsara. Menjadi bodoh tak apa, tapi kalau menjadi super duper bodoh? Sekali lagi ini bukan ceramah atau menasihati, aku hanya berargumen sesuai sesuatu yang kupikirkan. “Hei, memang kau seorang ilmuwan sampai-sampai mengemukakan pemikiran?” Beh, Bro. Tidak hanya seorang ilmuwan yang bisa mengungkapkan pengetahuannya, dan tidak pula ungkapan merekalah yang paling benar. Itu otak juga sama kapasitasnya, sama asupannya, hanya ilmu yang didapat saja mungkin yang berbeda. Jadi aku kadang jengkel kalau mendapati teman sekitar yang kalau bicara sedikit-sedikit mengutip kalimat orang lain, hanya karena orang lain itu ilmuwan atau tokoh terkenal. Hei, memang tidak punya pikiran sendiri apa hingga untuk mengemukakan sesuatu harus mengutip pengetahuan orang lain? Untuk apa kepala berisi otak yang ada? Jangan-jangan, itulah cikal-bakal generasi control A control C control V. Generasi yang tidak percaya pada pemikirannya sendiri.

Ayolah, dunia ini tidak hanya tentang orang yang terkenal. Dunia ini tidak hanya tentang Jokowi dan Prabowo. Ada banyak sekali hal penting yang perlu kita toleh. Dan juga, kehidupan bukan hanya yang ada di media sosial. Yang tak terjamah teknologi masih banyak di negeri ini. Kok aku jadi jengkel, ya, kalau memikirkan kesalahpahaman-kesalahpahaman teman-teman kita sekarang? Hanya karena mengaplud foto lalu menandai atau memberi hastag si A, si A malah berpikir pengaplud menaruh rasa. Atau kalau yang berburuk sangka, itu dianggap mencari musuh.

Aku tahu, kita semua mencari kebahagiaan. Nah masalah kebahagiaan ini tidak bisa diciptakan begitu saja, harus berdarah-darah untuk mendapatkannya. Aku berkata demikian karena pernah terbesit argument seperti ini. “Jangan-jangan, semua manusia untuk masuk ke surga harus melalui neraka terlebih dahulu, tak terkecuali. Jangan-jangan, di neraka itu tidak hanya berisi api, tapi juga es yang aman dingin serta beberapa hal yang tidak manusia sukai.” Bukankah memang begitu? Manusia akan menganggap hal yang tidak menyenangkan bagi dirinya adalah kesengsaraan, neraka. Bisa jadi, orang yang senang dan bahagia menyiksa dirinya dengan menusuk-nusuk tubuh hingga berdarah-darah, nantinya akan mendapat siksaan perawatan seperti di rumah sakit. Aku malah teringat Friezer di film kartun Dragon Ball. Si Freizer itu tidak suka sekali melihat orang lain bahagia, hingga saat masuk ke neraka, yang ada adalah taman dengan hamparan bunga beserta orang dan binatang-binatang yang bahagia. Si Friezer menjerit-jerit, tersiksa melihat keindahan itu. Beh, pikirku, neraka kok seperti surga, tapi kok sengsara? Baiklah, itu hanya film, ditambah kartun lagi. Tapi lihatlah sekitar, mungkin ada orang yang sengsara ketika melihat tetangga sebelah bahagia.

PR kau hei pembaca adalah, apa sebenarnya kebahagiaan itu? Ya kalau tidak mau ada kata sebenarnya, apa sesalahnya kebahagiaan itu? Bagi teman sebelah, kebahagiaan adalah ketika menulis status dan mengaplud foto mendapat banyak suka dan komentar. Benarkah?[]

Labels: 2018, Renungan

Terima Kasih telah membaca Bersetan dengan Konsep. Kalau kalian suka, bagikan...!

3 Comment for "Bersetan dengan Konsep"

Jangankan berbahagia karena mengupload foto dan banyak dapet like dan share.. Bahkan bisa Berbahagia mengetik tombol2 dikeyboard untuk jadi sebuah status. Hahaha....
Buat saya,Konsep berbahagia sekarang cuma seputar bagaimana diri sendiri ,tdak berpikir bagaimana oranglain. Seperti akang, yg mencoba membahagiakan pembaca dengan keringanan konstruk tulisan yg dibuat. Good!!

Menjadi bijak dengan mempertimbangkan tingkah berikutnya.

Ya, begitulah. Semoga bermanfaat.
Dan terima kasih telah berkomentar, karena itu menandakan tulisan ini ada pembaca, tidak menjadi sampah yang terbuang begitu saja di media online. Kok saya jadi senang saat ada yang berkomentar di tulisan saya, ya? Mungkin kesenangan ada saat kita dianggap ada.

Back To Top