Kebijaksanaan dan Polusi Nalar




Aku tahu, kebanyakan manusia tidak suka dinasihati. Dari ketahuan itulah aku berhenti menulis hal-hal yang berbau ceramah. Menulis tetap, tapi lebih pada curahan hati, cerita dan renungan. Toh, sekarang kebanyakan orang suka menyimak gunjingan, mendengarkan curhatan yang seharusnya keluarga atau paling tidak diri sendiri yang tahu, tapi malah diumbar. Lalu terbesit di batok kepala, kok kebencian di mana-mana. Mungkin karena terlalu banyaknya berita sampah yang menebar kekotoran di otak-otak penasaran. Ditambah kerendahan hati, ingin bijaksana dan berbagi, orang-orang mengekspresikan dirinya sesuka hati. Kalau perlu, membuat berita tentang dirinya sendiri, film tentang dirinya sendiri. Pun, membuat kisah perihal dirinya pula.

Mau jadi atau ingin apa saja, manusia kok semakin mudah, pikirku. Kalau ingin terkenal, tinggal konsisten memampang wajah di youtube atau media sosial, lalu menarik para pengikut. Tapi beda halnya dengan orang yang ingin terkenal namun menampilkan ketololan dan kebodohannya, mereka menjadi terkenal tapi dengan makian. Mungkin karena tidak tahu bedanya antara lucu dan konyol.

Bisa dikata, tidak hanya orang gila saja yang memiliki dunianya sendiri, semua orang yang mengenal internet di abad ini juga mencipta dunianya sendiri pula. Ya, ini sekadar informasi, bukan ceramah. Jadi santai saja. Kalau merasa tersinggung, tinggal tutup tulisan ini pindah ke hal lain. Namun aku akan menyampaikan fakta menarik tentang kehidupan kita saat ini.

Pertama, manusia sekarang tidak memiliki sekat mengungkapkan keberadaannya. Contoh, tidak usah diberi contoh, kalian pasti tahu sendiri. Itu, teman sebelah yang ke mana-mana selalu mengunggah tempat di mana dia berpijak. “Hai, sekarang aku sedang di puncak,” “ada makanan asyik, nih”, seraya memotret makanan, dan seterusnya. Ya, anggaplah mereka menjadi jurnalis sekaligus fotografer untuk dirinya sendiri. Sayangnya tidak merangkap kurator, ya. Sebut saja menjadi artis di kepalanya sendiri, tak peduli orang jengkel atau risih dengan sesuatu yang dilakukannya.

Kedua, kebanyakan ingin bijaksana, menulis status yang tampak penuh makna, tapi keseluruhan hasil jiplak duplikat. Ada pula yang mencoba menjadi penengah debat kolom komentar status kontroversi di media sosial, namun berujung masuk penjara. Kebijaksanaan yang diumbar. Tak tahu bahwa pikiran yang ada di kepalanya sudah terkena polusi nalar. Sebut saja, bijak tapi berakhir menyesatkan. Contoh, tak jarang ada yang membolehkan ini itu, dengan dasar “tergantung niat dan orangnya”. “Tak apa menggunakan ganja, kalau niatnya kebaikan. Tak apa menggunakan narkoba, tidak akan kecanduan, kecanduan atau tidak tergantung orangnya.” Dan banyak lagi pernyataan yang kurang lebih seperti itu.

Terakhir, kita (walau sebetulnya aku tak ikut di dalamnya) menjadi manusia yang ingin membagi. Langsung contoh. Di media sosial, seringkali kudapati teman membagi foto, video, atau tulisan-tulisan yang berisi hal-hal sedih, bahagia, dan sebagainya. Kalau kuteliti kembali, memang sedih, tapi ada sesat pikir di situ. Memang senang, tapi ada kepentingan partai di situ. O ternyata, orang yang sedikit-sedikit murah hati membagi adalah mereka-mereka yang memang ingin membagi sesuatu yang dirasakannya tanpa tahu bahwa video yang disebar sudah dipotong sana sini, foto yang terpampang hasil editan dari tahun entah-berantah. Merasa senang, orang itu ingin membagi kesenangannya dengan semua orang. Merasa marah dan murka setelah melihat video kontra, orang itu membagi kemarahannya. Sebetulnya, dari sanalah cikal-bakal berita palsu, video dan foto palsu tersebar, lewat orang yang mudah berbagi. Baik berujung buruk.

Baiknya, kita menjadi orang yang berpengertian saja. Tak harus pintar. Kalau mengerti situasi, mengerti jati diri, mengerti sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasa, itu sudah cukup. Bahkan lebih daripada orang yang mau bijaksana dan terkenal.[]
Labels: 2018, Kebudayaan, Renungan

Terima Kasih telah membaca Kebijaksanaan dan Polusi Nalar. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Kebijaksanaan dan Polusi Nalar"

Back To Top