Teror Terorganisir | Logika Terbalik Pemain Sulap

Kejadian yang dibuat-buat seakan alamiah sedang berlangsung di negeri ini. Skenarionya ada yang memang benar dari orang beragama yang sedikit-sedikit menyalahkan ini itu, tapi selalu ada yang memfasilitasi kebutuhan mereka. Settingan dari setiap kerusuhan, dibuat oleh orang yang jago organisasi. Intinya, menyatukan beberapa kepala yang bimbang untuk diarahkannya pada tujuan yang jelas. Tak peduli tidak masuk akal, selama jaminannya menggiurkan, orang yang sudah diburu para ahli organisasi ini tidak bisa menghindar.

Ahli organisasi apa yang saya maksud? Tentu sebagian besar orang tahu, bahwa organisasi selalu didasari politik. Tak peduli organisasi apa pun. Sayangnya, orang yang merasa dirinya paling benar, lalu ahli organisasi, terorlah yang akan diciptakannya. Sayangnya lagi, kalau yang merasa paling benar itu sedang duduk di kursi amanah para rakyat. Ketika ketidakpercayaan dinisbatkan pada yang diberi amanah itu berlangsung, maka tak segan-segan drama paling mutakhir, yang seakan natural, akan diluncurkan agar masyarakat percaya lagi. Cederanya akan terobati dengan melukai.

Lalu akan ada orang yang bertanya, "bukankah teror itu diciptakan agar ada kekacauan?" Ya memang, tapi saya akan menjawab, "teror itu terorganisir, seperti robot yang memiliki remot kontrol. Robotnya jatuh ke jurang, yang memegang remot kontrol belum tentu ikut jatuh ke jurang. Ya kalau robotnya sendiri yang memegang remot kontrol, entahlah." Simpelnya, saya hanya ingin menyinggung mereka-mereka yang menyatakan, "bunuh teroris! Hukum mati! Jangan beri ampun terorisme di negeri ini! Kami tidak takut teroris!" Wah bodong. Wong terorisnya lebih banyak mati duluan, terorisnya tak mengampuni dirinya sendiri, dan anehnya, yang berkata tidak takut teroris gemetaran saat mendengar berita akan banyak titik di belahan kota negeri ini yang dituju teroris untuk meledakkan bom atau melakukan aksinya. Lah, tidak takut teroris bagaimana? Semakin berkata tidak takut, para pemegang remot kontrol teror akan semakin tertawa lebar. Karena hanya orang takutlah yang menyatakan dirinya tidak takut. Sedang orang yang tidak takut akan mengakui ketakutannya. Baiknya, saya dan kita semua jujur pada diri sendiri, bahwa luka di jentik jari sering dirasa meringis, apalagi luka di ulu hati atas ketakutan yang tak diakui.

Kembali ada orang yang sok bijak menyatakan, "jika menemukan foto, video, atau hal yang berkenaan dengan tindakan teroris, maka jangan disebar, karena itu akan membuat pelaku teror senang." Cuih, dalang teror itu melakukan sesuatu yang tidak orang biasa pikirkan. Kalau masih bisa diprediksi, bukan otak teror namanya. Otak teror selalu berpikir terbalik. Tepatnya, otak orang yang cerdas, cerdasnya kelewatan, mungkin. Seperti pemain sulap.

Sekarang kita dihadapi dengan hidangan fakta sosial, semua orang sedang sakit. Dan anehnya, obat yang diminum adalah menyakiti. Naik darah minum darah. Drakula! Sadarlah, bahwa dalang teror juga merasa ketakutan atas terornya, yang tidak merasa takut adalah orang yang melakukan aksi teror, mati demi janji-janji, seakan dengan melakukan A pelaku aksi teror menemukan jati dirinya. Terakhir, jadilah orang berpikir tapi tidak berpikir pasaran. Kalau Einstein pernah memikirkannya, jangan pula ditiru itu pikiran Einstein. Saya menulis seperti ini karena saya pernah memikirkannya.[]
Labels: 2018, Kebenaran, Tentang Negeri

Terima Kasih telah membaca Teror Terorganisir | Logika Terbalik Pemain Sulap. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Teror Terorganisir | Logika Terbalik Pemain Sulap"

Back To Top