Media Sosial dengan Segala Abnormalnya


Kehidupan seseorang hampir dikatakan ada kala dia memiliki media sosial, entah itu Facebook, Twiter, Instagram, Whatsapp dan lainnya. Definisi filsafat tentang adanya manusia seperti tak berlaku lagi. Kalau dulu banyak yang sedikit-sedikit saat bercengkrama dengan temannya berkata, "aku berpikir maka aku ada", atau kalimat, "aku makan maka aku ada", sekarang tak lagi dibutuhkan kalimat semacam itu. Tanya ke teman sebelah, apakah si Mad masih ada atau tidak, lihat media sosialnya. Kalau si Mad memosting sesuatu, maka dia ada. Barangkali pikiran seperti itulah yang membuat saya harus menuliskan hal remeh-temeh ini.

Untuk seorang yang sedang dilanda asmara, kalau ingin tahu si doi sedang melakukan apa dan apa, mudah saja, tinggal lihat status WA, FB atau Instagramnya. Dia marah atau bahagia, lebih cenderung melampiaskannya ke akun yang dia punya. Kalau dulu, mah, untuk mengetahui keadaan orang yang disukai harus sembunyi-sembunyi mengintip di belakang rumahnya, atau kalau tidak mengamatinya dari kejauhan dengan segala konsekuensi tertangkap basah. Tapi sekarang tak ada lagi alasan tidak tahu kabar si doi. Dan parahnya, kau akan kualahan mendapati curhatannya yang abstrak. Seperti, kalau kau ingin tahu dia marah atau tidak, kau bisa memantaunya lewat media sosial yang dia miliki. Mudah sekali. Tapi kau akan lebih mudah cemburu kala melihat dia memosting foto berdua dengan orang lain.

Era media sosial yang tak bisa dibendung ketika kita menginginkan sesuatu ini, cukup bagus untuk mempermudah diri. Namun yang menjadi permasalahan, sedikit-sedikit curhat. Semua orang seakan menjadi jurnalis sekaligus fotografer untuk dirinya sendiri. Bahkan bisa dibilang, berlomba-lomba untuk mendapatkan berita terbaru. Andai yang dibagi sesuatu yang bisa memberi manfaat, mungkin bisa dimaklum. Lah, bagaimana bermanfaat, wong kadang memosting foto diri dengan menutupi wajahnya dengan icon berwarna kuning bundar? Seperti itu, apa maksudnya, coba? Kejadian lain, kau akan dapati, kadang, orang jauh lebih dulu tahu tentang suatu permasalahan dibanding kita yang dekat-dekat.

Era sekarang bisa dibilang era sakit jiwa. Mendapat cacian online, yang orangnya saja tidak terlihat, merasa sakit. Teman mati difoto, lalu diunggah sebagai status WA, FB, Instagram, dengan memberi tulisan, "semoga kau tenang di alam sana, Kawan!" Ada pula yang sedang sakit parah, dirawat inap di rumah sakit, saat ada temannya menjenguk, minta difoto, lalu diunggah ke media sosialnya dengan memeri kalimat, "sembuhkan hamba ya Tuhan..." berdoa di media sosial. Entah Tuhannya memiliki akun yang mana, cukup abstrak. Barangkali orang seperti itu akan sembuh kala ada yang memberi komentar, "semoga cepat sembuh..." dan sebagainya.

Terakhir, sebagai orang yang mencoba mengingatkan diri sendiri, mengunggah status, baik itu foto, tulisan, video atau hal apa pun, pertimbangkan fungsi yang kau dapat. Ya, kalau hanya untuk kebahagiaan mah, main game Garena Free Fire saja sudah cukup bahagia. Atau yang suka game menyenangkan lainnya, pilih dan mainkan, barangkali itu lebih bermanfaat untuk melatih otak, daripada memosting yang entah-entah.[]
Labels: 2018, Renungan

Terima Kasih telah membaca Media Sosial dengan Segala Abnormalnya. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Media Sosial dengan Segala Abnormalnya"

Back To Top