Si Bodoh Cerpen: Ali Mukoddas



Ini kisahku sendiri. Kalau kalian masih tidak merasa tersentuh, aku tidak tahu di manakah letak kepantasan untuk terus menulis. Ketahuilah, bahwa aku masih muda. Sebagaimana pemuda, pasti memiliki rasa cinta pada seseorang. Itulah yang terjadi padaku. Tapi dalam kisah ini jangan sebut rasa itu sebagai cinta, sebut saja si Bodoh. Ya, si Bodoh itu datang teramat dini, bahkan saat aku tidak tahu bagaimana cara membuang ingus. Namun tahun yang berlalu membuktikan bahwa si Bodoh itu tidak main-main. Ia terus datang seperti kibasan pedang. Si Bodoh membuat rusak suasana hati. Semua itu terjadi karena satu hal, yang sebenarnya adalah kepastian Tuhan. Si Bodoh datang hanya karena aku seorang laki-laki dan dia adalah perempuan.

Sungguh tidak mengapa si Bodoh itu melekat hingga akhir hayat. Tidak masalah walau jarak yang akan ada begitu panjang. Tapi di antara si Bodoh itu ada rindu. Nah, yang satu ini yang membuat malam terasa panjang, hari terasa memuakkan, dan jadilah semuanya membosankan. Si bodoh sungguh tidak memandang siapa dan bagaimana orang itu untuk memilih tempat tinggal. Dan seperti inilah kisah si Bodoh itu tinggal.

Pertama, si Bodoh memang kepastian Tuhan pada setiap manusia. Meletakkannya untuk dijaga kemudian dipelihara. Si Bodoh memiliki banyak keinginan, yang keinginan itu bermacam-macam jenisnya. Tidak bertemu beberapa hari dengan rumah lain yang diharapkan si Bodoh, itu bisa dianggap maklum. Tidak bertemu beberapa bulan, mulai bermasalah, timbullah penyakit sana-sini. Tidak bertemu bertahun-tahun, si Bodoh memilih jauh, memilih mengubur diri dengan beban. Apa yang terjadi antara rumah Bodoh? Begini, aku seorang petani dengan ambisi yang tak pasti, tidak memiliki cita-cita dan lebih banyak rasa bersalah atas kehidupan. Sedang rumah lain yang diharapkan si Bodoh adalah putri dari seorang kiai, hidup mapan dengan garis keturunan yang terjaga, semua saudaranya sama alim dan pintar dalam ilmu agama, tidak ada pemuda tolol yang berani masuk ke area tempatnya berada. Karena aku bagian dari kategori itu, rasanya diri ini tidak usah menjelaskan kelanjutannya.
Perjalan si Bodoh begitu gamang. Bagaimana tidak? Aku merasa si Bodoh itu ada, tapi tidak tahu apakah keberadaan si Bodoh dianggap olehnya, lebih tepatnya apakah dia juga disinggahi si Bodoh itu? Urusan ini sederhana, tapi karena berurusan dengan si Bodoh jadinya terasa rumit. Dasar si Bodoh!

Kedua, si Bodoh mulai berkuasa atas pikiran ini. Kedatangannya membawa tenaga pada titik terendah. Kedatangannya pula membuat harapan yang bukan-bukan, terbuai, melayang, lalu jatuh begitu saja. Lenyap karena si Sadar membangunkanku.
“Bangun, Savier. Dia belum tentu memikirkanmu, bisa jadi dia menjadi istri orang. Bukankah kau tidak tahu, dan tidak pernah tahu kabarnya bagaimana?”

Kedatangan Sadar sungguh mengganggu si Bodoh. Eh, karena si Bodoh itu, aku sering merasa munafik, merasa sok atas banyak hal. Karena si Bodoh, sungguh. Aku pernah merasa takut Bodoh menguasai watak atas si Sadar. Kalian tahu apa kelanjutannya kalau hal itu terjadi. Ya, adalah kegilaan. Kalian teramat pandai sebagai pengamat.

Ketiga, kejadiannya berlangsung lebih pada yang nyata, tidak seabstrak seperti yang pertama dan kedua. Abad dua puluh satu, keberadaan teknologi meningkat pesat, ungkapan si Bodoh mudah dihambur-hamburkan, dan menjadi hiburan bagi yang terbuai—tapi tidak denganku, itu hanya ungkapan pada orang lain. Si Bodoh dipentaskan sinetron-sinetron rumahan, dibicarakan dalam forum publik yang ditonton banyak orang. Si Bodoh pula menjadi bahan inspirasi sebuah penemuan, baik itu berupa makanan, bahan pakaian dan barang terapan. Mengapa aku harus menyebutkan semua itu? Ya, karena semua itu akan berlanjut seperti ini. Abad sekarang, media sosial beribu-ribu jenisnya, dan aku memilih satu untuk bahan pelarian. Kalian mengenalnya dengan nama facebook, dalam hal ini sebut saja Dajal, karena ia berkuasa di dunianya sendiri. Dengan Dajal, aku menulis beberapa hal setiap kali ada rasa janggal, dan lebih kerap-kali kalau si Bodoh datang menyeringai seperti anak kecil. Penggemar Dajal yang berteman denganku mungkin beranggapan aku sok bijak, sok tahu arti kehidupan, dan banyak ke-sok-an lainnya. Sekarag aku ungkapkan, itu mungkin terjadi atas kehendak si Bodoh. Kalian ingin tahu apa yang kutulis di sana? Biar kukutip yang terbaik. Isinya seperti ini, “Pebodoh sejati tidak akan pernah mengumbar kebodohannya pada orang lain, ia akan menyimpannya sebagai rahasia diri. Ketahuilah, bahwa saat kita melepas sesuatu, merelakannya dengan lapang dada, kepastian akan datang sebagai gantinya”. Begitulah. Namun ada tulisan lain yang lebih filosofis. “Kehidupan ini hanya memiliki tiga momen yang paling berharga, saat kita lahir, saat menikah, dan saat kita mati. Beruntunglah orang yang memiliki banyak momen berharga dalam hidupnya.” Dan untuk ini aku tidak tahu apakah akan memiliki ketiga momen itu.

Tanpa sadar, semua itu tertulis karena ketidakmampuanku dalam menggapainya, jadinya hanya tergapai dalam bentuk tulisan. Di dunia Dajal, aku bisa merasakan keramaian—walau sangat tidak suka keramaian dalam artian tertentu. Orang tanpa teman bisa merasakan suasana berteman di dunia Dajal. Sepi jadi ramai, walau kadang hal itu menjauhkan yang dekat. Kalian pernah melihat teman atau diri kalian sendiri seperti itu, jadi tidak usah kuceritakan. Aku egois? Terserah kalian, ini kisahku. Sudah kusebutkan di awal. Mengenai si Dia yang membuat si Bodoh datang, aku tidak pernah berani menulis namanya, atau sekadar memaparkan seperti apa parasnya. Tidak bisa, karena aku hanya mengingat keseluruhan dari raganya. Itulah yang membuat Bodoh memberontak memercikkan api rindu—dalam artian yang sebenarnya.

Tahun 2013 sampai 2015, keberadaan si Bodoh membuatku semangat mengarang banyak kisah, walau tidak bagus-bagus amat. Tahun itu pula, aku lebih banyak berandai dibanding menatap masa yang akan datang. Awal tahun ini, aku mulai merubah pandangan, sudah saatnya melepas si Bodoh dengan hasrat lain. Sudah saatnya memperbaiki pijakan dan hal yang penting bagi orang lain. Aku berusaha menghapus keberadaan si Bodoh, berpura-pura tidak apa-apa dengan tindakan dewasa. Tapi ternyata salah, itu tidak benar sebagai diriku yang dulu, jadilah tetap menerima keberadaan si Bodoh, membiarkannya berkuasa atas hati.

Keempat. Aku tidak tahu pasti apakah yang ketiga masih belum jelas, untuk dianggap sebuah kisah. Adalah sebuah kesempatan yang diharapkan si Bodoh. Tahulah kalau kesempatan itu membutuhkan waktu, tapi si Bodoh rasanya tidak membutuhkan makhluk yang satu itu. Waktu lama kalau bertemu dengan yang diharapkan si Bodoh, itu barang berlalu seperti satu detik. Sebaliknya, kadang waktu yang teramat singkat bisa menjadi seperti setahun bagi si Bodoh. Bagi seorang psikologi, si Bodoh tak memiliki definisi. Bagi ahlinya pun si Bodoh dianggap hewan buas yang sulit dijinakkan.

Para penyair yang ahli dalam meramu kata tentang si Bodoh akan melambung kedudukannya. Dalam ilmu sihir, kekuatan si Bodoh yang besar akan membuat penyihir itu tak tertandingi. Seseorang yang lemah menganggap si Bodoh segala-galanya, tidak dengan orang yang kuat, mereka menganggap si Bodoh hanyalah kesenangan yang bisa didapat barang semalam. Namun yang terjadi, para penyanyi dan aktris luar negeri memerankan tentang si Bodoh yang melekat pada orang kuatlah yang akan membuatnya tambah kuat. Ini lebih membingungkan.
Si Bodoh yang ada dalam diri ini malah memiliki dua sikap yang kadang datang berganti-ganti. Seperti telah bersepakat.
“He, kau. Nanti menggantikanku. Aku telah lelah satu minggu berjaga, perlu berobat, kau gantikan aku sementara. Nanti juga akan kembali.” Si Bodoh yang lain berkata demikian.
Bodoh sisi lainnya lagi mejawab, “Oke, tenang. Dia akan aman bersamaku. Kau berikan waktu setahun pun aku sanggup menjaganya.” Dan yang terjadi adalah, tidak kuat bertahan barang satu hari.

Kelima—biarlah terkesan seperti halaman buku. Ini bisa jadi kisah terakhir perjalan si Bodoh memilih rumah bertahun-tahun dalam diriku. Kemarin, tanggal enam juli adalah hari kemenangan umat islam. Demikian mereka menamai hari itu. Karena sebagaimana namanya, di hari itu aku tidak ingin kalah, dalam hal apa pun. Seorang teman mengirimiku pesan ucapan maaf. Itu tidak penting, karena sudah menjadi kewajiban setiap tahun seperti itu. Lagipula minta maaf soal apa?

Karena pemikiran abnormal seperti itu, yang menganggap bermaaf-maafan tidak penting, jadilah hari yang seharusnya dihabiskan dengan keliling rumah tetangga menjadi urung, lebih memilih mengurung diri dalam kamar. Untuk apa keluar rumah kalau untuk bertemu dengan si Dia saja tidak bisa. Untuk apa bertamah-tamah dengan orang lain kalau bertamah dengan si Bodoh saja seperti bubur basi. Memang tidak ada gunanya mengeluarkan terowongan rayap di batang leher, wajah itu tidak akan berani menampakkan dirinya tanpa topeng.
Terakhir, sekarang, delapan juli 2016. Kebenaran telah mutlak. Selesai hari berkabung di tempat sakral orang islam, sebuah suara berbisik bahwa si Dia telah dipinang orang. Tiba-tiba suasana berubah, cerah tapi gelap, panas tapi dingin. Mata berkaca-kaca. Hei, ternyata si Bodoh tidak menyerah, ia tetap bertahan di rumah ini.

“Tidak masalah walaupun dia sudah menikah, apalagi hanya sekadar bertunangan, sungguh tidak masalah. Aku akan terus berada dalam rumah ini. Kau belum berakhir, malah kau akan menjadi kuat dengan menerima kekalahan itu, melepasnya sebagai milik orang lain. Bukankah kau hanya boneka Tuhan, begitupun dengannya. Terserah Tuhan membuat kehidupanmu dan kehidupannya seperti apa. Tapi sungguh kalau kau menyalahkan sesuatu, dirimulah yang paling salah. Dengar, dirimulah yang paling salah. Kau lemah, perlu kekuatan. Dengan keberadaanku, kau akan selalu kubina, kau akan mempercayaiku sebagai si Bodoh yang tak kenal lelah. Hiduplah sekuat aku. Tatap harimu, Savier. Selama mentari bercahaya, selama rembulan bersinar, aku tetap selalu mendukungmu dalam hidup, bahkan sampai bumi ini berakhir.”

Dalam ketenangan si Bodoh menasihatiku. Ya, Bodoh. Aku percaya kekuatanmu. Temani aku selalu. Jangan biarkan aku lemah dalam artian yang sebenarnya. Aku juga akan berjanji untuk memberimu rumah terbaik. Ingat, jangan memaksaku memilih rumah lain. Si Bodoh memang baik sekali, memang itu sifatnya mungkin.

Karena ini kisah terakhir, aku akan memberikan rahasia kecil mengenai kehidupanku. Hampir dua kali aku mati, saat berusia lima tahunan, itu terjadi saat aku akan mengenalnya. Saat berusia enam belas, waktu itu kedekatan dengannya begitu hangat. Dan sekarang, saat usiaku Sembilan belas tahun, aku juga hampir mati, saat aku benar-benar akan jauh darinya, selamanya. Bisa dikatakan bahwa aku telah memiliki tiga momen terpenting, selain lahir dan apa pun itu. Paling terakhir, mungkin aku akan benar-benar mati saat si Bodoh menghianatiku.[]


Labels: 2018, Cerpen, Fiksi

Terima Kasih telah membaca Si Bodoh Cerpen: Ali Mukoddas . Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for " Si Bodoh Cerpen: Ali Mukoddas "

Back To Top