Cara Menjadi Kuat Luar Dalam

Manusia cenderung menjauhi hal-hal yang menyakiti dirinya. Walau ada sebagian yang kadang senang dengan sakit itu sendiri. Yang senang menyakiti diri itu adalah orang yang dalam hidupnya sudah terbiasa disakiti. Hingga, barangkali, tak ada lagi sakit yang berarti. Bahkan kadang, rasa sakit itu sendiri menjadi candu. Nah, sudah berapa kata sakit yang saya tulis dalam satu paragraf ini?

Rasa sakit yang dirasa badan tidak seberapa, kalau dibandingkan dengan rasa sakit yang disebabkan pikiran dan lukanya perasaan. Untuk lukanya perasaan, saya sebetulnya tak dapat membayangkan, bagaimana ceritanya rasa bisa terluka, padahal tak punya raga. Karena rasa adalah hal yang abstrak, kalau mau mencari riilnya tinggal rasakan sendiri.

Kemudian saya meneliti diri sendiri, bahwa sakit yang sudah terlanjur mencambuk perasaan itu tak bisa dibawa lari atau dilupakan begitu saja. Dia akan terus melekat. Tersimpan dalam ingatan. Cara terbaik, mungkin, dengan menghapus ingatan tentang sakit itu. Tapi rasanya percuma memaksa diri untuk melupakan tentang sakit itu, sebab bukan lupa yang datang, tapi malah ingatan sakit itu semakin menguat. Rupanya, cara terbaik adalah membiarkan sakit itu leluasa menguasai diri. Pasrah. Kalau kepala tiba-tiba berdenging dan perut terasa sakit karena mengingatnya, biarkan saja. Biarkan sampai diri terbiasa.

Berkenaan keterbiasaan ini, karena bahasannya masih tentang rasa yang tersakiti, saya mengambil contoh lelaki pemain. Kebanyakan orang menyebutnya dengan bahasa asing, Playboy. Nah, lelaki pemain ini seakan tak punya hati dia. Sebab di sana-sini seringkali meletakkan hati pada perempuan, lalu meninggalkannya begitu saja. Saya rasa, lelaki berjenis pemain ini sudah tangguh perasaannya. Bisajadi, dia menjadi demikian karena luka rasanya terlalu sering. Kemudian dia terbiasa dan menjadi candu. Secara tidak langsung, lelaki pemain telah mengajarkan perempuan yang ditinggalkannya begitu saja agar setegar dirinya. Jadi jangan salahkan, ketika ada istilah perempuan pemain pula.

Yang bahaya dari perempuan pemain adalah pesonanya. Ketika candunya memuncak, dia akan menerkam lelaki macam apa pun. Biasanya, buruan yang paling disenangi adalah jomblo yang tidak pernah merasakan bagaimana asyiknya berpacaran. Itu menjadi daya tarik sendiri bagi perempuan pemain. Apakah asumsi saya tentang hal itu salah? Oh tidak, saya sudah merasakannya sendiri.

Meletakkan perasaan ke sembarang tempat adalah bagian dari permainan. Perasaan mana yang paling kuat, itu menjadi tantangan tersendiri. Pada akhirnya, perasaan yang tersakiti berusaha mencari seseorang yang tidak berpengalaman dalam permainan rasa, dengan demikian akan ada rasa aman dalam diri, dan berusaha menjadikan hal itu sebagai obat. Obat rasa yang kacau adalah rasa itu sendiri.

Lelu tentang raga yang sudah terbiasa menerima sakit. Biasanya, yang masuk ke kategori ini, dalam hidupnya dipenuhi dengan tantangan-tantangan dan rasa kurang puas yang tak berkesudahan. Sering jatuh dari atas becak, tidak lantas seseorang akan jera, malah akan memacu adrenalin untuk mencobanya lagi agar tidak jatuh. Bisa dikata, orang yang raganya sering tersakiti lebih dekat pada kematian. Walau, sebetulnya rasa tersakiti tak jauh beda sih dengan raga yang tersakiti. Sebab kalau sudah mencapai ambang batas, banyak yang bunuh diri pula. Bedanya, yang raganya selalu tersakiti ini lebih pasrah menerima kekejaman pada tubuh yang lebih brutal lagi. Sedikit sekali yang akan bunuh diri hanya karena raganya tersakiti.

Pada akhirnya, rasa sakit itu nikmat, mau dipandang dari sudut mana pun. Nikmat kalau bisa melewati dan menerimanya dengan lapang.[]
Labels: 2018, Kebenaran, Renungan

Terima Kasih telah membaca Cara Menjadi Kuat Luar Dalam. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Cara Menjadi Kuat Luar Dalam"

Back To Top