Celana Gantung


Aku bukan siapa-siapa baginya, tapi aku akan selalu ada sebagai orang pertama yang ia butuhkan, walaupun tidak ada dalam daftar orang yang dibutuhkannya aku akan melakukan hal itu. Sebagai seorang pecinta yang tak tahu harus bagaimana, aku bukan apa-apa. Sekali lagi bukan apa-apa.

Taman terlihat berbeda bagiku kali ini, ada sesuatu yang kurang, seseorang? Ya, seseorang, yang tak pernah lenyap dari jejaring otak, wajah seperti purnama, mata rubi, bibir merekah seperti mawar. Ah, senyum yang selalu manis itu membuatku terhenyak, selalu kelu mendapatinya seperti itu, walau sekadar bayangan, sungguh aku tak mampu mengungkapkannya.

Semua memang berawal karena ketidaksengajaan. Setahun lalu, di pantai yang mungkin kalian tahu pantai apa itu. Pantai dengan segala pasir putih yang mengkilat seperti serpihan kaca. Saat itu aku berkunjung sebagai pariwisata. Pariwisata yang membawa keuntungan, lebih tepatnya menumbuhkan benih salah itu. Cinta? Ya, cinta. Mata ini tak sengaja melihatnya sedang bersendagurau, terlihat asyik dengan keluarga yang ia miliki. Aku sebagai orang yang tidak begitu pemalu mendekatinya, berkenalan dengan tangan basah karena gugup, gugup yang dipaksakan. Terserah kalian menganggapku seorang pemberani atau tidak, tapi itulah sebuah rasa yang mengantarkan pada kepercayadirian. Hari itu benar-benar menjadi awal perkenalanku yang berlanjut pada hubungan serius. Awalnya seminggu bertemu satu kali, selanjutnya tak terhitung berapa kali dalam seminggu kami berjumpa. Selama itu pula tak ada masalah yang datang menguji kami. Aman bagi seorang yang tak begitu kuat pada masalah. Sedikit banyak aku tahu tentangnya, keluarga besarnya, rumah, kesukaan, yang ia benci. Kadang curhatnya yang berlebihan dimanja-manjakan membuatku tunduk, sedikit banyak hanya dapat berkomentar saat ia meminta masukan atas curhatannya.

Ada satu hal yang mungkin perlu kalian ketahui, sebenarnya aku terlalu remaja untuk sebuah hubungan. Sekolah masih belum juga lulus. Dan yang paling mencengangkan adalah, ia satu sekolah denganku. Maklum aku tidak tahu kalau kami satu sekolah, tempat belajar kami luas, kelas tidak hanya satu dua, ramainya minta ampun.

Tak ada satu hal yang lepas dari hukum alam, aku percaya kalimat itu, kalimat yang diucapkannya sewaktu curhat di taman sekolah. Ada benarnya juga, semangatku tumbuh karena ada ia yang membuatku ingin selalu ada di sekolah. Bagaimanapun ia adalah obat yang tak kusadari. Itu kurasakan saat sangat amat suka padanya—sesuatu berlebihan yang membawa dampak tak terharapkan. Beberapa bulan sebelum kelulusan, ia menjadi sosok lain bagiku, penghambat belajar dan pembawa beban pikiran. Wajah sempurna yang selalu memenuhi mata, tulisan di atas kertas berubah menjadi senyumnya. Serba ia.

Bisa dikata aku gila waktu itu. Demi hal yang sebenarnya aku tak tahu itu salah atau tidak, aku memutuskan meninggalkannya, keputusan yang masih gamang. Bagaimana tidak gamang? Adanya ia tak kupedulikan tapi kubiarkan menyapa, memegang tangan dan sebagainya. Apa itu tidak aneh? Terserah kalian mau menganggapku apa, tapi aku bukan apa-apa. Kalian tahu? Setelah sikap gamangku itu, ia mulai merasa resah, mulai banyak bertanya dan sering marah-marah.

“Kau ini seperti robot, Temz. Sejak kapan kau anggap aku orang asing, sejak kapan kau bisu kutanyakan seperti ini? Jawab, Temz. Apa aku pernah berbuat salah, apa begitu saja menjadi masalah keberadaanku di depanmu? Sungguh lebih sakit kau diamkan aku, Temz. Lebih baik aku kau tegur, caci-maki, daripada kau bisukan aku seperti angin yang ada di sekitarmu. Kau tidak tahu perasaanku. Kau sungguh...,” ungkap Nayla, yang pada akhirnya kalimat itu terhenti berganti tangis yang tertahan. Lalu berlari menjauhiku.

Aku terpaku ditinggalkannya begitu, sebenarnya dari awal sudah terpaku. Nayla, nama itu terpaksa kusebutkan dalam kisah ini. Mungkin kalian akan sedikit bingung dengan alur amburadul ini. Tapi tak apalah, sebenarnya aku menulis hal ini karena keamburadulan akal dan rasa. Jadi wajar saja kalau kalian mengerutkan dahi.

Aku terlalu melebih-lebihkan keadaan. Saat ia pergi sakit tak tertahan menelisik jantung, tanpa tahu-menahu membuatku tak dapat bernapas, tenggorokan seperti terikat. Memang seharusnya aku gantung diri karena ketidaksanggupan itu. Tapi itu hal salah, kalian pasti tahu.

Dari hari pemutusan itu, yang sebenarnya putus atau tidak aku tak begitu yakin. Bagaimana dikatan putus hubungan, orang tak ada sepatah kata yang kuucapkan? Aku terlalu takut untuk berterus-terang. Rasa salah selalu datang selepas Nayla mengucapkan kalimat itu. Mengingat diri ini yang memulai, dan harus berakhir seperti itu karenaku.

Dua bulan persiapan ujian kelulusan, seharusnya ada persiapan. Tak ada kesiapan sama sekali bagi orang sepertiku. Masalah semakin pelik, tak mudah melupakan seseorang yang pernah singgah di mata. Walau selepas itu tak pernah lagi mata ini mendapatinya, bayangan itu selalu tampak. Di rumah menjadi wajah pengantar tidur yang memenuhi langit-langit kamar. Di sekolah apalagi, sosoknya seperti bayangan memandangku dari kejauhan. Mungkin kalian menyangka aku gila. Tidak, aku tidak gila, mana mungkin orang gila menuliskan kisah panjang lebar seperti ini untuk kalian?

Apa yang kupikirkan? Tak ada. Semesta alam seperti hancur, menyisakanku di ruang hampa tanpa nyawa. Entah kapan tepatnya, sebuah suara menggema seperti mengulang-ulang satu nama di telinga. Ada yang tertusuk, menikam lebih geram ke saraf-saraf. Aku tak tahu pengungkapan kata yang tepat untuk suasana itu.

Aku sadar sebagai seorang pecundang, pengecut dan mudah mengambil keputusan. Tanpa sadar ada sesuatu yang terlupakan. Sekolahku putus, tak ada yang namanya ujian kelulusan. Beberapa orang berseragam menangkapku, mengatakan aku sebagai tersangka kematian seseorang. Kapan aku menjadi seorang pembunuh? Saat aku lengah mencoba melenyapkan bayangan Nayla? Saat aku gila? Kapan aku pernah gila? Aku waras sekujur tubuh, kalian jangan mudah mengambil kesimpulan.

Keterlupaanku pada satu orang. Nayla. Gadis itu sungguh malang. Aku tak berani menceritakan secara detail tentangnya. Semua karena aku. Sepulang dari sekolah di hari pemutusan itu, Nayla tak lebihnya seorang perempuan lemah. Berhari-hari tak ada senyum lagi di bibirnya. Dunia menjadi musuh baginya. Semua benda ia hancurkan, menggumamkan namaku berkali-kali saat benda yang di bencinya hancur, yang sebenarnya karena wajahku ada di permukaan benda-benda itu. Sangat sedih melihatnya begitu. Wajah terawat menjadi pucat. Bibir yang biasanya mengembang seperti bunga mawar merekah berubah menjadi bunga bangkai. Mata rubinya menjadi sayu, sesayu daun menyisakan urat-uratnya. Tak ada hari tanpa teriakan histeris, beberapa hari dari puncak kesensaraannya, Nayla didapati pergi gantung diri. Aku tak dapat membayangkan semua itu. Ini sekadar gambaran dari orang tua Nayla yang memberi kesaksian di ruang persidangan atas kesalahanku—yang kukisahkan kembali pada kalian, walau tidak sama persis.

Nayla, sungguh malang nasib kita, bukan hanya kau saja yang menderita, aku di sini seperti seonggok daging yang tak bernyawa. Hidupku sama seperti matimu. Sensaraku sama seperti penderitaanmu. Bagaimanapun kita satu. Maafkan aku yang seperti ini. Aku terlalu menomorsatukanmu, meletakkanmu di harapan tertinggi dalam hidup. Aku akan menyusul, kau bisa kembali curhat banyak hal padaku, tentang kejengkelan, kegelisahan dan rasa sakit karena ketidakpedulianku. Nayla, Nayla, bagaimanapun aku tak bisa membenarkan diri ini. Aku yang salah. Kau boleh mengadukan kebersalahanku nanti pada Tuhan. Jangan halangi aku kalau nanti malaikat menjadikanku debu.

Aku hanya dapat menggumamkan kata-kata itu. Kalian tahu, mungkin seorang arwah dapat mendengar gumaman-gumaman? Kulakukan itu setiap saat, walau kadang seseorang bertampang menyeramkan berkata tidak suka aku seperti itu. Meludahiku dan memaksaku diam menggumamkannya. Aku tetap saja melakukan hal itu. Orang tersebut tak akan bisa menyerangku, ada barisan besi yang menghalanginya.

*** 

Pemuda itu terus meraung-raung, mengucapkan kata-kata maaf pada sebuah nama. Penjaga sel merasa terganggu dengan hal itu, berusaha tak peduli dengan berkutat kembali pada pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk di atas meja, surat-surat pelanggaran, kertas tentang kasus yang rumit, dan beberapa yang tak dapat disebutkan satu per satu. Tempat itu seperti kebun binatang saja, yang ramai karena satu suara.

Di dalam ruangan berpagar besi, seorang pemuda lengah dari perhatian penjaga, membuka celana tahanan lalu mengikatkannya pada terali ventilasi udara. Kepalanya siap menggantung di ujung celana yang ia ikat.[]
Labels: Cerpen, Fiksi

Terima Kasih telah membaca Celana Gantung. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Celana Gantung"

Back To Top