Hidup Abadi Tanpa Raga


Kalau sekarang ada orang yang beralasan tak sempat menulis, tak ada waktu dan sebagainya, itu bukan alasan, melainkan kemalasan yang dipelihara. Berbicara tak sempat menulis, di zaman ini alasan seperti apa pun tak bisa diterima. Bayangkan, saat berkirim pesan dengan teman, baik personal atau dalam grub media sosial, berapa kata yang telah ditulis? Bisa dibilang, manusia modern saat ini rata-rata menulis seribu kata lebih dalam seharinya. Hitung sendiri, dari akun instagram yang dimiliki, whatsaap, line, facebook, telegram dan sebagainya, berapa jumlah kata yang ditulis di akun-akun tersebut? Kadang tak terasa sudah bertukar pesan dengan seseorang berjam-jam, bahkan kalau dikalkulasi melebihi dari lamanya menulis cerita pendek. Perbedaannya mungkin, yang ditulis tidak terstruktur. Jadi kalau masih beralasan tak ada kesempatan untuk menulis, adalah omong-kosong semata. 

Iya orang dulu, kalau beralasan tak sempat menulis bisa diterima. Saat itu untuk menulis harus dengan mesin tik, kertas, pena, dan itu semua merepotkan kalau dibawa ke mana-mana. Tak dapat dibayangkan semisal dulu itu, Anantatoer dan Tan Malaka membawa mesin tik ke mana-mana agar dirinya tetap bisa menulis. Tidak. Lah sekarang, alat untuk menulis bisa dibawa ke mana saja, masih sempat beralasan tak bisa menulis. 

Hidup ini sudah dipenuhi dengan alasan-alasan, jadi persedikitlah dalam beralasan. Orang yang terlalu banyak beralasan tak baik juga untuk kesehatan. Dalam menulis, untuk mencipta satu karya tak butuh waktu sehari, dibanding dengan menonton film korea atau bermain game, satu dua atau tiga jam sudah jadi untuk menulis. 

Alasan lain, mentok di pertengahan, atau sedang tak mood. Yang demikian bisa diterima bisa pula tidak. Sebab, kalau menunggu mood, sampai tersisa nama di atas nisan tidak akan datang itu mood. Mood itu butuh rangsangan. Untuk merangsang hal seperti itu mudah sebetulnya. Baca-baca karya yang menggugah, atau paksakan diri meletakkan tangan di atas alat tulis. Diam di atas alat tulis itu, jangan pedulikan lamanya. Rasakan bahwa napas tulisan sedang mengalir dari otak ke tangan. Kalau yang demikian belum juga bisa, tuliskan mengapa tidak bisa menulis. 

Untuk definisi menulis atau tulisan, rasanya tidak perlu dijelaskan di pembahasan ini. Sebab menulis itu adalah kata kerja, dan tulisan adalah hasil dari pekerjaan itu. Apakah seseorang yang berkirim pesan atau menulis di kolom-kolom komentar media sosial tidak termasuk dalam kategori menulis? Tentu saja masuk. Kalau menulis itu kegiatan berpikir, karena memindahkan kata-kata dari otak ke tangan, saling berkirim pesan di media sosial masuk ke kategori menulis. Sisanya pikirkan sendiri. 

Kata Budi Dharma—seorang cerpenis dan budayawan—dirinya menulis karena ada kegelisahan-kegelisahan. Kegelisahan itu dia ungkapkan melalui tulisan. Kegelisahan yang dibiarkan begitu saja, akan hilang, tak membekas, dan ketahuilah bahwa diri mudah lupa. Tak ada cara lain untuk menghilangkan lupa selain menuliskannya. Kalau orang dulu itu, agar suatu peristiwa tetap dikenang, diciptakanlah dongeng, yang kemudian dikenal secara turun-temurun, mulut kemulut, bukan tulisan-ketulisan.

Namun sekarang, alat untuk terus mengingat kegelisahan atau peristiwa itu sangat mudah. Dari saking mudahnya sampai lupa bahwa tulisan merupakan cara terbaik merangkum semuanya. Kemudian orang-orang dilema dengan kemudahan. Tahulah, bahwa semakin mudah dalam melakukan sesuatu, akan semakin banyak yang terlupakan. Bayangkan, semisal semua orang menggunakan mobil dengan gaya mengemudi otomatis, maka orang-orang akan lupa bagaimana caranya menyetir. 

Sebetulnya, yang dapat menentukan jalan hidup seseorang adalah orang itu sendiri. Paling tidak, kalau tak bisa menentukan jalan cerita diri sendiri, buatlah suatu cerita di dalam tulisan, bisa tentang diri yang tak bisa menentukan jalan cerita, atau menciptakan yang fiksi menjadi riil. 

Hidup ini bagian dari imajinasi. Bisa dikata manusia hidup dalam imajinasi Tuhan. Manusia menganggap dirinya hidup, karena bisa melakukan ini-itu. Merasakan banyak hal dan sebagainya. Tapi pada kenyataannya, itu hanya imajinasi dari Tuhan semata. Karena pada suatu saat akan lenyap tak tersisa. Pikiran-pikiran atau sesuatu yang pernah dirasakan itu, akan lenyap bersamaan dengan tak berfungsinya raga. Bagi yang ingin pikiran dan rasanya tetap hidup, tuangkan dalam tulisan. Ikat pikiran dan rasa itu. Karena banyak sekali orang pintar, penuh pengalaman, paham berbagai rasa, pada akhirnya lenyap tak tersisa karena kepintaran, pengalaman dan rasa itu tak tertuliskan. Selebihnya, tulisan ini tak mendoktrin siapa pun agar menulis. Karena hidup ini tentang kebebasan. Kalau menulis bisa membuat diri bebas, mengapa tidak menulis saja? Sebaliknya, kalau menulis hanya akan membuat diri terkurung, sebaiknya jangan lakukan.[]
Labels: 2018, Ulasan

Terima Kasih telah membaca Hidup Abadi Tanpa Raga. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Hidup Abadi Tanpa Raga"

Back To Top