Satu Titik (Versi Pertama)



Sebenarnya apa yang dinamakan cinta? Saat merasa kagum? Atau karena merasa suka? Atau kagum dan suka akan menimbulkan cinta? Apa sebaliknya, cinta itu hanyalah rasa kagum dan suka saja, tapi keduanya lebih tepat dikatakan suka! Entahlah, semuanya telah tercampur adukkan, rata seperti halnya kopi, susu, gula dan air dalam satu wadah. Bagaimanapun tetap berasa kopi. Tetap satu rasa. 

Mungkin itu yang dirasakan Jon, lelaki yang sangat mengagumi keindahan. Andai keindahan itu berbentuk, pastilah ia peluk erat, takkan pernah ia lepaskan. Sejak kecil ia sudah menjadi pengagum, tapi hal itu ia katakan suka, bukan kagum atau yang lainnya. Ia menyukai teman sebayanya yang saat itu satu kelas dengannya. Saat itu mereka kelas lima sekolah dasar. Teramat kecil untuk memasuki dunia orang dewasa, dari itu jon berkata “aku suka kamu”, kata yang ditujukan kepada Anis teman sebayanya. Perkataan itupun ditepis jauh-jauh oleh Anis, bahkan cemberut jika bertemu dengan jon. Hal itu menjadi ejekan bagi teman-temannya yang lain, mengatakan “Jon cinta Anis”. Bahkan jon sering mendapati tulisan namanya dengan Anis di tembok-tembok kelas, di papan tulis, di almari kelas, di bangku-bangku, bahkan kadang ia menemukan tulisan besar dalam bukunya. Mereka hanyalah anak-anak, tapi apa yang ditulis dan yang dikatakan itu tidak pernah Jon suka. Ia suka pada Anis, bukan cinta. Itulah pendiriannya. Semua itu akan ia lewati. 

Waktu seperti sumbu kompor saja, semua terus berjalan. Jon naik kelas, begitu pula dengan Anis. Ternyata mereka mulai terbiasa dengan keadaan yang ada, kata-kata yang menyatakan mereka saling cinta, semua terasa hambar di mata dan telinga Jon. Anis pun tidak mempermasalahkan ungkapan jon yang telah lalu, mereka kembali akrab. Semua berjalan terlalu cepat. Mungkin benar, jika seseorang terlalu benci, pasti yang dibenci itu akan menjadi yang disukainya, nanti, kelak, ataupun dalam jarak dekat. Jon berhasil menaklukkan hati Anis yang terkesan keras seperti batu. Sampai lulus dari sekolah mereka, keduanya menjadi pasangan rahasia. Tak ada yang tahu hubungan mereka. Tapi semuanya terlalu sok tahu, mengatakan Jon berpacaran dengan Anis. Sebenarnya perkataan mereka benar, tapi itu di luar pengetahuan mereka, mereka berkata hanya ikut arus saja, yang tak tahu salah benarnya. Dan keadaan itu terus saja menggema mengiringi perjalan mereka. Tanpa terasa perjalanan mereka telah memasuki warna baru. 

Semua telah mereka lewati, dari sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, semua itu mereka lalui bersama-sama. Delapan tahun perjalanan yang mereka tapaki bersama. Jon memang lelaki romantis, setiap apapun yang ia suka selalu ia berikan kepada Anis, seperti halnya waktu ia sangat menyukai sepatu butnya, sepatu itupun ia berikan pada Anis. Pernah pula sangat menyukai jaket, jaket itupun ia kasih, dan banyak lagi hal lainnya. Hingga pada suatu ketika membuat Anis bertanya, 

“Mengapa kamu selalu memberiku sesuatu?” 

“Ya, hanya ingin saja.” Jon menjawabnya singkat, dan hal itu membuat Anis bertanya lagi 

“Baju ini, ini, kan baju yang sangat kamu suka. Mengapa kau berikan padaku?” Mendapat pertanyaan seperti itu, Jon pun menjawab apa yang sebenarnya ia maksud dengan semua yang ia lakukan itu. 

“Aku ingin setiap apa yang aku suka berada padamu, menyatu denganmu, satu-satunya orang yang aku suka! Dengan itu aku tidak suka pada hal lain selain dirimu, Nis.” Begitulah yang dikatakannya. 

Sekarang keduanya sudah dalam sekolah tinggi, mereka selalu satu sekolah, walau kadang tidak satu kelas. Anis tumbuh menjadi gadis dewasa, masa remajanya ia tinggalkan. Begitu pula dengan Jon, menjadi pemuda gagah perkasa. Tak ada seorang pun yang sepertinya, ia tidak suka pada apapun kecuali satu, Anis. Bagaimana tidak demikian, setiap apa yang ia suka ia berikan pada Anis, dan saat begitulah bertambah rasa sukanya bersamaan dengan sesuatu yang ia suka berada pada satu titik. Kamar Anis pun hampir penuh dengan benda-benda pemberian Jon, benda-benda itu ia letakkan dengan rapi. 

Semua berjalan begitu saja. Rasa suka yang jon miliki tetap sama seperti awal ia menyatakan rasa itu pada Anis, bahkan bertambah seiring bertambahnya umur yang ia jalani. Mereka saling terbuka satu sama lain, namun ada satu hal yang Anis rahasiakan pada Jon, tentang kankerotaknya yang sudah memasuki stadium akhir. Ya, Anis memang sudah menderita penyakit itu sejak kelas dua menengah atas, selama itu ia merahasiakannya pada Jon. Tak ada yang tahu kapan sumua itu akan berakhir. Akhir-akhir ini pun Anis tak dapat lagi menahan terlalu lama rasa sakitnya di depan Jon. Jon sering mendapatinya mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya. Tapi, keadaan itu tak pernah ia katakan pada Jon, walau kadang Jon menanyainya, tapi tetap saja ia tidak mau memberi tahunya. Dan saat itulah ia selalu tampil ceria untuk menghilangkan kecemasan yang tampak di wajah jon. 

“Kamu kenapa? Mukamu pucat... kamu baik-baik saja, kan?” Jon berucap seraya menyeka rambut Anis yang menutupi sebagian wajahnya. 

“Tidak, Jon, aku baik-baik saja. Tugas makalahmu sudah selesai?” Ucapnya mengalihkan pembicaraan. Lalu menatap ke kejauhan lalu-lalang orang-orang yang melewati taman itu. Taman kampus yang cukup luas. 

“Alhamdulillah... sudah. Ini untukmu...” ucap Jon seraya menyodorkan jam tangan padanya. 

“Sudah, Jon. Sudah cukup, terlalu banyak benda-benda yang kau berikan padaku. Aku lelah menyimpan semuanya...” Suaranya terdengar parau. Lalu perlahan menunduk. 

“Tidak, Nis, aku tidak ingin menduakan rasa sukaku pada benda, atau apapun darimu. Jika aku menyukai sesuatu, aku harus memberikannya padamu. Terserah mau kau kemanakan, yang pasti dengan begitu rasaku selalu tertuju padamu. Apa yang kusuka ada padamu, terimalah.” Kembali Jon menyodorkan benda itu. Anis pun menggeleng. 

“Sampai kapan, Jon? Sampai kapan kau akan terus mempertahankan sukamu itu, sampai aku tak pernah kau lihat...? Aku lelah, aku mau istirahat, berhenti dari apa yang kau harap dariku. Kita sampai di sini saja... kau tak perlu memberi apa-apa lagi padaku.” Terus saja tertunduk, suaranya terdengar memberat mengatakan hal itu. 

“Aku tak akan berhenti. Cerita kita sudah terlampau panjang, Nis. Dan sampai kapanpun kau tetap yang kusuka. Lagi pula, mengapa kau berkata seperti itu? Apa ada orang lain yang menyukaimu?” Jon terus saja menatap anis, mencoba untuk membuatnya dongak. 

“Sudahlah... coba lepaskan aku. Aku tak ingin kau salah jalan nanti... kau terlalu berlebihan suka padaku... aku takut pada tuhan. Aku tak pantas kau lakukan seperti ini, yang pantas itu hanya tuhan, bukan aku.... Dari sekarang lupakan aku, buang rasa sukamu itu.” Suaranya melemah. Perkataan itu membuat wajah Jon terlihat mirah padam. Ia pun ikut tertunduk. 

Berhari-hari kemudian setelah kejadian itu Jon tak dapat melihat paras Anis lagi. Siapa yang menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Hubungan mereka terputus. Tak ada komunikasi lagi di antara mereka. Sudah seminggu, Anis menghilang bagai ditelan angin, tak ada informasi tentangnya. Didatangi kerumahnya pun ia tak ada, rumahnya selalu sepi. Hari-hari yang dijalani pun terasa pahit bagi Jon. Tak ada lagi sosok orang yang ia suka berada di sisinya. 

Kini ia dapati rumah yang selalu sepi itu ramai. Apakah anis akan melaksanakan resepsi pernikahan? Sebenci itukah dia padaku, hingga tak mau mengundangku untuk datang. Tunggu, Nis. Walau tanpa kau undang aku akan datang..., gumamnya seraya melangkah memasuki halaman rumah itu. Halaman yang cukup luas, di sepanjang jalan menuju pintu rumah itu tertanam pohon-pohon hias, berjejer rapi layaknya tentara yang memberi hormat pada orang yang melewati jalan itu. 

Langkahnya terhenti. Apa yang ia fikirkan sebelumnya ternyata salah. Tak ada yang menikah. Sebuah keranda keluar dari dalam rumah itu. Orang-orang menggotongnya melewati Jon. Jon terpaku melihat semua itu. Ia pun beranjak, lalu bertanya pada seorang lelaki yang ikut mengiringi keranda itu. Mendapat jawaban dari lelaki itu pun ia kembali terpaku. Waktu seakan berhenti membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Tak bergerak, matanya seketika sembab. Tak ada yang dapat ia dengar lagi. Orang yang ditanyainya tadi pun pergi, kembali mengiringi keranda itu lagi. Pandangannya memburam, melihat orang itu pergi. Ia memejamkan mata kuat-kuat, lalu tertunduk. Lama terdiam, ia pun kembali menggerakkan waktu yang tadinya beku. Ia mengikuti kemana arah keranda itu pergi. 

Dari kejauhan, Jon tak dapat berbuat apa-apa, ia hanya dapat memandang orang yang disukainya terbenam dalam kubangan tanah. Ia hanya dapat menunggu sampai orang-orang pergi meninggalkan gundukan yang masih semerbak dengan harum bunga itu. 

Kaki-kaki yang sedari tadi berpijak di sekeliling gundukan itu kini telah menjauhinya, barulah sebuah langkah datang mendekati. Sepasang lutut menjatuhkan diri di samping gundukan itu, lalu sebuah tangan menggenggam segumpal tanah di atasnya, mengepalnya erat. 

“Mengapa kau tidak jujur padaku, Nis... mengapa kau meninggalkanku begitu cepatnya.... Aku masih dalam janjiku, Nis... akan selalu menyukaimu... dan apa yang aku suka akan aku berikan padamu, biarkan apa yang kusuka ikut denganmu...” Jon berucap seraya membenamkan sebuah jam tangan di atas gundukan tanah itu. Beberapa saat ia terdiam, lalu memandang kosong ke arah atas. Desiran angin dan senja yang mulai memerah terasa lengkap di matanya, beserta dengan apa yang ia rasa. Seketika ia beranjak, lalu melangkah menjauhi gundukan itu. Dalam langkahnya ia terus saja bergumam, aku berjanji, apapun yang aku suka akan selalu kuberikan padamu.... 

*** 
Pemuda itu setiap hari datang ke pemakaman ini, kadang membawa sesuatu, tapi setelah pulang, ia tidak membawa apa-apa. Dan sekarang pemuda itu membawa seorang perempuan. Baru saja aku ingin merebahkan diri di gubuk tua ini—maklum beginilah jika menjadi penjaga kuburan, semalaman suntuk tidak tidur—terdengar jeritan seorang perempuan. Aku tetap saja duduk di tempat ini. Badanku terasa letih, sangat malas untuk digerakkan, biarlah nanti aku akan memeriksanya. Beberapa lama setelah jeritan itu, pemuda itu kembali, tidak dengan perempuan yang tadi bersamanya. Temaram, aku hanya dapat memandang langkahnya yang pergi meninggalkan tempat ini.[*] 

Annuqayah, 27 Agustus 2014 
*Cerita pertama tengang satu titik.
Labels: Cerpen, Fiksi

Terima Kasih telah membaca Satu Titik (Versi Pertama). Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Satu Titik (Versi Pertama)"

Back To Top