Usaha Merusak Waktu



Tangis bayi mengalahkan desau angin. Malam gelap. Lampu kota temaram menyinari jalanan. Di dekat trotoar dengan bangku yang berjejer, seorang perempuan berjalan terhuyung-huyung. Bayi dalam dekapan, dia bujuk diam. Perempuan itu terus melangkah mendekati pintu darulaitam. 

Di sudut jalan dekat semak-semak, sinar hijau keputih-putihan berpendar, seseorang keluar dari kubangan cahaya itu. Sepasang mata memandang perempuan yang meletakkan bayi di depan pintu. Perempuan itu mengetuknya, meletakkan sebuah kertas, lantas beranjak pergi. 

*** 

“Aku bukan anak haram!"

Tak terhitung kata itu terucap. Hatiku merasa marah, walau penjaga panti mengatakan, itu hanya olokan saja, karena kamu berbeda, Zav. Siapa yang senyum-senyum dan tertawa saat diolok seperti itu? Penjaga panti hanya tahu memberikan harapan, tak pernah bisa mengenyahkan kata sialan itu dari mereka. 

Lupakan, itu dulu, saat aku sekolah tingkat pertama. Sekarang aku tak peduli dengan olok-olok itu. Setiap hal tidak ada yang sia-sia, mungkin itu pas dengan olok-olok mereka. Entah apa, aku merasa senang dengan olokan yang dulu amat kubenci, kata yang sebenarnya amat puitis dan menghipnotis alam sadarku. Zav anak haram! Aku akan membuktikan kalimat itu salah. 

Sekarang aku ada di sini, di kota tempat teknologi tercanggih dunia. Kalian tahu? Telah bertahun-tahun panti tertinggal. Sekarang yang harus kalian tanyakan, mengapa aku berada di kota seperti ini? Andai kalian menanyakan hal tersebut, mungkin aku akan menjawab, ada misi rahasia di ujung zaman yang membuat pening kepala. Kepada kalian, aku tidak akan merahasiakan ini. Terutama Neigi, yang telah tahu banyak hal rencana-rencanaku. Kuucapkan banyak terima kasih padanya. Gadis yang selalu setia menemaniku merampungkan semua ini. Bersama Neigi tak ada rahasia. Aku percaya penuh padanya, kuharap ia pun begitu. Bukankah begitu, Neigi? 

Dengar baik-baik. Aku akan menembus waktu. Mustahil? Tak ada yang mustahil, Kawan. Sebenarnya banyak contoh kecil yang mungkin kalian pernah mendengarnya, seperti kisah seorang yang dapat mengunjungi beberapa tempat jauh dalam satu malam. Ah, kisah itu terlalu sulit dicerna, tapi siapa yang tidak percaya? 

Tontonan kadang mempengaruhi sistem otak kiri dengan cepat. Kalian tahu film Dragon Ball? Di sana juga ada aktor yang dapat menembus waktu. Film Doraemon? Mungkin kalian juga tahu. Sebenarnya, aku berkeinginan membuat benda itu karena hal tersebut, lepas dari ingin membuktikan kata sialan itu. Dulu pengurus panti selalu bilang, “Tak ada hal aneh di dunia ini, Zav, kalau kau dapat memahaminya”. Aku menelan bulat-bulat kalimat itu. 

Sekarang lihatlah benda ciptaanku. Sudah cukup pengantar mengapa benda seperti telur lonjong itu kuciptakan, lebih tepatnya, aku menyebut benda itu kapsul. Sebenarnya aku ingin menceritakan perjuangan terciptanya benda itu. Tapi rasanya tak mungkin memaksa kalian mencari arti kata-kata yang tak dimengerti. Satu lagi, pengantar ini kuucapkan dalam keadaan bingung dan berharap kalian menjadi saksi akan keberangkatanku. Apa pun yang terjadi, rahasiakan semua ini. Selamat tinggal....” 

*** 

Mundur empat puluh tahun dari masa yang kalian jalani. 

Malam selalu gelap sebagaimana biasa. Perempuan itu telah pergi dari rumah panti, lantas memandang dari kegelapan, seorang wanita membawa masuk bayinya. Sebenarnya dia tak sanggup melakukan hal itu. Tapi bagaimanalah, mau tak mau bayi itu harus berada di sana. Lihatlah, sekarang dia terhuyung, menangis, berusaha pergi serela hati. Berkali-kali bergeming, maafkan aku dan beberapa kalimat memilukan tentang ketidaksanggupan lainnya dari mulut perempuan itu. 

Di sudut jalan, seorang lelaki paro baya berjalan gontai, seperti selesai menempuh jarak bermil-mil dengan berjalan kaki. Tanpa memerhatikan jalan ia melangkah, matanya tajam menatap perempuan yang baru saja pergi dari darulaitam. Perlahan, langkah patah-patah itu memudar. Tenaganya mulai kembali. Membuat tubuhnya sedikit lebih terkendali, berjalan hati-hati mengikuti perempuan itu, yang entah mengapa berjalan seperti orang mabuk—tampak lebih parah dari lelaki itu, pakainnya lusuh, rambutnya tergerai acak-acakan. 

Langkah lelaki paro baya itu terhenti di kelokan jalan. Melihat waspada perempuan yang diikuti. Sungguh iba melihat perempuan itu tertatih, membopong tubuh dengan menggapai-gapaikan tangan ke tembok-tembok gedung. Beberapa saat seimbang, yang pada akhirnya perempuan itu ambruk, memegangi perutnya, lantas bersandar lemah pada tembok. Lima belas langkah dari perempuan itu, lelaki paro baya melangkah tanpa suara mendekatainya. Perempuan itu terhenyak, berhenti memegangi perut, beralih melihat sosok hitam yang mendekat, tangannya sibuk mencengkeram, berusaha bangun dengan meraba-raba benda untuk dijadikan topangan. Sinar di tempat itu temaram, seberkas cahaya membuat bayangan gelap itu lebih dramatis. 

“Siapa pun kau, aku tahu semuanya. Bangunlah, Ibu. Jangan takut.” 

Suara lelaki pemilik bayangan itu menggema, memantul di dinding-dinding gedung. Perempuan itu terperangah, wajah pucatnya terarah lurus ke arah datangnya suara. Bagaimana orang itu tahu dirinya, bukankah di depan panti tak ada seorang pun? Tak ada yang melihatnya melakukan hal itu. 

“Tenang, aku tak akan menyakitimu. Kalau benar itu kau.... Aku sangat rindu. Ini aku, Ibu.” 

Kata-kata itu terhenti. Perempuan yang disebut ibu meraung-raung, menyuruh ia pergi. Bagaimanalah urusan ini, perempuan itu menyangka ia gila. Lelaki dengan bayangan hitam itu terlalu bahagia, hingga tak sadar waktu tempatnya berada. Raungan perempuan itu membuatnya tercekat. Baru sadar, bahwa tak seharusnya ia mengungkapkan kerinduannya begitu saja. Untuk menjelaskan siapa dirinya pun mungkin akan sulit diterima perempuan itu, apalagi langsung pada hal yang baru saja ia ungkapkan. 

“Aku tidak gila, maafkan aku yang membuatmu takut,” ucap lelaki itu, lantas mendekat, bergerak sehalus mungkin, sementara orang yang didekati masih takut-takut. 

“Bolehkah kubantu? Ada beberapa hal yang ingin kujelaskan.” 

Lelaki itu memapah perempuan di hadapannya, membawa dia ke halte bus yag berada tidak begitu jauh dari sana. Perempuan itu takut-takut melangkah, tapi apalah daya, dia merasa lemah. Jadilah hanya dapat menurut. Mungkin waktunya tak lama lagi. 

“Kuharap kau percaya dengan seluruh perkataanku. Aku dari masa depan. Malam ini menemuimu. Ini aku, Zav, bayi yang baru saja kau titipkan di rumah itu.” 

“Kau gila...,” perempuan itu menyela, lelaki di hadapannya meletakkan telunjuk di bibir perempuan itu, menatap mata lelahnya yang menyiratkan penderitaan. 

“Bukankah ini surat yang kau titipkan bersama bayi itu?” 

Lelaki paro baya tersebut menyodorkan sebuah kertas, kertas yang tak lagi berwarna putih, timbul bercak cokelat di mana-mana. Perempuan itu ragu-ragu menerimanya. 

Ya, memang itulah yang lelaki parobaya itu dapat, sebuah benda yang mengantarkan keyakinan bahwa orang yang melahirkannya baik, ia bukan anak haram. Telah lama surat itu ia simpan. Bertahun-tahun. Memandang dan membacanya kembali saat rasa putus asa menjalani hidup menjalar. Sungguh selama ini ia tak memiliki teman baik, hanya kertas itu. 

“Sungguh, merupakan kebahagiaan bagiku, Bu. Aku sudah sebesar ini, tidak cengeng lagi. Mungkin kau akan bertanya, kalau aku dari masa depan, apa yang dapat kubuktikan? Aku tak dapat membuktikan apa-apa selain kertas itu.” 

Tangan perempuan yang memegang kertas itu gemetar. Itu benar tulisannya. Matanya menjatuhkan sesuatu. Dia tak dapat menyanggah identitas lelaki di hadapannya. Tak dapat berkata-kata, perempuan itu menangis tanpa suara. 

“Aku sangat ingin merengkuhmu, Ibu,” ucap lelaki itu seraya menghambur diri, memeluk erat perempuan di hadapannya. 

“Maafkan aku. Siapa pun kau, aku percaya padamu. Tapi waktuku tak lama lagi. Maafkan aku...,” Perempuan itu berucap disertai batuk-batuk kecil. Hanya kalimat lemah tersebut yang keluar dari bibirnya, sebelum tubuh itu kaku dalam pelukan. 

“Kau tidak salah. Seharusnya aku yang minta maaf, tak dapat berbuat apa-apa. Kutahu, karenaku kau menderita. Maafkan aku,” ungkap lelaki itu seraya melepaskan pelukannya. 

Tubuh yang dilepaskan itu kaku. Lelaki itu panik, berusaha menyadarkan perempuan yang ia pegang. Sungguh, ia tak mendengar dengan baik kalimat terakhir perempuan itu. Sigap tangannya memeriksa saluran pernapasan, nadi, dan segala hal yang berhubungan dengan tanda kehidupan ia periksa. Tak ada. Tak ada denyut, tak ada suara. Jadilah lelaki itu menangis, merengkuh lebih erat tubuh kaku itu. 

*** 

“Profesor Zav? Profesor Zav kembali!” 

Satu teriakan menggema di ruangan kering berlapis baja tanpa warna. Beberapa saat dari teriakan itu, gemuruh langkah terdengar mendekat. Berpasang-pasang tangan menutupi mata. Cahaya pekat berpendar menyapu ruangan. Beberapa saat, cahaya itu lenyap seperti terhisap ke dalam kapsul putih berbentuk telur. Bagian atasnya terbuka. Seorang remaja keluar dari benda itu. Tubuhnya lunglai, tak kuat berdiri, seperti orang yang baru saja menempuh jarak bermil-mil dengan berjalan kaki. 

“Oh tidak, tuan Zav menjadi remaja. Mesin itu telah mengubahnya....” 

Belum sampai pada kalimat berikutnya, remaja yang keluar dari benda itu berdiri. Lantas berucap, di mana aku? 

Kalimat pembuka itu membuat riuh ruangan. Semua yang ada di tempat itu tak percaya. Profesor yang mereka elu-elukan karena kepandaiannya menjadi seperti itu. Suasana riuh, saling bertanya tentang kebingungan itu. Yang lain pun saling pandang pada yang lain. 

Kalau semua bingung, Zav yang tiba-tiba berada di tempat itu tak kalah bingung. Tubuh yang sebelumnya berada dalam museum kota tiba-tiba ada di tempat entah-berantah. Seorang gadis mendekat, membantu Zav duduk di kursi—kursi yang sebenarnya paling Zav suka. 

“Ini ruangan anda, Tuan. Apa anda mengingatku?” 

Yang ditanya menggelengkan kepala, masih sibuk dengan kebingungan dan ketakjuban atas ruangan aneh yang di tempatinya. Seandainya bisa pingsan, mungkin Zav memilih hal itu. 

“Ini masalah serius. Bisa anda ceritakan apa yang baru anda alami, Tuan?” 

“Di manapun aku..., baiklah. Tadi aku berada di museum kota, melihat-lihat benda bersejarah. Mendapati benda aneh itu aku tertarik.” Zav menjelaskan patah-patah. Masih dalam kebingungan, lantas menatap benda yang disebutnya. “Aku menyentuhnya, tiba-tiba saja benda itu bersuara, menyuruhku menyebutkan nama. Kusebutkan nama, yang membuat bagian atas benda itu terbuka. Entah kekuatan apa yang membuatku memiliki keinginan untuk memeriksa bagian dalamnya. Aku terjengkang ke dalam benda itu, lalu berada di sini,” ungkap Zav, lalu tersenyum tanggung. Ia mulai tampak tenang-tenang saja dengan keanehan itu. 

“Benda itu hanya dimodifikasi untuk satu orang, walau sebenarnya hanya memiliki satu sandi, tapi harus DNA yang sama. Berarti Profesor berhasil. Dan anda.... Apa maksud semua ini?” Neigi berucap dalam keadaan bingung. 

Gadis itu berpikir keras, mencoba merangkai segala kemungkinan. Belum selesai satu kebingungan, cahaya pekat kembali menyapu seisi ruangan. Kembali semua tangan terangkat, menutupi mata masing-masing. Beberapa saat cahaya itu berpendar, lalu terhisap ke suatu benda. 

Dua kapsul berada di tengah-tengah ruangan. Zav berdiri mendekati benda itu. Belum genap empat langkah, bagian atas benda itu berderit. Seorang perempuan berwajah indah berada di dalamnya. Sebuah kertas terlipat di tangan perempuan itu. Zav mengambil, lalu membacanya. 

“Aku berada di masa yang telah lama aku impikan. Ada satu hal yang harus kalian lakukan. Terutama Neigi, aku percaya padamu. Periksa penyakit perempuan ini. Aku ingin kau menemukan penawarnya. Profesor Zav.” Hanya kalimat itu yang tertulis. 

“Bukankah Profesor Zav hanya membuat satu mesin waktu. Mengapa ada dua di sini?” ungkap Neigi. Pikirannya mulai mengembara memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan. Lantas menghampiri Zav, mengambil kertas di tangannya. 

*** 

Kembali empat puluh tahun dari masa yang kalian jalani. 

Seorang lelaki paro baya menggendong perempuan, memasukkannya ke dalam kapsul, lantas menggumamkan kata Zav. Seketika benda itu berpendar, menjadi cahaya sekecil atom, lalu lenyap. 

Lelaki itu mengembangkan kertas—kertas yang mungkin seumuran dengannya—lamat-lamat membacanya di bawah temaram lampu jalanan. 

"Mungkin anda akan berpikir ibu dari bayi ini kotor dan tak memiliki kasih sayang. Aku bukan apa-apa, hanya seorang perempuan yang gagal menjadi ibu. Kumohon, jagalah bayi ini. Aku tak memiliki apa-apa lagi. Waktuku pun tak lama lagi. Sayang, anak ini akan menjadi yatimpiatu. Aku telah memberi ia nama. Zav, nama yang aku harapkan menjadi ketegaran dalam menjalani hidup, seperti ayahnya yang pemberani, tabah, dan pandai membaca alam. Walau sekarang dia sudah tiada. Terima kasih karena mau membantu. Sungguh, aku tak memiliki apa-apa selain dirinya. Sampaikan rasa cintaku saat ia dewasa nanti.” 

*** 

“Kami telah menemukan obat penawarnya. Kuharap anda mengantarkan penawar ini pada perempuan yang dimaksud Profesor. Di masa itu, di hari yang sama saat keberangkatannya. Dan satu kapsul lagi, akan kami kembalikan beserta perempuan itu untuk menjemput Profesor. Anda dapat menghafal wajahnya sekarang, kurasa tidak jauh beda dengan yang ada di dalam kapsul. Biarkan jasad perempuan ini kembali pada masanya,” jelas Neigi. 

Tanpa penjelasan itu sebenarnya Zav sudah paham. Untuk menghafal wajah perempuan itu, rasanya tak sulit. Wajah yang teramat familiar bagi Zav. 

Zav melafalkan satu kata pada benda yang telah diatur lebih akhir dari kapsul yang akan ia gunakan. Benda itu lenyap, menyisakan satu di tengah-tengah ruangan. 

“Aku akan segera kembali,” ucap Zav seraya melompat ke dalam kapsul. Lantas menggumamkan satu kata, namanya. 

*** 

Kembali empat puluh tahun masa silam, lebih awal satu jam dari waktu kalian mengetahui keberadaan mesin itu. 

Zav keluar dari kapsul. Ia berjalan terhuyung mendekati darulaitam. Melewatinya. Matanya menatap sosok perempuan yang baru saja keluar dari gang sempit di perempatan jalan. Dengan sigap ia menghampiri perempuan itu, perempuan yang sedang menggendong bayi—itu dirinya. Tanpa kata-kata pembuka, Zav menyodorkan penawar. Menyuruh perempuan itu meminumnya saat itu juga. Dengan bingung perempuan itu menurut, lantas meneguknya. Melihat penawar yang disodorkannya tandas, Zav kembali berlari, menjauhinya, menuju benda yang akan segera membawa ia pada keadaan normal. 

Empat jam berikutnya, di ruang dan waktu yang berbeda, cahaya pekat menyinari jalanan yang sepi, berpendar, lalu lenyap. Benda berbentuk kapsul bertengger di trotoar dekat rumah panti. Seorang lelaki paro baya mendekatinya. 

“Maafkan aku harus merubah takdirmu, Ibu. Selamat tinggal. Aku hanya ingin Zav kecil nanti bahagia, tidak sepertiku,” ucap lelaki itu seraya meletakkan perempuan yang dikeluarkannya dari kapsul ke bangku trotoar, lantas melompat ke dalam kapsul. Menggumamkan satu kata, namanya. 

*** 

Ruangan itu terang pekat, cahaya berpendar dua kali lipat membuat kulit seperti terbakar. Dua sosok tubuh keluar dari tengah-tengah cahaya itu, sebelum semuanya kembali pada semula. 

Dua Zav berdiri lemah, perjalanan itu menguras tenaga. Keadaan kembali membingungkan. Profesor Zav segera sadar ada dua kapsul di ruangan itu. Bukankah ia hanya menciptakan satu kapsul? 

“Apa kalian telah melakukannya?” Profesor Zav berkata dengan nada lemah. Langsung pada apa yang ia khawatirkan. 

“Bahkan baru saja kami mengirimkannya. Kalian begitu cepat kembali.” 

Seorang gadis kembali mengambil situasi. Dalam satu jam terakhir, jeda beberapa menit dia mendapati hal menakjubkan. Lihatlah, Profesor saat muda dan Profesor saat ini. 

“Siapa anak ini? Mengapa ada dua kapsul di sini?” Profesor Zav berjalan tak percaya, mendekati dua benda ciptaannya. Tapi tidak, ia menciptakan satu, bukan dua. 

“Dia adalah anda. Sangat sulit untuk menjelaskannya. Kita lupa tak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tapi keadaan akan kembali normal kalau Zav kecil kembali pada masanya dengan kapsul itu, lalu ia mengirim kembali benda itu tanpa pengemudi. Bukankah benda itu tidak perlu dikemudikan?” jelas gadis itu. 

Seisi ruangan memandang Profesor kecil. Beberapa pasang mata yang sedari awal menyaksikan itu semua hanya dapat diam, seperti orang dungu, tapi mereka orang-orang pencipta, yang tak bisa diragukan lagi kemampuannya. 

“Baiklah, aku akan kembali. Tapi aku tidak tahu untuk mengatur waktu seperti awal aku berada di museum,” ucap Zav, menyela kalimat gadis itu. 

“Itu mudah. Aku akan memeriksa waktu pemberangkatan kedua benda itu.” 

Beberapa saat Neigi berkutat memeriksa waktu yang dimaksud. Sebagai asisten kerja dalam pembuatan benda itu, dia tahu banyak perihal susunan-susunan sistem kerja mesin. “Baiklah, anda bisa pulang sekarang,” tukasnya setelah beberapa lama menekan tombol-tombol yang ada. 

“Selamat tinggal, Profesor. Terima kasih atas petualangan ini. Terima kasih karena memberiku kesempatan bersama ibu. Ibu kita benar-benar cantik, bukan?” 

*** 

Siang di museum. Suasana lengang. Seorang remaja menggumamkan kata Zav pada salah satu benda bersejarah—benda yang sebenarnya ditemukan aparat keamanan kota di semak-semak dekat rumah panti lima belas tahun lalu. Benda itu lenyap, menjadi butiran partikel, menembus ruang dan waktu yang tak terjangkau. 

“Zav, apa yang kau lakukan?” seorang perempuan menegur remaja itu. 

“Ya, Bu. Aku tak melakukan apa-apa, hanya saja merasa aneh dengan benda bersejarah ini. Hanya sebuah kertas yang tampak kuno, apanya yang menarik?” 

Remaja itu berusaha menutupi kegugupannya dengan memilah-milah kertas di tangannya—kertas yang dibawanya dari masa yang berbeda, hadiah dari seseorang. Ia meletakkan kertas itu di tempat benda yang baru saja lenyap. Lantas pergi bersama perempuan yang dipanggilnya ibu. 

Madura, 21 Januari 2016 M.
Labels: Cerpen, Fiksi

Terima Kasih telah membaca Usaha Merusak Waktu. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Usaha Merusak Waktu"

Back To Top