Buruk Rupa Memenyundangi Sebelum Menggagahi

Rasanya, menjadi buruk rupa itu penting di sesuatu yang mengharuskan diri menghadapi atau lari. Menghadapi sesuatu yang ada di hadapan atau lari dari sesuatu yang ada di hadapan. Maksudnya seperti ini, orang yang buruk rupa kebanyakan dianggap tak penting dalam banyak urusan, kecuali kalau berurusan dengan malaikat penjemput roh, buruk rupa atau tidak akan tetap dijemput. Intinya betapa penting buruk rupa itu dalam menghadapi suatu hal yang tak bisa kita pilih. Contoh sederhananya saja, ada seorang lelaki yang terjebak dalam kerumunan wanita penghasrat. Mau lari, dia sadar dirinya lelaki. Menghadapi pun dia sadar dirinya lelaki, tak akan bisa menghadapi kerumunan wanita karena dia memiliki nurani. Saat itulah, menjadi buruk rupa penting agar dia tak harus lari atau menghadapi, sebab dengan sendirinya kerumunan perempuan itu akan pergi dengan sendirinya. Contoh lain, saat ada seorang yang diharuskan memilih antara menjadi PNS atau petani, seseorang yang memberinya pilihan tidak akan kecewa semisal yang dimintai tak memilih keduanya, toh si buruk rupa tak berarti apa-apa. Dan bagi si buruk rupa sendiri juga tak berarti apa-apa, karena sadar bahwa buruk rupa itu bebas memilih kehidupannya sendiri. Perkara orang lain tak suka, itu bukan pilihannya, melainkan pilihan orang yang tak menyukainya, suruh siapa tidak suka?

Rasanya, menjadi buruk rupa itu menyenangkan. Dia bisa menjadi pecundang sesuka hati. Atau pula menjadi pahlawan gagah berani. Tahulah bahwa menjadi buruk rupa tak perlu menjaga sikap atau ekting agar terlihat sempurna, bagaimana pun seorang yang buruk rupa tak akan sempurna walau berakting seperti pujangga atau aktris korea. Jadi, sekali lagi buruk rupa itu bebas, dia tak memiliki aturan.

Ini sekadar pengingat, agar tak ada istilah "buruk rupa, cermin pun dibelah". Karena akan aneh sekali semisal dirinya yang buruk rupa, lalu cermin yang disalahkan. Kalau buruk rupa didefinisikan sebagai tampang wajah yang harus sama dengan kebanyakan orang, itulah akibatnya, sering menyalahkan.

Rasanya, buruk rupa itu tidak sekadar pada wajah, tapi lebih pada rupa sebagai aktor dalam panggung kehidupan. Rupa itu hanya bagian luar agar bisa dilihat. Rupa itu sekadar pengada, bentuk, atau penampakan semata. Jadi, rupa itu bukanlah inti dari jalannya cerita. Dia juga bukan inti dari kehidupan. Tak masalah buruk rupa, tapi inti dari kehidupannya tak buruk.

Ya, karena sekarang ini manusia lebih mementingkan rupa, inti dari kehidupan itu sendiri menjadi bias dan terlupakan. Tak ada orang yang menginginkan buruk rupa. Semua ingin tampil indah sempurna. Padahal, apalah arti kulit, nanti juga akan keriput juga. Apalah arti kulit, nanti akan dikupas juga. Yang diperlukan isinya. Bisajadi, orang yang berusaha melenyapkan buruk rupa adalah si buruk rupa sejati. Jangan tertipu pada topeng.

Sekarang, cobalah terima buruk rupa itu. Bahwa di setiap kita adalah buruk rupa itu sendiri. Jangan sekali-kali mengumpatnya dan berusaha tampil sempurna hingga menyakiti diri sendiri. Kalau buruk rupa itu adalah jelek tak berarti, maka tak masalah kita menjadi pecundang untuk kemudian gagah. Bukankah aktor yang mendebarkan itu adalah yang menyembunyikan identitasnya lalu terkuak di akhir lakon? Buruk rupa merupakan persembunyian yang sempurna dalam pentas ini.[]
Labels: 2018, Renungan

Terima Kasih telah membaca Buruk Rupa Memenyundangi Sebelum Menggagahi. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Buruk Rupa Memenyundangi Sebelum Menggagahi"

Back To Top