Eksistensi Hidup


Manusia hidup karena pikirannya hidup. Saya dan anda melihat warna dan dunia yang sama, hanya karena pikiran kita berada dalam garis yang sama. Kelak saat pikiran kita berbaur dengan pikiran seluruh umat manusia, saat itulah kita dinamakan mati. Anggaplah, seseorang mati karena orang itu tidak memiliki pikirannya sendiri. Atau, pikirannya tidak memiliki wadah untuk berdiam.

Pikiran itu merupakan alam bebas. Dia bisa memanipulasi waktu, rasa dan ruang. Kurang lebih, keadaannya sama seperti mimpi. Bahkan, tentang mimpi ini saya beranggapan manusia hidup di multi waktu. Setiap kali tidur, manusia menyelesaikan satu kehidupan dalam mimpinya. Yang mati dalam kehidupan itu akan kembali ke dunia pikir yang terkurung dalam raga. Begitu seterusnya hingga pikiran itu sendiri memilih bebas, tidak mau kembali lagi ke dalam raga.

Saya tak bermaksud mengotak-atik pemikiran siapa pun tentang pengertian eksistensi hidup. Ada yang beranggapan keberadaan manusia itu ada kalau dia hidup. Dikatakan tiada karena mati. Atau pula dikatakan ada karena pernah ada, hanya saja keberadaannya sudah tak dapat diraba lagi. Dalam filsafat diartikan sebagai gerak hidup, itulah eksistensi. Anggaplah, orang tak akan pernah bisa eksis kalau dirinya tak pernah ada. Atau pula, orang pernah eksis karena dirinya telah tiada.

Dalam hidup, kadang seseorang tak membutuhkan alasan mengapa dirinya hidup. Ada yang beranggapan mati itu seperti mimpi, adapula yang berpikir dirinya hidup dalam khayalan Tuhan. Walau tak sedikit pula ada yang ingin cepat-cepat mati lalu bertemu Tuhan.

Bagaimanapun, manusia hidup melewati jalur yang sama. Lihatlah kisah para pecinta, pengagum, petualang dan sebagainya, semua mirip-mirip. Ya hidup begitu-begitu saja. Seseorang akan tercederai ketika harapannya tak sama dengan yang dijalani. Dan selalu ada orang ketiga dalam kisah percintaan. Itu sudah alur kehidupan, eksistensinya memang seperti itu.

Intinya, hidup itu ya hidup, ketika kita merasa hidup. Hidup itu ketika pikiran kita memerintah rasa untuk mendeteksi ruang, waktu dan keberadaan. Kalau kita sudah tak bisa mendeteksi waktu dan ruang, jelas, keberadaan akan ada di awang-awang. Dunia yang terjadi akan melompat-lompat. Tak jelas alur ceritanya. Dan bisajadi, akan stagnan, terjebak dalam lingkaran labirin pikiran itu sendiri.

Lihatlah orang gila, dia hidup, tapi pikirannya tak sejalan dengan orang yang menganggap dirinya waras. Walau, bisajadi kitalah yang gila menurut orang gila itu sendiri hanya karena pikiran kita tak sejalan dengan pikirannya.[]
Labels: 2018, Renungan

Terima Kasih telah membaca Eksistensi Hidup. Kalau kalian suka, bagikan...!

0 Comment for "Eksistensi Hidup"

Back To Top